NovelToon NovelToon
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.

​Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

​Dentang halus antara sendok perak dan piring porselen buatan Eropa terdengar begitu berirama di dalam ruang makan utama rumah Husna. Lampu gantung kristal yang menggantung di atas meja makan kayu jati berukuran panjang itu membiaskan cahaya hangat yang mewah. Di atas meja, tersaji berbagai hidangan makan malam kelas atas mulai dari steak daging sapi impor yang lembut, hidangan laut segar, sup krim jamur yang harum, hingga aneka buah-buahan segar yang tertata rapi.

​Husna duduk di ujung meja makan dengan keanggunan yang tak tergoyahkan. Ia mengenakan gaun rumahan berwarna navy yang dipadukan dengan hijab sutra senada, menyesap sedikit jus jeruk segarnya dengan gerakan yang amat tenang. Di sisi kiri dan kanannya, Devan dan Deka kedua putra kembarnya yang kini tumbuh menjadi remaja tampan berpostur tegap sedang menikmati makan malam mereka dengan tenang, diselingi obrolan ringan tentang pelajaran sekolah dan rencana kuliah mereka di luar negeri.

​Suasana makan malam keluarga yang begitu hangat dan berkelas itu mendadak rusak saat langkah kaki yang terburu-buru dan seret terdengar bergema dari arah lorong penghubung paviliun belakang.

​Klek!

​Pintu samping ruang makan terdorong kasar. Bian melangkah masuk dengan wajah yang teramat kusut, lesu, dan memerah akibat menahan emosi seharian. Kemejanya yang berdebu tadi pagi kini lecak dan kusam. Di sampingnya, Salma berjalan menyusul dengan langkah yang dihentak-hentakkan. Rambut istri muda itu tak lagi tertata rapi, riasan wajahnya mulai luntur, dan matanya memancarkan rasa kejengkelan yang sudah berada di puncak.

​Seharian penuh mereka berdua bak cacing kepanasan di toko swalayan. Berdebat dengan distributor, menguras setengah tabungan Salma untuk membayar talangan lima puluh persen, serta membongkar muatan barang sendiri karena kekurangan tenaga kerja, membuat tenaga dan mental pasangan pengantin baru itu terkuras habis.

​Melihat meja makan mewah yang dipenuhi hidangan lezat dan mengeluarkan aroma yang menggiurkan, perut Bian dan Salma seketika berbunyi nyaring. Rasa lapar yang menahan perut mereka sejak siang akibat tak sempat membeli makanan langsung membakar gairah.

​Dengan percaya diri dan wajah tanpa dosa, Bian melangkah mendekati meja makan. Ia menarik salah satu kursi jati berukir di dekat meja, lalu menatap Salma dengan nada sok manis.

​"Duduk di sini, Salma," ujar Bian seraya mempersilakan istri mudanya duduk untuk ikut bergabung dalam makan malam keluarga tersebut.

​Namun, sebelum pinggul Salma sempat menyentuh permukaan kursi empuk itu, sebuah suara dingin, datar, dan teramat tajam menghentikan gerakan mereka berdua seketika.

​"Kalian mau apa di rumah saya?"

​Tanya Husna tanpa memindahkan pandangannya dari piring makanannya. Ia bahkan tidak mendongak, hanya menghentikan dentang sendoknya di atas piring, membiarkan pertanyaannya menggantung di udara dengan intonasi yang begitu menekan.

​Gerakan Salma membeku di udara. Wajahnya yang kusam seketika memerah padam karena merasa dipermalukan di depan kursi yang baru saja ditarikkan untuknya.

​Bian yang mendengar pertanyaan dingin dari istri pertamanya itu langsung merasa harga dirinya ditarik paksa ke tanah. Rasa lelah, lapar, dan tekanan bisnis seharian membuat emosi Bian meledak seketika.

​"Husna! Saya ini masih suami kamu!" bentak Bian dengan nada kesal dan napas yang memburu. "Tolong jaga bicaramu di depan Salma! Saya dan Salma ini lapar! Dari siang kami berdua belum makan sama sekali karena sibuk mengurus swalayan saya yang hampir bangkrut gara-gara kekacauan pasokan barang hari ini! Apa salahnya kalau kami ikut makan malam di meja ini?."

