Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Hari-hari berikutnya berjalan bagaikan ritme yang berulang dan melelahkan bagi Nadia. Menjalani shift kerja yang diperpanjang hingga pagi hari benar-benar menguras fisiknya, namun ia menolak untuk menyerah.
Malam ini, sekitar pukul sebelas malam, dentuman musik di Eternity Club & Lounge sedang berada di puncaknya, cahaya lampu berwarna ungu dan merah berpendar menyapu lorong-lorong VIP lantai dua.
Nadia baru saja selesai merapikan nampan di ruangan staf ketika Vina mendatangi meja pantry dengan tergesa-gesa.
"Nadia, cepat bantu bawa sebagian nampan ini!" seru Vina, tangannya sibuk menata beberapa botol minuman mahal bertaraf internasional dan puluhan gelas kristal di atas dua nampan besar.
"Ada pesanan dari ruangan VIP 1, kita harus antar bersama pelayan yang lain," lanjut Vina.
Nadia mengangguk cepat, ia meraih salah satu nampan yang cukup berat dan menyeimbangkan posisinya, lalu mengulas senyum ramah yang selalu terpasang di wajahnya. Bersama Vina dan dua pelayan pria lainnya, Nadia melangkah menyusuri lorong berkarpet merah menuju pintu paling ujung.
Salah satu pelayan pria mengetuk pintu sebanyak tiga kali secara sopan, lalu mendorong pintunya terbuka. Begitu masuk kedalam ruangan tersebut, aroma parfum bermerek yang menyengat berpadu dengan bau alkohol pekat dan asap rokok langsung menyambut indra penciuman Nadia. Ruangan itu sangat luas, dilengkapi sofa kulit melengkung, layar proyektor besar, serta meja kaca panjang di tengahnya.
Nadia melangkah masuk dengan pandangan menunduk sopan, berkonsentrasi penuh menjaga keseimbangan nampan di tangannya agar kejadian pecahan gelas kristal seperti malam sebelumnya tidak terulang kembali.
Nadia berlutut di tepi meja kaca, mulai menurunkan gelas-gelas kristal dengan gerakan yang sangat hati-hati dan tertata rapi. Namun, belum sempat Nadia menyelesaikan tugasnya, sebuah gelak tawa yang sangat familiar melengking memecah suara musik di dalam ruangan.
"Aduh, Ra, gila sih! udah lama banget kita nggak kesini!"
Nadia membeku di tempatnya, tangannya yang sedang memegang botol minuman seketika bergetar pelan. Jantungnya berdegup kencang secara mendadak, suara itu... suara yang selama ini menjadi bagian dari mimpi buruknya di kampus.
Perlahan, dengan keberanian yang tersisa, Nadia mendongakkan kepalanya sedikit. Di atas sofa kulit bagian tengah, duduk Tamara. Perempuan itu mengenakan gaun malam tanpa lengan berwarna hitam yang glamor, rambut panjangnya digulung rapi dan wajahnya dipoles riasan tebal yang makin mempertegas kesan sombongnya. Di samping kiri dan kanannya, Hesti serta Erika duduk sambil memegang gelas minuman.
Namun, kejutan sesungguhnya yang menghantam dada Nadia hingga membuat pasokan udaranya seakan terhenti bukanlah keberadaan Tamara atau kedua temannya.
Tepat di sebelah Tamara, duduk seorang pria berkemeja kotak-kotak tergulung yang sangat Nadia kenali. Pria yang selama ini dikenal seluruh kampus sebagai sosok yang bijaksana, ramah dan memegang jabatan tinggi di BEM Universitas, pria itu adalah Roy.
Nadia membelalakkan matanya, dunianya seakan berhenti berputar selama beberapa detik. Roy, pria yang baru beberapa hari lalu mengejarnya di gerbang kampus, pria yang begitu khawatir akan nasib Nadia, bahkan berani menawarkan bantuan untuk Nadia, kini sedang duduk santai di dalam klub malam paling mewah dan merangkul bahu Tamara dengan mesra.
Tamara yang sedang tertawa tiba-tiba menghentikan godaannya pada Roy, pandangan matanya yang tajam dan dilapisi eyeliner tebal itu mengarah tepat ke arah pelayan yang sedang berlutut di dekat kaki meja.
