Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. Jebakan Maut
Di lorong privat yang remang-remang menuju area toilet VIP, udara malam terasa begitu dingin dan mencekam. Cahaya lampu dinding yang temaram membiaskan bayangan-bayangan panjang di atas marmer mengkilap.
Helena berdiri di sudut tersembunyi dekat pilar besar, mengawasi area sekitar dengan napas yang memburu halus akibat keasyikan lonjakan adrenalin.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Helena merogoh tas tangan kulit mewahnya. Jemarinya menarik keluar sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening tanpa warna yang memantulkan kilau lampu dinding secara redup.
"Mampu bertahan sampai kapan kau malam ini, Clarissa?" gumam Helena sangat pelan pada dirinya sendiri. Suaranya yang setengah berbisik sarat akan rasa dendam dan kebencian yang sudah memuncak di ubun-ubun.
Helena mengamati botol kecil itu dengan senyuman licik yang terukir penuh kepuasan di bibirnya. Obat perangsang dosis tinggi ini bekerja sangat cepat. Sedikit saja masuk ke dalam minuman Clarissa, wanita itu akan kehilangan seluruh akal sehat, kesadaran, dan rasa malunya. Pria kasar yang disewanya di kamar VIP lantai bawah sudah menunggu dengan kamera tersembunyi yang siap menyala.
Ia mengepalkan tangannya, memandangi pantulan dirinya di cermin dinding dengan mata berkilat jahat. Besok pagi, foto-foto Clarissa yang menjijikkan sedang bercumbu di kamar hotel akan memenuhi seluruh papan berita nasional. Kakek Silas akan membuang Clarissa bagai sampah, dan Dominic... Dominic tidak akan pernah sudi menyentuh atau menatap wajah wanita itu lagi.
Dengan gerakan cepat, Helena menyelinap menuju meja saji, memanfaatkan kelengahan para pelayan untuk menuangkan cairan dari botol kaca itu ke dalam gelas minum Clarissa.
Dari kejauhan, dengan senyum puas yang tertahan, Helena menyaksikan Clarissa kembali ke meja makan dan meneguk minuman tersebut hingga habis tanpa curiga sedikit pun.
Tak lama setelah meminumnya, Helena melihat Clarissa mulai mengusap lehernya, wajahnya memerah, lalu berdiri dengan langkah sempoyongan meninggalkan aula makan menuju lantai bawah. Helena menyunggingkan senyuman kemenangan mutlak. Mangsanya sudah berjalan lurus masuk ke dalam perangkap.
Sepuluh menit berlalu. Helena tahu ini adalah saatnya untuk melancarkan pukulan mematikan. Suasana di dalam aula jamuan makan malam yang semula tenang mulai dipenuhi kasak-kusuk karena ketidakberadaan Clarissa.
"Di mana Clarissa?" suara berat Kakek Silas memecah keheningan. Matanya yang tajam bagai elang menyapu sekeliling meja makan yang kini kosong.
Dominic berdiri dari kursinya, mengernyitkan dahi dengan rahang yang mengeras. Ketidakberadaan istrinya yang cukup lama mulai memicu rasa cemas di dalam dadanya.
"Tulus, di mana Nyonya?"
Sebelum Tulus sempat menjawab, Helena langsung melangkah maju ke tengah ruangan. Wajahnya dipasang raut penuh kepura-puraan yang sangat dramatis; matanya berkaca-kaca dan tangannya gemetar bagai seorang saksi yang terguncang hebat.
"Kakek Silas... Dominic... tolong maafkan aku," suara Helena bergetar, memancing perhatian seluruh kerabat keluarga besar Pratama.
Dominic menatap Helena dingin. "Ada apa, Helena? Bicara yang jelas!"
"Aku... aku tidak sengaja melihatnya saat hendak ke toilet tadi," panggil Helena dengan nada yang dibuat-buat syok.
"Aku tidak tega menyampaikannya, tapi aku melihat Nyonya Clarissa sedang bercumbu mesra dengan seorang pria asing di lorong privat lantai bawah! Wajahnya sangat merah, pakaiannya berantakan, dan beliau berjalan sempoyongan menuntun pria itu masuk ke dalam kamar VIP!"
Brak!
Suara kehebohan seketika pecah di seluruh ruangan. Para paman dan bibi saling berbisik histeris dengan wajah penuh celaan. Paman Dominic langsung berdiri dengan senyum kemenangan yang tertahan, sementara Kakek Silas menggebrak meja makan menggunakan tongkat naganya hingga menimbulkan dentum yang membingakkan telinga.
"Jangan bicara sembarangan, Helena!" bentak Dominic dengan suara menggelegar dingin, matanya menatap Helena bagai belati yang siap menikam.
"Clarissa tidak mungkin
melakukan hal serendah itu!"
"Aku melihatnya dengan mataku sendiri, Dominic! Demi Tuhan, aku tidak bohong!" ratap Helena semakin histeris, menyelimuti kebohongannya dengan akting yang sempurna. "Pria itu sangat kasar! Jika kalian tidak percaya padaku, mari kita turun dan buktikan bersama! Pintu kamar VIP itu belum dikunci rapat!"
Paman Dominic langsung menyambar kesempatan emas ini. "Kakek! Ini tidak bisa dibiarkan! Jika menantu keluarga Pratama terbukti melakukan perzinahan di acara resmi hotel, nama baik klan kita akan hancur total! Kita harus membuktikannya sekarang juga!"
Kakek Silas berdiri perlahan, matanya membara oleh amarah yang mengerikan. "Buka kamar itu sekarang."
Dada Helena bergelora oleh euforia kemenangan. Tanpa membuang waktu, rombongan keluarga besar Pratama—dipimpin oleh Helena yang berjalan paling depan—berlari mengekor menuju lift khusus menuju kamar VIP di lantai bawah. Helena mengangkat dagunya tinggi-tinggi, sudut bibirnya menyunggingkan senyuman kejam yang tak tertahankan.
Di dalam benaknya, seluruh skenario kehancuran Clarissa sudah tergambar sempurna. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana wanita itu akan menangis histeris di lantai dengan pakaian terkelupas, tersungkur tak berdaya dan diusir secara hina di bawah tatapan murka seluruh klan Pratama.
Langkah kaki rombongan bergaung nyaring di sepanjang koridor lantai bawah yang sunyi. Helena berhenti tepat di depan pintu kayu jati kamar VIP nomor 808. Dari balik pintu yang sedikit renggang, terdengar suara desahan panas, erangan tidak terkontrol, dan benturan benda yang sangat jelas dari dalam kamar.
"Dengar itu?!" seru Helena dengan nada dramatis, menoleh pada Dominic dengan tatapan penuh kebohongan yang berkedok simpati. "Dominic, bersabarlah... aku tahu ini berat bagimu."
Dominic tidak menjawab, wajahnya pucat pasi dan rahangnya mengetat hingga urat-urat lehernya menonjol. Tatapannya menatap lurus ke arah celah pintu dengan aura pembunuh yang pekat.
"Buka pintunya sekarang juga!" perintah Kakek Silas dengan suara menggelegar, mengacungkan tongkat naganya.
Tangan Helena menyentuh gagang pintu marmer yang dingin. Dengan senyuman kejam yang merekah lebar dan rasa puas yang membuncah di dadanya, ia menarik napas dalam-dalam, siap mendorong pintu itu dan menyaksikan kejatuhan Clarissa untuk selamanya.
sangat menarik sekali