NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Cerai Besok Pagi

Wajah Rendra berubah.

"Kamu tahu apa yang baru saja kamu katakan?"

Laras masih berdiri di tempat yang sama. Pinggangnya nyeri dan telapak tangannya dingin, tetapi suaranya tidak lagi gemetar.

"Aku tahu. Kita cerai."

Bisik-bisik kembali memenuhi lobi. Beberapa pasien pura-pura melihat layar ponsel, padahal kamera mereka tetap mengarah pada Rendra.

Rendra maju satu langkah. "Jangan membuat keputusan saat sedang emosi."

"Keputusan ini justru baru bisa kubuat setelah emosiku selesai."

"Mbak Laras," sela Vania lembut, "Mas Rendra benar. Pernikahan bukan hal yang boleh diputuskan karena salah paham kecil. Mungkin Mbak cuma lelah setelah perjalanan jauh."

Bu Marni langsung menyambar umpan itu. "Benar. Sudah menyerang orang, sekarang mengancam cerai. Kalau memang mau pergi, jangan harap keluarga kami memberimu apa-apa."

Vania menundukkan wajah untuk menyembunyikan kilat puas di matanya.

Inilah adegan yang telah ia tunggu.

Pada kehidupan sebelumnya, Vania pulang ke kota dalam keadaan nyaris tak punya apa-apa. Ia menyaksikan dari layar televisi dan berita daring bagaimana Larasati, perempuan kampung yang dulu diremehkannya, tumbuh menjadi dokter hewan terkenal, istri seorang lelaki berpengaruh, dan perempuan yang hidupnya seolah tak pernah kehabisan keberuntungan.

Sementara itu, Vania berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, menua bersama penyesalan.

Ketika mendapat kesempatan mengulang hidup, ia bersumpah akan merebut titik awal keberuntungan Laras. Rendra adalah lelaki berpendidikan, seorang dokter dengan masa depan cerah. Dalam ingatan Vania, lelaki itu kelak memberi istrinya kehidupan yang membuat semua orang iri.

Maka Vania datang lebih awal.

Ia mendekati Bu Marni, menunjukkan betapa telaten dirinya merawat orang tua, lalu membiarkan Rendra membandingkannya dengan istri yang tinggal jauh. Satu-satunya hal yang perlu dilakukan sekarang adalah mendorong Laras keluar dari pernikahan ini.

Setelah itu, semua yang seharusnya menjadi milik Laras akan berpindah kepadanya.

"Aku tidak meminta harta kalian," kata Laras.

Bu Marni mendengus. "Siapa yang percaya? Perempuan sepertimu pasti akan meminta rumah, uang, dan biaya hidup."

"Saya hanya akan mengambil barang milik saya sendiri."

Perubahan kata ganti itu membuat Bu Marni tertegun. Laras tidak lagi berbicara sebagai menantu yang memohon diterima.

Rendra menurunkan suara. "Kita bicara di ruanganku."

"Boleh. Tapi Vania dan Bu Marni ikut. Mereka sudah menjadikan masalah rumah tangga kita tontonan, jadi tidak ada lagi yang perlu disembunyikan dari mereka."

Rendra ingin menolak, tetapi seorang dokter senior berjalan melintasi lobi dan menatapnya dengan alis berkerut. Ia akhirnya memungut koper Laras, lalu membawa mereka ke ruang konsultasi kosong di ujung koridor.

Begitu pintu tertutup, senyum palsunya lenyap.

"Apa maumu?"

Laras meletakkan tas di atas meja. Ia mengeluarkan botol jamu yang dibungkus saputangan, tiga bungkus bubuk tanpa label, serta secarik kertas berisi tulisan tangan Mbah Karyo.

Bu Marni memucat. "Kenapa semua itu kamu bawa?"

"Karena saya ingin tahu apa yang selama ini dipaksa masuk ke tubuh saya."

"Itu ramuan kesuburan!"

"Tanpa daftar bahan, tanpa izin, dan diberikan oleh dukun yang mengaku bisa membuka rahim dengan air jampi." Laras menoleh kepada Rendra. "Suamiku seorang dokter. Dia tahu aku muntah, dia tahu perutku berkali-kali sakit, tetapi dia tetap menyuruhku menuruti ibunya."

Rendra menyilangkan tangan. "Jangan melebih-lebihkan. Banyak orang minum jamu."

"Kalau begitu, mari kita bawa sampelnya ke laboratorium rumah sakit."

Ruangan itu mendadak sunyi.

"Setelah itu aku akan mengirim hasilnya kepada direktur rumah sakit, komite etik, dan Dinas Kesehatan." Laras mengetuk botol dengan ujung kuku. "Aku juga masih punya pesan-pesan ketika kamu menyuruhku terus minum meski aku mengeluh sakit. Kalau perlu, aku unggah semuanya ke media sosial. Biar orang menilai sendiri dokter macam apa yang membiarkan istrinya dipaksa berobat ke dukun."

"Kamu mengancamku?" Wajah Rendra mengeras.

"Aku menawarkan pilihan. Kita berpisah baik-baik, atau kita membicarakan semua ini di depan atasanmu."

Bu Marni menghantam meja dengan telapak tangan. "Dasar tidak tahu terima kasih! Mama melakukan semuanya supaya kamu bisa punya anak."

"Anda melakukannya supaya punya cucu. Tubuh saya tidak pernah Anda anggap milik saya sendiri."

"Mas Rendra," Vania berbisik, "mungkin sebaiknya jangan diperpanjang. Karier Mas bisa terganggu meskipun tuduhannya tidak benar."

