Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 # Ada yang modus
Siang itu suara riuh tepuk tangan memenuhi ruang kuliah anak Teknik Informatika, Arlo, Jose dan Indra tersenyum penuh lega. Mereka baru saja menyelesaikan sesi presentasi tugas kuliah dengan judul Face Recognice sebagai syarat lulus mata kuliah wajib Artificial Intelegence.
Judul yang mereka suguhkan ternyata tidak hanya membuat dosen mereka tersenyum puas, bahkan teman-teman satu jurusannya mengakui hasil makalah yang mereka buat.
Beberapa waktu lalu Arlo bersama kedua rekannya sedang mempresentasikan tentang Face Recognice yang bisa di manfaatkan sebagai sistem absensi untuk karyawan maupun mahasiswa. Sistem tersebut berbasis pengenalan wajah, tentunya lebih unggul dari pada menggunakan sistem manual seperti tanda tangan atau ceklok.
“Ada sekitar tiga puluh puluh partisipan yang ikut dalam uji Face Recognice, terdiri dari mahasiswa, umum dan keluarga kami bertiga.” Arlo mengangguk kearah Jose yang memegang kendali slide untuk presentasi.
Jose mengacungkan jempol kearah Arlo, tanda semua sudah siap. Selanjutnya adalah giliran Indra, dia maju ke depan dan berdiri di sebelah Arlo. Webcam yang akan di gunakan sudah siap di samping Jose dan sudah terhubung dengan layar besar yang ada di belakang Arlo.
“Kita akan melihat bagaimana cara kerja sistem dan Indra sebagai alat ujinya. Silahkan saudara Indra,” Arlo mempersilahkan Indra.
Indra mengangguk. “Oke,” dia menuju kearah Jose dan bersiap di depan kamera.
“Kotak hijau pada layar akan muncul saat sistem berhasil mendeteksi identitas orang tersebut,” imbuh Arlo sebelum Indra membuka aplikasi project yang mereka buat.
Indra membuka aplikasi, webcam menyala. Muncul kotak hijau pada layar, proses berikutnya adalah pada layar muncul database nama Indra dengan tingkat akurasi 97%.
Slide demi slide sukses Arlo presentasikan dengan baik, bahkan salah satu rekan diluar tim yang menjadi partisipan uji coba juga di minta maju ke depan agar dosen bisa melihat adakah terjadi error saat identifikasi wajah.
“Project kalian cukup bagus, Arlo. Sebagai leader kamu bisa membawa dua rekanmu lainnya punya porsi yang sama denganmu. Namun, kalian masih harus memperbaiki beberapa hal. Kalian harus memikirkan juga tingkat akurasinya jika mereka menggunakan masker,” ucap pak Darma sekalu salah satu dosen.
“Terimakasih, pak. Untuk ke depannya kami akan melakukan evaluasi terkait hal tersebut,” Arlo membungkukkan badannya sebagai rasa hormat dan terimakasih pada pak Darma.
Arlo memang membagi tugas sama rata dengan Jose dan Indra, baginya itu adalah kerja tim. Siapapun berhak mendapatkan kesempatan yang sama, tidak ada yang ingin lebih unggul atau mengungguli.
Kuliah siang itu selesai bersama dengan berakhirnya presentasi dari tim Arlo, dosen dan mahasiswa mulai meninggalkan ruang kuliah. Tinggal Arlo, Jose dan Indra yang masih di sana. Ketiganya berdiri menghadap layar besar yang ada di depan mereka, Arlo berdiri paling tengah. Jose ada di samping kanan, sedangkan Indra berdiri di samping kiri Arlo.
“Hasil kerja keras kita, bro.” Arlo merangkul pundak Jose dan Indra yang berdiri di samping kanan dan kirinya. Begitupun dengan Jose dan Indra yang juga merangkulkan tangan mereka pada pundak Arlo.
“Setelah ini kita mungkin bakal sibuk dengan project penelitian pribadi masing-masing,” ucap Jose diangguki keduanya.
“Tapi kita tetap masih bisa kumpul bertiga,” imbuh Indra.
Setelah membereskan alat-alat yang tadi di gunakan untuk presentasi, mereka kemudian keluar dari ruang kuliah tepat di jam sebelas siang.
“Kantin, yok! Lapar ini,” ajak Indra.
“Kalian saja yang ke kantin, aku malas. Titip es jeruk saja!” jawab Arlo.
“Ck… yang bayarin siapa ini? Aku lagi bokek ini, Arlo. Aa Arlo harapan satu-satunya,” kelakar Indra.
Jose terkekeh. “Mana mau dia ke kantin gabungan anak Teknik sama anak Ilmu dan Teknologi, ogeb. Aa Arlo bisa diserbu fans-fansnya,” jawab Jose yang tahu benar alasan Arlo malas jika harus berurusan dengan para kaum hawa yang mengidolakannya tersebut. Terlebih kantin yang Indra maksud bukan kantin jurusan melainkan kantin gabungan dua fakultas.
