NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1 DI BUANG DAN TAK MATI

Angin dingin menderu kencang menyapu dinding tebing curam Lembah Kematian, tempat yang tak ada seekor burung pun berani terbang melintas. Kabut kelabu yang pekat menyelimuti lembah itu sepanjang waktu, menyembunyikan bahaya yang mengintai di balik setiap rimbunan semak belukar berduri, celah-celah bebatuan yang tajam bagaikan bilah pisau, serta bayangan gelap yang sesekali bergerak pelan di balik rimbunan pepohonan tua yang batangnya tampak keriput dan menyeramkan. Tanah di lembah itu berwarna merah kecokelatan seakan telah direndam darah selama ribuan tahun. Udara yang terhirup terasa dingin dan menyengat, membawa bau busuk dan bau logam yang tajam, seakan tempat itu telah menjadi kuburan besar bagi siapa pun yang berani melangkah masuk tanpa kekuatan yang cukup untuk melindungi nyawanya sendiri.

Di atas hamparan batu tajam yang berlumuran darah segar, terbaring seorang pemuda berpakaian lusuh penuh luka menganga yang terus meneteskan cairan merah perlahan ke tanah yang sudah berwarna kemerahan. Pemuda itu mengenakan jubah berwarna biru pudar yang dulunya adalah seragam kebanggaan sekte. Kainnya kini robek di sana-sini, penuh noda darah dan debu. Wajahnya yang tampan dan tenang kini pucat pasi, penuh luka goresan dan noda darah yang mengering di sudut bibirnya. Ia adalah Lin Mo. Dulu nama Lin Mo adalah kebanggaan sekte dan harapan besar keluarga, pemuda yang dipuja dan diprediksi akan mencapai puncak tertinggi dalam jalan kultivasi di masa mendatang. Banyak orang memujinya, banyak orang mematuhinya, dan banyak orang menaruh harapan besar padanya. Namun hari ini, nama itu telah menjadi sampah yang dibuang ke tempat paling berbahaya di dunia, seakan tak pernah memiliki arti apa pun bagi siapa pun. Seakan semua pujian dan penghormatan yang dulu diberikan kepadanya hanyalah kepalsuan yang runtuh seketika saat kekuatannya dirampas dan nyawanya dianggap tak lagi berharga.

Darah merah terus menetes dari luka dalam di dada Lin Mo, jatuh membasahi tanah yang tampak haus akan cairan kehidupan itu. Racun yang diberikan oleh orang yang paling ia percayai sedang menyebar dengan cepat ke seluruh pembuluh darahnya, membakar daging dan tulang bagaikan api panas yang tak kunjung padam. Setiap tarikan napas terasa menyakitkan seakan paru-parunya sedang diremas dan dibakar secara bersamaan. Pembuluh darah di seluruh tubuhnya tampak menonjol dan berwarna kehitaman, menandakan betapa berbahayanya racun yang merajalela di dalam sana. Napas Lin Mo terasa berat dan tersengal-sengal, seakan setiap helai napas yang diambilnya adalah sisa-sisa nyawa yang perlahan meninggalkan tubuhnya yang lemah dan penuh luka. Namun di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, sepasang matanya yang masih terbuka perlahan menatap ke atas, menembus kabut samar menuju puncak tebing tempat ia jatuh tak lama berselang. Di sana, berdiri dua sosok yang menatap ke bawah dengan wajah sedingin batu es, tanpa sedikit pun rasa iba atau penyesalan. Cahaya matahari yang menyinari kedua sosok itu seakan tak mampu menyentuh hati mereka yang telah membeku oleh keserakahan dan kejahatan.

