NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:67.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Sang Pewaris Naik Tahta

Ting!

Pintu lift terbuka.

Aynara yang hendak melangkah keluar seketika membeku. Di depan lift berdiri seorang pria yang sangat ia kenal.

Aksa.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena rindu, melainkan karena terkejut dan gugup. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu pria itu secepat ini.

Aynara buru-buru menyingkir ke kiri. Namun pada saat yang sama, Aksa hendak masuk dan justru bergerak ke arah yang sama.

Aynara bergeser ke kanan. Aksa juga ikut bergeser ke kanan. Keduanya kembali berhadapan.

Aynara menelan ludah. Ia mencoba bergerak ke kiri lagi, tetapi Aksa kembali mengambil arah yang sama. Pria itu akhirnya mengembuskan napas pendek.

"Nona, apa maksud Anda menghalangi jalan saya?"

Aynara yang sejak tadi gugup langsung berubah kesal. "Siapa juga yang menghalangi jalanmu?" balasnya sewot.

Aksa mengernyit. "Anda yang—"

"Ge-er!"

Aynara langsung memotong ucapannya. Tanpa memberi kesempatan Aksa menjawab, ia melewatinya begitu saja.

Aksa terdiam di tempat. Ia menoleh mengikuti langkah Aynara yang semakin menjauh.

Perempuan itu aneh. Tatapannya tadi seperti melihat hantu, tetapi beberapa detik kemudian malah memarahinya.

Aksa menggeleng pelan. Ia baru hendak melangkah ketika menyadari pintu lift mulai menutup.

Ia buru-buru masuk.

Pintu lift perlahan tertutup setelah Aksa melangkah ke dalam. Namun sebelum celah pintu benar-benar menghilang, pandangannya sempat menangkap punggung perempuan tadi.

Entah mengapa, Aksa merasa pernah melihatnya. Bukan wajahnya, melainkan suaranya dan cara perempuan itu berjalan.

Perasaan familiar itu hanya muncul sesaat sebelum pintu lift tertutup rapat.

"Aneh."

Namun ada satu hal yang justru lebih mengganggunya. Perempuan itu sama sekali tidak seperti kebanyakan wanita yang pernah ditemuinya. Tidak ada tatapan kagum, tidak ada senyum malu-malu, bahkan tidak ada usaha untuk menarik perhatiannya.

Selain ibunya, ini adalah pertama kalinya ada seorang perempuan yang berani memarahinya secara langsung.

Aksa mengembuskan napas pelan, lalu menekan tombol lantai tujuannya.

 

Sementara itu, Aynara terus berjalan dengan wajah ditekuk.

Saat mendekati meja resepsionis, Riva yang berada di balik meja langsung memanggilnya.

"Ra..."

Namun begitu melihat ekspresi sahabatnya, alis Riva langsung berkerut.

Aynara menoleh. "Apa?"

Riva menunjuk ke arah lift yang pintunya baru saja tertutup. "Itu tadi..."

"Kenapa?" tanya Aynara, masih terlihat kesal.

Riva malah menarik lengan Aynara dengan mata berbinar.."Itu Aksa Wicaksono!"

Aynara mendengus. "Terus?"

Riva melongo. "Terus?! Ra, itu manusia paling ganteng di kantor!"

"Terus kalau ganteng, emang kenapa?"

Riva semakin tidak percaya. "Kamu barusan berpapasan sedekat itu sama dia!"

"Memangnya kenapa?" Aynara masih menekuk wajahnya.

"Ya ampun, kamu gak deg-degan apa?"

"Gak," jawab Aynara cepat.

Riva semakin penasaran. "Jantungmu gak berdebar?"

"Enggak."

"Sedikit pun?"

Aynara memutar bola mata. "Yang ada aku hampir emosi."

Riva mengerjap. "Hah?"

Aynara mengembuskan napas kesal. "Buat apa ganteng kalau angkuh?"

Riva terdiam beberapa detik. Kemudian ia menyipitkan mata, menatap sahabatnya penuh selidik. "Kamu kenapa sih? Baru juga ketemu sudah sebel."

