NovelToon NovelToon
Plot Twist : I'M The Villainess

Plot Twist : I'M The Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: blumoon

Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai

Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!

Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Retakan di Panggung Utama

~ HAPPY READING ~

|

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan di pintu bilik toilet terdengar teratur. Dari dalam, Leila memeluk lututnya di atas lantai dingin, membisu rapat. Ia tak berani bahkan sekadar menghela napas panjang.

Tok... Tok...

"Leila...?" Suara Arumi terdengar dari balik pintu, terdengar tenang namun sarat ketegasan. "Lei, kamu di dalam, kan? Are you okay?"

Leila buru-buru menyapu peluh dingin di dahinya. Ia menegakkan tubuh, berusaha menetralkan getaran di suaranya. "I-iya, Mbak... Sebentar. Cuma agak pusing sedikit tadi. Aku... aku lupa makan siang."

"Kalau gak sehat, istirahat aja, Lei. Tadi staf lain bilang wajahmu mendadak pucat pasif pas bawa nampan," ujar Arumi dari luar.

"Aman, Mbak Arumi. Beneran, cuma pusing dikit aja kok," sahut Leila meyakinkan.

Satu detik... dua detik... Hening. Tidak ada sahutan lagi dari luar.

Merasa Arumi sudah pergi kembali ke ballroom, Leila mendesah lega. Ia bergegas berdiri, menghampiri wastafel, lalu membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin agar tampak lebih segar dan tidak memancing kecurigaan.

Namun, begitu pintu bilik ia dorong ke luar...

Cklek.

Leila membeku seketika. Arumi ternyata masih berdiri tegap di sana, bersedekap dada seraya menatapnya dengan pandangan menyipit tajam.

"M-Mbak Arumi...?" sapa Leila canggung, reflex mundur setengah langkah.

"Ayo," potong Arumi pendek tanpa basa-basi. Ia langsung meraih pergelangan tangan Leila dan menariknya melangkah menuju dapur belakang.

"Mbak... Mbak Arumi mau ke mana?"

"Duduk," perintah Arumi tegas begitu mereka sampai di sudut dapur staff.

Tanpa menunggu balasan, Arumi mengambil piring, menyendokkan porsi nasi hangat yang cukup banyak, lalu menumpuknya dengan beberapa lauk pauk. Piring itu dihentakkan pelan di depan Leila.

"Makan," ujar Arumi datar.

"Mbak, aku—"

"Makan, Leila. Lain kali utamakan kesehatan badanmu! Badan itu aset utama buat orang-orang seperti kita. Kalau kamu sakit dan ambruk, dari mana kamu bisa menghasilkan uang buat bertahan hidup?" omel Arumi panjang lebar dengan raut wajah galak, namun pancaran matanya tak bisa menyembunyikan rasa khawatir.

Leila terpaku. Otaknya berusaha mencerna situasi. Ia seakan tak percaya, wanita yang baru ia kenal beberapa jam lalu ini... begitu peduli dan memikirkannya sejauh ini.

"Malah bengong! Buruan makan!" sentak Arumi lagi.

beberapa staf dapur yang melintas ikut menimpali tanpa menoleh. "Eh, anak baru! Buruan dihabisin makanannya! Kita di sini udah kewalahan, jangan tambah beban kita buat ngurusin orang pingsan!"

Leila mengulum senyum tipis. Ia sama sekali tidak tersinggung. Leila paham betul, di balik nada ketus orang-orang pekerja keras ini, tersimpan kepedulian yang jujur.

"Kamu punya waktu lima belas menit buat istirahat dan ngabisin makanan itu. Setelah itu, kembali ke posisi," tegas Arumi setelah memastikan Leila mulai menyuap nasinya. Wanita itu kemudian berbalik, kembali ke depan untuk memantau acara.

Sementara itu, di grand ballroom, suasana pesta tumbuh makin meriah. Alunan musik, denting gelas, dan gelak tawa para tamu terus bersahut-sahutan mengelilingi Kakek Albert Veradoux.