Sosok pertama adalah wanita yang wajahnya cantik dan lembut, namun tatapan matanya kini tampak datar dan dingin, seakan orang yang terbaring sekarat di bawah sana hanyalah sebutir debu yang tak berarti baginya. Wanita itu adalah Xu Yao, tunangan Lin Mo yang telah dijagokan sejak kecil, wanita yang pernah berjanji akan mendampingi Lin Mo hingga ke ujung dunia, wanita yang pernah berkata bahwa tak ada harta maupun kekuatan yang mampu memisahkan mereka. Namun janji itu ternyata hanyalah kepulan asap yang hilang tertiup angin begitu saja saat kekuatan dan kekuasaan tampak lebih menarik untuk diraih.

Di samping Xu Yao berdiri sosok kedua, seorang pemuda berwajah tampan namun matanya menyimpan kesombongan dan kebusukan yang tak tersembunyikan. Ia adalah Lin Tian, kakak angkat Lin Mo yang selama ini tampak ramah dan penuh perhatian, namun sebenarnya telah menyimpan rasa iri dan kebencian yang mendalam sejak lama. Lin Tian selalu merasa hidup dalam bayang-bayang Lin Mo. Ia selalu merasa lebih rendah dan dipandang sebelah mata dibandingkan Lin Mo. Rasa iri itu perlahan tumbuh menjadi kebencian yang pekat, dan kesempatan yang dinantikannya akhirnya tiba saat ia berhasil bekerja sama dengan Xu Yao untuk meracuni Lin Mo secara diam-diam selama berbulan-bulan lamanya. Mereka berdua itulah yang diam-diam mencuri hak waris dan kekuatan darah Lin Mo, dan akhirnya melemparnya ke jurang maut agar tak ada satu pun saksi yang tersisa untuk mengungkap kejahatan keji mereka.

"Lin Mo... maafkanlah aku... sesungguhnya aku tak berniat berbuat sekejam ini padamu..." suara Xu Yao terdengar samar tertiup angin yang menderu, nada bicaranya terdengar lemah dan penuh kepalsuan yang menyakitkan hati jauh lebih tajam daripada luka di tubuhnya. "Kekuatan darahmu itu seharusnya milik Lin Tian... dan aku... aku membutuhkan kekuatan itu agar bisa berdiri sejajar dengannya... Jadi pergilah dengan tenang... Jangan menungguku lagi... Mulai hari ini, tak ada lagi Xu Yao yang mengenal Lin Mo..."

Lin Tian yang berdiri di samping Xu Yao tersenyum bangga, lalu tertawa dingin seakan mendengar hal yang paling lucu di dunia. Suara tawanya terdengar tajam dan penuh penghinaan yang menusuk hingga ke tulang sumsum.

"Adikku yang bodoh dan naif! Kau memang terlalu lemah hatinya dan terlalu polos pikirannya untuk menguasai kekuatan besar yang mengalir di dalam tubuhmu. Kau percaya kepada semua orang yang tersenyum di hadapanmu tanpa pernah menyadari apa yang tersembunyi di balik senyuman palsu itu. Dunia ini bukan tempat untuk orang sepertimu. Dunia ini milik orang yang kuat dan tak berhati lembut. Kebaikan hatimu justru menjadi alasan yang tepat untuk membuangmu. Matalah kau di bawah sana dan lupakanlah semua yang pernah kau miliki. Mulai saat ini, nama Lin Mo sudah mati dan dikubur bersama tubuh busukmu. Yang hidup dan bersinar terang di langit sekte mulai hari ini hanyalah namaku! Dan Xu Yao... wanita yang pernah kau cintai dengan segenap hatimu itu... akan menjadi milikku sepenuhnya!"

Xu Yao berdiri di samping Lin Tian tanpa menolak sedikit pun. Ia bahkan tersenyum tipis dan merangkul lengan Lin Tian dengan penuh keakrapan, seakan tak pernah ada janji yang diucapkannya kepada Lin Mo di bawah sinar rembulan yang dulu menjadi saksi kesetiaan mereka. Pemandangan itu menyakiti hati Lin Mo jauh lebih dalam daripada luka-luka yang menganga di sekujur tubuhnya. Pengkhianatan dari dua orang yang paling dipercaya dan dicintai seumur hidup ternyata jauh lebih menyakitkan daripada racun yang sedang mematikan tubuhnya perlahan-lahan.

