NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Kalau Dipukul Lagi, Aku Mati

Empat lelaki itu berjalan melewati Baskara.

Ratri mengangkat dua jari.

Pintu-pintu di sisi pendopo terbuka serentak. Belasan pengawal berpakaian hitam keluar dari lorong, disusul lebih banyak orang dari arah kebun belakang. Dalam hitungan detik, barisan manusia berdiri di antara Ratri dan orang-orang Baskara.

Wira menarik belati dari sarungnya, tetapi tetap menahan ujungnya ke bawah.

Di perimeter luar, personel bersenjata ikut maju satu langkah.

Polisi yang sedang mengamankan barang bukti segera berhenti bekerja. Seorang petugas mengangkat tangan, berusaha menahan kedua pihak agar tidak bergerak lebih jauh.

"Jangan membuat keadaan semakin buruk!"

Baskara tidak menoleh. "Tarik orang-orangmu, Ratri."

"Anda yang menyuruh orang maju."

"Saya akan membawa satu orang."

"Siapa?"

Tatapan Baskara beralih kepada Bimo.

Suryani buru-buru menarik putranya ke belakang. "Bimo harus ke rumah sakit. Kau tidak perlu membawanya ke mana pun. Suruh orangmu menangkap Ratri."

Ratri tersenyum tanpa kegembiraan. "Ternyata bukan saya. Kecewa, Bu Suryani?"

"Diam!"

Baskara memberi isyarat kepada empat lelaki tadi. Dua bergerak ke kiri dan dua ke kanan, bermaksud mengambil Bimo dari sisi Suryani.

Pengawal Ratri menutup celah.

"Orang ini belum selesai dengan saya," kata Ratri.

"Dia adik saya."

"Itu bukan hak pembebasan."

"Dia akan saya hukum."

"Saya tidak percaya pada hukuman keluarga Adiningrat. Tiga tahun terakhir cukup untuk mengajari saya bahwa keluarga ini ahli menghilangkan orang, bukti, dan tanggung jawab."

Mata Baskara menyipit.

Ratri melangkah mendekat meski Wira berbisik memintanya berhenti. "Rekaman dari seluruh lorong dan kamar sudah disalin. Kalau satu berkas hilang dari tangan polisi, salinan lain akan sampai ke media dan penyidik berbeda sebelum matahari terbit."

"Tidak akan ada yang hilang."

"Janji dari lelaki yang hilang tiga tahun terdengar lucu."

Suasana membeku.

Baskara menerima serangan itu tanpa membela diri.

Ratri melanjutkan, "Bimo masuk ke kamar saya, membius minuman, memukul kepala saya, dan merobek pakaian saya. Kalau malam ini saya tidak mendapat penyelesaian yang memuaskan, saya akan membuat seluruh keluarga Adiningrat tidak punya satu hari tenang."

Suryani mendengus. "Kau pikir bisa mengancam kami?"

"Saya tidak pernah mengancam dua kali."

Ratri menatap Baskara tepat di mata.

"Kalau perlu, orang berikutnya akan berakhir seperti tunangan Anda. Mati tanpa sempat menunjukkan siapa pembunuhnya."

Wajah orang-orang di halaman berubah.

Nama Larasati tidak perlu disebut. Semua orang tahu siapa yang dimaksud.

Suryani menunjuk Ratri dengan penuh kemenangan. "Dengar! Dia mengaku lagi. Perempuan ini memang membunuh Larasati. Sekarang dia mengancam Bimo di depan polisi."

Baskara tetap melihat Ratri. Hanya urat di sisi lehernya yang menegang.

"Kau sengaja mengatakan itu untuk membuatku marah?" tanyanya.

"Apakah berhasil?"

"Tidak."

Jawaban itu terlalu cepat.

Ratri memalingkan wajah lebih dulu.

Baskara mengangkat tangan. Keempat orangnya berhenti. Personel bersenjata di luar ikut kembali ke posisi semula.

"Putar rekamannya," katanya kepada Panji.

Suryani terkejut. "Untuk apa?"

"Karena kalian semua ingin saya memutuskan siapa yang harus dihukum."

Panji mengeluarkan tablet. Tim polisi sudah menyalin bagian utama rekaman dan memberinya akses untuk memastikan berkas tidak berubah. Ia menekan layar, lalu menghadapkannya kepada Baskara.

Video tanpa suara memperlihatkan Bimo berjalan sempoyongan di lorong dalam. Ia menggunakan kartu akses, masuk ke ruang duduk kamar, lalu mengeluarkan botol kecil dari saku. Beberapa menit kemudian, Ratri muncul. Bimo mengunci pintu, mendekat dari belakang, dan menghantam kepalanya dengan benda logam.

Tidak ada pesan panggilan.

Tidak ada rayuan.

Yang ada hanya seorang lelaki menyelinap dan menyerang perempuan di kamar tidurnya.

