NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 PEMULIHAN & INTEROGASI DEWAN

Gelap. Panas. Sakit.

Kael mengambang di lautan api. Di kejauhan ada suara memanggil namanya.

"Kael... Kael..."

Hari pertama: Dia mimpi dibakar hidup-hidup oleh Aldric.

Hari kedua: Dia mimpi Elara nangis di pusara nya.

Hari ketiga: Dia mimpi 3 bayangan hitam menatapnya dari langit.

_Beep... Beep... Beep..._

Cahaya. Bau antiseptik.

Kael membuka mata. Langit-langit putih.

"Dia bangun!" Suara Elara pecah.

Elara langsung nyosor ke ranjang. Matanya merah, kantung matanya hitam. Rambut pirangnya berantakan.

"Kael... syukur tuhan..."

"Air..." bisik Kael.

Elara buru-buru nyuapin. Tangan nya gemetar. Air tumpah ke dagu Kael.

"Maaf maaf..."

Kael menatapnya. "Kenapa... nangis?"

"Karena kau bodoh!" Elara bentak sambil nangis. "Kenapa ngelawan sendirian?! Kenapa gak minta bantuan?! Aku kira kau mati!"

Pintu kebuka. Prof. Selene masuk bawa nampan obat.

"Hentikan drama nya. Dia butuh istirahat."

Tapi mata Selene juga sembab. "Kau sudah tidur 3 hari 3 malam. Tubuhmu menolak Warisan Api. 50% itu terlalu berat untuk manusia."

`[Ding!]`

`[Status Tubuh: Luka Bakar 80% - Dalam Proses Regenerasi]`

`[Status Jiwa: Warisan Api 50% - Stabil]`

`[Pecahan Api Kedua: Terserap]`

Selene memeriksa nadi Kael. "Aneh. Luka bakar harusnya butuh 1 bulan. Ini 3 hari udah 80% sembuh."

Dia menatap Kael dalam. "Apa yang kau lakukan saat melawan Aldric?"

Kael terbatuk. "Aku... ingat sesuatu. Ingat kenapa aku harus hidup."

Selene diam. Lalu berbisik: "Bagus. Karena besok... kau akan diadili."

Jantung Kael jatuh.

Ruangan tanpa jendela. Hanya 7 kursi dan 1 meja batu.

7 orang berjubah emas. Wajah ditutup topeng binatang. Singa, Ular, Elang, Serigala, Naga, Phoenix, dan 1 topeng kosong di tengah.

Itu Ketua Dewan.

"Berlutut," perintah suara dari topeng Singa.

Kael berdiri tegak. "Aku tidak berlutut untuk orang yang membuangku."

_DUG!_

Sihir menekan bahunya. Tapi Kael tetap berdiri. Keringat bercucuran.

"Menarik," kata topeng Ular. "Kekuatan Warisan Api memang hebat."

Ketua mengetuk meja. _TAK_

"Cukup. Kael Veyn. Kau dituduh:

Memalsukan identitas

Menyembunyikan kekuatan terlarang

Bertarung tanpa izin di area akademi"

"Dan kau juga dituduh menyelamatkan 10.000 nyawa," sela suara lembut. Topeng Phoenix. "Jangan lupa itu."

Kael menatap mereka satu-satu. "Pertanyaan kalian cuma 1 kan? Dari mana aku dapat kekuatan ini."

"Benar," kata Ketua. "Jawab. Atau kami segel kau selamanya."

Kael menarik napas. Dia sudah latihan jawaban ini 3 hari di alam bawah sadar.

"1 tahun lalu saat diusir, aku jatuh ke reruntuhan bawah tanah. Di sana ada mayat. Mayat itu memberikan 'Warisan Api' padaku. Dengan syarat: Aku harus melindungi dunia dari kegelapan."

"BUKTI!" teriak topeng Serigala.

Kael membuka kancing baju. Di dadanya ada bekas luka berbentuk naga. Dan di tengahnya, berdenyut kristal merah kecil. `Pecahan Api Kedua.`

"Inikah bukti yang kalian mau?"

Seluruh dewan hening.

Topeng Elang berbisik ke topeng Naga. "Itu... itu tanda Warisan Kerajaan Kuno..."

Ketua berdiri. "Pilihanmu.

Pilihan 1: Jadi anjing kami. Kami latih. Kami awasi. Kami pakai kau untuk cari 3 Pecahan lain.

Pilihan 2: Mati di sini. Dan kami ambil Pecahan itu dengan paksa."

Elara yang nunggu di luar pintu menerobos masuk. "JANGAN!"