“Aku tunggu di bawah pohon rindang. Seperti biasanya,” Arlo mengeluarkan dua lebar uang merah dan memberikannya pada Indra. “Terserah kalian mau beli apa,” ucapnya sambil berlalu meninggalkan kedua sahabatnya tersebut.
Indra berbinar. “Punya teman tajir memang ada gunanya,” ucapnya.
Mereka menuju kantin, sementara Arlo melangkahkan kakinya ke taman kampus yang sering di sebut taman di bawah pohon rindang.
***
“Boleh duduk di sini, Ueena?” tanya seorang pemuda yang bernama Andreas, dia teman satu fakultas Queena di jurusan Biologi, namun mereka beda fokus minat. Queena fokus pada mikrobiologi medis, sedangkan Andreas pada mikrobiologi lingkungan.
Queena mendongak. “Silahkan. Lagi pula ini tempat umum,” jawabnya, dia kembali fokus dengan tabletnya.
Andreas duduk tidak jauh dari Queena, dia juga mengeluarkan tabletnya. “Profesor Lucas bilang, aku harus belajar darimu soal observasi dan analisis untuk kultur bakteri.” ucap Andreas.
Queena menjeda aktifitasnya sejenak, dia menoleh kearah lawan bicaranya. “Aku belum semahir itu jika di bandingkan dengan yang lain, aku juga masih dalam tahap belajar.” Queena paham maksud Andreas dan dia tidak ingin terjebak hanya karena pemuda itu menyebut nama professor mereka. “Kalau memang kamu mau belajar soal kultur bakteri, kamu juga bisa belajar pada mereka!” tunjuknya pada dua sahabatnya tersebut, Raya dan Intan baru saja kembali dari mengambil pesanan makanan mereka dari mamang ojol.
“Wuidih. Ada angin apa, nih? Bapak ketua BEM fakultas di mari,” celetuk Intan.
Raya langsung melirik kearah Queena. “Di minta prof. Lucas buat belajar kultur bakteri sama kalian berdua,” jawab Queena yang paham lirikan salah satu sahabatnya tersebut.
“Oh,” Raya manggut-manggut. “Geseran dikit dong, pak ketua!” Raya menyempil di tengah, antara tempat Queena dan Andreas duduk. Andreas terpaksa harus mengeser tubuhnya agar Raya bisa duduk.
“Lhah! Terus aku duduk di mana?” tanya Intan. “Duduk sini, Ntan!” Queena menepuk rerumputan di sebelahnya.
“Duduk samping Ueena memang paling tepat,” ucap Intan yang sudah mendaratkan pan tatnya di rerumputan. “Ueena sayang, bawa bekal apa? Dedek Intan ini sudah lapar, kali aja mama Rhea bawain kamu lauk double lagi.” Intan menatap tas bekal Queena yang masih tertutup rapi.
Queena terkekeh. “Ada. Mama kasih buat pengemar setianya,” putri sulung papa Rega tersebut membuka tas bekal dan mulai mengeluarkan kotak bekalnya satu persatu dari dalam tas.
“Pak ketua mau ikut makan siang juga? Tapi beli sendiri ya! Kita ini habis kultur bakteri berjam-jam, energi terkuras. Jadi tidak ada bagi-bagi makanan,” celetuk Raya.
Andreas tersenyum kikuk. “Kalian makan saja, aku masih kenyang. Aku boleh tetap di sini kan, tapi? Aku serius soal mau belajar kultur dengan Queena,” ucapnya.
“Sama Queena doang nih belajarnya?” sahut Intan membuat Andreas menggaruk kepalanya. “Sama kalian berdua juga,” lanjut Andreas.
Raya menahan tawanya, dia kemudian mengambil ponselnya.
Rayemot
Belajar kultur sama Queena nggak tuh? Hahaha…
Ueena musuhnya Arlo
Modus…
Queena membuka bekalnya, dia memberikan satu kotak bekal berisi ayam lada hitam pada Intan. “Ntan, pindah sini napa! Aku kan juga mau ayam lada hitam mama Rhea,” gerutu Raya karena Intan menguasai kotak bekal dari mama Rhea.
Intan akhirnya pindah duduk di samping Raya. “Roti buat pak ketua,” Intan memberikan roti miliknya untuk Andreas, rasanya aneh melihat Andreas diam saja sementara mereka bertiga makan.
“Thank’s,” Andreas menerima roti tersebut, dia memakan roti pemberian Intan sambil menatap Queena yang sedang menikmati makan siangnya.
Queena bukan tidak tahu jika Andreas sedang memperhatikannya, tapi gadis kesayangan mama Rhea itu tidak perduli dan hanya fokus pada makan siangnya.
Blugh
“Arlo!” kesal Queena saat pemuda itu melemparkan tas kepangkuan gadis itu.
“Iya, Queen. Aku di sini,” Jawab Arlo yang sudah berdiri di depan Queen.
Raya, Intan dan terutama Andreas langsung mendongak.
“Aaa… aa Arlo yang tampan datang,” Intan langsung mode centil begitu melihat ternyata Arlo.
Arlo kemudian duduk di samping Queena.