​Husna meletakkan sendok dan garpunya dengan perlahan. Ia menyapu bibirnya menggunakan serbet kain putih dengan gerakan yang teramat tenang, lalu mendongak menatap Bian dan Salma secara bergantian dengan tatapan tanpa emosi.

​Namun, sebelum Husna sempat membuka suara untuk membalas bentakan suaminya, sebuah suara memotong dari arah samping meja.

​"Masih hampir kan, Yah?"

​Deka menyahut santai. Putra bungsunya itu meletakkan pisau steak-nya di atas piring, lalu menatap sang Ayah dengan sebelah alis terangkat tipis. Raut wajah Deka terlihat teramat tenang, meniru persis ekspresi dingin ibunya. "Berarti belum bangkrut beneran dong? Kirain sudah gulung tikar hari ini, makanya datang ke meja makan Bunda sambil teriak-teriak minta makan."

Duar!

​Sindiran halus dari Deka menghantam tepat di muka Bian. Wajah Bian mendadak memerah padam karena ditelanjangi oleh anak kandungnya sendiri.

​"Deka!" bentak Bian dengan mata membelalak, menunjuk anak kembarnya itu dengan jari bergetar. "Kamu tidak usah ikut campur urusan orang dewasa! Tidak sopan kamu bicara begitu sama Ayahmu!"

​Devan, yang sejak tadi duduk tenang di sebelah Deka, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu menatap Ayahnya dengan pandangan lurus yang sangat intimidatifmpandangan matang dari seorang anak laki-laki yang sudah paham betul peta kehancuran rumah tangga orang tuanya.

​"Justru karena orang dewasanya yang pemikirannya seperti anak kecil ini, urusannya harus diluruskan, Yah," sahut Devan dengan nada suara yang dalam, tenang, namun teramat tajam merajam dada.

​Perkataan Devan membuat suasana ruang makan seketika menjadi sangat hening dan tegang. Air muka Bian makin keruh, napasnya naik turun menahan malu dan amarah yang bergejolak.

​Husna sendiri memilih tetap diam. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, membiarkan kedua putranya mengambil alih panggung. Husna tidak memungkiri bahwa anak-anaknya kini sudah besar, memiliki pemikiran yang kritis, dan berhak menyuarakan rasa muak mereka terhadap kelakuan sang Ayah. Husna tahu, perlindungan terbaik bagi anak-anaknya bukan lagi membungkam mereka, melainkan membiarkan mereka berdiri tegak membela kehormatan ibu mereka.

​Melihat Bian yang terdesak oleh kata-kata anak kembarnya, Salma yang berdiri di samping Bian merasa harus menunjukkan taji dan posisinya di rumah ini.

Dengan gaya angkuh yang dibuat-buat, Salma melangkah satu tindak ke depan, menyilangkan tangan di dada seraya menatap Devan dan Deka dengan pandangan meremehkan.

​"Kalian berdua ini benar-benar tidak punya tata krama ya!" cerceh Salma dengan suara melengking. "Kalian itu masih anak-anak! Tidak pantas bicara tidak sopan seperti itu sama orang tua! Mau bagaimana pun, Mas Bian ini Ayah kandung kalian yang sudah membiayai hidup kalian dari kecil. Harusnya kalian malu punya mulut seracun itu."

​Devan tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia menoleh perlahan, mengalihkan pandangan mata elangnya tepat ke arah mata Salma. Tatapan Devan begitu dingin dan tajam, hingga membuat Salma tanpa sadar menelan ludah dan menahan napasnya.

​Devan bangkit dari kursinya secara perlahan. Berdiri dengan postur tubuhnya yang tinggi semampai, Devan menatap turun ke arah Salma dari atas ke bawah.

​"Untuk Anda, Tante..." ucap Devan dengan nada suara yang bergetar menahan kebencian mendalam, menekankan kata Tante dengan penuh penekanan yang merendahkan.

