NovelToon NovelToon
SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Ckiiiit!

Suara decitan ban mobil yang bergesekan keras dengan aspal mengejutkan para karyawan di lobi Prameswari Group.

Tiga mobil sport mewah berwarna merah menyala berhenti sembarangan tepat di depan pintu masuk utama.

Genta yang sedang sibuk mengelap kaca lobi menghentikan gerakannya sejenak.

Dia menatap datar ke arah rombongan orang-orang berjas rapi yang baru saja turun dari mobil mahal tersebut.

Seorang pria muda dengan setelan jas putih mencolok dan kacamata hitam mahal berjalan memimpin di depan.

Rambutnya disisir klimis ke belakang, memancarkan aura arogansi yang sangat kental dari setiap langkahnya.

Pria itu adalah Kevin Adhitama, putra tunggal dari keluarga konglomerat Adhitama yang merupakan saingan bisnis Prameswari Group.

"Di mana Kiara? Suruh dia turun menemuiku sekarang juga!" teriak Kevin dengan suara lantang bergema di seluruh lobi.

Dua pengawal bertubuh kekar berjalan di belakangnya, salah satunya membawa sebuah kotak kayu berukir naga dengan sangat hati-hati.

Resepsionis di meja depan langsung pucat pasi dan segera menekan tombol telepon darurat ke ruangan direktur.

"Maaf Tuan Kevin, Nona Kiara sedang ada rapat penting," ucap resepsionis itu dengan suara gemetar ketakutan.

Brak!

Kevin menggebrak meja resepsionis dengan keras hingga telepon di atasnya terpental jatuh.

"Rapat penting apa yang lebih berharga dari nyawa kakeknya sendiri, hah?!" bentak Kevin dengan mata melotot tajam.

"Katakan padanya aku membawa obat penawar yang bisa menyelamatkan nyawa tua bangka itu dari kematian!"

Mendengar kata obat penawar, suasana lobi yang tadinya tegang mendadak menjadi riuh oleh bisikan para karyawan.

Semua orang di perusahaan ini tahu bahwa Tuan Besar Prameswari sedang terbaring koma di rumah sakit menunggu ajal.

Tidak butuh waktu lama, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar tergesa-gesa dari arah lift khusus eksekutif.

Kiara muncul dengan raut wajah yang sangat kelelahan, kantung matanya sedikit menghitam karena kurang tidur berhari-hari.

Namun saat melihat kehadiran Kevin, Kiara langsung memasang wajah dingin dan benteng pertahanan es andalannya.

"Ada urusan apa kau membuat keributan di perusahaanku, Kevin?" tanya Kiara tajam.

Kevin menyeringai lebar melihat wanita cantik yang sudah lama menjadi incaran nafsunya itu akhirnya muncul.

"Jangan sedingin itu sayang, aku datang ke sini sebagai pahlawan penyelamat keluargamu," ucap Kevin dengan nada menggoda yang menjijikkan.

Dia menjentikkan jarinya, dan pengawal di belakangnya langsung melangkah maju membuka kotak kayu berukir tersebut.

Aroma herbal yang sangat pekat dan menyengat langsung menyebar memenuhi seluruh lobi seketika.

Di dalam kotak berlapis beludru merah itu, terbaring sebuah akar ginseng berukuran besar yang berwarna merah darah.

"Ini adalah Ginseng Darah Seribu Tahun yang aku menangkan dari pelelangan rahasia di luar negeri seharga lima puluh miliar."

"Tabib terhebat pun setuju bahwa energi kehidupan di dalam ginseng ini bisa membangkitkan orang mati dari liang kubur."

Mata Kiara langsung melebar, pertahanan esnya sedikit runtuh melihat secercah harapan untuk kakeknya yang sedang sekarat.

"Berapa harga yang kau minta untuk ginseng itu, Kevin? Sebutkan saja angkanya, Prameswari Group akan membayarnya lunas."

Kevin tertawa terbahak-bahak mendengar tawaran Kiara, tawanya terdengar sangat meremehkan.

"Kau pikir keluarga Adhitama kekurangan uang recehanmu itu, Kiara?"

Kevin melangkah mendekat, matanya menatap liar ke arah lekuk tubuh Kiara dengan penuh nafsu.

"Aku akan memberikan ginseng ini secara gratis malam ini juga, asalkan kau mau menandatangani surat pernikahan kita besok pagi."

"Jadilah milikku, melayaniku di ranjang, dan kakekmu akan hidup seratus tahun lagi."

Kiara langsung mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat.

Dia merasa sangat terhina, harga dirinya diinjak-injak, namun bayangan wajah kakeknya yang dipenuhi alat bantu pernapasan membuatnya ragu.

Jika dia menolak, kakeknya akan mati dan seluruh perusahaan ini akan jatuh ke tangan paman-pamannya yang serakah.

"Bagaimana, Kiara? Waktu kakekmu tidak banyak, jangan biarkan egomu membunuhnya," desak Kevin terus memojokkan.

