Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 Balai Guild Aldenmere
Balai Guild Aldenmere berdiri di jantung distrik pemerintahan kota, jauh dari deretan toko kecil dan gudang penyimpanan relik yang biasa dilalui Jangkar Kelabu dalam urusan sehari-hari. Bangunannya terbuat dari batu putih pucat, berbeda dari batu abu-abu gelap Menara Verlanth, dipotong presisi dan disusun rapi hingga membentuk fasad yang menjulang tiga lantai, jendela-jendela kaca berwarna menghiasi dindingnya, memantulkan cahaya pagi dalam corak biru dan emas yang jatuh berpendar di atas jalan batu di depannya.
Arden merasakan perbedaan itu sejak langkah pertamanya menaiki tangga marmer menuju pintu ganda besar di depan, permukaannya licin dan dingin di bawah telapak sepatu, jauh berbeda dari lantai kayu markas yang berderit akrab setiap kali diinjak.
"Aku selalu lupa betapa besar tempat ini," gumam Brann, berjalan di sisinya, matanya menyapu ukiran-ukiran di kusen pintu, simbol-simbol lambang Guild yang dipahat rumit, jauh berbeda dari coretan sederhana yang mereka temukan di kerah jubah abu.
"Coba jangan bicara terlalu banyak di dalam," kata Ilena, pelan, sudah menyelipkan prisma dan catatannya ke dalam tas kain kecil yang ia bawa khusus untuk pertemuan ini.
"Aku selalu bicara secukupnya."
"Tidak pernah sekali pun."
Penjaga di pintu masuk memeriksa mereka sekilas, memindai lambang kecil Jangkar Kelabu yang tersulam di jubah Corym, meski Corym sendiri tidak ikut kali ini, lalu mengangguk dan membuka salah satu dari dua pintu besar itu, engselnya berputar tanpa bunyi berkat perawatan rutin yang jelas tidak pernah lalai.
Ruang dalam balai menyambut mereka dengan udara yang lebih dingin, langit-langitnya tinggi menjulang, dihiasi lukisan besar menggambarkan sejarah pendirian Guild Petualang Aldenmere, tokoh-tokoh legendaris yang namanya masih diucapkan dengan hormat sampai sekarang. Lantai marmer memantulkan langkah kaki mereka dengan gema yang terasa lebih keras dari yang seharusnya, membuat setiap gerakan terasa diawasi.
Seorang pegawai muda dengan seragam biru tua Guild sudah menunggu di dekat tangga menuju lantai dua, wajahnya formal, tidak ramah tapi tidak juga bermusuhan. "Arden Voss?"
"Ya."
"Guildmaster sudah menunggu. Ikuti saya."
...----------------...
Ruang kerja Guildmaster Orin Vahl berada di lantai paling atas, sebuah ruangan luas dengan jendela besar menghadap ke seluruh kota, memberi pandangan yang jarang bisa dinikmati kebanyakan orang: atap-atap Aldenmere yang membentang sampai ke kaki Menara Verlanth di kejauhan, puncaknya masih tertutup kabut seperti biasa.
Orin Vahl duduk di balik meja kayu gelap yang besar, permukaannya nyaris kosong kecuali beberapa tumpukan kertas tersusun rapi dan sebuah peta besar benua yang tergantung di dinding belakangnya, ditandai dengan pin-pin kecil berwarna berbeda tersebar di berbagai titik.
Ia seorang pria di usia lima puluhan, rambutnya sudah memutih di pelipis, tapi posturnya tegak, matanya tajam dengan cara yang membuat siapa pun yang ditatapnya merasa sedang dihitung, diukur, dan disimpulkan dalam hitungan detik.
"Duduk," katanya, tidak berdiri untuk menyambut, tangannya mengisyaratkan tiga kursi kosong di depan mejanya.
Arden duduk, diikuti Brann dan Ilena, kursi kulit itu berderit pelan menahan bobot mereka.
Orin menatap mereka satu per satu, jeda yang cukup lama untuk terasa canggung sebelum akhirnya bersuara.
"Kau menunda dua hari untuk datang setelah panggilan pertama," katanya, bukan pertanyaan.
"Kami mengambil kontrak lain sebelum sempat menghadap," kata Arden, suaranya tenang, tidak membela diri berlebihan.
