Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 3: Benteng yang Runtuh
...MENGULANG LUKA...
Bab 3: Benteng yang Runtuh
Kulit pergelangan tangan Valencia yang halus terasa begitu kontras di dalam cengkeraman tangan Julian yang hangat dan kokoh. Di bawah pencahayaan lampu temaram, sepasang manik mata gelap Julian mendadak turun dan terkunci pada potongan dada rendah lingerie tipis hitam yang melekat di tubuh istrinya. Tatapan intens yang menelusuri lekuk tubuhnya itu seketika memicu alarm kewaspadaan di kepala Valencia.
Rasa tidak nyaman menjalar hebat. Valencia refleks mengangkat tangan kirinya yang bebas, menyilangkan lengan di depan dada untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspos dari pandangan pria itu. Dia tidak ingin lagi menjadi objek penilaian yang merendahkan. Dengan dagu terangkat dan sorot mata yang jernih namun sedingin es, dia menatap lurus ke wajah Julian.
"Bisa lepaskan tangan Anda, Tuan Edgar?" tanya Valencia. Suaranya terdengar sangat datar, tanpa ada getaran emosi atau kepanikan yang biasanya selalu mendominasi dirinya.
Julian tidak segera melepaskannya. Jari-jarinya justru sedikit mempererat cengkeraman pada pergelangan tangan Valencia, seolah sedang menguji sejauh mana kekuatan benteng baru yang dibangun wanita itu. Pria itu menunduk, memanfaatkan tinggi badannya yang 190 sentimeter untuk mengintimidasi Valencia yang kini berada di bawah kungkungan bayangannya. Bau harum kayu cendana yang mahal dari tubuh Julian menguar kuat memenuhi rongga penciuman, namun Valencia tetap bergeming di tempatnya berdiri bagai patung lilin yang indah namun mati rasa.
"Tuan Edgar?" Julian mengulang panggilan itu dengan nada mencela. Satu sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman sinis yang sarat akan ketidakpercayaan. "Sejak kapan kau mengubah panggilanmu, Valencia? Bukankah biasanya kau akan memanggilku dengan penuh drama?"
"Manusia bisa berubah, begitu juga dengan saya," sahut Valencia tenang. Dia mengabaikan sindiran itu dan tetap mempertahankan posisi tangan yang menutupi dadanya. "Dokumen pernikahan almarhumah Gracia yang Anda cari sudah saya tunjukkan tempatnya. Tugas saya malam ini sudah selesai. Jadi, tolong lepaskan."
Mendengar nama Gracia disebut dengan begitu santai dari mulut Valencia, rahang Julian seketika mengeras. Biasanya, Valencia akan memperlihatkan rasa bersalah yang mendalam atau raut cemburu yang tertahan setiap kali nama itu mengudara. Namun sekarang, ekspresi Valencia seolah-olah sedang membicarakan orang asing yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan sejarah hidup mereka.
Julian merasa egonya terpukul. Perubahan sikap Valencia yang tiba-tiba menjelma menjadi bongkahan es ini benar-benar di luar prediksinya. Penolakan halus dan tatapan kosong yang diberikan Valencia justru memicu rasa penasaran yang pekat di benak pria itu. Selama dua tahun ini, dia terbiasa mengabaikan Valencia, namun malam ini, dialah yang merasa diabaikan sepenuhnya.
"Kau mengusirku dari kamarku sendiri, Valencia?" bisik Julian rendah, suaranya sarat akan ancaman yang berbahaya.
"Saya hanya tidak ingin mengganggu waktu Anda yang berharga," Valencia menarik tangannya dengan satu sentakan tegas yang konstan.
Julian yang tidak menduga akan mendapat perlawanan fisik sekecil itu akhirnya terpaksa melonggarkan genggamannya. Pergelangan tangan Valencia terlepas, meninggalkan sedikit bekas kemerahan di kulitnya yang putih pucat. Tanpa sepatah kata lagi, Valencia melangkah mundur, berjalan santai menuju ranjang king size dan langsung menenggelamkan tubuhnya di balik selimut tebal, memunggungi Julian sepenuhnya.
Julian berdiri mematung di tengah kamar. Matanya menatap punggung Valencia yang tertutup selimut dengan kilatan amarah dan rasa tertantang yang campur aduk. Sandiwara tarik ulur yang dikira sedang dimainkan oleh Valencia malam ini benar-benar berhasil mengacaukan fokusnya.