Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manis di sepotong kue
Di tengah kemeriahan sesi networking dan hujan pujian yang tak henti-hentinya mengalir untuk Senja, sosok Prasetya Anjasmara melangkah mendekat.
Pria paruh baya itu berdiri di samping Senja dengan gestur tubuh yang tampak sangat ramah di mata para mitra bisnis. Namun, di balik senyuman penuh kebanggaan seorang ayah, Prasetya memajukan tubuhnya dan berbisik sangat pelan di dekat telinga Senja.
"Penampilanmu hari ini tidak mengecewakan Papa." Bisiknya dingin dan penuh intimidasi.
"Pertahankan dan jangan sampai masalah apa pun mempengaruhi konsistensimu!"
Senja tetap mempertahankan senyum anggunnya di hadapan kerumunan orang yang memerhatikan mereka. Tidak ada sedikit pun perubahan raut wajah atau kerutan di dahinya.
Senja hanya mengangguk pelan sebagai tanda patuh. Ia sangat paham, mendebat atau membalas ucapan Papanya di tengah keramaian seperti ini hanya akan memicu bencana yang lebih besar.
Setelah seluruh rangkaian acara usai dan para tamu undangan perlahan meninggalkan gedung, Alfa melangkah menuju ruangan kerja Senja. Di dalam kantong kertas eksklusif yang ia genggam, terdapat sebuah kotak kecil berisi slice cake dingin.
Alfa sejujurnya tidak tahu persis makanan apa yang disukai oleh istrinya, namun berdasar asumsi umum, kebanyakan wanita sangat menyukai sajian manis dan dingin untuk melepas lelah.
Alfa mengetuk pintu lalu melangkah masuk. Ia melihat Senja sedang berdiri di dekat jendela kaca raksasa, mengamati pemandangan kota.
"Selamat, Senja. Kamu berhasil memenangkan proyek pertamamu di sini!" Ujar Alfa lembut sembari mendekat.
"Ini hadiah kecil dariku untukmu."
Alfa menyodorkan kotak transparan berisi sepotong chocolate fudge cake yang permukaannya tampak masih berembun dingin.
Senja menatap makanan manis di tangan Alfa sejenak. Melihat jeda itu, Alfa mendadak menjadi agak serba salah.
"Maaf, aku tidak tahu apa yang kamu sukai" tambah Alfa sedikit canggung.
"Aku bisa menggantinya dengan yang lain kalau kamu tidak suka."
Senja mendongak, menatap mata Alfa, lalu sebuah senyuman tipis terukir manis di bibirnya.
"Benar, aku tidak suka!" Sahut Senja dengan nada santai.
"Harusnya kamu berikan aku kalung berlian atau sebuah apartemen sebagai apresiasi untukku, daripada hanya sepotong cake ini."
Alfa terkekeh pelan. Pria itu tahu betul Senja hanya sedang bergurau padanya.
"Aku tahu kalau uangmu sendiri bisa untuk membeli banyak kalung berlian atau sepuluh unit apartemen sekaligus." Balas Alfa mengimbangi gurauan Senja dengan senyum hangat.
"Tapi manisnya cake ini tidak akan kalah berkilau dari berlian mana pun... dan setidaknya, cake ini bisa membuat harimu yang melelahkan ini sedikit terasa lebih manusiawi."
Senja terkekeh kecil mendengar balasan Alfa. Tawa renyah yang sangat jarang terdengar itu mendadak membuat atmosfer ruangan yang tadinya kaku dan dingin berubah menjadi sangat hangat.
Dinding tipis yang membatasi hubungan mereka seolah mulai terkikis perlahan.
Senja menerima kotak tersebut, lalu duduk di kursi kerjanya dan mulai menikmati cake cokelat itu.
Jujur saja, Senja sangat menyukai cokelat, terutama chocolate cake dingin. Namun sejak kecil, Almarhumah Mamanya selalu membatasi ketat makanan manis yang ia konsumsi.
Mamanya selalu menekankan bahwa bentuk tubuh Senja harus tetap sempurna dan tak boleh berubah sedikit pun demi menjaga citra keluarga Anjasmara.
Oleh karena itu, Senja merasa sangat tersanjung dengan perhatian sederhana dari Alfa, hadiah yang disebut pria itu kecil, namun terasa amat berarti baginya.
Tanpa sadar, Senja melahap cake itu dengan sangat lahap sampai sendok terakhir, hingga piring kecil itu bersih tanpa sisa.
Alfa yang memperhatikan dari tepi meja sampai dibuat ternganga heran sekaligus takjub.
"Tampaknya Nyonya Arghantara sangat menyukai hadiah dariku" Goda Alfa dengan ulasan senyum jahil di bibirnya.
Senja tersentak kecil, lalu terkekeh canggung saat menyadari bahwa ia telah menghabiskan seluruh cake tersebut tanpa tersisa sedikit pun.
Namun di balik kekehannya, batin Senja mendadak mencibir dirinya sendiri.
"Nyonya Arghantara...?" Batin Senja lirih, menyentuh dadanya yang terasa berdenyut samar.
"Gelar yang memang hanya sekadar gelar... tanpa pernah ada rasa kepemilikan di dalamnya"
Senja merapikan kembali riasannya dan meletakkan sendok kecil itu di atas piring.
"Oh ya, Senja..." Ujar Alfa mengubah topik pembicaraan. Wajahnya kembali menunjukkan kestabilan yang serius.
"Besok adalah jadwal Dila untuk melakukan cuci darah. Aku akan menemaninya sebentar."
Senja mengambil tisu di atas meja, lalu mengusap sudut bibirnya dengan sangat perlahan dan anggun. Ia menatap Alfa dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Sebenarnya kamu tidak perlu izin padaku untuk melakukan apa pun, Mas." Sahut Senja pelan.
Alfa menggeleng tegas, menatap Senja lurus-lurus.
"Tidak, Senja. Biar bagaimanapun kamu adalah istriku sekarang. Jadi kamu berhak tahu apa yang aku lakukan dan ke mana aku pergi."
Senja terdiam. Matanya menatap ketulusan di dalam binar mata Alfa, namun pikiran logisnya lagi-lagi mengambil alih kesadarannya.
"Termasuk izin untuk menemui kekasihmu...?" Balas Senja dalam hatinya yang paling dalam.
"Kalau pernikahan ini adalah pernikahan yang normal, tentu saja aku akan mengamuk dan melarangmu pergi, Mas. Tapi sayangnya... kita hanyalah dua orang asing yang kebetulan terjebak di dalam keadaan yang sama"
"Baiklah, Mas. Hati-hati besok." Sahut Senja akhirnya dengan senyuman santunnya yang sempurna.
"Sampaikan salamku untuk Dila. Semoga proses cuci darahnya berjalan lancar."
Alfa mengangguk lega, meski ada ganjalan aneh yang tersisa di dalam hatinya saat melihat betapa tenangnya Senja merespons hal tersebut.
Pria itu pamit kembali ke ruangannya, meninggalkan Senja yang kini duduk membisu di balik meja kerjanya yang megah, menatap kotak cake kosong yang baru saja membawa sedikit rasa manis di tengah pahitnya kenyataan hidup mereka.
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.