Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.
Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.
Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.
Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.
Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahasa dalam Nada
Abas menatap dokumen di tangannya. Meski begitu, pikirannya tidak benar-benar disana. Dia masih terbayang-bayang wajah gadis bergitar saat bersenandung di sampingnya kemarin.
"Hhhh..."
Abas menghela napas panjang sambil meletakkan dokumen di meja. Dia lalu membuka kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya. Tatapan Abas jatuh pada sebuah pigura kecil di atas meja kerjanya. Terdapat dua foto anak laki-laki dan seorang anak perempuan disana.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Dia mengulurkan tangannya perlahan ke arah pigura itu. Saat ujung-ujung jarinya akan menyentuhnya, tangan Abas menggantung di udara sejenak sebelum akhirnya menutup pigura itu.
"Hhhh..."
Lagi-lagi Abas menghela napas. Dia pikir kembali bekerja akan mengalihkan pikirannya dari pernikahannya yang batal. Abas beranjak dari kursi kerjanya. Dia berdiri menatap keluar jendela yang menampakkan hiruk pikuk kota yang berisik.
"Luka ini kan ku bawa. Tanpa suara. Tanpa kata," gumamnya, teringat sepenggal lirik lagu Senja Dalam Diam.
Abas menatap setiap mobil yang lalu lalang di jalanan kota.
"Bagaimana dia bisa membuat lagu seperti itu?" lanjutnya.
Hening. Hanya terdengar samar-samar deru AC ruang kerja Abas dan detak jam dinding yang tak lelah bergerak. Namun, di telinga Abas masih terngiang begitu jelas lagu yang mengusik hatinya beberapa hari terakhir ini. Tanpa dia sadari, dia menyenandungkan bagian terakhir chorus lagu dengan sangat lirih.
'Hati ini kan ku jaga... Dalam nada... Dalam diam,'
***
"Makasih tumpangannya," ucap Melodi sebelum turun dari mobil Bara.
"Sama-sama. Yakin nih nggak aku turunin di dalem?" tanya Bara.
"Iya udah sini aja. Bisa heboh sekampus aku dianterin cowok naik mobil sport mewah," kata Melodi sambil melepas sabuk pengamannya. Bara terkekeh.
"Emang belum pernah?" tanya Bara.
"Dianter cowok sih pernah. Tapi, yang pake mobil mewah belum," jawab Melodi sambil terkekeh. Bara tertawa kecil.
"Eh, gitar," kata Melodi sambil membalik badannya. Bara menaikkan kedua alisnya, hampir lupa dengan gitar Melodi di kursi penumpang.
"Oh! Kamu turun aja, biar aku ambilin," kata Bara sambil melepas sabuk pengamannya. Tanpa mengatakan apapun, Melodi turun dari mobil.
"Nih. Sukses ya acaranya," kata Bara sambil menyodorkan gitar Melodi. Melodi tersenyum.
"Makasih," ucapnya.
"Kalau gitu aku siap-siap dulu ya. Sekali lagi makasih," kata Melodi lalu berjalan cepat memasuki halaman kampus yang mulai ramai dengan mahasiswa baru yang memakai jas almamater. Bara tersenyum menatap Melodi yang berjalan cepat menyibak keramaian.
"Dasar! Pake nolak dianter sampe dalem," gumam Bara lalu kembali masuk ke mobilnya.
Bara sudah menyalakan mesin mobilnya. Dia sudah bersiap menginjak pedal gasnya ketika tiba-tiba terbesit satu ide menarik di kepalanya. Bara tersenyum tipis. Perlahan dia menginjak pedal gas dan berlalu.
Sementara itu, saat tiba di belakang panggung acara penyambutan MABA, Melodi segera bersiap dengan gitarnya. Dia memastikan nada gitarnya sudah pas sebelum tampil.
"On time. Bagus, Mel," komentar Panji, ketua panitia acara. Melodi tersenyum.
"Aku naik kendaraan VVIP kesini," kata Melodi sambil menyetem gitarnya.
"Kendaraan VVIP? Buroq?" tanya Panji. Melodi membulatkan matanya.
"Gila!"
"Halah! Palingan juga korban baru dia, Pan," sahut Lala, sahabat Melodi.
"Kenapa sih kalian selalu nyebut mereka korban?" tanya Melodi.
"Ikut-ikut Bang Alto ganteng," jawab Lala sambil tersenyum membayangkan Alto.
"Dih!"
"Lagian kalau nggak korban apa namanya? Mereka udah seneng bisa deket sama kamu, merasa akrab, giliran ditembak, pasti kamu nolak," kata Panji. Melodi meringis.