Kalimat itu terdengar seperti pembelaan, padahal arahnya jelas. Lepaskan Laras sekarang.

Rendra memandang Vania. Perempuan di depannya muda, terdidik, dan tahu cara menjaga perasaannya. Bu Marni menyukainya. Keluarganya juga dianggap lebih pantas mendampingi seorang dokter daripada Laras yang selama ini hanya menjadi beban di rumah.

Namun ketika matanya kembali pada wajah Laras, ada sesuatu yang mengganjal. Perempuan itu tidak lagi menangis. Tahi lalat merah di ujung matanya tampak lebih tegas karena wajahnya pucat, dan ketenangan baru itu justru membuat kecantikannya sulit diabaikan.

Rendra menekan rasa tak nyaman tersebut.

Laras pasti hanya menggertak. Begitu hidup sendirian terasa berat, ia akan kembali.

"Baik," katanya akhirnya. "Kalau itu maumu, kita cerai."

Bu Marni tersenyum lega. Vania menahan napas agar kegembiraannya tidak terlalu terlihat.

Laras justru merasa beban besar terangkat dari dadanya.

"Besok pagi kita ke Pengadilan Agama. Aku ajukan cerai gugat, kamu hadir dan tidak menghalangi prosesnya. Kita tanda tangani kesepakatan bahwa aku hanya mengambil barang pribadiku."

"Kamu sudah menyiapkan semuanya?" tanya Rendra curiga.

"Aku baru menyiapkannya saat sadar hidupku terlalu mahal untuk dihabiskan bersama kalian."

Pagi berikutnya, Rendra datang lebih awal ke layanan Pengadilan Agama. Ia membawa dokumen pernikahan, salinan identitas, dan surat domisili yang diminta petugas. Bukan karena ingin memudahkan Laras, melainkan karena ia ingin masalah itu selesai sebelum laporan tentang jamu sampai ke rumah sakit.

Mediasi singkat tidak mengubah keputusan mereka. Laras menolak nafkah penghibur dan kompensasi apa pun. Ia hanya meminta pakaian, ijazah, alat-alat medis peninggalan ibunya, serta uang tabungan yang memang berasal dari pekerjaannya sendiri.

"Ibu yakin tidak menuntut bagian lain?" tanya petugas perempuan di hadapan mereka.

"Yakin, Bu. Saya datang ke pernikahan ini dengan barang-barang itu. Saya pergi dengan barang yang sama."

Rendra membubuhkan tanda tangan dengan gerakan kasar. Karena kedua pihak hadir, sepakat, dan ia menyatakan tidak akan mengajukan keberatan, proses penetapan dan penerbitan dokumen dipercepat melalui layanan terpadu setempat. Menjelang siang, salinan putusan dan bukti pengurusan akta cerai sudah berada di tangan Laras.

Ia menatap lembaran itu cukup lama.

Dua tahun hidupnya berakhir dalam beberapa lembar kertas.

Anehnya, yang muncul bukan kesedihan. Tawa kecil keluar dari tenggorokannya, ringan dan tak tertahan.

Rendra yang berdiri di tangga menoleh tajam. "Jangan terlalu senang. Tidak sampai sebulan kamu bakal datang sambil menangis dan minta kembali."

Laras memasukkan dokumen ke map plastik. "Kalau itu membuatmu tidur lebih nyenyak, silakan percaya."

"Kamu tidak punya keluarga di kota ini. Pekerjaanmu juga sudah kamu tinggalkan. Mau hidup dari apa?"

"Itu bukan urusanmu lagi."

Ia berjalan meninggalkan halaman Pengadilan Agama tanpa menoleh.

Kos sederhana yang disewanya berada tidak jauh dari pasar. Kamarnya sempit, hanya berisi ranjang, kipas tua, dan meja kecil, tetapi saat Laras meletakkan koper di lantai, ruangan itu terasa lebih lapang daripada rumah Bu Marni yang bertahun-tahun menyesakkan dadanya.

Pemilik kos, seorang perempuan setengah baya, menyerahkan kunci cadangan. "Mau tinggal lama, Mbak?"

Laras membuka map ijazahnya. Di bagian atas tertera jelas gelar dokter hewan yang nyaris ia kubur demi pernikahan.

"Cukup lama, Bu."

"Sedang cari kerja?"

"Iya. Di sekitar sini ada peternakan atau koperasi ternak yang butuh dokter hewan?"

Perempuan itu menunjuk ke arah jalan timur. "Ada peternakan besar dekat padang. Coba tanya Pak Yohanes. Katanya mereka sering kekurangan orang."

Laras memandang keluar jendela. Matahari NTT jatuh terang di atas jalan berdebu, keras dan asing, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak merasa sedang tersesat.

Rendra menunggu dirinya pulang sambil menangis.

Besok pagi, Laras justru akan melamar pekerjaan.

1
aku
lanjutkan melangkah menuju kehancuran total van. aku mendukungmu!!! /Determined//Determined//Facepalm//Facepalm/
aku
hitung ras!!! smpe tuntas pokoknya!! 🌹
aku
jgn di tolongin. biarin2.
aku
mamvuss!! pecat sekalian pecat!! yess /Curse/
aku
duh pengen kuikat tuh pegawai di kursi baru mulutnya sumpal pke kaos kaki /Scream//Curse/
aku
bagus laras, tegas!!
aku
modelan vania sm rendra n emaknya tuh manusia yg halal disantet 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!