Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Pulang Terlambat, Reyhan Menemukan Prasetyo Runtuh
Reyhan pulang dengan keyakinan bahwa semua masih bisa diperbaiki jika ia datang sendiri.
Keyakinan itu bertahan sampai becak yang ditumpanginya berhenti di depan gerbang asrama. Petugas jaga memeriksa kartu identitasnya lebih lama dari biasa, lalu meminta ia menunggu di luar.
"Saya Reyhan Prasetyo. Rumah orang tua saya di dalam."
Petugas itu menatap daftar penghuni. "Nama keluarga Prasetyo sudah tidak terdaftar."
"Tidak mungkin. Ayah saya Kapten Hartono."
"Statusnya berubah. Untuk informasi keluarga, hubungi kantor Denpom atau alamat sementara yang tercantum di pemberitahuan."
Reyhan menatap palang gerbang seolah kalimat itu memakai bahasa asing.
Ia meninggalkan koper di pos dan berjalan menyusuri sisi luar kompleks. Dari celah pagar, ia bisa melihat rumah masa kecilnya. Pintu tertutup segel. Kardus-kardus sudah tidak ada, papan nama ayahnya dilepas, dan dua petugas inventaris memeriksa halaman.
"Mas Reyhan?"
Bu Inah memanggil dari warung. Reyhan berbalik cepat.
"Bu, apa yang terjadi? Ibu saya di mana?"
Bu Inah menurunkan panci dari kompor. "Kamu belum dikabari?"
"Saya langsung naik kereta. Surat dari Ibu cuma bilang Arum dibawa Mayor Bara dan keluarga kami dipermalukan."
Bu Inah menghela napas. "Ayahmu diperiksa karena surat palsu dan uang santunan ayah Arum. Pangkatnya dicabut, dia dibawa Denpom. Ibumu sudah keluar dari asrama."
Reyhan mencengkeram tepi meja warung. "Uang apa?"
"Santunan mendiang Letda Suryadi. Katanya tidak sampai ke Arum. Semua dibuka waktu apel."
"Itu pasti jebakan Bara."
"Jangan cepat bicara kalau belum lihat bukti. Satu aula melihat."
"Arum di mana?"
Bu Inah menatapnya hati-hati. "Di Blok C-3. Aman."
"Di rumah lelaki itu?"
"Dia punya tugas yang dicatat dan pendampingan. Sekarang semua orang tahu Mayor Bara melindunginya."
Reyhan tertawa tanpa suara. "Melindungi atau mengambil?"
"Arum bukan barang."
Kalimat yang sama pernah dikatakan Rifki di Jakarta. Reyhan mengabaikannya lagi.
Ia mengambil koper dan menunggu sampai petugas jaga berganti, lalu berjalan ke jalan kecil yang menghadap bagian dalam asrama. Dari sana, Blok C-3 terlihat di balik pepohonan.
Sore merambat ketika pintu rumah terbuka. Arum keluar bersama Bara.
Reyhan hampir tidak mengenalinya.
Perempuan yang ia tinggalkan dahulu selalu berjalan dua langkah di belakang ibunya, memakai pakaian kebesaran, dan menyembunyikan wajah. Sekarang Arum mengenakan kebaya sederhana yang pas, rambutnya tersisir rapi, dan bahunya tegak. Ia masih lembut, tetapi tidak lagi tampak meminta izin untuk berada di dunia.
Bara berjalan di sisinya, bukan di depan. Ketika Arum berhenti untuk berbicara dengan Bu Yanti, lelaki itu ikut berhenti. Ia tidak menarik atau menyuruh. Ia menunggu.
Pemandangan itu mengganggu Reyhan lebih daripada pelukan.
Arum tampak memiliki pilihan.
Ia lalu melihat Bara menyerahkan sebuah peti kecil. Arum mengambil foto dari dalamnya, tersenyum sedih, dan Bara menunduk mendengarkan. Jarak mereka dekat, dipenuhi sesuatu yang tidak pernah Reyhan bangun selama bertahun-tahun mengenal Arum.
Reyhan merogoh saku jaket. Sebuah tusuk konde kayu masih tersimpan di sana. Ia memberikannya pada ulang tahun Arum yang kedua belas. Saat itu Arum menerima dengan mata berbinar, dan Reyhan menyimpan pandangan itu sebagai bukti bahwa hati perempuan tersebut selalu menjadi miliknya.
Ia tidak pernah bertanya apakah Arum berbinar karena dirinya atau karena itu hadiah pertama yang pernah diterimanya.
