NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Monster Iblis

Malam yang seharusnya diselimuti ketenangan di Solaria seketika terkoyak oleh jeritan kepanikan yang memekakkan telinga. Jantung ibu kota luluh lantak dalam hitungan menit.

Asap hitam mengepul, berpadu dengan aroma belerang dan darah. Teriakan histeris menggema di setiap sudut jalanan berbatu, bersahut-sahutan dengan derap langkah kaki ribuan manusia yang berlari demi mengejar sisa hidup mereka.

"Tolong! Siapa pun, selamatkan kami!" teriak seorang pria paruh baya yang bersimbah darah, menyeret kakinya yang patah di atas reruntuhan gedung.

"Bayiku! Bayiku masih di dalam! Tidak! Lepaskan aku, aku harus kembali!" lolong seorang ibu muda dengan histeris.

Air matanya bercampur debu saat beberapa warga menahan tubuhnya agar tidak menerobos kobaran api yang melahap rumahnya. Di dalam sana, tangisan bayi yang tadinya melengking tiba-tiba lenyap, digantikan oleh suara gemertak kayu yang runtuh.

"Lari! Jangan menoleh ke belakang! Monster iblis telah bangkit! Kota ini akan hancur menjadi abu!" seru seorang pria tua berjanggut putih.

Tangannya gemetar hebat saat ia mencoba mengarahkan anak-cucunya menjauh dari pusat alun-alun kota.

Di langit malam yang kelam, tepat di atas menara tertinggi yang kini telah hancur separuh, sosok yang menjadi inti dari kiamat kecil ini sedang melayang dengan angkuh.

Makhluk itu mengepakkan sepasang sayap lebar bertekstur legam dan berduri tajam, menyemburkan gelombang energi kegelapan murni ke arah distrik pemukiman.

Setiap semburannya menciptakan lubang hitam kematian yang mengisap dan melelehkan apa pun yang disentuhnya.

Kepalanya yang besar dihiasi tanduk meliuk, dengan sepasang mata merah menyala bagai tungku neraka.

Dari cakar-cakarnya yang mengerikan, darah segar manusia menetes tiada henti, sisa dari pembantaian berdarah dingin yang baru saja ia lakukan di bawah sana.

Dunia menyebutnya—Erabus, sang Monster Iblis pembawa kutukan kegelapan abadi.

Namun, di tengah badai keputusasaan yang melanda, sebuah ketukan ritmis mulai terdengar.

Langkah kaki yang teratur dan tenang bergaung seolah-olah mengabaikan kekacauan di sekelilingnya.

Pasukan elit Kerajaan Solaria, garda pertahanan utama, akhirnya tiba di medan perang. Ratusan prajurit berbaju zirah perak mengilap membentuk barikade kokoh di tengah-tengah kepungan kegelapan.

Di barisan paling depan, berdiri sang pimpinan dengan pedang dan tombak di tangannya. Ia adalah harapan terakhir kota ini.

"Selamatkan warga! Pasukan dua dan tiga, fokus pada penyelamatan ke arah gerbang barat! Tolong mereka yang terluka, jangan biarkan ada satu pun nyawa warga sipil yang menjadi korban lagi!" teriak Pangeran Edwin, suaranya menggelegar penuh wibawa, mengalahkan gemuruh kehancuran.

Tanpa menunggu jawaban, Edwin memusatkan seluruh energi di kakinya. Dengan satu hentakan kuat, ia melompat puluhan meter ke udara, melesat menembus pekatnya malam.

Tombak pusaka kerajaan di tangannya memancarkan pendar keemasan, menghunus lurus ke arah jantung Erabus.

Wush!

Secara tidak masuk akal, Erabus menggeser tubuh raksasanya di udara dengan kecepatan yang nyaris tak kasat mata, membuat tikaman Edwin hanya membelah angin malam.

Edwin tidak membiarkan fokusnya goyah. Memanfaatkan udara, ia memutar tubuhnya, menggerakkan tombaknya dalam tebasan cepat yang mematikan.

Matanya yang tajam menyipit di antara kepakan sayap iblis, mencari celah sekecil apa pun pada kulit keras makhluk tersebut. Namun, ia tidak menemukannya. Makhluk itu seperti perwujudan dari ketiadaan yang mustahil ditembus.

Di bawah sana, situasinya tidak kalah mencekam. "Tahan barisan! Lindungi warga!" seru seorang komandan pasukan.

