NovelToon NovelToon
Sistem Misi Polisi

Sistem Misi Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.

Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Restoran

Sesampainya di pusat Distrik 1, suasana jalanan tampak cukup ramai.

Hiasan-hiasan musim dingin terpasang di sepanjang trotoar, dipadati oleh warga yang sedang berjalan-jalan, ada yang bersama keluarga, bergandengan dengan kekasih, hingga mereka yang menikmati suasana dingin sendirian.

​Sambil menggiring anak-anak panti yang sedang asyik mengulum permen gula berbentuk daun maple, Nathan berjalan santai sembari memandangi deretan pertokoan di sekelilingnya.

​Mata Nathan kemudian menangkap sebuah papan nama restoran sederhana yang tampak hangat di seberang jalan. "Nah, itu restorannya. Ayo anak-anak, kita makan di sana."

​Anak-anak itu bersorak gembira dan mengangguk mengerti, mengekor di belakang Nathan.

​Saat mereka mendorong pintu masuk restoran, suara denting lonceng kecil di atas pintu berbunyi nyaring, memecah suasana hangat di dalam ruangan.

Beberapa pelanggan yang sedang menikmati makan siang spontan menoleh.

Tatapan mereka melunak, tampak gemas melihat barisan anak-anak berjaket tebal yang berbaris rapi di belakang Nathan.

​"Wah, banyak sekali anakmu, Tuan," ujar seorang ibu setengah baya di meja pojok sambil terkekeh pelan.

​"Lucu-lucunya mereka," timpal pelanggan di sebelahnya.

​Nathan tersenyum kikuk, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Eh? Bukan, Bu. Mereka bukan anak saya. Mereka ini... sudah seperti adik-adik saya sendiri."

​Tak lama kemudian, seorang pelayan restoran melangkah cepat mendekati meja mereka.

Pelayan itu adalah seorang gadis muda berwajah bersih dan rapi—Delia.

Sepertinya setelah beberapa waktu lalu, gadis itu telah berpindah tempat kerja ke restoran ini.

​Nathan sempat tertegun sejenak. Penampilan Delia terlihat jauh lebih sehat, segar, dan penuh percaya diri dibandingkan saat pertama kali Nathan bertemu.

​Mata Delia membelalak begitu mengenali sosok di hadapannya.

Senyum lebar seketika merekah di wajahnya. "Pak Polisi! Kak Nathan datang ke sini! Mari, mari duduk di meja sebelah sini, Kak. Kebetulan tempatnya muat untuk banyak orang dan sedang ada promosi musim dingin."

​Delia dengan sigap mempersilakan mereka menuju meja kayu berukuran besar di dekat jendela. Nathan memimpin anak-anak untuk duduk. "Terima kasih banyak ya, Delia."

​"Sama-sama, Kak. Ini memang sudah tugasku," jawab Delia ramah sembari menyiapkan kertas catatan dan pulpen. "Kak Nathan lagi libur dinas kah hari ini? Adik-adik ini sopan sekali. Kak Nathan mau pesan apa?"

​Nathan menatap anak-anak panti yang sudah duduk rapi dengan mata berbinar-binar memandangi buku menu. "Kalian mau pesan apa saja? Bebas pilih."

​Anak-anak itu langsung berebutan menyampaikan keinginan mereka.

​"Aku mau ayam goreng renyah dan burger yang paling besar!" seru Aris penuh semangat.

"Aku ingin jus jeruk dan nasi goreng sosis!" sahut anak di sebelahnya.

"Kakak cantik, aku mau makanan yang paling enak di sini!" celoteh salah satu anak perempuan dengan polos.

​Delia tertawa gemas mendengar celotehan mereka.

Jarinya bergerak lincah mencatat setiap pesanan di kertas.

Setelah selesai, ia kembali menatap Nathan. "Kalau Kak Nathan sendiri mau pesan apa?"

​"Pesankan aku semangkuk sup hangat saja," jawab Nathan simpel.

​Delia mengangguk mengerti. "Baik, tunggu sebentar ya. Pesanannya akan segera disiapkan."

​Setelah Delia berjalan menuju dapur, Nathan duduk bersandar sembari memperhatikan anak-anak yang sibuk menunjuk-nunjuk pemandangan salju di luar jendela.

​"Kak Nathan, apa seru rasanya menangkap penjahat?" tanya Aris tiba-tiba, menopang dagunya di atas meja.

​"Iya, Kak! Aku juga nanti kalau sudah besar ingin belajar menembak mereka!" timpal anak lainnya.

​Nathan terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. "Ya ampun... kalian ini penasaran sekali ya?"

​"Iya! Kami ingin tahu cerita pekerjaan Polisi!" seru mereka serentak.

