NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Menjenguknya Sendiri

"Pak Damar menunggu semalaman?" tanya Senja.

Bik Inah mengangguk. "Tidak tidur. Bahkan marah waktu dokter bilang obat tertentu harus menunggu hasil lab."

Senja melihat gips di tangan dan kakinya. Damar tidak sedingin yang ia pikirkan. Namun kecemasannya tidak hilang. Dalam kondisi seperti ini ia tidak bisa bekerja, mengantar Bintang, atau memenuhi tugas yang membuatnya boleh tinggal di rumah.

"Bintang cari saya?"

"Menangis terus. Pak Damar bawa dia ke kantor karena tidak mau ditinggal."

Di Bintang Residence sore itu, Damar pulang bersama Bintang. Anak itu langsung memeriksa setiap ruangan.

"Mama mana?"

"Masih di rumah sakit."

"Mau ketemu."

Bik Inah melapor bahwa Senja sudah sadar dan terus bertanya tentang Bintang.

Damar terdiam. "Dia luka begitu parah masih memikirkan anak?"

"Katanya ingin cepat pulang supaya bisa menjaga Non."

Bintang menarik jas papanya. "Antar sekarang."

Damar berjongkok. "Kenapa kamu sangat suka Senja? Dia yang suruh panggil Mama?"

"Enggak. Bintang sendiri. Mama malah bilang di luar panggil Kakak." Bibir anak itu bergetar. "Bintang mau Mama."

Jawaban tersebut menghapus satu prasangka lain. Damar memerintahkan dapur menyiapkan makanan bergizi.

Sebelum berangkat ke rumah sakit, hari Damar di kantor tidak berjalan seperti biasa. Bintang menolak duduk bersama pengasuh sementara dan mengikuti papanya ke setiap ruang. Ketika rapat dimulai, anak itu tidur di sofa sambil memeluk selendang Senja yang dibawa dari rumah.

Para direktur berusaha tidak melihat. Damar menyelesaikan rapat dalam dua puluh menit, lalu membatalkan sisanya.

"Papa kerja terus. Mama sendirian," protes Bintang setelah bangun.

"Mama ada perawat."

"Perawat bukan Papa."

Kalimat itu mengulang ucapan Mama Ratna bahwa pengasuh bukan ibu. Damar baru memahami anak kecil dapat membedakan siapa yang dibayar untuk hadir dan siapa yang memilih tinggal.

Di rumah, ia meminta dapur menyiapkan bubur kaya protein, sup bening, dan puding tanpa es sesuai arahan tim gizi. Ia sendiri memeriksa wadah agar tidak ada makanan yang terlalu keras atau berisiko bagi Senja.

Bik Inah tersenyum melihatnya. "Pak Damar bisa tanya dokter, tidak perlu buka semua tutup."

"Aku hanya memastikan."

"Iya, Pak."

Nada perempuan itu terlalu memahami. Damar menutup kotak terakhir sedikit lebih keras.

Saat tiba di kamar rawat, Bintang ingin melompat memeluk Senja. Perawat menahannya dan menjelaskan tubuh Mama belum boleh diguncang. Anak itu lalu meminta kursi, berdiri di atasnya, dan meniup setiap bagian gips satu per satu.

Di ambang pintu, Damar mendengar tangis tertahan ketika perawat baru saja membantu mengubah posisi Senja. Wajah perempuan itu masih pucat. Ucapannya di tangga, jangan berlebihan, kembali menghantam tanpa ampun.

"Yang ini juga sembuh. Yang kaki juga. Yang pinggang enggak bisa ditiup, nanti Mama geli."

Senja tertawa pelan, kemudian meringis karena gerakan perut menarik pinggang.

Damar langsung berdiri. "Sakit?"

"Cuma ketarik sedikit."

"Jangan tertawa dulu."

Bintang menatap papanya tidak percaya. "Masa Mama enggak boleh senang?"

Damar kehilangan jawaban. Senja menyelamatkannya dengan meminta Bintang bercerita tentang sekolah.

Anak itu menunjukkan gambar baru melalui tablet. Tiga orang berada di depan rumah, tetapi kali ini Senja digambar duduk di kursi roda dengan Damar mendorong dari belakang.

"Papa yang jaga Mama," jelas Bintang.

Senja melirik Damar. Lelaki itu memalingkan wajah seolah sibuk membuka kotak makan.

