Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Sang Pewaris Naik Tahta
Ting!
Pintu lift terbuka.
Aynara yang hendak melangkah keluar seketika membeku. Di depan lift berdiri seorang pria yang sangat ia kenal.
Aksa.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena rindu, melainkan karena terkejut dan gugup. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu pria itu secepat ini.
Aynara buru-buru menyingkir ke kiri. Namun pada saat yang sama, Aksa hendak masuk dan justru bergerak ke arah yang sama.
Aynara bergeser ke kanan. Aksa juga ikut bergeser ke kanan. Keduanya kembali berhadapan.
Aynara menelan ludah. Ia mencoba bergerak ke kiri lagi, tetapi Aksa kembali mengambil arah yang sama. Pria itu akhirnya mengembuskan napas pendek.
"Nona, apa maksud Anda menghalangi jalan saya?"
Aynara yang sejak tadi gugup langsung berubah kesal. "Siapa juga yang menghalangi jalanmu?" balasnya sewot.
Aksa mengernyit. "Anda yang—"
"Ge-er!"
Aynara langsung memotong ucapannya. Tanpa memberi kesempatan Aksa menjawab, ia melewatinya begitu saja.
Aksa terdiam di tempat. Ia menoleh mengikuti langkah Aynara yang semakin menjauh.
Perempuan itu aneh. Tatapannya tadi seperti melihat hantu, tetapi beberapa detik kemudian malah memarahinya.
Aksa menggeleng pelan. Ia baru hendak melangkah ketika menyadari pintu lift mulai menutup.
Ia buru-buru masuk.
Pintu lift perlahan tertutup setelah Aksa melangkah ke dalam. Namun sebelum celah pintu benar-benar menghilang, pandangannya sempat menangkap punggung perempuan tadi.
Entah mengapa, Aksa merasa pernah melihatnya. Bukan wajahnya, melainkan suaranya dan cara perempuan itu berjalan.
Perasaan familiar itu hanya muncul sesaat sebelum pintu lift tertutup rapat.
"Aneh."
Namun ada satu hal yang justru lebih mengganggunya. Perempuan itu sama sekali tidak seperti kebanyakan wanita yang pernah ditemuinya. Tidak ada tatapan kagum, tidak ada senyum malu-malu, bahkan tidak ada usaha untuk menarik perhatiannya.
Selain ibunya, ini adalah pertama kalinya ada seorang perempuan yang berani memarahinya secara langsung.
Aksa mengembuskan napas pelan, lalu menekan tombol lantai tujuannya.
Sementara itu, Aynara terus berjalan dengan wajah ditekuk.
Saat mendekati meja resepsionis, Riva yang berada di balik meja langsung memanggilnya.
"Ra..."
Namun begitu melihat ekspresi sahabatnya, alis Riva langsung berkerut.
Aynara menoleh. "Apa?"
Riva menunjuk ke arah lift yang pintunya baru saja tertutup. "Itu tadi..."
"Kenapa?" tanya Aynara, masih terlihat kesal.
Riva malah menarik lengan Aynara dengan mata berbinar.."Itu Aksa Wicaksono!"
Aynara mendengus. "Terus?"
Riva melongo. "Terus?! Ra, itu manusia paling ganteng di kantor!"
"Terus kalau ganteng, emang kenapa?"
Riva semakin tidak percaya. "Kamu barusan berpapasan sedekat itu sama dia!"
"Memangnya kenapa?" Aynara masih menekuk wajahnya.
"Ya ampun, kamu gak deg-degan apa?"
"Gak," jawab Aynara cepat.
Riva semakin penasaran. "Jantungmu gak berdebar?"
"Enggak."
"Sedikit pun?"
Aynara memutar bola mata. "Yang ada aku hampir emosi."
Riva mengerjap. "Hah?"
Aynara mengembuskan napas kesal. "Buat apa ganteng kalau angkuh?"
Riva terdiam beberapa detik. Kemudian ia menyipitkan mata, menatap sahabatnya penuh selidik. "Kamu kenapa sih? Baru juga ketemu sudah sebel."
"Karena dia memang nyebelin." Aynara tak bisa menyembunyikan kekesalan dari wajahnya.
"Tapi dia ganteng."
"Ganteng gak otomatis punya kepribadian bagus," tegas Aynara.
Riva menahan tawa. "Waduh... ini menarik."
"Apanya yang menarik?" Aynara menyandarkan lengannya di meja resepsionis.
Riva menyeringai lebar. "Kayaknya aku baru menemukan satu-satunya perempuan di kantor ini yang kebal sama pesona Pak Aksa."
Aynara mendengus. "Pesona apa? Tampan doang. Di dunia ini juga masih banyak yang ganteng. Bukan dia doang." Ia kemudian melirik jam tangannya. "Aku mau pulang dulu, Riv."