​Devan melangkah dua tindak mendekati meja, menatap tajam ke arah wajah Salma yang mulai terlihat cemas.

​"Harusnya Anda yang sadar diri dan tahu malu," sambung Devan, setiap kata yang keluar dari mulut remaja itu laksana sabetan sembilu yang menguliti harga diri Salma. "Datang ke rumah orang tanpa diundang, mau numpang makan enak di atas meja makan Bunda kami, padahal Anda sendiri tidak lebih dari seorang istri muda dan duri yang merusak rumah tangga orang tua kami."

​"Devan! Jaga mulutmu!" potong Salma histeris, wajahnya pucat pasi bercampur merah padam karena hinaan menohok dari Devan. "Kamu tidak pantas bicara seperti itu sama saya! Saya ini mama sambung kamu juga sekarang! Saya istri sah Ayahmu!"

​"Mama sambung?" Deka ikut tertawa sinis dari tempat duduknya, memotong ucapan Salma sebelum wanita itu selesai berteriak. Deka berdiri menyusul saudaranya, berdiri sejajar di samping Devan.

​"Jangan mimpi kegedean, Tante," cibir Deka dengan senyuman paling meremehkan. "Ibu kami cuma satu, namanya Husna. Dan beliau berdiri anggun di sana. Wanita yang datang ke rumah orang lain cuma demi mengincar harta Ayah kami, lalu menangis-nangis di paviliun belakang karena kepanasan, sama sekali tidak punya hak buat minta dipanggil Mama oleh kami berdua!"

​"Kalian... kalian berdua benar-benar anak kurang ajar!" jerit Salma frustrasi, air mata kejengkelan dan rasa malu yang tak tertahankan mulai merebak di pelupuk matanya. Ia menoleh ke arah Bian yang berdiri terpaku di sebelahnya. "Mas Bian! Lihat anak-anak kamu! Kenapa kamu diam saja melihat istri mudamu dihina dan diinjak-injak sama anak-anakmu sendiri?! Bela Salma, Mas!"

​Bian mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa malu di depan istri mudanya dan rasa murka terhadap kedua anaknya berbaur menjadi satu ledakan amarah.

​"Devan! Deka! Cukup!" bentak Bian seraya menggebrak ujung meja makan dengan keras. Brak! "Siapa yang mengajari kalian jadi anak pembangkang dan tidak punya sopan santun seperti ini?! Apa Bunda kalian yang menyuruh kalian menghina Salma dan Ayah kalian sendiri?!"

​Devan menyunggingkan senyum dingin, sama sekali tidak terpengaruh oleh gebrakan meja Ayahnya.

​"Tidak ada yang ngajarin kami, Yah," jawab Devan tenang namun menusuk. "Kami punya mata buat melihat, kami punya otak buat berpikir. Ayah yang memilih membawa wanita ini masuk ke kehidupan kita, jadi Ayah juga harus terima kalau kami tidak akan pernah sudi menghormati wanita yang sudah merusak kebahagiaan Bunda."

​"Kurang ajar kamu, Devan!" Bian mengangkat tangannya, emosinya membumbung tinggi berniat melayangkan sebuah tamparan ke wajah putra sulungnya.

​Namun sebelum tangan Bian sempat melayang, Husna bangkit dari tempat duduknya secara perlahan. Suara gesekan kursinya dengan lantai marmer terdengar begitu tegas, menghentikan gerakan tangan Bian di udara.

​"Mas Bian," panggil Husna dengan suara rendah, pelan, namun mengandung ancaman mutlak yang membuat bulu kuduk berdiri. "Satu senti saja tanganmu menyentuh anak-anakku... saya pastikan besok pagi kamu tidak cuma kehilangan pasokan barang swalayanmu, tapi juga kehilangan seluruh hak asuh dan hak untuk melangkah masuk ke dalam pagar rumah ini selamanya."

​Bian membeku. Tangan yang terangkat di udara itu perlahan-lahan gemetar dan merosot turun. Tatapan mata Husna yang penuh kendali mutlak membuat nyali Bian menciut seketika.