Namun di sudut ruangan yang agak remang, Arton masih berdiri celingukan. Matanya menyapu setiap sudut ruangan, bergerak liar mencari siluet pelayan tadi. Ia yakin seratus persen, gadis yang tadi ia lihat adalah Leila. Kerinduan dan rasa bersalah yang terpendam lima tahun ini membuat Arton benar-benar terdistraksi ia bahkan lupa bahwa malam ini ia punya agenda besar bersama Helena.

Puk.

Sebuah tepukan lembut namun mantap mendarat di pundaknya.

"Paman..." Arton terkesiap, menoleh pada Alex yang berdiri di sampingnya.

"Fokusmu terpecah, Arton. Puncak acara sebentar lagi selesai," ujar Alex dingin. Suaranya terdengar sangat lembut, namun menyelipkan intimidasi dan tuntutan yang tak terbantahkan. "Apa yang sebenarnya sedang kau cari?"

Arton menelan ludah, menjawab jujur. "Leila, Paman... Aku yakin melihatnya di sini. Dia... dia memakai seragam pelayan hotel ini."

Alex memiringkan kepalanya sedikit. Matanya berkilat misterius. ‘Gadis itu...? Jadi dia benar-benar ada di sini?’ batin Alex, sebelum sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.

"Gadis itu... Begini saja," ujar Alex menenangkan. "Fokuslah pada apa yang harus kau selesaikan malam ini dengan keluarga Lauren. Soal gadis itu, orang-orangku yang akan mencarinya di seluruh area hotel jika dia memang ada di sini."

‘Belum saatnya kalian berdua bertemu... Panggung malam ini milikku,’ lanjut Alex bermakna ganda di dalam hatinya.

"Baiklah... Terima kasih, Paman," sahut Arton lega.

Dengan sisa ketegasan yang ada, Arton berbalik menyusul Alex. Mereka melangkah menghampiri meja khusus VIP tempat keluarga Lauren berada.

"Tuan Michel, Nyonya Miler... Selamat malam," sapa Alex ramah saat melewati meja mereka.

"Helena..." Arton memberi kode isyarat mata pada Elia, menandakan waktunya telah tiba.

Elia mengangguk paham dari kursinya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Otaknya berputar cepat, menyusun skenario terburuk kalau-kalau Kakek Albert mendadak ngamuk.

"Ma, Pa... ikut Arton sebentar ke pinggir," bisik Arton menghampiri kedua orang tuanya, Nicky Cassian Veradoux dan Milen Narendra.

"Ada apa lagi, Arton? Jangan buat malu malam ini," tegur Papa Nicky dengan raut wajah ketus.

"Ini penting, Pa, Ma," desak Arton.

"Dengarkan dulu apa yang ingin dikatakan anak kalian," sela Alex menengahi saat melihat raut tidak senang di wajah kakak kandungnya itu.

"Katakan. Ada apa?" ujar Nicky akhirnya mengalah.

Arton merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan selembar amplop berisi dokumen pembatalan pertunangan yang sudah ditandatangani oleh Elia. Ia menyerahkannya langsung ke tangan Nicky. "Papa lihat ini."

Nicky membuka lipatan kertas itu. Matanya membelalak lebar seketika. "APA-APAAN INI, ARTON?!" bentaknya tertahan. Nyonya Milen ikut mengintip dan langsung memegang dadanya, syok berat.

"Kakak, tenang... Jangan emosi dulu. Dengar penjelasan Arton," sela Alex cepat, berperan sebagai penengah yang sangat bijak.

"Papa, Mama... kalian pasti paham bagaimana rasanya jika dipaksa menikah tanpa rasa cinta," ujar Arton membela diri. "Perjodohan ini cuma bakal menyakiti aku dan Helena. Pertunangan ini salah!"

Kata-kata itu membuat Nicky dan Milen mendadak bungkam. Sejarah masa lalu menghantam pikiran mereka karena dulu, Nicky dan Milen pun dijodohkan demi bisnis tanpa rasa cinta, sebelum akhirnya saling mencintai bertahun-tahun kemudian.