"Kontrak yang berakhir dengan ambush besar di Hollowreach." Orin mengangkat salah satu tumpukan kertas di mejanya, membolak-baliknya sebentar sebelum meletakkannya kembali. "Laporan sudah sampai padaku sebelum kau bahkan kembali ke Aldenmere."
Ilena bergerak sedikit di kursinya, tidak nyaman, tapi tidak berkata apa-apa.
"Mari kita mulai dari Menara Verlanth," lanjut Orin. "Sistem pemantauan kami mencatat lonjakan energi yang cukup besar dari lantai menengah, bertepatan dengan waktu misi kalian. Jelaskan."
Arden menceritakan kejadian itu dengan hati-hati, memilih setiap kalimat seperti sedang melangkah di atas es tipis: altar tersembunyi, gelombang monster, keruntuhan struktural yang menutup jalan kembali. Ia tidak menyebutkan reaksi spesifik fragmen terhadap dirinya sendiri, tidak menyebutkan insiden penguncian tubuhnya, hanya menggambarkan situasinya sebagai risiko eksplorasi yang tidak terduga.
Orin mendengarkan tanpa menyela, jarinya terlipat di depan wajahnya, matanya tidak lepas dari Arden sepanjang penjelasan itu.
"Dan fragmennya," kata Orin, ketika Arden selesai, "di mana sekarang?"
"Sudah diserahkan pada klien sesuai kontrak," kata Arden.
"Lord Draymoor."
"Benar."
Orin menatapnya lebih lama dari yang nyaman, sebuah keheningan yang terasa seperti diukur, sengaja dibiarkan berlarut untuk melihat siapa yang akan bergerak lebih dulu.
...----------------...
"Brann Oswick," kata Orin akhirnya, menoleh padanya, "aku dengar kau menemukan sesuatu yang menarik di Hollowreach."
Brann duduk lebih tegak, mengeluarkan buku catatannya dari tas, membuka halaman sketsa simbol yang sudah ia salin ulang lebih rapi semalam.
"Simbol ini," katanya, meletakkan kertas itu di meja, "dijahit tersembunyi di kerah jubah setiap penyerang yang kami temukan. Aku mencocokkannya dengan catatan sejarah lama soal Keruntuhan Abu."
Orin mengambil kertas itu, memeriksanya dalam diam, wajahnya tidak berubah, tapi jarinya berhenti mengetuk meja, sesuatu yang sejak tadi ia lakukan tanpa disadari.
"Kau tahu simbol ini," kata Ilena, menangkap perubahan kecil itu.
Orin tidak menjawab segera, meletakkan kertas itu kembali di meja, menatanya sejajar dengan tumpukan lain sebelum akhirnya mengangkat kepala.
"Aku sudah melihatnya," katanya, "dalam laporan lain."
Ruangan menjadi lebih dingin, atau mungkin hanya terasa begitu.
"Laporan dari mana?" tanya Arden.
Orin berdiri, berjalan menuju peta besar di dinding belakangnya, tangannya menunjuk beberapa pin merah yang tersebar jauh dari Aldenmere, di wilayah utara, di wilayah selatan, masing-masing terpisah ratusan mil satu sama lain.
"Dalam enam bulan terakhir," katanya, "kami menerima laporan serupa dari tiga wilayah berbeda. Kelompok bersenjata tak dikenal, terorganisir, menyerang pemukiman kecil di dekat lokasi Menara-menara tua, lalu menghilang tanpa jejak jelas. Tidak ada yang berhasil menangkap satu pun hidup-hidup sampai sekarang."
"Kami menangkap satu," kata Ilena, "meski dia tidak selamat."
"Aku tahu," kata Orin, kembali ke kursinya, duduk dengan gerakan yang lebih berat dari sebelumnya. "Laporan itu juga sudah sampai padaku. Kata-kata terakhirnya, khususnya."
Ia menatap Arden lagi, kali ini lebih lama, lebih dalam.
"Lantai itu tidak akan diam selamanya," kata Orin, mengulangnya persis seperti yang tercatat dalam laporan yang ia terima. "Kalimat yang sama diucapkan oleh salah satu penyerang yang tertangkap di wilayah utara, sebelum dia juga mati karena luka-lukanya."
...----------------...