Dua sosok itu akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan tebing tanpa menoleh sekali pun, seakan apa yang baru saja mereka lakukan hanyalah membuang sebutir debu yang tak berharga dari ujung jubah mereka. Langkah kaki mereka menjauh perlahan hingga bayangan mereka hilang tertutup kabut dan dinding tebing yang menjulang tinggi. Tinggallah Lin Mo sendirian di dasar lembah yang sunyi dan mengerikan, terbaring di atas batu tajam yang terus menekan luka di punggungnya.

Lin Mo tidak menangis. Ia tidak mengerang kesakitan. Air matanya tak menetes satu pun. Yang keluar dari bibirnya yang berdarah hanyalah suara lemah namun penuh tekad yang tak akan pernah patah seumur hidupnya. Suara itu terdengar pelan namun tegas di tengah deru angin yang menderu kencang seakan ikut menyaksikan janji sucinya.

"Aku tidak akan mati... Aku Lin Mo tidak akan mati di sini..." ucap Lin Mo perlahan, setiap kata terucap dengan teguh dan tak tergoyahkan meskipun rasa sakit terus menyergap kesadarannya. "Kalian semua yang telah mengkhianati, meracuni, dan mencampakkanku seperti sampah yang tak berharga... tunggulah saat aku kembali mendaki puncak tebing tempat kalian berdiri dengan angkuhnya hari ini. Saat itu tiba... aku akan kembali dengan kekuatan yang tak mampu kalian bayangkan... Aku akan membuat kalian berlutut di hadapanku dan menyesali perbuatan kalian dengan air mata darah. Dan penyesalan itu akan menjadi hukuman yang kalian tanggung seumur hidup, tak akan pernah terhapus hingga nyawa kalian tercabut dari tubuh yang hina itu!"

Seketika setelah janji itu terucap, secercah cahaya keemasan samar-samar muncul dari luka menganga di dada Lin Mo. Cahaya itu bukan milik racun yang sedang menyebar. Cahaya itu berasal dari dalam tubuhnya sendiri — sesuatu yang tersembunyi sejak kelahirannya, terkunci rapat dan tak pernah terbangun sebelumnya, dan baru kini menyala perlahan saat nyawanya berada di ambang pintu kematian. Cahaya itu perlahan menyelimuti seluruh tubuh Lin Mo, mengalir lembut namun luar biasa kuat menyusuri setiap pembuluh darah dan celah tulang, menetralkan racun yang merajalela, menyembuhkan luka yang menganga, dan membakar segala kelemahan yang membelenggunya selama ini. Rasa sakit yang luar biasa perlahan digantikan oleh rasa hangat yang nyaman dan kekuatan yang terus mengalir deras bagaikan sungai yang tak pernah kering. Cahaya keemasan itu semakin terang dan pekat, membentuk siluet samar sosok naga raksasa yang melayang di belakang tubuh Lin Mo sejenak sebelum menyatu kembali ke dalam darah dan dagingnya.

Di dalam sanubari dan kesadaran Lin Mo, tiba-tiba terdengar suara berat dan bergema bagaikan guntur yang membelah langit luas, suara kuno yang seakan telah tertidur ribuan tahun dan kini kembali menyapa dunia dengan wibawa yang tak tertandingi.

"Roh yang teguh... darah yang tak tunduk... Kau telah membangkitkan aku dari tidur panjang ribuan tahun... Anak manusia yang bernama Lin Mo... Darah kuno yang mengalir di tubuhmu ternyata belum mati... Terimalah warisanku... terimalah kekuatan Naga Abadi... dan bangkitlah untuk menuntut apa yang telah dirampas darimu... Biarlah langit dan bumi menyaksikan... bahwa keturunan Darah Naga tak akan pernah tunduk kepada siapa pun..."