"Bukan salah aku kan kalau emang aku orangnya easy-going?" tanya Melodi membela diri.
"Nggak salah sih. Cuma, please, agak peka dikit gitu," sahut Lala.
"Peka sama baper beda tipis. Aku nggak mau baper sama siapa-siapa yang deketin aku. Nguras energi. Enakan gini. Cuek is the best!" kata Melodi lalu kembali fokus pada gitarnya. Panji dan Lala saling tatap. Keduanya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya bersamaan.
"Selamat pagi, Temen-temen semua!" suara pembawa acara sudah menggema.
Panji segera berdiri lalu menepuk bahu Melodi sebelum akhirnya berlalu. Lala duduk di sebelah Melodi.
"Senja Dalam Diam keren, Mel," puji Lala. Melodi tersenyum.
"Kamu bawain nanti?" tanya Lala.
"Enaknya?"
"Bawain laaah," pinta Lala. Melodi mengulurkan tangannya, meminta sesuatu.
"Iya deeeh, aku traktir makan bakso Mang Asep ntar abis acara," kata Lala yang paham maksud Melodi.
"Mie-so plus es teh manis," kata Melodi.
"Wuiiih... Udah berani nawar sekarang," komentar Lala.
"Iya dong. Belajar jual mahal dari sekarang," kata Melodi.
"Dih!"
"Mau nggak? Kalau nggak mau ya udah," kata Melodi. Lala mendengus.
"Iya deh iya. Mie-so plus es teh. Mumpung bayarannya masih bisa dijangkau sama isi dompetku," kata Lala akhirnya. Melodi tersenyum.
"Baiklah. Untuk membuka acara pagi ini, biar semangat, kita persilakan Melodi Nada Asmara, mahasiswa semester lima jurusan Seni Musik Kontemporer, untuk naik ke panggung," suara pembawa acara sudah meminta Melodi untuk tampil. Melodi segera berjalan menuju panggung.
Tatapan para MABA yang terlihat tak begitu antusias tak menyurutkan semangat Melodi untuk berdiri di atas panggung.
"Selamat pagi, Temen-temen!" sapa Melodi. Tak banyak yang membalas sapaan Melodi dengan antusias.
"Mulai hari ini, Temen-temen semua nggak cuma bakal belajar di kampus ini," kata Melodi.
"Tapi juga bakal jadi tempat Temen-temen semua untuk berkreasi dan mengekspresikan diri," lanjut Melodi.
"Jangan batasi diri kalian. Eksplor bidang yang kalian minati dan ciptakan maha karya yang memukau dunia," tutup Melodi.
Satu tepuk tangan terdengar di sudut jauh halaman. Lalu disusul beberapa tepuk tangan lain. Perlahan, seluruh halaman dipenuhi suara gemuruh apresiasi. Melodi tersenyum.
"Saya akan bawakan satu lagu, ciptaan saya sendiri. Meskipun kayaknya nggak terlalu cocok dinyanyikan sekarang, tapi ini sebagai contoh Temen-temen semua, bahwa seni adalah bahasa universal. Kalian bisa menumpahkan emosi kalian lewat lukisan, pahatan, cerita bergambar, dan bahkan... musik," kata Melodi.
"Selamat menikmati," ucap Melodi sambil menggenjreng gitarnya, memainkan intro Senja Dalam Diam.
"Saat pertama kita jumpa
tawamu bersinar paling cerah
menerangi duniaku yang kelam
membawa diriku pada cahaya oh..."
Verse awal masih ada beberapa MABA yang tak memperhatikan penampilan Melodi. Beberapa asyik mengobrol dan beberapa lagi memainkan ponsel. Melodi tak menghiraukannya. Dia tetap bernyanyi.
"Senja... Katakan padanya
luka ini kan ku bawa
tanpa suara
tanpa kata..."
Memasuki bagian chorus, semua MABA terhenyak. Mereka bagai terhipnotis lagu yang dinyanyikan Melodi. Beberapa ada yang merekam penampilan Melodi dengan ponsel mereka.
"Angin... Sampaikan padanya
hati ini kan ku jaga
dalam nada
dalam diam..."
Tepuk tangan meriah menggema di halaman Kampus Seni pagi itu. Melodi tersenyum lalu membungkuk pada para penonton. Di sudut lain kerumunan, seseorang menekan tombol stop pada video rekamannya. Senyum tipis terkembang di wajahnya.
'Benar-benar gadis yang menarik,'
***
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Hafal bagian reffnya🤭
eaaa....🤭
bener2 plot twist nya..
jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