Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Beban Masa Laluku
Viktor
Belum pernah aku melihat Ekaterina seperti ini.
Rapuh.
Tanpa tembok-tembok yang ditegakkan. Tanpa upaya terus-menerus untuk tampak kuat sepanjang waktu.
Dia gemetar dalam pelukanku sambil mendekapku erat, dan aku otomatis mengeratkan pelukanku.
Tanganku naik perlahan membelai rambutnya.
"Sudah tak apa-apa... ada aku di sini, putri kecil."
Sedikit demi sedikit napasnya mulai menenang.
Ekaterina akhirnya menarik diri perlahan, masih lemas.
Dia kembali berbaring di ranjang sementara mata birunya tetap terpaku padaku.
Begitu lelah.
Begitu rentan.
Dadaku sesak lagi.
"Aku akan memanggil perawat. Kau harus makan sesuatu."
Dia hanya mengangguk.
Aku keluar kamar dengan cepat dan kembali beberapa menit kemudian.
Ketika masuk lagi, dia masih dalam posisi yang persis sama.
Mungil di ranjang yang terlalu besar itu.
Tak lama seorang perawat membawakan makanan.
Ekaterina mulai makan perlahan, nyaris tanpa tenaga.
Aku duduk di kursi di sisi ranjang, mengamati setiap gerakannya.
Karena kini aku menyadari hal-hal yang sebelumnya kubiarkan lewat.
Tangan yang sedikit gemetar.
Cara dia bersusah payah bahkan hanya untuk memegang sendok.
Cara dia berusaha tampak lebih baik daripada keadaannya yang sebenarnya.
Dia mengangkat mata ke arahku setelah beberapa menit.
"Kapan aku boleh pulang?"
Pertanyaan itu keluar pelan.
Hati-hati.
Kutumpukan siku ke lutut sebelum menjawab.
"Belum tahu."
Dia tak memaksa.
Tak mengeluh.
Dia hanya menunduk lagi dan melanjutkan makan dalam diam.
Itu justru lebih mengusikku daripada kalau dia membantah.
Ekaterina tak sanggup menghabiskan semuanya, tapi menyantap sebagian besar.
Ketika kulihat dia sudah memaksakan diri melewati batas, kutarik nampan itu perlahan dari hadapannya.
Tak lama seorang perawat lain masuk dan memasukkan obat ke selang infusnya.
Ekaterina memperhatikan semuanya dalam diam.
Ketika perawat itu keluar, dia mengarahkan pandangannya lagi padaku.
"Kau akan tinggal di sini?"
Pertanyaan itu menghantamku lebih dari seharusnya.
Seolah dia sungguh tak berharap ada yang mau tinggal.
Aku mendekat ke ranjang sebelum menjawab.
"Iya."
Kugenggam tangannya dengan hati-hati.
"Sampai kau boleh pulang."
Matanya terpaku pada mataku.
Dan aku melengkapi, tanpa mengalihkan pandangan:
"Aku takkan meninggalkanmu sendirian."
···
Viktor
Ekaterina berterima kasih pelan.
Nyaris berbisik.
Lalu dia menunduk, memilin-milin jari dengan gugup di atas seprai.
"Aku tak mau membuatmu khawatir... kupikir rasa tak enak badannya akan berlalu."
Dadaku langsung sesak.
Karena dia benar-benar percaya bahwa dia harus memikul segalanya sendirian.
Aku mendekat lagi ke ranjang.
"Meski akan berlalu pun... aku tetap ingin tahu."
Dia mengangkat mata perlahan ke arahku.
Lelah.
Bingung.
Aku mencondongkan tubuh dan mencium rambutnya dengan hati-hati.
Gerakan sederhana.
Tapi kurasakan tubuhnya melemas sesaat.
"Aku ke kamar mandi sebentar, lalu kembali."
Dia hanya mengangguk.
Aku masuk ke kamar mandi dan membasuh wajah dengan air dingin, berusaha menata kepalaku sendiri.
Karena berada di dekatnya seperti itu memengaruhiku lebih dari seharusnya.
Jauh lebih dari itu.