"Keluar!" bentak topeng Singa.

"TIDAK!" Elara berdiri di depan Kael. "Dia pahlawan! Tanpa dia akademi ini udah rata!"

Kael menarik Elara ke belakang. "Aku pilih 1."

"Bijak," kata Ketua. "Mulai detik ini kau murid Kelas S. Status khusus. Bimbingan langsung Prof. Selene."

Dia melempar lencana emas ke Kael. "Tapi ingat. Ada syarat."

"Apa?"

"Kau tidak boleh jatuh cinta. Kau tidak boleh punya teman. Kau tidak boleh punya masa lalu. Kau adalah senjata."

Elara mengepalkan tangan. "Itu tidak manusiawi!"

"Diam," kata Ketua. "Oh ya satu lagi."

Dia menunjuk ke lencana Kael. "Di dalam lencana itu ada segel pelacak. Kalau kau berkhianat... kami ledakkan kepalamu."

Kael mengambil lencana. Dingin. "Mengerti."

Sidang selesai. Saat keluar, topeng Phoenix berbisik pelan ke Kael:

`"Hati-hati. Tidak semua dari kami ingin kau hidup."`

Di lorong, Kael bersandar ke dinding. Napasnya berat.

"Kau gak apa-apa?" tanya Elara.

"Gak," jawab Kael jujur. "Tapi aku hidup. Itu cukup."

`[Ding!]`

`[Misi: Bertahan Hidup di Akademi - DIMULAI]`

`[Hadiah: Akses Perpustakaan Terlarang 7 Hari]`

`[Info Baru: 4 Pecahan Api. 1 di kau. 3 di Raja Iblis lain]`

Malam itu. Perpustakaan Terlarang. Lantai -7 Akademi.

Debu. Bau kertas tua. Rak sampai langit-langit.

Kael menyalakan api kecil di tangannya buat penerangan.

"4 Raja Iblis..." gumamnya sambil buka buku.

Halaman 1: `KEMARAHAN - ALDRIC - DIKALAHKAN`

Halaman 2: `KESERAKAHAN - ??? - KERAJAAN ETERNAL`

Halaman 3: `KEMALASAN - ??? - HUTAN GELAP`

Halaman 4: `KEANGKUHAN - ??? - MENARA LANGIT`

Di margin ada coretan: `"Pecahan Api bisa saling memanggil. Dekat \= Resonansi."`

_KREK_

Pintu kebuka. Aldric. Lehernya ada kalung segel hitam.

"Kau... kok bisa masuk?" tanya Kael.

"Aku Wadah pertama. Aku bisa ngerasain Pecahan," kata Aldric pelan. "Aku datang minta maaf. Dan... minta ikut."

Dia berlutut. "Aku sampah. Tapi aku mau menebus dosa."

Kael terdiam lama. Lalu mengulurkan tangan. "Berdiri. Kita tim sekarang."

Aldric nangis. "Terima kasih..."

Tiba-tiba lencana di dada Kael panas. _PANAS!_

`[Ding! PERINGATAN TINGGI]`

`[RESONANSI TERDETEKSI]`

`[WADAH KE-2: KESERAKAHAN - KERAJAAN ETERNAL]`

`[JARAK: 300KM]`

`[WAKTU: 7 HARI SAMPAI GERBANG IBLIS TERBUKA]`

Dinding perpustakaan retak. Dari retakan itu keluar asap hitam membentuk kata:

`"KAEL VEYN... AKU TUNGGU DI ISTANA..."`

Kael mematikan apinya. Matanya menyala merah.

"Aldric. Elara. Siap."

"Kemana?" tanya Elara.

"Kerajaan Eternal. Kita ambil Pecahan kedua... sebelum dunia hancur."

Di luar, langit akademi tiba-tiba memerah. Pertanda perang sudah dimulai.

Elara menatap langit yang memerah. "Kerajaan Eternal? Itu 300km dari sini. Naik griffon tercepat aja butuh 2 hari."

"Aku gak punya 2 hari," kata Kael. Pecahan di dadanya berdenyut makin kencang. "Dia udah manggil aku."

Aldric maju. "Aku tahu jalan pintas. Lewat Gerbang Bayangan di Hutan Terlarang. Tapi..."

"Tapi apa?" tanya Kael.

"Di sana ada penjaga. Monster level A. Kita bertiga belum tentu menang."

Kael mengepalkan tangan. Api naik ke telapaknya. "Kalau gitu kita harus menang."