"Karena dia memang nyebelin." Aynara tak bisa menyembunyikan kekesalan dari wajahnya.

"Tapi dia ganteng."

"Ganteng gak otomatis punya kepribadian bagus," tegas Aynara.

Riva menahan tawa. "Waduh... ini menarik."

"Apanya yang menarik?" Aynara menyandarkan lengannya di meja resepsionis.

Riva menyeringai lebar. "Kayaknya aku baru menemukan satu-satunya perempuan di kantor ini yang kebal sama pesona Pak Aksa."

Aynara mendengus. "Pesona apa? Tampan doang. Di dunia ini juga masih banyak yang ganteng. Bukan dia doang." Ia kemudian melirik jam tangannya. "Aku mau pulang dulu, Riv."

Mata Riva langsung melebar. "Eh, tunggu! Cerita dulu! Tadi dia ngomong apa sampai mukamu kayak habis makan jeruk nipis? Terus interview-nya gimana?"

"Nanti aku ceritain. Aku pergi dulu." Aynara melambaikan tangan sekilas, lalu melangkah meninggalkan meja resepsionis.

Riva hanya bisa memandang punggung sahabatnya dengan wajah penasaran. "Ini mah bukan kebal pesona lagi..." gumamnya. "Kayaknya kena alergi sama orangnya."

***

Sementara itu, ruang rapat utama Aksara Group dipenuhi jajaran direksi dan beberapa petinggi perusahaan.

Satu per satu mereka sudah menempati kursi masing-masing. Beberapa dokumen tersusun rapi di atas meja, sementara layar besar di ujung ruangan menampilkan agenda rapat hari itu.

Pintu ruang rapat terbuka. Semua kepala spontan menoleh.

Aksa melangkah masuk dengan ekspresi tenang. Ia mengenakan setelan jas hitam yang membuat penampilannya terlihat semakin berwibawa.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi, Tuan Muda," sahut beberapa orang hampir bersamaan.

Aksa mengangguk singkat sebelum duduk di kursi yang telah disediakan.

Gunadi yang duduk di sisi meja membuka map di hadapannya. "Baik. Kalau semuanya sudah hadir, rapat kita mulai."

Gunadi berdiri dan menatap seluruh peserta rapat. "Seperti yang sudah kita ketahui, kondisi Tuan Besar Wicaksono hingga saat ini masih belum memungkinkan beliau menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan perusahaan."

Beberapa direksi saling bertukar pandang.

"Karena perusahaan tidak bisa terus berjalan tanpa kepemimpinan yang jelas, sesuai amanat Tuan Besar, diperlukan seseorang yang dapat mengambil alih seluruh tanggung jawab tersebut."

Gunadi kemudian mengalihkan pandangan kepada Aksa. "Dan berdasarkan keputusan yang telah ditetapkan sebelumnya, posisi tersebut akan diberikan kepada Tuan Aksa Wicaksono."

Suasana ruangan seketika menjadi lebih serius. Meski sebagian besar orang yang hadir sudah mengetahui keputusan tersebut, tetap saja pengumuman itu terasa seperti sebuah titik balik.

Salah seorang direktur mengangkat tangan. "Saya setuju. Selama ini Tuan Aksa juga sudah menangani berbagai urusan penting perusahaan."

Direktur lainnya mengangguk. "Saya juga setuju."

Satu per satu suara persetujuan terdengar.

Gunadi kemudian mengambil dokumen pengangkatan yang sudah disiapkan. "Dengan persetujuan jajaran direksi, mulai hari ini Aksa Wicaksono resmi menjabat sebagai Chief Executive Officer Aksara Group."

Dokumen itu disodorkan kepada Aksa. Aksa menerimanya tanpa banyak ekspresi. Ia membaca beberapa bagian sebelum mengambil pena yang tersedia di atas meja.

Goresan tanda tangannya menjadi penanda resmi atas jabatan barunya. Setelah itu, Aksa menutup dokumen tersebut.

"Mulai hari ini, saya akan menjalankan tanggung jawab ini sebaik mungkin."

Suara Aksa terdengar tenang dan tegas.

