Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Panas terik matahari siang ini benar-benar terasa membakar kulit kepala.
Bara Pratama mengusap keringat yang membasahi dahi dan lehernya dengan ujung kaosnya yang sudah kusam.
Tangan kanannya mencengkeram erat tali karung goni yang berisi penuh botol plastik bekas dan potongan besi.
Sementara tangan kirinya memeluk sebuah tungku logam kotor yang sangat berat.
Tungku itu dia temukan di tumpukan sampah pembuangan pabrik tua di ujung jalan.
Tungku ini warnanya hitam penuh karat dan sama sekali tidak terlihat berharga.
"Barang rongsok ini berat sekali, pasti timbangannya lumayan nanti sore," batin Bara mencoba menyemangati dirinya sendiri.
"Kalau uangnya lumayan, aku bisa beli ayam bakar kesukaan Dela hari ini."
Membayangkan senyum kekasihnya itu membuat rasa lelah di tubuh Bara sedikit berkurang.
Dia rela memulung barang bekas dari pagi buta sampai siang bolong begini demi memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua.
Bara mempercepat langkah kakinya menuju rumah kontrakan sempit yang selama ini dia sewa.
Namun langkah Bara tiba-tiba terhenti saat dia berbelok masuk ke dalam gang rumahnya.
Sebuah mobil sedan hitam mewah yang mengkilap terparkir tepat di depan pintu kontrakannya.
Bara mengerutkan keningnya karena mobil seperti itu sangat tidak cocok berada di lingkungan kumuh ini.
"Mobil siapa ini?" gumam Bara penuh tanda tanya.
"Apa ada bos pengepul besar dari kota yang datang karena butuh banyak stok besi tua?"
Pikiran tentang pelanggan besar langsung membuat wajah Bara cerah dan penuh harap.
Dengan tergesa-gesa Bara meletakkan karung goni dan tungku logam itu tepat di samping pintu depan.
Tangannya langsung meraih gagang pintu kayu yang memang sudah agak rusak dan tidak pernah dikunci rapat itu.
Cklek!
Pintu terbuka dan Bara langsung melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang sempit.
"Dela, apa di dalam ada tam..."
Kalimat Bara langsung terputus dan berhenti di tenggorokannya.
Tidak ada bos pengepul yang sedang menunggunya untuk membeli barang rongsokan.
Di atas sofa berwarna hijau itu, Dela sedang duduk di pangkuan seorang pria asing.
Pakaian kekasihnya itu terlihat berantakan dengan beberapa kancing kemeja yang sudah terbuka.
Tangan pria asing itu memeluk pinggang Dela dengan sangat mesra.
Bara mematung di tempatnya berdiri dengan mata yang melebar sempurna.
Jantungnya seakan berhenti berdetak melihat pemandangan menjijikkan di depan matanya sendiri.
Mendengar suara pintu terbuka, Dela dan pria itu menoleh ke arah Bara.
"Bara?" panggil Dela tanpa ada rasa panik sedikit pun di wajah cantiknya.
Wanita itu sama sekali tidak berteriak atau langsung melompat menjauh dari pria tersebut.
Dela hanya merapikan pakaiannya dengan santai dan perlahan berdiri dari pangkuan pria itu.
Sikap Dela seolah-olah Bara hanyalah tukang pos yang kebetulan lewat, bukan pacar yang sudah hidup bersamanya.
Pria asing di sebelah Dela ikut berdiri sambil merapikan kemeja mahalnya.
Pria itu menatap penampilan Bara dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan yang sangat merendahkan.
"Dela, apa-apaan semua ini?" suara Bara bergetar menahan luapan emosi.
Kedua tangan Bara kini sudah mengepal sangat kuat di sisi tubuhnya.
"Siapa pria brengsek ini, Dela?!" teriak Bara dengan mata yang mulai memerah.
Dela membuang nafas panjang dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah jengah.
"Baguslah kalau kamu pulang sekarang, jadi aku tidak perlu repot-repot mencari waktu untuk bicara," ucap Dela sangat dingin.
Dela menunjuk pria berpenampilan mewah di sebelahnya itu dengan bangga.
"Kenalkan, namanya Aris."
"Aris ini adalah pacarku."
Ucapan Dela barusan bagaikan sambaran petir di siang bolong yang menghantam kepala Bara.
"Pacarmu?" Bara melangkah maju dengan napas yang mulai memburu.
"Kalau pria brengsek ini pacarmu, lalu selama ini aku ini apa, Dela?!"