Ketika mata Tamara menangkap sosok kemeja putih tertutup rapat dan kuncir ekor kuda sederhana milik Nadia, raut wajahnya seketika berubah. Dari kaget, tercengang, hingga akhirnya berganti menjadi sebuah senyuman kejam dan amat puas.
"Loh... loh... loh...," suara Tamara memotong riuhnya obrolan di ruangan tersebut, ia menyenggol lengan Roy dengan sikunya cukup keras.
"Roy, lihat deh! Coba kamu perhatikan siapa pelayan yang lagi menata minuman di meja kita ini!" seru Tamara dengan nada suara yang sengaja dibikin nyaring dan dipenuhi ejekan.
Roy yang semula sedang tertawa sambil menyesap minumannya refleks menoleh ke bawah, memandangi sosok pelayan di depan mejanya.
Seketika itu juga, senyum di wajah Roy membeku total. Gelas di genggamannya hampir saja terlepas, wajah pria itu memucat pasi dan matanya membelalak kaget seolah baru saja melihat hantu di tengah kegelapan malam.
"Na... Nadia?" bisik Roy. Suaranya tertahan di tenggorokan, diwarnai rasa panik dan kaget yang luar biasa.
Nadia berdiri dari posisinya yang berlutut dengan perlahan, dadanya dihimpit rasa sesak yang teramat sangat. Pria didepannya adalah pria yang menjadi penyebab kegilaan Tamara, justru saat ini tengah bersama dengan Tamara.
Nadia merapatkan kedua tangannya di depan dada. Meski jiwanya terguncang hebat dan air mata terancam tumpah, ia memaksakan kepalanya untuk menunduk sopan dan memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang masih ia miliki, lalu menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
Nadia memasang senyum palsu terbaiknya, sebuah perisai kokoh yang menunjukkan bahwa meskipun mereka berhasil meremukkan pendidikannya, mereka tidak akan pernah bisa menghancurkan semangat hidupnya.
"Astaga! Ternyata beneran si bisu!" teriak Erika sambil tertawa terbahak-bahak hingga memukul bahu Hesti.
"Gila! Jadi lo kerja di klub malam? Di kampus gayanya sok suci dan sok tegar, ternyata keluyuran malam-malam jadi pelayan di klub hiburan malam!" cemooh Hesti tak kalah pedas.
Tamara bersedekap dada, menyandarkan punggungnya di sofa dengan gaya bak seorang ratu yang sedang menatap kecoa di bawah kakinya, matanya menyipit penuh rasa keunggulan.
"Lihat kan, Roy? Ini cewek yang mau kamu bantu loh," ujar Tamara sinis seraya mengelus kemeja di bahu Roy.
Roy terlihat sangat serba salah, wajahnya memerah oleh rasa malu dan terkejut. Ia melirik Nadia, lalu melirik Tamara yang memegang lengannya rapat-rapat. Rasa gengsi membuat Roy memilih untuk menutup rapat mulutnya, membuang muka dan pura-pura tidak melihat mata Nadia yang memancarkan kekecewaan mendalam.
Tamara menyesap minumannya santai, matanya memancarkan kebencian ketika melihat Nadia yang hanya berdiri diam dan tetap memasang senyum tipis di wajahnya, sikap tenang Nadia justru membuat Tamara semakin meradang. Bagi Tamara, seorang Nadia yang sudah hancur seharusnya berlutut, menangis dan memohon kasihan, bukannya berdiri tegar seperti ini.
"Oh, gue tahu...," Tamara terkekeh sinis, suaranya melengking sengaja memancing perhatian seluruh isi ruangan.
"Lo pasti malu ya karena ketahuan kerja di tempat ini? Ngomong-ngomong berapa bayaran lo buat satu malam? Bilang aja jangan malu," Tamara melipat kedua tangannya di dada, melemparkan pandangan merendahkan dari ujung kepala hingga ujung kaki Nadia.
"Emangnya ada ya yang mau sama orang bisu? Atau justru karena lo bisu jadi bayaran lo mahal? Karena yang penting kan pelanggan puas," ucap Erika.
.
.
.
Bersambung.....