Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
Bab 33 — Mereka Menunggu Kepulangan Kami
Ruangan itu kembali sunyi.
Clara tidak bergerak.
Tatapannya terpaku pada Amara.
Kemudian beralih kepada Rafael.
Pria yang selama ini ia kenal.
Pria yang selalu berada di pihak mereka.
Namun sekarang berdiri di samping Amara.
Di tempat yang seharusnya tidak pernah diketahui siapa pun.
“Mami…”
Suara Clara bergetar.
“Kenapa?”
Amara menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
“Clara…”
“Jangan panggil namaku seperti itu.”
Clara mundur satu langkah.
“Jawab aku.”
Amara menarik napas panjang.
“Kebenarannya jauh lebih rumit daripada yang kau bayangkan.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Rafael menatap Amara.
“Sudah waktunya.”
Amara mengangguk.
Kemudian ia menatap Clara.
“E-17 tidak pernah berakhir.”
Clara mengerutkan kening.
“Bukankah penelitian itu dihentikan?”
“Tidak.”
Amara menggeleng.
“Penelitian itu hanya dipindahkan.”
Fedro langsung maju.
“Ke mana?”
Rafael menjawab,
“Ke tempat yang tidak bisa ditemukan siapa pun.”
Clara menatap sekeliling.
“Tempat ini?”
“Sebagian.”
Clara menunjuk kapsul-kapsul di belakangnya.
“Lalu semua ini?”
Amara terdiam beberapa saat.
“Adalah bagian terakhir.”
Alena yang masih berada di dalam kapsul tiba-tiba berkata,
“Bohong.”
Semua menoleh.
Amara memandang Alena.
“Alena.”
“Jangan dengarkan dia, Kak.”
Alena menatap Clara.
“Dia tidak mengatakan semuanya.”
Clara menatap Amara.
“Mami…”
Amara memejamkan mata.
“Alena benar.”
Rafael langsung menoleh.
“Amara.”
“Aku tidak bisa terus berbohong.”
Clara menahan napas.
“Berarti selama ini Mami memang tahu?”
Amara mengangguk.
“Ya.”
“Sejak kapan?”
“Sejak sebelum kalian dilahirkan.”
Clara terdiam.
Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada apa pun yang baru saja ia dengar.
“Jadi sejak aku lahir…”
Amara menggeleng cepat.
“Tidak.”
“Sejak aku lahir, aku sudah menjadi bagian dari eksperimen?”
“Tidak, Clara.”
Amara mendekat.
Namun Clara langsung mundur.
“Jangan mendekat.”
Amara berhenti.
“Mami tidak pernah menganggapmu sebagai eksperimen.”
“Lalu kenapa namaku ada di sini?”
“Karena kami tidak punya pilihan.”
Fedro menatap tajam.
“Selalu itu alasannya.”
Rafael menatap Fedro.
“Kau tidak mengerti.”
“Aku mengerti cukup banyak.”
Fedro menunjuk kapsul-kapsul itu.
“Kalian mengambil anak-anak.”
“Memisahkan mereka.”
“Menghapus ingatan mereka.”
“Lalu membuat mereka hidup seperti orang biasa.”
Rafael diam.
Fedro melanjutkan,
“Dan sekarang kalian membawa mereka kembali.”
Amara menundukkan kepala.
“Karena kami harus memastikan mereka tetap hidup.”
Clara mengerutkan kening.
“Dari siapa?”
Amara mengangkat wajahnya.
“Dari pencipta E-17.”
Clara terdiam.
“Vincent?”
Amara menggeleng.
“Bukan.”
Rafael menatap layar utama.
“Vincent hanya pelaksana.”
Clara menatapnya.
“Kalau begitu siapa penciptanya?”
Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba monitor utama berubah.
E-17 — ORIGINAL ARCHIVE
ACCESSING…
Raka langsung terdengar melalui alat komunikasi.
“Clara!”
Clara menekan alat komunikasi.
“Raka?”
“Aku melihat sesuatu.”
“Apa?”
“File lama mulai terbuka sendiri.”
“Bisa kau hentikan?”
“Tidak.”
Raka terdengar semakin panik.
“Ini bukan akses dari komputerku.”
Clara menatap layar.
“Lalu dari mana?”
Raka terdiam.
“Dari dalam sistem.”
BIP.
Sebuah rekaman muncul.
Gambar hitam putih memenuhi layar.
Seorang pria berdiri di depan kamera.
Wajahnya masih muda.
Clara memperhatikan wajah itu.
Kemudian matanya melebar.
“Tidak mungkin…”
Fedro ikut melihat.
“Siapa?”
Clara menunjuk layar.
“Itu…”
Amara menutup mata.
Rafael mengepalkan tangan.
Pria dalam rekaman mulai berbicara.
“Jika rekaman ini diputar, berarti C-01 telah kembali.”
Clara membeku.
Suara itu tidak asing.
Namun ia belum pernah mendengarnya dalam rekaman sebelumnya.
Pria itu melanjutkan.
“C-01 tidak boleh mengetahui identitasnya sampai seluruh sistem aktif.”
Clara menatap Amara.
“Mami tahu siapa dia?”
Amara tidak menjawab.
Rekaman berlanjut.
“C-01 bukan anak pertama.”
Clara menahan napas.
“Dia adalah hasil terakhir.”
Layar berganti.
Muncul gambar seorang bayi.