​Husna melangkah mendekati kedua anak kembarnya, menepuk lembut bahu Devan dan Deka untuk menenangkan mereka. Ia lalu berdiri berhadapan dengan Bian dan Salma yang berdiri berdampingan dengan raut wajah hancur berkeping-keping.

​"Kalian bilang kalian lapar karena mengurus toko seharian?" tanya Husna dengan senyuman tipis yang sangat anggun namun terasa begitu beracun. "Kalau begitu, pulanglah ke paviliun belakang kalian. Di dapur paviliun ada beberapa mi instan dan air galon. Makanan di meja ini hanya ditujukan untuk penghuni rumah utama yang bekerja keras dan tahu cara menjaga harga diri."

​Salma menatap hidangan steak dan makanan mewah di atas meja dengan air mata yang menetes deras akibat menahan hinaan yang begitu bertubi-tubi. Impian mewahnya untuk menjadi nyonya besar yang dilayani dan dihormati di rumah ini hancur lelah menjadi abu dalam satu malam.

​"Ayo, Salma. Kita keluar," ujar Bian dengan suara serak, berat, dan penuh rasa malu yang tak terbayangkan. Ia tidak sanggup lagi berdiri di ruang makan itu di bawah tatapan tajam kedua anak kembarnya dan senyuman dingin Husna.

​Bian menarik pergelangan tangan Salma dengan kasar, menyeret istri mudanya yang terus sesenggukan keluar dari rumah utama menuju jalanan samping yang gelap dan dingin menuju paviliun belakang.

​Saat pintu ruang makan kembali tertutup rapat, Devan dan Deka kembali duduk di kursi mereka. Husna mengulas senyum hangat teramat bangga, membelai kepala kedua putra kembarnya seraya menuangkan kembali jus segar ke gelas mereka. Malam itu, di bawah pendar lampu kristal yang hangat, kemenangan mutlak kembali berada di tangan sang Ratu, sementara di paviliun belakang yang pengap, bau mi instan rebus mulai menyeruak menjadi saksi bisu makan malam pertama pasangan pengantin baru yang mulai mencicipi asam pahitnya penderitaan yang mereka ciptakan sendiri.

1
Lee Mba Young
lanjuttt.. selalu setia nunggu lanjutannya.
Lee Mba Young
gk papa husna jd janda yg penting bnyak duit, punya anak bhgia Wes.
Muft Smoker
Dana talang ,, Dana talang ,,
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒

udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
aku
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Noey Aprilia
Mkanyaaaa.....
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
Lee Mba Young
🤣🤣🤣👍👍🔥
Heni Setiyaningsih
kenapa Salmaaa????dapat zonk ya ha ha ha🤭
Heni Setiyaningsih
hahaha,,,,, bangun Salma,jgn kebanyakan mimpi
Muft Smoker
heran ma bian ,, kurang ap husna jdi istrii,,
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
falea sezi
🤣🤣 najis amat bertahan
falea sezi
heleh strategi apa 🤣sok kuat mending keruk harta nya trs ceraii🤣🤣🤣 ngapain berbagi batangan satu doank gk jijik apa 😒
Noey Aprilia
Mau heran,tp d dnia nyta pun emng bnyk yg ky gt...mmbuang berlian,dmi smpah yg ga brhrga....udh khilangn istri,ank,usaha,bntr lg jbatan yg melayang.....drita apa lg yg akan mreka hdapi????😛😛😛
Muft Smoker
gmn bian ,, udh mulai merasa penyesalan Blum ,,
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
Noey Aprilia
Udh d usir,msih aja ngemis2....ga tau malu.....😡😡😡...
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
Nieta Poedjo
halo penulis
apa itu kehalangan?
Lee Mba Young
🔥👍👍👍 joss lanjuttt
Heni Setiyaningsih
yah,,,,,jadi gembel dong🤭🤭
Heni Setiyaningsih
oh,,, ternyata,,, ternyata,,,, masih numpang dirumahnya Husna kamu Bian 😲🤣
Cicih Sophiana
Husna istri luar biasa pintar 👍
Cicih Sophiana
sukurin emang enak... udah di kasih senang malah cari susah sendiri 🫢🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!