Tepat saat Kiara hendak membuka mulutnya untuk menelan kepahitan itu, sebuah suara tawa pelan terdengar memecah keheningan.

Suara tawa itu berasal dari sudut lobi, dari seorang pemuda berseragam kebersihan yang sedang memegang semprotan pembersih kaca.

Genta menggelengkan kepalanya pelan, menatap Kevin dengan tatapan penuh rasa kasihan seolah menatap seekor badut sirkus.

"Aku tidak akan menyentuh sampah beracun itu walau kau membayarku triliunan rupiah, Nona Kiara," ucap Genta dengan suara santai yang menggema.

Semua orang di lobi langsung menoleh ke arah Genta, menahan napas ngeri melihat keberanian gila tukang pel itu.

Wajah Kevin seketika berubah merah padam karena amarahnya memuncak diganggu oleh seorang kasta terendah.

"Siapa gembel busuk ini?! Berani sekali kau menghina pusaka seharga lima puluh miliar milikku!" teriak Kevin murka.

Genta meletakkan semprotan kacanya dan melangkah pelan mendekati kerumunan tanpa rasa takut sedikitpun.

[Mata Surgawi Level 1 sedang memindai target objek...]

[Hasil analisis: Ginseng Darah Palsu. Disuntik dengan racun Cacing Jantung Hitam.]

[Efek: Pasien akan terlihat sehat selama dua jam sebelum jantungnya meledak dari dalam.]

Membaca informasi mematikan dari sistem di depan matanya, senyum sinis Genta semakin melebar.

"Itu bukan Ginseng Darah Seribu Tahun, itu hanya akar pohon pepaya hutan yang direndam dalam darah babi hutan selama sebulan."

"Dan yang lebih parah, kau sengaja memasukkan benih Cacing Jantung Hitam ke dalam pori-pori akar palsu itu."

Pernyataan Genta meluncur bagaikan petir di siang bolong, menyambar telinga semua orang yang mendengarnya.

Kiara terkesiap, dia menatap Genta dengan tatapan tidak percaya, namun otaknya mengingat bagaimana pemuda ini menyelamatkan nyawa Tuan Surya tadi pagi.

Wajah Kevin mendadak menjadi sangat pucat, setetes keringat dingin mengalir turun dari pelipisnya.

"O-omong kosong! Kau memfitnahku, dasar gembel rendahan!" jerit Kevin dengan nada suara yang bergetar panik.

"Pengawal! Patahkan kaki mulut anjing ini dan lempar dia ke jalanan sekarang juga!"

Dua pengawal bertubuh besar itu langsung menerjang maju, melayangkan pukulan keras ke arah wajah Genta.

Namun bagi Genta yang memiliki fisik terlatih di kerasnya alam gunung liar, gerakan mereka terlihat selambat siput.

Tap! Tap!

Genta hanya bergeser sedikit ke samping, menghindari pukulan pertama dengan sangat elegan.

Detik berikutnya, tangannya bergerak secepat kilat menekan titik lemah di bagian bawah ketiak kedua pengawal itu secara bersamaan.

Bruk! Bruk!

Kedua pengawal raksasa itu langsung ambruk ke lantai, tubuh mereka kejang-kejang kaku seperti ikan yang diangkat dari air.

Kevin mundur selangkah dengan wajah ketakutan, dia tidak menyangka gembel ini memiliki kemampuan bela diri yang mengerikan.

"Kau mau bukti kalau kau sedang mencoba membunuh Tuan Besar Prameswari secara perlahan?" tantang Genta dingin.

Tanpa menunggu persetujuan, Genta merebut kotak kayu itu dari tangan pengawal yang terkapar.

Dia berjalan menuju meja resepsionis dan mengambil secangkir teh panas yang belum sempat diminum oleh pegawai di sana.

"Cacing Jantung Hitam sangat sensitif terhadap suhu panas, mari kita lihat apa yang keluar dari pusaka mahalmu ini."

Byurr!

Genta menyiramkan teh panas itu langsung ke atas permukaan ginseng merah darah tersebut.

Semua mata menatap lekat-lekat, menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Desisssss!

Asap putih tipis mengepul dari permukaan ginseng, diikuti bau busuk daging menyengat yang membuat banyak orang hampir muntah.

Tiba-tiba, kulit luar ginseng itu robek, dan puluhan cacing hitam berukuran kecil menggeliat keluar dengan sangat menjijikkan.

Cacing-cacing itu bergerak liar di dalam kotak, mencoba melarikan diri dari suhu panas teh tersebut.

Jeritan ngeri dan jijik langsung meledak dari para karyawan wanita yang melihat pemandangan mengerikan itu.

Kiara menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak ngeri menyadari dia hampir saja membunuh kakeknya sendiri dengan tangannya.

Dia menatap Kevin dengan sorot mata yang menyala-nyala penuh kebencian dan amarah yang meluap.

"Kau... kau berencana membunuh kakekku dan membuat seolah-olah dia mati karena penyakitnya?!" teriak Kiara dengan suara bergetar menahan tangis amarah.

