Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.
Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.
Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.
Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.
Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.
Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.
Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang Tepat
PIETRA PETROVSKY
Aku terbangun oleh suara kota yang jauh.
Bukan bangun yang mendadak. Tak ada kaget, tak ada tergesa.
Hanya kesadaran yang tenang bahwa hari itu penting, bukan menakutkan.
Beberapa menit aku terbaring, mengamati cahaya terang masuk lewat jendela, merasakan beratnya selimut yang ringan menutupi tubuh.
Hari ini hari wawancara...
Aku bangkit dengan tenang dan menuju kamar mandi. Air hangat mengalir membasahi tubuhku saat aku mencuci rambut. Aku mandi lama-lama sambil menarik napas dalam-dalam, seolah ingin membasuh bukan cuma kantuk, melainkan sisa rasa takut yang masih membandel bertahan. Aku keluar dari bilik mandi dengan handuk melilit tubuh dan satu lagi di rambut, kugosok gigi, kukenakan pakaian tipis, lalu kuamati diriku di cermin.
Aku tampak mantap.
Kusiapkan sarapan tanpa terburu-buru. Kopi pekat, roti segar, mentega, sepotong kue cokelat.
Aku makan sambil duduk di meja kecil dekat jendela, mengamati lalu lalang jalanan di bawah sana. Orang-orang berangkat kerja, bus berlalu, kehidupan mengalir seperti biasa.
Itu menenangkanku.
Kuambil laptop dan sekali lagi memeriksa dokumen-dokumenku: CV, sertifikat, transkrip akademik, berkas identitas. Semuanya tertata. Semuanya siap.
Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain memercayai diriku sendiri.
Selepas sarapan, kucuci piring yang sedikit, kurapikan tempat tidur, dan kubiarkan apartemen dalam keadaan tertata.
Tindakan-tindakan kecil, sederhana, tapi memberiku rasa kendali. Aku tidak sedang melarikan diri.
Aku sedang melangkah maju.
Aku kembali ke kamar dan membuka lemari.
Kuraba dengan jari pakaian-pakaian yang kubeli beberapa hari lalu, menimbang tiap pilihan dengan cermat. Kupilih gaun putih dengan blazer dan bot tinggi berhak. Elegan, profesional, sederhana. Tak ada yang meneriakkan ambisi. Tak ada yang tampak tunduk.
Sebelum berpakaian, kuselesaikan mengeringkan rambut dengan pengering dan kubiarkan tergerai dalam gelombang-gelombang kecil. Aku keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaianku. Aku menuju ruang tamu sambil menjinjing bot dan tasku.
Kupakai bot yang teramat nyaman. Kupandangi lagi rambutku di cermin dan kurampungkan riasan seperlunya saja. Aku ingin tampak percaya diri, bukan penuh polesan.
Setelah selesai, aku terdiam beberapa detik di depan cermin. Boleh kubilang aku terlihat sempurna... Warna pakaianku berpadu sempurna dengan warna kulit dan rambutku.
"Kamu pasti bisa," ucapku pada diri sendiri dengan suara pelan.
Kuambil tas, kuperiksa dokumen sekali lagi, lalu kukenakan mantel. Jantungku berdegup sedikit lebih cepat, tapi itu bukan sekadar gugup. Itu antisipasi.
Sebelum keluar, aku berhenti di pintu apartemen dan menyentuh kunci yang masih tergantung di lubangnya.
Tempat itu telah menjadi tempat perlindunganku yang pertama.
Kini, ia menjadi titik keberangkatanku.
Kutarik napas dalam-dalam, kukunci pintu, dan menyusuri lorong, merasakan setiap langkah membawaku semakin dekat pada sesuatu yang tak kukenal.
Aku turun dari apartemen dan berjalan di trotoar kompleks. Kuucapkan selamat siang pada penjaga pintu, dan ia membukakan gerbang untukku. Kupanggil sebuah taksi, dan begitu masuk ke mobil, kusebutkan alamatnya pada sopir. Pria itu memandangku lewat kaca spion lalu mengangguk sambil menjalankan mobilnya.