Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA LORONG.
"Pengkhianatan atau kebenaran?" balas Elara cepat. "Kau tahu aku benar. Kael kuat, tapi dia sendirian. Dan Vereon tidak akan datang sendirian."
Zhoo menahan napas. Ia tidak bermaksud menguping, tapi kata-kata itu membuatnya terpaku. Elara — gadis yang berjalan di belakang mereka — ternyata memiliki pandangan yang sama dengannya. Dan Rhaen... dia bukan sekadar pengawal. Dia adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar.
"Dan pemuda itu — Zhoo," kata Rhaen lagi. "Apa pendapatmu tentang dia?"
"Dia berbahaya," jawab Elara tanpa ragu. "Bukan karena kekuatannya, tapi karena orang-orang mulai mempercayainya. Jika dia berhasil meyakinkan kerajaan-kerajaan lain, keseimbangan ini akan hancur. Dan entah apa yang akan tumbuh menggantikannya."
"Apakah itu hal yang buruk?" tanya Rhaen pelan.
"Belum tahu," jawab Elara. "Tapi perubahan selalu berbahaya. Dan semakin besar perubahannya, semakin banyak darah yang akan tumpah."
Zhoo mundur perlahan, menjauh dari pintu itu. Kata-kata Elara berputar di kepalanya. Dia benar — perubahan membutuhkan pengorbanan. Tapi berapa banyak yang harus dikorbankan? Dan siapa yang akan membayarnya?
Saat ia berbalik, ia melihat Elara berdiri di ujung lorong, menatapnya. Ia tidak terkejut. Seolah ia tahu Zhoo ada di sana sejak tadi.
"Kau mendengar semuanya," katanya — bukan pertanyaan.
Zhoo mengangguk pelan. "Maaf. Aku tidak bermaksud —"
"Biarkan," potongnya. "Kau berhak tahu apa yang dipikirkan orang tentang rencanamu. Dan kau berhak tahu bahwa tidak semua orang melihatnya sebagai harapan. Banyak yang melihatnya sebagai bencana."
"Dan kau?" tanya Zhoo. "Apa yang kau lihat?"
Elara melangkah mendekat, matanya menatap lurus ke matanya. "Aku melihat seseorang yang berjalan di atas tali tipis di atas jurang. Dan semakin tinggi kau naik, semakin banyak orang yang akan jatuh bersamamu."
"Kalau begitu hentikan aku," tantang Zhoo pelan. "Katakan pada Kael bahwa aku ancaman. Biarkan dia mengusirku atau membunuhku."
Elara diam sebentar. Angin berdesir di antara mereka, membawa bau salju yang jauh.
"Aku belum tahu apakah aku akan melakukannya," akunya. "Karena satu hal yang aku tahu — dunia ini tidak bisa terus seperti ini. Dan meskipun caramu berbahaya... setidaknya kau mencoba melakukan sesuatu. Bukan seperti kami yang hanya berdiri dan menunggu kehancuran datang."
Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh. "Hati-hati, Zhoo. Semakin tinggi kau naik, semakin berat beban yang akan kau pikul. Dan tidak semua orang yang tersenyum padamu adalah temanmu."
Setelah ia pergi, Zhoo berdiri sendirian di lorong batu yang dingin. Kata-katanya seperti benih yang jatuh di tanah yang subur — dan menakutkan. Ia tahu perjalanan ini tidak akan berakhir dengan kemenangan yang mudah. Ia tahu bahwa di puncak itu, tidak ada bunga yang tumbuh — hanya angin yang lebih kencang dan dingin yang lebih tajam.
Tapi ia juga tahu satu hal: ia tidak bisa berhenti. Bahkan jika ia ingin, jalannya sudah tertutup di belakangnya. Satu-satunya jalan adalah ke depan — menuju ketidakpastian, menuju pertempuran, menuju takhta yang mungkin tidak bisa ia jangkau, atau jika ia berhasil, mungkin tidak bisa ia pegang tanpa kehilangan bagian terpenting dari dirinya sendiri.
Malam itu, bintang-bintang tampak lebih terang namun lebih dingin di atas Kael-Vor. Dan di suatu tempat di kejauhan, di perbatasan kerajaan lain, api mulai dinyalakan. Perang belum datang — tapi bayangannya sudah jatuh di atas seluruh benua Est.