"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Pintu Terkunci dan Dekapan Penyelamat
Mobil SUV hitam Askara melaju perlahan menaiki jalanan menanjak menuju kawasan Lembang. Di balik pagar besi tempa yang menjulang tinggi, berdiri sebuah vila megah berarsitektur modern dengan balutan dinding kaca. Pemandangan malam kota Bandung yang dipenuhi kerlap-kerlip lampu membentang indah dari atas bukit, diselimuti hawa dingin menusuk tulang.
"Wah... gokil, bagus banget view-nya, Ka!" seru Nadira berbinar, berdiri di atas balkon lantai dua begitu mereka sampai.
Askara meletakkan tas-tas belanjaan di atas sofa. Ia melangkah mendekati Nadira, menyandarkan tubuhnya di pembatas balkon sambil tersenyum jahil.
"Bagus kan? Ini calon vila masa depan kita buat honeymoon nanti," goda Askara pelan. "Oh iya, tempat tidurnya cuma ada satu yang siap pakai malam ini. Kamar utama aja. Jadi malam ini kita tidurnya sekamar ya?"
Mata Nadira membelalak seketika. Ia berbalik, menunjuk muka Askara dengan panik. "OGAH! Siapa yang mau sekamar sama lo?! Kan vilanya gede gini, pasti banyak kamar lain!"
"Kamar lain seprai-nya belum dipasang, Nad. Kasurnya dingin," kilah Askara santai, menahan senyum. "Lagian kenapa sih takut banget? Gue kan calon suami lo. Anggap aja gladi bersih."
"Askara Pradipta! Jangan gila ya! Gue minta kamar terpisah!" bentak Nadira dengan wajah memerah. "Gue mandi duluan! Awas kalau lo berani masuk!"
Askara tertawa renyah melihat reaksi wanita itu. "Iya, iya. Gue becanda, Nad. Kamar sebelah udah siap kok. Udah sana mandi, bajunya udah ada di kasur."
Nadira masuk ke dalam kamar mandi utama yang sangat luas dan mewah. Karena hawa dingin dan ketakutannya kalau Askara akan bertindak nekat atau menjahilinya di tengah-tengah mandi, gengsi dan kecurigaan Nadira kumat.
"Awas aja kalau Askara jail..." gumam Nadira pada diri sendiri.
Ia melihat gagang pintu kamar mandi yang memiliki slot kunci putar modern. Karena sudah bertahun-tahun tidak pernah mengunci pintu ruangan apa pun akibat traumanya, Nadira menekan tombol kunci itu dan memutarnya secara asal-asalan. Cklek! Pintu pun terkunci rapat dari dalam.
Setengah jam berlalu. Nadira telah selesai membersihkan tubuhnya. Ia hanya membalut tubuhnya dengan handuk mandi putih tebal yang dililit dari atas dada hingga sebatas paha.
"Seger banget," gumam Nadira sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Namun, saat tangannya meraih gagang pintu dan mencoba memutarnya ke bawah... pintu itu tidak bergeming.
Cklek! Cklek!
"Loh? Kok gak bisa?" Nadira mulai panik. Ia memutar tombol kunci ke kanan, lalu menarik gagang pintu. Masih terkunci. Ia memutarnya ke kiri, lalu menekan gagang pintu. Pintu itu tetap kaku dan terkunci rapat.
Jantung Nadira mendadak berdegup kencang secara abnormal. Ruangan kamar mandi yang tadinya terasa nyaman mendadak berubah menjadi sangat sempit, gelap, dan mengintimidasi. Memory buruk sepuluh tahun lalu—saat ia terkunci di kamar mandi sekolah yang gelap selama berjam-jam—mendadak menghantam pikirannya dengan dahsyat.
Napas Nadira mulai memburu, pendek-pendek. Paru-parunya mendadak serasa kehabisan oksigen.
"K-Ka... Askara!" teriak Nadira dengan suara yang mulai gemetar hebat.
Ia memukul-mukul pintu kayu tebal itu dengan telapak tangannya.
"ASKARA! TOLONGIN GUE! ASKA!" jerit Nadira histeris. Air mata ketakutan meluncur deras membasahi pipinya. "ASKA! PINTUNYA GAK BISA DIBUKA! GUE TAKUT! ASKA!"
Di kamar utama, Askara yang sedang merapikan kemejanya tersentak kaget mendengar jeritan melengking dari arah kamar mandi. Raut wajahnya mendadak pucat pasi.
Trauma Nadira!
Askara berlari kencang menuju depan pintu kamar mandi.
"Nadira! Nadira, lo di dalam?!" teriak Askara sambil menggedor pintu dari luar.
"ASKA! TOLONG! GUE GAK BISA NAPAS! PINTUNYA TERKUNCI!" tangis Nadira terdengar sangat memilukan dari dalam, diiringi suara napasnya yang tersengal-sengal karena serangan panik (panic attack).
"Nadira, dengar suara gue! Mundur dari pintu sekarang! Mundur!" perintah Askara tegas namun sangat cemas. "Mundur jauh, Nad! Gue bakal mendobrak pintunya!"
"C-cepat, Ka... cepat..." cicit Nadira meringkuk di sudut terjauh kamar mandi.
BANG!
Askara menghantamkan bahunya ke pintu kayu tebal itu dengan sekuat tenaga.
BANG! BRAM!
Pada hantaman ketiga, engsel pintu kayu itu jebol dan terbuka paksa.