Suryani menatap layar dengan bibir terbuka. "Rekaman itu palsu."

"Salinannya diambil polisi langsung dari server rumah," kata Panji. "Tanda waktu dan metadata utuh."

Baskara mengembalikan tablet.

"Bimo."

Lelaki itu mundur. "Mas, dengar dulu. Aku bisa jelaskan."

"Jelaskan."

"Aku minum. Aku tidak ingat semuanya. Mungkin ada orang yang menjebakku. Ratri punya banyak musuh. Bisa saja dia..."

Tamparan Baskara menghentikan kalimatnya.

Bimo terlempar ke lantai. Luka di bibirnya kembali terbuka.

Suryani menjerit. "Kenapa kau memukul Bimo? Yang harus kau pukul itu Ratri!"

Baskara berdiri di atas adiknya.

"Kau masuk ke kamar istri saya di tengah malam."

"Mas, aku khilaf."

"Kau membiusnya."

"Aku cuma mau bicara."

"Kau memukul kepalanya."

"Dia melawan duluan!"

Sepatu Baskara menginjak tangan Bimo yang sedang meraba lantai. Tekanannya bertambah perlahan sampai lelaki itu menjerit.

"Kau menganggap saya bodoh?"

"Tidak, Mas! Sakit!"

Baskara menatap empat lelaki bertubuh besar tadi. "Pegang dia."

Mereka mengangkat Bimo dari lantai dan mengunci kedua lengannya. Suryani mencoba menarik salah satu dari mereka, tetapi Panji menghalangi tanpa menyentuhnya.

"Baskara, dia adikmu! Adik seayahmu!"

"Karena itu saya masih memberinya kesempatan bernapas."

Ratri mengamati lelaki di hadapannya.

Ia mengenal Baskara sebagai seseorang yang dingin, tetapi bukan seseorang yang memukul tanpa perhitungan. Malam ini, di depan polisi, media, dan keluarga, ia tampak siap menghancurkan adiknya sendiri.

Kenapa?

Untuk membela dirinya?

Ratri menolak mempercayainya.

"Pukul," perintah Baskara.

Tinju pertama menghantam perut Bimo. Pukulan kedua mengenai rahang. Tubuhnya hanya tidak jatuh karena kedua lengannya ditahan.

Suryani menangis dan memohon. "Cukup! Dia sudah terluka!"

Baskara tidak berkedip.

Pukulan terus datang, terukur, tidak mengenai titik yang mematikan tetapi cukup keras untuk meruntuhkan seluruh kesombongan Bimo.

"Mas, ampuni aku!" tangis Bimo. "Aku salah. Aku tidak akan masuk ke kamar Mbak Ratri lagi. Sumpah!"

Baskara tetap diam.

Satu tinju lagi mendarat.

Bimo terbatuk, lututnya terlipat.

"Jangan pukul lagi," isaknya. "Kalau dipukul lagi, aku mati."

Suryani berbalik kepada Ratri. Kesombongan yang sejak tadi dipertahankannya akhirnya runtuh.

"Suruh mereka berhenti. Dia sudah mengaku salah. Bukankah ini yang kau mau?"

Ratri memandang perempuan yang beberapa saat lalu meminta polisi menembaknya.

"Kenapa meminta kepada saya? Baskara yang memberi perintah."

"Karena dia melakukannya untukmu!"

Ratri tertawa pelan. "Tadi Bu Suryani mengatakan semua masalah di rumah ini adalah urusan keluarga. Silakan selesaikan sebagai keluarga."

Suryani tidak mampu membalas.

Salah seorang polisi mendekati Panji. "Cukup. Kalau diteruskan, kami harus mencatat penganiayaan baru."

Panji menyampaikan peringatan itu dengan suara rendah. Baskara baru mengangkat tangan setelah Bimo terkulai dan tidak lagi sanggup memaki.

Keempat lelaki berhenti serentak.

"Berdiri," kata Baskara.

Bimo mencoba, tetapi kakinya tak mampu menopang tubuh. Dua orang tetap memegang lengannya.

"Ulangi apa yang kau lakukan malam ini."

"Mas..."

"Ulangi."

Bimo menangis tanpa suara. "Aku masuk ke kamar Mbak Ratri."

"Lalu?"

"Aku memasukkan obat ke minumannya. Aku marah waktu dia melawan."

"Kau memukulnya?"

Bimo mengangguk.

"Jawab."

"Iya. Aku memukul kepalanya."

Petugas polisi yang masih berada di halaman mencatat pengakuan itu. Suryani memejamkan mata. Pembelaan yang dibangunnya di depan kamera runtuh dari mulut putranya sendiri.

Baskara menatap noda darah di kerah Ratri, lalu kembali kepada Bimo.

"Kalau kau menyentuhnya lagi, tidak akan ada orang yang sempat memohon untukmu."

Tidak ada yang meragukan ancaman itu.

Wajah Baskara tidak menunjukkan belas kasihan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!