​Nathan merubah posisi duduknya menjadi sedikit lebih tegak, menatap lekat anak-anak di hadapannya dengan sorot mata yang lembut.

​"Menangkap penjahat itu... sebenarnya tidak benar-benar seru," ucap Nathan tenang. "Pekerjaan itu sangat berbahaya dan penuh risiko. Tapi, jika kita berhasil menegakkan keadilan dan menangkap orang jahat, akan ada rasa lega dan bahagia yang luar biasa. Kenapa? Karena kita bisa melihat korban atau keluarga mereka menangis lega karena merasa aman kembali."

​Nathan tersenyum tipis, merangkul bahu Aris yang duduk di sebelahnya. "Yah... kalian mungkin baru akan benar-benar mengerti tentang pahit manisnya kenyataan hidup suatu hari nanti. Jadi, pesan Kakak... nikmatilah masa kecil kalian ini dengan bahagia. Belajar yang rajin, dan saling menjaga satu sama lain."

​Anak-anak panti itu saling pandang. Walaupun tidak sepenuhnya memahami kalimat dewasa dari Nathan, mereka bisa merasakan kehangatan dan niat tulus di balik ucapan tersebut.

​"Wah... Kakak hebat sekali," gumam Aris kagum.

"Aku juga mau jadi orang baik seperti Kak Nathan kalau sudah besar nanti!"

​Sekitar lima belas menit berlalu, Delia kembali dari arah dapur membawa baki besar berisi hidangan yang asapnya masih mengepul hangat. Ia menyajikan piring demi piring di atas meja.

​"Silakan dinikmati ya, Adik-adik," ucap Delia ramah.

​"Terima kasih, Kakak Cantik!" seru anak-anak girang sebelum mulai menyantap makanan mereka dengan lahap.

​Delia kemudian meletakkan semangkuk sup daging hangat di hadapan Nathan. "Dan ini, untuk Kak Nathan."

​Nathan meraih sendoknya. "Terima kasih banyak, Delia."

​"Sama-sama, Kak."

​Nathan menyendok kuah sup yang masih berasap, lalu perlahan memasukkannya ke dalam mulut.

Rasa gurih dan hangat seketika menyebar di tenggorokannya.

Walaupun rasanya berbeda dengan sup buatan orang tuanya saat ia masih kecil dulu, sup hangat di musim dingin ini terasa sangat lezat.

​Bagi Nathan, yang membuat rasanya menjadi jauh lebih nikmat adalah perasaan nostalgia—kenangan akan kehangatan sebuah keluarga yang perlahan kembali ia rasakan melalui momen-momen kecil seperti ini.

​Nathan mendongak dan melihat Delia yang masih berdiri di dekat meja, memperhatikan anak-anak panti makan dengan senyuman bahagia di wajahnya.

​"Bagaimana kabar ayah dan ibumu, Delia? Apa semuanya berjalan baik di rumah?" tanya Nathan perhatian.

​Delia menoleh, senyumnya semakin dalam. "Ah, soal itu... Berkat bantuan dan rekomendasi dari Kak Nathan waktu itu, Ayah sekarang sudah bekerja tetap dan mulai menata hidupnya menjadi jauh lebih baik. Ibu juga kesehatannya makin membaik karena tidak perlu stres lagi. Terima kasih banyak untuk semuanya ya, Kak... Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan Kak Nathan."

​Nathan mengibaskan tangannya pelan di udara sambil tersenyum tipis. "Tidak perlu sampai segitunya, Delia. Aku hanya kebetulan ada di waktu yang tepat untuk membantu. Yang paling penting adalah kalian bertiga mau berusaha untuk berubah."

​Delia mengangguk mantap, matanya berkaca-kaca penuh rasa syukur.

Nathan lalu kembali menyendok sup hangatnya, menikmati sore musim dingin yang damai di tengah riuhnya tawa anak-anak panti di sekelilingnya.

1
Kaisar surgawi
sorry ini gw skip , karna apa ? sistemnya cuman memberikan uang, tidak kemampuan
Maul: gapapa kak. terima kasih sudah baca /Pray/
total 1 replies
Dragonovic
up👍👍👍
Dragonovic
up👍
Jonatan Revan
novel yang sangat baguss
Maul: terima kasih banyak atas ulasannya. yuhuh🍜/Determined/
total 1 replies
Jonatan Revan
saran yah thor bab nya bisa di kasih panjang lagi gak terlalu pendek
Maul: di usahakan ya hehe/Smile/
total 1 replies
Maul
🍝
Maul
🍜
Maul
/Coffee//Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
🍜/Coffee/
Maul
🍝🥘
Maul
🍔🍹
Maul
/Rice/🍜
Maul
/Coffee//Watermalon/
Maul
/Cake/
Maul
/Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙞𝙠𝙨𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖. 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖
Maul
...
Maul
𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!