"Lalu kau akan memaksaku menikah denganmu saat perusahaanku hancur? Betapa liciknya kau, Kevin Adhitama!"

Rencana jahat Kevin telah terbongkar sempurna hingga ke akar-akarnya tanpa bisa disangkal lagi.

Ratusan pasang mata karyawan kini menatap Kevin dengan tatapan membunuh, siap mengeroyoknya jika diperintahkan.

"T-tunggu! Ini pasti salah paham! Aku juga ditipu oleh penjual di pelelangan itu!" bantah Kevin terbata-bata mencoba mencari alasan konyol.

"Aku bersumpah aku tidak tahu ada cacing menjijikkan di dalam sana!"

Genta hanya tersenyum meremehkan melihat kepanikan tuan muda arogan yang kini terlihat seperti tikus tercebur got.

"Alasan yang sangat menyedihkan untuk seorang pewaris tunggal keluarga konglomerat."

"Bawa sampah-sampahmu ini dan keluar dari gedung ini sebelum aku memaksa cacing-cacing ini masuk ke dalam tenggorokanmu," ancam Genta dengan suara mematikan.

Aura intimidasi yang dipancarkan Genta begitu pekat, membuat Kevin merasa nyawanya benar-benar terancam jika dia berani membantah.

"Awas kau gembel! Aku tidak akan melupakan penghinaan ini!" ancam Kevin sambil mundur teratur menuju pintu keluar.

"Keluarga Adhitama akan meratakan tempat ini, tunggu saja pembalasanku!"

Kevin berlari terbirit-birit keluar dari lobi, meninggalkan kedua pengawalnya yang masih terkapar kaku di lantai marmer.

Suasana lobi perlahan kembali tenang, namun keheningan yang tersisa justru terasa sangat canggung.

Semua orang kini menatap Genta dengan pandangan yang benar-benar berbeda, ada rasa hormat dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.

Kiara melangkah pelan mendekati Genta, matanya terus menatap wajah suaminya itu dari jarak dekat.

Baru kali ini Kiara benar-benar memperhatikan siluet wajah Genta, rahangnya yang tegas, dan sorot matanya yang tidak pernah menunjukkan rasa takut.

"Kau menyelamatkan keluargaku lagi hari ini," ucap Kiara pelan, nadanya sangat canggung dan gengsi.

"Dari mana kau tahu ada parasit berbahaya di dalam akar itu?"

Genta mengangkat bahunya santai, wajahnya kembali datar seakan dia baru saja membuang sampah plastik biasa.

"Guruku di gunung sering membuat ramuan dari tanaman liar, aku sudah hafal bau akar busuk dan racun mematikan sejak kecil."

Genta kemudian berbalik menuju sudut lobi, mengambil kembali semprotan kaca dan lap kainnya yang tergeletak di lantai.

"Kalau Nona Kiara sudah tidak punya pertanyaan lagi, aku harus melanjutkan membersihkan kaca ini."

"Aku tidak mau gajiku dipotong lagi hanya karena ada noda tangan tuan muda arogan di pintu depan perusahaanmu."

Genta kembali bekerja dalam diam, meninggalkan Kiara yang berdiri mematung dengan perasaan yang luar biasa campur aduk.

Rasa gengsi di dada Kiara bertarung hebat dengan rasa kagum dan kebingungan yang terus menggerogoti otaknya.

Di saat bersamaan, suara yang sangat dirindukan Genta kembali berdenting nyaring di dalam kepalanya.

Ding!

[Misi menggagalkan pembunuhan tersembunyi berhasil diselesaikan.]

[Menghitung poin reputasi dari kekalahan Tuan Muda Keluarga Adhitama...]

[Hadiah khusus sedang dipersiapkan untuk memulihkan energi fisik Master...]

Senyum Genta mengembang tipis di balik pantulan kaca lobi yang sedang dilapnya.

Permainan di kota metropolitan ini ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang dia bayangkan.

1
yani
💕💞💕
pricilia
🥰🥰
Anton barly
🥰🥰🥳🥳
fitri
/Gift//Gift//Gift//Gift//Gift/
Antoni gergio
💞💞💞💞💞
Angel
🌹🌹🌹🥰🥰🥰
Shinta geol
❤❤❤❤
clara
andai di dunia nyata ada🥹
Jamrud Khatulistiwa
sistem sangat pelit, setiap misi tdk sda hadiah
Jamrud Khatulistiwa
sistim tdk pernah memberi tahu hadiah yg diberikan
Jamrud Khatulistiwa
murid orang sakti mendapat sistem
Gege
katanya diawal sudah belajar banyak di gunung Rinjani.. nyatanya masih bergantung sama sistem...tapi gpp biar lebih op laah MC nyaaaah .pesen 10 hareem yaa Thor...jangan lembek..🤭
Cherlly: iya kaka,judul nya aja sistem kaka,next crita ya kaka saya lagi mikir lgi biar menarik 😊😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!