"Setiap hari aku banting tulang mencari rongsokan dari pagi sampai malam buat menuruti semua maumu!"
"Aku yang bayar sewa kontrakan ini, aku yang belikan kamu makan, terus posisiku ini apa?!" teriak Bara meledak-ledak.
Dela mendecakkan lidahnya dan menatap Bara dengan tatapan penuh rasa jijik.
"Posisi kamu? Kamu itu cuma cadangan, Bara."
"Kamu itu cuma ban serep di hidupku saat aku sedang susah."
"Cadangan..." Bara mengulang kata itu dengan suara lirih dan tatapan kosong.
Otaknya tidak sanggup mencerna betapa kejamnya kata-kata yang keluar dari mulut wanita yang dia cintai.
"Iya, cadangan, tolong realistis sedikit jadi laki-laki," lanjut Dela dengan senyum sinisnya.
"Kamu pikir aku mau selamanya hidup melarat sama tukang rongsok miskin sepertimu?"
"Aku ini perempuan, aku butuh baju bagus, butuh perawatan, butuh jalan-jalan ke tempat mewah."
"Kamu pikir uang hasil jual botol bekasmu itu bisa menghidupiku?"
"Aku cuma memanfaatkan kebodohanmu selama ini karena aku butuh tempat tinggal gratis."
"Tapi sekarang aku sudah punya Aris yang bisa memberikan semua gaya hidup yang aku mau."
"Mobil mewah yang ada di depan rumahmu itu adalah mobil miliknya."
Aris tertawa kecil mendengar penjelasan Dela yang begitu menyakitkan.
Pria kaya itu maju satu langkah seolah ingin menantang Bara secara langsung.
"Jadi ini tukang pungut sampah yang sering kamu ceritakan itu, Sayang?" ucap Aris dengan nada mengejek.
"Kasihan sekali hidupmu ini, sudah miskin, bodoh, bau sampah lagi."
"Seharusnya kamu sadar diri kalau wanita secantik Dela itu tidak pantas bersanding dengan gembel."
Darah Bara mendidih mendengar semua hinaan itu.
Harga dirinya sebagai seorang laki-laki benar-benar diinjak-injak sampai hancur berkeping-keping.
Amarah yang membuta langsung menguasai seluruh kewarasan Bara saat itu juga.
"Tutup mulut busukmu, Bangsat!" teriak Bara dengan sangat keras.
Bara langsung mengangkat kepalan tangan nya dan siap untuk metinju dan menerjang ke arah wajah sombong Aris.
Namun Aris ternyata jauh lebih siap dan sudah membaca pergerakan amatir Bara.
Sebelum tinju Bara mendarat, Aris dengan cepat memiringkan tubuhnya untuk menghindar.
Bugh!
Aris melontarkan pukulan balik yang sangat keras tepat menghantam ulu hati Bara.
"Ugh!"
Nafas Bara seketika putus dan matanya melotot menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya.
Bara terhuyung mundur, tapi Aris tidak memberikan kesempatan padanya untuk bernafas.
Brak!
Aris mendaratkan satu tendangan keras ke arah lutut Bara hingga menimbulkan suara patahan yang ngilu.
Bara langsung kehilangan keseimbangan dan ambruk ke lantai dengan suara berdebum.
"Aris, sudah cukup!" pekik Dela tiba-tiba.
"Jangan pukuli dia di dalam sini, nanti darah kotornya menodai lantai dan sepatumu."
Bara yang sedang meringkuk menahan sakit di lantai hanya bisa meneteskan air mata mendengar ucapan Dela.
Wanita itu sama sekali tidak mengkhawatirkannya, dia justru lebih peduli pada lantai dan sepatu pria lain.
Aris merapikan kerah kemejanya dan menatap Bara yang sedang terbatuk-batuk mencari udara.
"Dengar baik-baik, Sampah," ancam Aris dengan nada suara yang sangat dingin.
"Jangan pernah berani muncul lagi di hadapan Dela mulai detik ini."
"Kalau aku sampai melihat mukamu lagi, aku pastikan bukan cuma perutmu yang hancur."
Aris lalu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Dela dengan lembut.
"Ayo kita pergi dari tempat kumuh ini, Sayang, udara di sini membuatku mual," ajak Aris.
Dela mengangguk setuju dan langsung berjalan melangkah melewati tubuh Bara begitu saja.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh ke belakang untuk melihat keadaan Bara.