Para prajurit berjuang mati-matian menahan gempuran sisa-sisa energi kegelapan demi melindungi warga sipil yang tersisa. Sebagian lagi, para prajurit melemparkan bola-bola energi suci ke langit untuk mengalihkan perhatian Erabus dan membantu sang Pangeran.

Crash!

"Arrgggg!" Sebuah lolongan kesakitan memecah langit malam.

"PANGERAN EDWIN!" teriak para prajurit dari bawah dengan wajah pucat pasi.

Satu gerakan sapuan cakar Erabus yang teramat cepat berhasil menembus pertahanan udara sang pangeran. Cakar itu mengoyak jubah perang Pangeran Edwin seolah itu hanya selembar kertas.

Kulit dan daging di dadanya robek parah, menciptakan luka menganga yang mengucurkan darah segar, menetes jatuh membasahi tanah gersang di bawahnya.

Tubuh Edwin terhuyung di udara, namun matanya menolak untuk terpejam. Rasa sakit yang membakar justru membakar tekadnya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memegang tombaknya dengan kedua tangan, memanggil sisa-sisa kekuatan sihir terdalamnya.

Kekuatan Matahari. Cahaya putih-keemasan yang sangat menyilaukan meledak dari ujung tombaknya, diarahkan langsung ke wajah Erabus untuk membutakan pandangan monster tersebut.

Namun, alih-alih melolong kesakitan akibat elemen suci yang membakar, sebuah suara yang teramat menyeramkan justru bergaung langsung di dalam kepala Edwin, membalas ledakan cahaya itu dengan keheningan yang mencekik.

Suara itu pelan, berbisik dingin, namun memiliki ketajaman yang mampu meremukkan mental siapa pun yang mendengarnya.

"Bodoh... Manusia yang malang," bisik Erabus, sepasang mata merahnya menembus tirai cahaya matahari milik Edwin tanpa berkedip. "Kekuatan sekelas lilin kecilmu itu... sama sekali tidak akan pernah bisa menghentikan kegelapan sejatiku!"

DUAR!

Ledakan nya tajam dan kuat. Energi itu berbalik, membakar lengan Pangeran Edwin dengan halus. Pangeran Edwin terjatuh, tubuhnya membentur tanah hingga menciptakan kawah yang retak.

"Pangeran!" beberapa prajurit melakukan formasi pelindung.

Namun kekuatan Erabus terlalu besar. Di tengah itu semua, langkah kaki lain kembali terdengar, mereka yang memakai pakaian emas---- orang-orang yang berasal dari klan Api.

Mata mereka tajam, memindai sekitar yang sangat kacau. Di depan ratusan orang yang berasal dari klan Api.

Seorang dengan jubah emas dengan simbol Phoenix, yang merupakan simbol dari klan Api memimpin pasukan, dibahunya, Hewan Phoinex dengan bulu-bulu Api sedang berdiri, bersiap untuk menerima titah dari sang majikan.

"Serang! Bantu Kerajaan!" titah nya, Ratusan pasukan klan Api menyerbu, melemparkan pedang, panah dan energi api.

"Pertahankan posisi! Jangan biarkan makhluk kegelapan itu menyentuh Pangeran Edwin lebih jauh!" teriak Komandan pasukan kerajaan, suaranya parau di antara gemuruh api dan ledakan.

Ia menancapkan perisai besarnya ke tanah, menahan gelombang kejut energi Erabus yang terus mengikis pertahanan mereka.

Sambil terengah-engah, Pangeran Edwin menoleh ke arah sosok berjubah emas yang baru saja tiba. "Tetua Ignis! Kau datang?" suara Pangeran Edwin kian melemah, mengerang lirih menahan rasa sakit.

"Tentu, Pangeran! Klan Api tidak pernah bersembunyi." kata Tetua Ignis dengan binar tekad yang menyala.

Tetua Ignis melangkah maju tanpa rasa takut, jubah emasnya berkibar diterpa angin malam yang pekat oleh bau belerang. "Klan Api tidak akan membiarkan kegelapan menelan cahaya yang tersisa!" kata sang Tetua dengan suara berat yang menggelegar.

Ia mengangkat senjatanya yang berujung kristal magma, lalu berbisik pada makhluk di bahunya, "Bangkitlah, Ignazia. Tunjukkan pada iblis ini arti dari api abadi yang takkan pernah padam!" Phoenix itu memekik nyaring, mengepakkan sayapnya yang membara, lalu melesat membelah langit malam menjadi lautan api yang menyilaukan.

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!