Begitu pintu terbuka, Askara mendapati Nadira terduduk meringkuk di lantai marmer, memeluk kedua lututnya dengan tubuh gemetar hebat dan napas tersengal-sengal. Air mata mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat pasi.
Dada Askara seperti dihantam godam besar. Rasa bersalah dan ketakutan yang luar biasa langsung menguasai dirinya. Askara tahu, Nadira pasti sengaja mengunci pintu ini karena takut ia dijahili olehnya.
"Ya Tuhan... Nadira!"
Askara melangkah cepat, berlutut, dan langsung meraih tubuh gemetar wanita itu ke dalam pelukannya. Ia mendekap Nadira sangat erat, mengusap kepala dan punggung wanita itu dengan jemarinya yang ikut gemetaran.
"Gue di sini, Nad... Gue di sini," bisik Askara dengan suara serak, napasnya memburu lega sekaligus cemas. "Maafin gue... Maafin gue, Nadira..."
Nadira yang merasakan dekapan hangat dan aroma khas Askara langsung menyusupkan wajahnya ke leher Askara. Tangannya yang gemetar mencengkeram kemeja Askara sangat kencang, tidak mau melepaskannya sedikit pun.
"A-Aska... hikss... gue takut banget... gue gak bisa keluar tadi..." tangis Nadira pecah di dalam ceruk leher Askara.
"Iya, Sayang... Gue tahu. Sekarang lo udah aman. Ada gue," kata Askara tulus, menyalurkan rasa aman.
Dengan sigap, Askara menggendong tubuh Nadira—yang hanya terbalut handuk lilit itu—ke luar dari kamar mandi. Ia membawanya ke kasur empuk kamar utama, menidurkannya perlahan, lalu menarik selimut tebal untuk menutupi seluruh tubuh Nadira hingga sebatas dada.
Askara ikut duduk di tepi kasur, memegang kedua tangan Nadira yang dingin dan mengusap air mata di pipi wanita itu dengan lembut.
"Gue minta maaf ya, Nad," ujar Askara dengan pandangan mata yang begitu dalam dan sarat akan rasa penyesalan. "Lo pasti ngunci pintu gara-gara takut gue jahilin, kan?"
Nadira menunduk, mengangguk pelan dengan bibir cemberut dan napas yang masih tersisa isakan. "Iya... habisnya lo dari tadi godain gue terus..."
Askara memejamkan matanya sejenak, menghela napas panjang. Tatapannya kembali menatap Nadira dengan ketulusan yang luar biasa.
"Nadira, dengar gue baik-baik," kata Askara lembut, meraih dahi Nadira dan mengecupnya lama. "Gue godain lo itu cuma bercandaan. Gue sayang sama lo, gue sangat mencintai lo. Gue gak akan pernah berbuat macam-macam atau melanggar batas sebelum kita resmi nikah. Lo harus percaya sama gue. Jangan pernah kuncian pintu lagi cuma gara-gara takut sama gue, ya?"
Mendengar pengakuan tulus dan tatapan ketakutan dari pria yang selalu tampak tangguh ini, hati Nadira mendadak meleleh. Rasa paniknya menguap, digantikan oleh kehangatan yang amat sangat.
Malam itu, Nadira sama sekali tidak mau melepaskan tangan Askara. Setiap kali Askara mencoba berdiri untuk mengambilkan air minum, tangan Nadira akan langsung menahannya rapat-rapat.
"Jangan pergi... di sini aja," bisik Nadira manja dari balik selimut.
"Gue cuma mau ambil air putih buat lo, Nad," jawab Askara terkekeh pelan.
"Gak mau! Airnya nanti aja! Lo duduk di sini!" sungut Nadira ngambek, lalu meracik omelan khasnya. "Lagian kunci kamar mandi lo aneh banget! Tombolnya diputar gak mau ngebuka! Gak kayak kunci rumah gue!"
Askara menggelengkan kepala melihat tingkah Nadira yang sudah kembali ke mode manjanya.
"Iya, besok pagi orang bangunan langsung gue panggil," sahut Askara menahan tawa. "Semua kunci pintu di vila ini bakal gue ganti persis kayak kunci pintu rumah lo di Jakarta. Puas?"
Pipi Nadira mendadak merona parah. Senyuman tipis tak tertahankan terukir di bibirnya. Askara selalu seperti ini—selalu menuruti semua permintaan konyolnya tanpa memprotes sedikit pun.
"Nah, gitu dong... calon suami harus nurut," cicit Nadira pelan, memalingkan wajahnya yang memerah ke balik selimut.
Askara memandangi wanita di hadapannya itu. Sudut matanya jatuh pada batas selimut yang sedikit meluncur, memperlihatkan bahu mulus dan belahan dada Nadira yang hanya tertutup lilitan handuk basah.
Napas Askara mendadak terasa sedikit berat. Sebagai pria dewasa yang normal, berada di satu ranjang dengan wanita yang paling dicintainya—dengan pakaian serba minim seperti ini—jelas memancing insting dan jiwa kelelakiannya.
Namun, Askara menahan dirinya kuat-kuat. Ia menarik selimut itu kembali naik, merapikannya hingga menutupi leher Nadira dengan rapat.
Sabar, Askara... Tiga minggu lagi, batin Askara merapal mantra pada dirinya sendiri, walau senyuman hangat dan pandangan matanya yang posesif tetap tertuju penuh pada calon istrinya.
semangat terus thor...
/Heart/