"Arton... tapi Mama dan Papa dulu juga—"

"Ini beda, Ma!" pangkas Arton tegas. "Saat itu hati kalian berdua kosong, tidak ada siapa-siapa! Tapi aku...? Hati aku udah terisi, Ma. Ada wanita lain yang tersimpan di sini... dan aku gak bisa berpaling. Memaksa menikahi Helena hanya akan membawa luka seumur hidup buat kami berdua."

Milen terdiam seribu bahasa, kehabisan kata-kata.

Nicky memijit pelipisnya, raut wajahnya melunak drastis. Sebagai seorang ayah, ia memahami kepedihan anaknya. "Arton... Papa mengerti. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana watak Kakekmu, kan? Dia tidak akan pernah sudi menerima pembatalan ini."

"Aku yang akan membantu Arton," potong Alex tiba-tiba.

Nicky dan Arton kompak menoleh kaget.

"Kerja sama bisnis antara Veradoux dan Lauren tidak boleh hancur," lanjut Alex tenang. "Jika Ayah berkeras pertunangan keluarga harus tetap ada... maka aku yang akan menggantikan posisi Arton untuk menjadi tunangan Helena."

"APA?!" Nicky dan Arton berseru tertahan secara bersamaan.

"Paman! Paman gak perlu berkorban sampai sejauh itu!" bantah Arton merasa bersalah.

"Hanya sementara. Itu opsi darurat kalau Ayah benar-benar mengamuk," sahut Alex santai, mengusap bahu keponakannya. Lalu ia menoleh pada Nicky. "Lagipula Kak, Helena bukan gadis yang buruk... Dia sangat layak dipertimbangkan."

Alex tersenyum sangat tipis—sebuah senyuman penuh intrik yang menyembunyikan niat tersembunyinya dengan sempurna.

Nicky mendesah pasrah. "Baiklah. Papa dan Mama menghormati keputusanmu, Arton. Tapi kamu harus hadapi Kakekmu sendiri."

Arton mengangguk mantap. Menatap kertas di tangannya, ia mengumpulkan seluruh keberaniannya lalu melangkah tegap menuju panggung utama tempat Kakek Albert berdiri.

"Kakek..." Arton menyerahkan surat pembatalan itu. "Mohon baca ini."

Kakek Albert menerima kertas itu, membacanya sekilas, lalu...

PLAK! BRAK!

"KURANG AJAR! APA MAKSUDNYA INI, ARTON?!"

Kakek Albert menghentakkan tongkat kayunya keras-keras ke lantai panggung. Suaranya bergema memenuhi ballroom, seketika menghentikan seluruh musik dan obrolan tamu.

"Aku dan Helena sudah sepakat... Pertunangan kami resmi dibatalkan malam ini!" seru Arton lantang di depan semua orang.

Gasp!

Seluruh ruangan mendadak riuh! Para tamu saling berbisik heboh.

Di bawah panggung, Mama Miler yang melihat Arton dibentak langsung tersulut emosi. Bibirnya sudah terbuka lebar hendak menyemprot keluarga Veradoux.

"Kurang ajar anak itu—"

"Sstt! Mama, diem!" potong Elia panik, buru-buru menahan lengan ibunya.

Papa Michel dan Meilin pun ikut emosi dan hendak maju membela Helena. Melihat situasi makin lepas kendali, Elia yang panik refleks menginjak kuat-kuat kaki Meilin!

Aduch!

"Sshhh! Helena! Sakit banget, ih!" ringis Meilin meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.

"Makanya diem! Jangan ada yang berani buka mulut atau maju ke panggung!" bisik Elia tegas dengan tatapan mata membunuh.

‘Duh Gusti... jangan dirusak sandiwara gue! Sedikit lagi gue bebas sambil bawa sepuluh triliun! Kenapa pada emosi semua sih?!’ batin Elia meratapi nasibnya yang dikelilingi keluarga overprotective.