Perawat membantu menyuapi. Senja hanya mampu beberapa sendok sebelum mual. Damar ingin memaksanya menghabiskan karena teringat tulang rapuh, tetapi dokter sudah mengingatkan pemulihan gizi harus bertahap.

"Cukup dulu," katanya. "Nanti coba lagi."

Senja menatapnya heran. Damar yang biasa memerintah kini mengikuti batas tubuhnya.

"Saya belum bisa membantu menjaga Bintang," kata Senja. "Kalau uang bulan ini dikurangi, saya mengerti."

Damar menutup kotak makan. Perempuan yang jatuh karena kelambatannya masih takut kehilangan gaji.

"Apa yang kujanjikan tetap kuberikan."

"Tapi saya tidak bekerja."

"Kamu pasien. Istirahat juga bagian dari pekerjaanmu sekarang."

Senja hendak membantah, lalu melihat Bintang memperhatikan mereka dengan cemas. Ia akhirnya mengangguk dan menerima satu sendok lagi dari perawat.

Perawat menunjukkan kepada Damar posisi kursi dan meja yang tidak boleh menghalangi jalur alat. Damar memindahkan barang-barangnya sendiri, lalu meminta Bintang mencuci tangan sebelum kembali menyentuh sisi ranjang.

"Papa sekarang kayak perawat," kata Bintang.

"Papa cuma mengikuti aturan."

Senja melihat lelaki yang biasanya membuat aturan kini menjalankan instruksi orang lain tanpa protes. Ia belum tahu bahwa rasa bersalah berada di balik kepatuhan itu. Yang ia lihat hanya Damar berusaha tidak menambah satu rasa sakit pun pada tubuhnya.

Ketika Bintang pergi ke toilet bersama Bik Inah, kamar menjadi sunyi. Senja mengumpulkan keberanian.

"Mas, soal malam itu..."

Tubuh Damar menegang.

"Saya ceroboh karena tidak menyalakan lampu. Maaf membuat Mas repot."

Rasa bersalah menusuk lebih dalam. Senja bahkan mengambil kesalahan yang bukan seluruhnya miliknya.

"Bukan kamu yang harus minta maaf."

Senja menunggu, tetapi Damar belum sanggup mengaku bahwa tangannya sengaja terlambat. Ia hanya berkata, "Aku yang mengejutkanmu."

"Mas juga enggak tahu saya di tangga."

Damar menunduk. Ia tahu. Ia melihat. Ia ragu. Namun pengakuan tersebut mungkin menghancurkan sedikit kepercayaan yang baru tumbuh.

"Fokus sembuh dulu," katanya. "Urusan rumah, pekerjaan, dan uang tidak perlu kamu pikirkan."

"Kalau rumah sakit tahu saya lama tidak masuk, masa magang bisa gagal."

"Cuti medismu sudah disahkan. Masa magang diperpanjang tanpa menghapus penilaian sebelumnya."

"Mas yang atur?"

"Itu hak pasien yang cedera, bukan hadiah."

Senja memahami Damar sengaja membingkai pertolongan sebagai prosedur agar ia dapat menerima tanpa merasa berutang.

Bintang kembali dan naik ke kursi. "Papa jangan pulang. Kita temani Mama."

Damar duduk di sofa. Ia menjawab pesan kerja seperlunya, tetapi setiap kali Senja menarik napas lebih tajam, matanya langsung terangkat.

Menjelang malam, Bintang tertidur dengan kepala di sisi kasur. Damar mengangkatnya ke sofa dan menyelimuti. Senja memperhatikan kelembutan tangannya.

"Terima kasih sudah membawa dia."

"Dia yang memaksa."

"Mas juga bisa menolak."

Damar tidak menjawab. Ia memindahkan kursi lebih dekat ke ranjang, jarak yang kecil tetapi jelas berbeda dari sofa paling jauh.

Damar tahu senyum Senja tadi adalah kebohongan. Kali ini ia tidak menuduhnya berlebihan. Ia duduk di sana sampai malam, menjaga kebohongan kecil tersebut agar Bintang tidak kembali menangis.

Ketika lampu kamar diredupkan, Senja membuka mata dan mendapati Damar masih di kursi terdekat. Ia tidak mengatakan apa pun. Kehadiran yang dulu selalu terasa seperti pengawasan malam itu berubah menjadi sesuatu yang menyerupai perlindungan.

Malam itu, perlindungan Damar hadir tanpa perintah, tanpa uang, dan tanpa syarat yang harus Senja bayar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!