Mata Riva langsung melebar. "Eh, tunggu! Cerita dulu! Tadi dia ngomong apa sampai mukamu kayak habis makan jeruk nipis? Terus interview-nya gimana?"
"Nanti aku ceritain. Aku pergi dulu." Aynara melambaikan tangan sekilas, lalu melangkah meninggalkan meja resepsionis.
Riva hanya bisa memandang punggung sahabatnya dengan wajah penasaran. "Ini mah bukan kebal pesona lagi..." gumamnya. "Kayaknya kena alergi sama orangnya."
***
Sementara itu, ruang rapat utama Aksara Group dipenuhi jajaran direksi dan beberapa petinggi perusahaan.
Satu per satu mereka sudah menempati kursi masing-masing. Beberapa dokumen tersusun rapi di atas meja, sementara layar besar di ujung ruangan menampilkan agenda rapat hari itu.
Pintu ruang rapat terbuka. Semua kepala spontan menoleh.
Aksa melangkah masuk dengan ekspresi tenang. Ia mengenakan setelan jas hitam yang membuat penampilannya terlihat semakin berwibawa.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Tuan Muda," sahut beberapa orang hampir bersamaan.
Aksa mengangguk singkat sebelum duduk di kursi yang telah disediakan.
Gunadi yang duduk di sisi meja membuka map di hadapannya. "Baik. Kalau semuanya sudah hadir, rapat kita mulai."
Gunadi berdiri dan menatap seluruh peserta rapat. "Seperti yang sudah kita ketahui, kondisi Tuan Besar Wicaksono hingga saat ini masih belum memungkinkan beliau menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan perusahaan."
Beberapa direksi saling bertukar pandang.
"Karena perusahaan tidak bisa terus berjalan tanpa kepemimpinan yang jelas, sesuai amanat Tuan Besar, diperlukan seseorang yang dapat mengambil alih seluruh tanggung jawab tersebut."
Gunadi kemudian mengalihkan pandangan kepada Aksa. "Dan berdasarkan keputusan yang telah ditetapkan sebelumnya, posisi tersebut akan diberikan kepada Tuan Aksa Wicaksono."
Suasana ruangan seketika menjadi lebih serius. Meski sebagian besar orang yang hadir sudah mengetahui keputusan tersebut, tetap saja pengumuman itu terasa seperti sebuah titik balik.
Salah seorang direktur mengangkat tangan. "Saya setuju. Selama ini Tuan Aksa juga sudah menangani berbagai urusan penting perusahaan."
Direktur lainnya mengangguk. "Saya juga setuju."
Satu per satu suara persetujuan terdengar.
Gunadi kemudian mengambil dokumen pengangkatan yang sudah disiapkan. "Dengan persetujuan jajaran direksi, mulai hari ini Aksa Wicaksono resmi menjabat sebagai Chief Executive Officer Aksara Group."
Dokumen itu disodorkan kepada Aksa. Aksa menerimanya tanpa banyak ekspresi. Ia membaca beberapa bagian sebelum mengambil pena yang tersedia di atas meja.
Goresan tanda tangannya menjadi penanda resmi atas jabatan barunya. Setelah itu, Aksa menutup dokumen tersebut.
"Mulai hari ini, saya akan menjalankan tanggung jawab ini sebaik mungkin."
Suara Aksa terdengar tenang dan tegas.
"Saya berharap seluruh jajaran direksi dan karyawan Aksara Group bisa bekerja sama dengan saya. Kita punya banyak hal yang harus diselesaikan."
Gunadi tersenyum tipis. "Kalau begitu, mulai hari ini kita memiliki seorang CEO baru."
Beberapa orang memberikan tepuk tangan.
Aksa hanya mengangguk singkat. Tidak ada yang tahu bahwa keputusan pagi itu bukan sekadar perubahan jabatan.
Gunadi menatap pria itu dalam diam. "Mulai hari ini, nama Aksa Wicaksono akan perlahan muncul ke permukaan. Dan seiring dengan itu, identitasnya sebagai pewaris Aksara Group tak akan bisa disembunyikan lebih lama lagi."
...🔸🔸🔸...
...“Jabatan dapat membuat seseorang dihormati, tetapi bukan berarti membuatnya lebih tinggi dari orang lain. Sebab pada akhirnya, kedudukan hanyalah amanah, sedangkan sikap adalah cerminan dari siapa diri kita sebenarnya.”...
...“Seseorang boleh saja meremehkanmu ketika melihatmu berada di bawah. Namun jangan lupa, hidup selalu punya cara untuk mengubah posisi, bukan agar kita membalas penghinaan, melainkan agar kita belajar bahwa nilai diri tidak pernah ditentukan oleh penilaian orang lain.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.