Lalu ponselku berdering di kamar.
Aku memutar bola mata dengan kesal.
Ketika keluar dari kamar mandi, Ekaterina berbaring menyamping, membelakangiku.
Diam.
Ponsel berdering lagi.
Kuambil ponsel dari meja di sisi ranjang dengan pikiran melayang.
Dan aku langsung membeku.
Panggilan video.
Dari salah satu teman tidur tetapku.
Sial.
Kumatikan seketika.
Tapi kerusakan sudah terjadi.
Karena Ekaterina melihatnya.
Tentu saja dia melihatnya.
Ketegangan di kamar berubah seketika.
Aku melangkah ke ranjang dan menyentuh bahunya dengan hati-hati.
"Ini bukan seperti yang kaupikirkan."
Dia memalingkan wajah hanya secukupnya untuk melihatku dari balik bahu.
Dan perubahan pada dirinya menghantamku telak.
Wajahnya mengeras.
Tertutup lagi.
Seolah semua tembok yang tadi runtuh kembali ke tempatnya.
"Kau tak berutang penjelasan apa pun padaku, Viktor."
Suaranya keluar terlalu tenang.
Dan itu justru lebih buruk.
"Kita tak punya hubungan apa-apa."
Rahangku mengeras.
Dia melanjutkan:
"Kau cuma ayah dari bayi ini."
Lalu Ekaterina kembali berbalik membelakangiku.
Seolah kalimat itu adalah tembok di antara kami.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama...
Aku sama sekali tak tahu bagaimana meruntuhkannya.
Setiap kali aku merasa sudah maju selangkah dengan Ekaterina... aku justru mundur dua kali lipat.
Aku terus menatapnya yang berbaring membelakangiku di ranjang rumah sakit itu sementara keheningan berat menguasai kamar.
Dan bagian terburuknya adalah aku memahami reaksinya.
Seumur hidup aku memberi para perempuan alasan untuk tak memercayaiku.
Aku tak pernah jadi laki-laki yang mau berkomitmen.
Tak pernah menjanjikan apa pun pada siapa pun.
Seks selalu hanya seks.
Mudah. Tanpa keterikatan. Tanpa arti.
Tapi dengan Ekaterina semuanya berubah begitu cepat sampai aku sendiri tak menyadari kapan itu terjadi.
Dan kini aku menanggung akibat dari laki-laki yang dulu kujalani.
Kuusap wajahku, kesal pada diri sendiri.
"Aku tak sedang berkencan dengan siapa pun."
Dia tak menjawab.
Tak juga bergerak.
Aku terus menatap tengkuknya, tangan-tangan mungil yang mencengkeram seprai.
"Tidak setelah kau."
Masih hening.
Dadaku sesak.
"Tidak sejak pesta gender reveal-nya Olga."
Kulihat jari-jarinya bergerak sedikit.
Cuma itu.
Tapi aku menyadarinya.
Aku melangkah lebih dekat ke ranjang.
"Panggilan tadi tak berarti apa-apa."
Suaranya keluar pelan.
Dingin.
"Kau tak perlu menjelaskan."
Kupejamkan mata sesaat.
Karena memang itulah masalahnya.
Dia tak memercayaiku.
Dan mungkin aku pun takkan percaya kalau berada di posisinya.
"Ekaterina..."
Dia akhirnya memalingkan sedikit wajahnya.
Mata birunya menemukan mataku.
Tapi ada jarak lagi di sana.
Kehati-hatian.
Ketakutan.
"Kau tak perlu mengubah hidupmu karena aku, Viktor."
Kalimat itu membuatku lebih kesal dari seharusnya.
"Kau pikir ini karena kewajiban?"
Dia tak menjawab.
Dan keheningannya itu meruntuhkanku.
Karena artinya, jauh di lubuk hatinya...
Dia benar-benar percaya bahwa aku akan bosan.
Bahwa pada suatu titik aku akan kembali menjadi laki-laki yang dulu.
Kuusap tengkuk, berusaha menahan frustrasi.
"Kau takkan pernah percaya padaku, ya?"
Ekaterina menunduk.
Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.