"Saya berharap seluruh jajaran direksi dan karyawan Aksara Group bisa bekerja sama dengan saya. Kita punya banyak hal yang harus diselesaikan."

Gunadi tersenyum tipis. "Kalau begitu, mulai hari ini kita memiliki seorang CEO baru."

Beberapa orang memberikan tepuk tangan.

Aksa hanya mengangguk singkat. Tidak ada yang tahu bahwa keputusan pagi itu bukan sekadar perubahan jabatan.

Gunadi menatap pria itu dalam diam. "Mulai hari ini, nama Aksa Wicaksono akan perlahan muncul ke permukaan. Dan seiring dengan itu, identitasnya sebagai pewaris Aksara Group tak akan bisa disembunyikan lebih lama lagi."

 

...🔸🔸🔸...

...“Jabatan dapat membuat seseorang dihormati, tetapi bukan berarti membuatnya lebih tinggi dari orang lain. Sebab pada akhirnya, kedudukan hanyalah amanah, sedangkan sikap adalah cerminan dari siapa diri kita sebenarnya.”...

...“Seseorang boleh saja meremehkanmu ketika melihatmu berada di bawah. Namun jangan lupa, hidup selalu punya cara untuk mengubah posisi, bukan agar kita membalas penghinaan, melainkan agar kita belajar bahwa nilai diri tidak pernah ditentukan oleh penilaian orang lain.”...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Kadek Sri
syukurlah Aynara selamat
Hanima
😍😍😍😍👍
Puji Hastuti
trus gimana nanti,kalau Nara sadar
Eka Burjo
syukurlah selamat. jangan kasih ampun tuh si Doni
tse
waduh sayang sekali.....
mereka jadinya melakukan zina ya....
Regan ga kuat iman nya..
Eka Burjo
harus nikah ulang ijab qobul lagi si, biar jadi halal hubungannya 😁✌️, tanya ahlinya
Puji Hastuti
ayolah regan, selamatkan ay
Sugiharti Rusli
semoga saja Regan masih keburu menolongnya yah, karena kalo sampai Aynara dilecehkan oleh Doni, itu akan jadi malapetaka sih😔😔😔
Sugiharti Rusli
mana kondisi Aynara sedang tidak baik" saja karena obat yang diminum saat tadi di ballroom,,,
Sugiharti Rusli
pada akhirnya si Doni malah berhasil membawa Aynara kan jadinya,,,
Sugiharti Rusli
meski dia belum tahu kalo orang yang mencegat dirinya suruhan si Doni, dia seharusnya ga usah meladeni,,,
Sugiharti Rusli
waduh si Aksa kemakan umpan si Doni lagi dia yah,,,
Cicih Sophiana
ya Allah Nara... semoga Regan cepat menemukan Nara dan menolong nya...
Siti Jumiati
semoga regan cepat datang dan menolong Aynara
Siti Jumiati
semoga regan cepat datang dan menolong Aynara
Eka Burjo
aakh gubrak 👊😡
Wardi's
aahh... tidaaak...
Anitha
semoga Regan datang tepat waktu..biar Regan saja yang membantu Aynara menghilangkan panas di badannya efek pengaruh obat dosis tinggi
Anonim
Aynara pamit pulang sama kakek, walaupun kakek tidak bisa menjawab, mungkin bawah sadar kakek merasa kali ya.

Aynara tidak jadi pulang ketika melihat perawat mau membersihkan tubuh pasien. Ia minta izin sama perawat untuk membantu membersihkan kakek.

Lebih baik Aynara cari kontrakan di dekat rumah sakit, jadi bisa sering datang menjenguk kakek.

Tinggal di rumah sendiri malah makan hati. Lebih baik segera cari kontrakan

Siapa yang berheti di hadapan Aynara ?
Anonim
Ternyata Gunadi yang datang tapi mengurungkan niatnya untuk masuk.

Gunadi menghubungi seseorang lewat sambungan telepon untuk minta dikirimi foto Aynara. Dan menyuruhnya menyelidiki kegiatan Aynara beberapa hari terakhir.

Foto-foto Aynara sudah dikirim. Gunadi melihat foto-foto Aynara. Cantik.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!