Lin Mo merasakan sesuatu yang luar biasa terjadi di dalam dirinya. Sejak saat itu, ada sesuatu yang berubah secara mendasar. Pembuluh darah yang rusak pulih kembali menjadi jauh lebih kuat dan kokoh. Tulang-tulangnya yang rapuh karena racun kini tampak bercahaya dan sekeras logam tertinggi. Energi yang mengalir di dalam tubuhnya kini bukan lagi energi biasa yang dipelajari di sekte. Itu adalah energi murni kuno yang berasal dari masa-masa awal penciptaan dunia, energi yang tak dimiliki oleh siapa pun di zaman ini. Cahaya keemasan itu semakin terang benderang hingga menyelimuti seluruh lembah yang gelap dan suram, mengusir kabut kelabu yang selama ini menutupinya, membuat lembah maut itu seketika tampak bersinar keemasan bagaikan surga yang tersembunyi.

Dan di saat itu juga, di dalam tubuh Lin Mo yang hampir binasa, ada sesuatu yang baru saja lahir kembali dari kematian dengan wibawa yang cukup untuk menggetarkan seluruh dunia. Lin Mo perlahan menutup matanya. Namun kali ini bukan untuk selamanya. Ia menutup matanya untuk menyatukan jiwa dan kekuatan yang baru saja bangkit dari tidur panjangnya. Napasnya yang tersengal-sengal perlahan menjadi tenang, dalam, dan kuat. Cahaya keemasan di tubuhnya perlahan meredup kembali menyembunyi di dalam aliran darahnya, menyatu dengan setiap jengkal daging dan darahnya, menunggu saat yang tepat untuk memancarkan sinarnya kembali ke langit luas.

Lin Mo tetap terbaring di sana untuk waktu yang lama. Namun tubuhnya kini tak lagi tampak sekarat. Luka-lukanya perlahan menutup sempurna tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Wajahnya yang pucat kini kembali bercahaya dan tampak semakin tegas dan berwibawa. Saat ia akhirnya membuka kedua matanya perlahan, sepasang mata itu kini memancarkan cahaya keemasan yang samar namun tajam dan dalam, seakan mampu menembus segala kegelapan dan melihat jauh ke masa depan. Lin Mo berdiri perlahan, kakinya yang semula lemah kini menapak kokoh di atas batu tajam yang tak lagi melukainya. Ia menatap ke arah puncak tebing tempat ia jatuh, menatap ke arah tempat di mana dua orang pengkhianat itu berdiri menatapnya dengan penghinaan tak lama berselang.

"Aku kembali..." ucap Lin Mo pelan namun tegas, suaranya bergema lembut namun penuh kekuatan yang tak terlihat. "Tunggulah aku... Lin Tian... Xu Yao... dan semua orang yang pernah menghinaku... Saat aku kembali mendaki tebing itu kelak... dunia yang kalian kenal akan berubah. Dan saat itu tiba... jangan pernah memohon belas kasihan kepadaku... Karena belas kasihan itu telah kalian kubur sendiri di dasar lembah ini bersama nyawaku yang kalian kira telah binasa."

Lin Mo melangkah perlahan menembus kabut tebal yang kini tak lagi menghalangi pandangannya. Di hadapannya terbentang jalan panjang yang penuh bahaya dan tantangan. Namun Lin Mo tak lagi takut. Di dalam dadanya kini mengalir darah Naga Abadi. Di dalam jiwanya kini bersemayam kekuatan kuno yang tak tertandingi. Dan di pundaknya kini terbebani janji yang harus ditepati secepat mungkin. Pengkhianatan itu baru permulaan. Perjalanan pembalasan dendam yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan tak ada satu pun makhluk di langit maupun di bumi yang mampu menghentikan langkah kaki Lin Mo yang telah bangkit dari kematian dengan kekuatan dewa purba yang terbangun kembali.

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!