"Arton! Kamu benar-benar anak tidak tahu diri—" Kakek Albert sudah mengangkat tongkatnya lagi, hendak memukul Arton.

Melihat Arton mau digebuk, Elia akhirnya tidak punya pilihan. Ia mengangkat gaun mewahnya dan melangkah cepat naik ke atas panggung.

"Kakek Albert, maafkan saya kalau saya menyela!" potong Elia dengan suara anggun namun lantang, berdiri tepat di samping Arton. "Masalah kerja sama bisnis antara keluarga Lauren dan Veradoux bisa tetap berjalan dengan sangat baik tanpa harus ada ikatan pertunangan ini. Saya dan Arton memang sudah tidak cocok. Pembatalan ini adalah keputusan bersama!"

Para tamu makin histeris berbisik-bisik.

Kakek Albert menatap Helena dengan napas memburu. "Helena, kamu—"

"Tuan Albert! Kami dari keluarga Lauren sama sekali tidak masalah dengan pembatalan ini!" tiba-tiba Papa Michel malah melangkah maju ke depan panggung dengan dada terbusung gagah. "Anak-anak kita sudah dewasa! Jika mereka tidak bahagia, tidak ada alasan bagi kita untuk memaksakan pertunangan ini!"

Elia yang berdiri di panggung seketika menepuk jidatnya sendiri.

‘Haaaaah! Malah dirusuhin sama Papa! Tolonglah... alurnya jadi melenceng kemana-mana! Udah susah-susah gue nyusun skenario tenang di kepala, malah jadi drama kolosal begini!’ batin Elia menangis batin melihat rencananya yang makin berantakan.

Bersambung 🫰🏻🤗

1
Tamaa
lu siapa kira pede banget, harus banget gitu setiap orang harus terpesona ngeliat lu
Cimol krispy
bahkan selama ini yang bikin Leila nggak bisa kamu temukan dimana² itu ya pamanmu itu Arton
Cimol krispy
sekebal²nya sama hukum, tapi ya nggak terang²an didepan umum juga kalo mau nyulik orang
Aquarius97 🕊️
beruntung banget, ada Arumi yang perhatian.. langka banget loh Lei orang kaya Arumi
Aquarius97 🕊️
bukan gara-gara pusing sebenarnya, tapi pucat gara2 kaget ketemu cintanya wkwk
Myz Pena
elleh malah minta tolong sama alex.. kamu lakuin aja sendiri 🤧
Myz Pena
hiii ngerinya 🤧
Myz Pena
ini om alex kah 🤭🤣
ginevra
eila emang cewek tangguh amat ya...
ginevra
jeng jeng jeng!!!! cepetan cepetan tancap gass
ginevra
peka banget deh om alex, cepatan om!!! keburu jauh orangnya
Putry Chan
aku setuju! mkanya Arton nekat batalin. lebih baik malu sebentar di depan umum dari pada menderita seumur hidup
Kartika Candrabuwana
wah dengan penampilan seperti itu... paling iri dengan elia karena kalah cantik. j
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
itu 3 bawahan alex kan udah terlatih, nggak ada niatan balas dendam gitu ke keluarga paman nya?
secara pasti udah ada dukungan alex juga kan
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
helena nggak tau, kalau sumber uangnya alias om om ganteng nya marah bisa gaswat 🤣🤣🤣🤣
Aquarius97 🕊️
kek, kuat-kuatin hati dan jantung ya kek... setelah ini Helena dan Arton akan berulah 😭
Aquarius97 🕊️
weladalah... Alex kok sampe sini wkwk 🤭 tolong Carikan dia calon bini Arton, dia abis patah hati 🤭
Cimol krispy
walaupun kamu suaminya ya kalo diruang tindakan ya tetep ga boleh masuk alex
Cimol krispy
dramatis banget pokoknya proses evakuasi mereka
Tamaa
gak etis malah diumumkan di depan publik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!