`[Ding!]`

`[Misi: Tiba di Kerajaan Eternal dalam 7 Hari]`

`[Gagal: Gerbang Iblis Terbuka + 1 Juta Nyawa Melayang]`

Prof. Selene tiba-tiba muncul di ambang pintu. "Kalian mau ke mana?"

"Menyelamatkan dunia," jawab Kael datar.

Selene menghela napas. Dia melempar 3 jubah hitam ke mereka. "Pakai ini. Anti-deteksi. Dan ini..." Dia memberi Kael peta. "Rute teraman. Tapi ingat, Dewan gak tahu kalian pergi. Kalau ketahuan, kalian buronan."

Kael mengangguk. "Terima kasih, Profesor."

"Jangan mati," kata Selene pelan. "Akademi butuh kau."

Malam itu juga mereka berangkat.

Hutan Terlarang. Gelap. Suara serigala. Kabut tebal.

Jam pertama aman. Jam kedua...

_GRRRR_

3 ekor Serigala Bayangan muncul. Mata merah. Taring sebesar pedang.

"Level C," kata Aldric. "Aku bisa handle."

Aldric maju. Tapi kalung segel di lehernya berkedip. "Sial. Kekuatanku disegel 70%."

"Giliranku," kata Kael. "Nyala Pertama: Cakar Naga."

_GRAAA!_

Api membentuk cakar, mencabik 2 serigala. Satu lagi diterjang Elara. Es menembus kepalanya.

"Kalian kompak," kata Aldric kaget.

"Kami terpaksa," jawab Elara sambil melirik Kael.

Jam ke 5. Mereka sampai di Gerbang Bayangan. Gerbang batu besar dengan ukiran iblis.

"Tinggal buka," kata Aldric. "Tapi butuh darah Wadah."

Aldric menusuk telapaknya. Darah hitam menetes ke gerbang. _KREEEK_

Gerbang terbuka. Di dalamnya pusaran hitam.

"Lewat sini kita bisa sampai Kerajaan Eternal dalam 6 jam," kata Aldric.

Kael melangkah pertama. "Ayo."

Di dalam pusaran, waktu terasa melambat.

Elara tiba-tiba genggam tangan Kael. "Kael... boleh aku tanya?"

"Apa?"

"1 tahun lalu... kenapa kau gak bilang siapa kau sebenarnya? Kenapa pura-pura lemah?"

Kael diam lama. "Karena aku pengecut. Aku takut kalau orang tahu aku keturunan Raja Penyihir, mereka makin ngebully. Aku kira dengan jadi lemah, aku bisa aman."

Dia tertawa getir. "Ternyata salah."

Elara menyandarkan kepala di bahu Kael. "Aku juga salah. Aku ikut ngebully karena takut dijauhin temen. Maaf."

"Udah. Masa lalu." Kael mengelus rambut Elara. "Sekarang kita perbaiki."

Aldric pura-pura gak lihat. Tapi di dalam hati: `Mereka... cocok.`

_BUAK!_

Mereka terlempar keluar dari pusaran.

Yang menyambut mereka bukan kerajaan. Tapi... reruntuhan.

Istana emas yang dulu megah, sekarang hancur. Langit hitam. Tanah retak. Mayat berserakan.

"Terlambat..." bisik Aldric. "Dia udah mulai."

Di tengah alun-alun istana, ada tahta tulang. Dan di atasnya duduk seorang pria.

Jubah ungu. Mahkota tengkorak. Di tangannya, `Pecahan Api Ketiga` berputar.

"Selamat datang, Kael Veyn," kata pria itu. Suaranya bergema. "Aku sudah menunggu 1000 tahun."

Dia berdiri. "Namaku. Raja Keserakahan. Wadah Ke-2."

`[Ding! PERINGATAN]`

`[WADAH: ??? - RAJA IBLIS KESERAKAHAN]`

`[LEVEL: S++]`

`[Misi: Rebut Pecahan Api Ketiga]`

Raja Keserakahan menjentikkan jari. Tanah bergetar. Dari bawah muncul 1000 prajurit kerangka.

"Ambil mereka," perintahnya. "Hidup atau mati."

Kael maju ke depan Elara dan Aldric. Api keemasan menyala.

"Sepertinya... istirahat kita selesai."

Dia menatap Elara. "Jaga dirimu."

Menatap Aldric. "Jangan mati lagi."

Lalu menatap Raja Keserakahan. "Pecahan itu. Kembalikan."

Raja Keserakahan tertawa. "Datang dan ambil."

_BOOOOOOM_

Perang ronde 2 dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!