Arden merasakan sesuatu mengencang di rahangnya, giginya mengatup tanpa sadar. "Jadi ini bukan kejadian terisolasi."
"Tidak," kata Orin. "Dan aku khawatir Aldenmere baru saja menjadi target berikutnya dalam pola yang sudah berlangsung lebih lama dari yang kita sadari."
Ia membuka salah satu laci mejanya, mengeluarkan sebuah map tipis, meletakkannya di depan Arden tanpa membukanya.
"Aku ingin kalian tetap waspada," katanya. "Aku juga ingin laporan rutin dari kalian, setiap perkembangan, sekecil apa pun, terkait Menara Verlanth atau kelompok berjubah ini."
"Kami bukan Guild resmi," kata Arden, hati-hati. "Kami tidak terikat kewajiban semacam itu."
"Benar," kata Orin, "kalian tidak terikat. Tapi kalian sudah terlibat, Arden Voss, mau kalian suka atau tidak. Dan aku pikir kau cukup pintar untuk tahu bahwa berpura-pura tidak terlibat tidak akan membuat masalah ini hilang."
Kata-kata itu menggantung di udara, dan untuk sesaat, tatapan Orin bergeser, dari sekadar formal menjadi sesuatu yang lebih personal, lebih menusuk.
"Ada satu hal lagi," katanya, "yang ingin kutanyakan secara pribadi."
Ia melirik ke arah Brann dan Ilena sekilas, isyarat halus yang cukup jelas artinya.
"Boleh aku bicara berdua dengan Arden?" tanya Orin.
Brann dan Ilena saling bertukar pandang. Ilena berdiri lebih dulu, ragu sesaat sebelum akhirnya melangkah menuju pintu, Brann mengikutinya, membawa buku catatannya kembali.
Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Orin bersandar di kursinya, jari-jarinya kembali terlipat di depan wajahnya.
"Lonjakan energi yang tercatat dari Menara Verlanth," katanya, "aku sudah memeriksa datanya lebih detail sejak laporan pertama masuk. Ada dua puncak lonjakan yang tercatat, bukan satu."
Arden diam, tidak bergerak, tapi jantungnya berdetak lebih keras di dadanya.
"Satu di dalam lantai, saat insiden altar yang kau ceritakan," lanjut Orin, "dan satu lagi, lebih kecil, tapi lebih tajam, tercatat beberapa saat setelahnya. Sesuatu yang levelnya jauh melampaui apa pun yang seharusnya dimiliki S-Rank rendah."
"Aku tidak yakin apa yang kau maksud," kata Arden, suaranya tetap datar, meski tangannya di pangkuan mengepal perlahan.
Orin tersenyum tipis, senyum yang tidak menyentuh matanya sama sekali.
"Aku pikir kau tahu persis apa yang kumaksud," katanya. "Dan aku pikir, cepat atau lambat, kau harus memutuskan apakah kau akan terus menyembunyikannya, atau menghadapinya secara terbuka. Bukan hanya padaku, Arden Voss. Pada dirimu sendiri."
...----------------...
Ketegangan di ruangan itu masih menggantung ketika suara ketukan di pintu memecahnya, cepat, tidak sabar, tanpa menunggu jawaban sebelum daun pintu terdorong terbuka.
Sosok yang melangkah masuk membawa aura yang berbeda dari siapa pun yang pernah dilihat Arden di dalam balai ini, seorang wanita muda dengan jubah pertempuran berwarna merah gelap, pedang panjang tersampir di pinggangnya, langkahnya penuh keyakinan diri yang hampir mendekati kesombongan, tidak menunjukkan hormat sedikit pun pada formalitas ruangan Guildmaster.
"Orin," katanya, tidak repot mengetuk lebih dulu meski suara ketukan tadi jelas berasal darinya, "aku dengar ada laporan menarik soal anomali di Menara Verlanth."
Ia berhenti di tengah ruangan, matanya menyapu sekeliling sekali sebelum berhenti tepat di sosok Arden, menatapnya dari kepala sampai kaki dengan penilaian yang tidak berusaha ia sembunyikan sama sekali.
"Kau," katanya, satu sudut bibirnya terangkat, "pasti kelompok kecil yang membuat sistem pemantauan kita berbunyi seperti alarm kebakaran."