Kemudian tulisan:
SUBJEK C-00
Clara menatap gambar itu.
“C-00?”
Alena tiba-tiba berteriak dari dalam kapsul.
“Kak! Jangan lihat!”
Namun terlambat.
Gambar berikutnya muncul.
Seorang anak kecil.
Kemudian foto lain.
Seorang anak laki-laki.
Dan foto terakhir membuat Clara kehilangan napas.
Anak itu terlihat sangat mirip dengan seseorang yang ia kenal.
Fedro.
Fedro menatap layar dengan wajah pucat.
“Kenapa…”
Clara menatapnya.
“Fedro…”
Ia menggeleng.
“Itu bukan aku.”
Amara berkata pelan,
“Bukan.”
Fedro menatap Amara.
“Lalu siapa?”
Amara menatap layar.
“Saudaramu.”
Ruangan mendadak membeku.
Fedro tidak berkedip.
“Aku tidak punya saudara.”
Amara menggeleng.
“Menurut ingatanmu.”
Fedro menatapnya tajam.
“Jelaskan.”
Rafael berkata,
“Saudaramu adalah subjek pertama yang berhasil bertahan.”
“Namanya?”
Amara diam.
Fedro maju.
“Namanya!”
Amara menatapnya dengan air mata.
“F-01.”
Fedro membeku.
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari kapsul paling ujung.
BIP.
PINTU TERBUKA.
Semua menoleh.
Uap putih keluar perlahan.
Seseorang berdiri di dalam kapsul.
Seorang pria.
Wajahnya sangat mirip dengan Fedro.
Clara menatapnya.
Fedro tidak bergerak.
Pria itu membuka mata.
Kemudian menatap Fedro.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Lalu pria itu tersenyum tipis.
“Adikku.”
Fedro mengepalkan tangan.
“Siapa kau?”
Pria itu melangkah keluar dari kapsul.
“Aku orang yang seharusnya tidak pernah kau temukan.”
Alena menatapnya dari dalam kapsul.
“F-01…”
Pria itu menoleh.
“Alena.”
Clara langsung bertanya,
“Kau mengenalnya?”
Alena mengangguk pelan.
“Dia yang menjaga kami.”
Fedro menatap pria itu.
“Menjaga siapa?”
F-01 memandang seluruh kapsul.
“Kalian semua.”
Clara mengerutkan kening.
“Kalau begitu kenapa kami tidak mengingatmu?”
F-01 tersenyum pahit.
“Karena aku meminta mereka menghapus ingatan kalian.”
Fedro langsung maju.
“Kau?”
“Ya.”
“Kenapa?”
F-01 menatapnya.
“Karena kalau kalian mengingatku…”
Ia berhenti.
“…Vincent akan menemukan kalian.”
Clara menatap Amara.
“Jadi selama ini…”
Amara mengangguk.
“F-01 adalah alasan kami menghapus ingatan kalian.”
Fedro menatap pria itu.
“Kenapa kau menyelamatkan kami?”
F-01 terdiam.
Kemudian ia menjawab,
“Karena aku gagal menyelamatkan yang lainnya.”
Lampu ruangan tiba-tiba berubah merah.
ALARM.
Raka berteriak melalui alat komunikasi.
“Clara!”
“Apa lagi?”
“Sistem utama aktif!”
“Berapa lama?”
“Kurang dari lima menit!”
Clara melihat layar.
Tulisan baru muncul.
E-17 — MEMORY RESTORATION
PHASE ONE.
Kemudian seluruh kapsul mulai terbuka.
Satu.
Dua.
Tiga.
F-01 menatap Clara.
“Sekarang kau harus memilih.”
“Memilih apa?”
“Melihat seluruh ingatanmu…”
Ia menatap layar.
“…atau menghentikan E-17 selamanya.”
Clara terdiam.
Fedro berdiri di sampingnya.
Alena menatap mereka dari dalam kapsul.
Amara dan Rafael tidak mengatakan apa pun.
Clara menatap semua orang.
Kemudian menatap layar.
Ia mengingat foto masa kecilnya.
Ingatan yang hilang.
E-17.
C-01.
Dan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ketahui.
Ia menarik napas.
“Aku ingin tahu semuanya.”
F-01 menatapnya.
“Kalau kau melihatnya, kau tidak akan bisa kembali menjadi Clara yang dulu.”
Clara menggenggam tangan Fedro.
“Aku tidak peduli.”
Fedro mengangguk.
“Aku bersamamu.”
Clara menatap Alena.
“Kita bertiga.”
Alena tersenyum tipis.
“Seperti dulu.”
Tiba-tiba layar utama berubah.
ACCESS GRANTED.
MEMORY RESTORATION STARTED.
Kemudian sebuah suara terdengar dari seluruh ruangan.
Bukan suara Vincent.
Bukan suara Amara.
Bukan suara Rafael.
Suara seorang anak kecil.
Suara yang terdengar sangat dekat.
“Clara…”
Clara membeku.
Suara itu kembali terdengar.
“Kau akhirnya kembali.”
Clara menatap F-01.
“Siapa itu?”
F-01 tidak menjawab.
Wajahnya berubah pucat.
Clara menatapnya.
“Siapa?”
F-01 berbisik,
“C-00.”
Layar mati.
Dan dari salah satu kapsul yang belum terbuka…
terdengar suara ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Tok.
Bersambung…