"Hatimu jelas masih ada aku," gumamnya.
Di dekat gerbang, seorang tetangga lama mengenalinya dan mendekat.
"Mas Reyhan, sebaiknya jangan buat keributan."
"Saya cuma mau bicara dengan calon istri saya."
"Bukan calon istrimu. Arum sudah bilang tidak pernah setuju."
"Dia bicara begitu karena ditekan."
"Saya melihat dia bicara di aula. Tak ada yang menekan."
Reyhan menoleh tajam. "Semua orang sekarang membela Bara karena pangkatnya."
"Atau karena Arum akhirnya berani bicara."
Tetangga itu pergi. Reyhan tetap berdiri sampai Bara dan Arum menghilang ke balik rumah.
Malamnya, ia menemukan ibunya di rumah sewa sempit di luar kompleks. Bu Yatmi langsung memeluknya dan menceritakan kehancuran mereka sebagai kisah pengkhianatan Arum. Namun, setiap kali Reyhan bertanya soal santunan, jawaban ibunya berubah.
"Itu urusan ayahmu. Ibu tidak paham dokumen."
"Tapi Ibu bilang Bara memalsukan semuanya."
"Pasti begitu."
"Mana buktinya?"
Yatmi menangis lebih keras. "Kamu malah menuduh Ibu?"
Reyhan tidak melanjutkan. Ia ingin percaya pada keluarganya, tetapi segel di pintu rumah dan ketakutan ibunya menanam retak yang tak bisa ditutup.
Tetap saja, satu hal terasa bisa ia rebut kembali: Arum.
Jika Arum pulang bersamanya, mungkin kehormatan keluarga belum sepenuhnya hilang. Ia bisa membuktikan Bara hanya memanfaatkan keadaan. Ia bisa mengembalikan semua ke masa sebelum surat-surat Jakarta membuatnya terlambat.
Ponselnya berdering. Rifki menelepon untuk memastikan ia tiba dengan selamat.
"Rumahku disegel," kata Reyhan tanpa salam. "Ayah ditahan."
Rifki terdiam, lalu bertanya, "Kamu sudah bicara sama Arum?"
"Besok. Dia pasti ikut Bara karena keluargaku jatuh."
"Atau karena dia memang memilih pergi."
"Kamu tidak kenal dia."
"Aku kenal surat yang kamu terima. Ada bagian yang ditulis untuk membuatmu marah dan pulang tanpa berpikir. Sekarang kamu sudah di sana. Cari fakta dulu."
Reyhan menatap tusuk konde di telapak tangannya. "Dia menyimpan perasaan sejak kecil."
"Apa dia pernah bilang?"
"Tidak perlu bilang."
"Itu jawaban orang yang takut bertanya."
Reyhan memutus sambungan.
Di kamar sewa, ia membuka koper dan menemukan pakaian yang disiapkan ibunya bertahun-tahun lalu untuk acara lamaran. Kain itu berbau kapur barus. Seluruh masa depan yang dianggap sudah pasti ternyata hanya disimpan oleh satu keluarga, tidak pernah ditandatangani oleh perempuan yang akan menjalaninya.
Bu Yatmi masuk membawa teh. "Besok bawa Arum kemari. Kalau dia masih punya hati, dia akan membantu kita."
"Membantu bagaimana?"
"Cabut keterangannya. Bilang Bara memaksa."
Reyhan menatap ibunya. "Kalau dia tidak dipaksa?"
"Kamu anak siapa?" Suara Yatmi menajam. "Sekarang bukan waktunya membela dia."
Retak dalam keyakinan Reyhan melebar, tetapi ia tetap menolak melihat bentuknya. Ia meyakinkan diri bahwa membawa Arum kembali akan memperbaiki semua sekaligus: ibunya berhenti menangis, ayahnya mendapat pembelaan, dan dirinya tak lagi menjadi anak yang pulang terlambat.
Ia tidak sadar bahwa dalam rencana itu, keinginan Arum sekali lagi tidak mendapat tempat.
Keesokan harinya, Reyhan menunggu di luar gerbang sejak sore. Tusuk konde kayu berada di sakunya, digenggam begitu keras hingga ujungnya menekan telapak.
Ketika Arum muncul sendirian di jalan kecil, ia melangkah maju.
Langkahnya cepat, dipenuhi tekad yang ia sebut cinta meski lebih mirip keinginan untuk memiliki.
Ia datang bukan untuk mendengar jawaban Arum.
Ia datang karena masih yakin jawaban itu seharusnya menjadi miliknya.