Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Ciiiit.
Ban lebar Lamborghini Aventador SVJ membelah pelataran lobi Hotel Grand Wijaya yang sangat mewah.
Suara mesinnya yang menggelegar membuat beberapa tamu penting hotel langsung menoleh ke arah lobi.
Rizal mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu gunting yang bergerak ke atas dengan sangat mulus.
Pemuda itu keluar dengan setelan jas biru dongkernya yang membuat penampilannya semakin sempurna malam ini.
Seorang petugas valet berseragam merah berlari kecil menghampirinya dengan sikap sangat hormat.
"Selamat malam Tuan, mari saya parkirkan mobil Anda."
Rizal menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas valet tersebut tanpa banyak bicara.
Dia melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis yang dibukakan oleh dua orang penjaga keamanan berbadan tegap.
Udara dingin dari pendingin ruangan yang dipenuhi aroma lavender mahal langsung menyambutnya.
Rizal berjalan santai menuju meja resepsionis yang terbuat dari marmer hitam Italia.
"Selamat malam Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
Seorang resepsionis wanita cantik menyapanya dengan senyum ramah yang sangat profesional.
"Saya butuh kamar terbaik yang kosong malam ini."
Rizal menjawab singkat sambil mengeluarkan dompet barunya.
"Baik Tuan, untuk kamar kelas VVIP kami memiliki Presidential Suite dengan harga seratus juta rupiah per malam."
Resepsionis itu menyebutkan harga yang bisa membuat rakyat biasa pingsan di tempat.
"Apakah Anda ingin memesannya untuk berapa malam Tuan?"
Bukannya mengeluarkan kartu kredit atau uang tunai, Rizal justru meletakkan Kartu Naga Emas di atas meja marmer.
Klak.
Suara ketukan kartu logam itu terdengar pelan, namun efeknya bagi resepsionis tersebut bagaikan ledakan bom.
Mata wanita itu langsung membelalak lebar saat melihat ukiran naga emas yang melingkar di atas kartu hitam pekat itu.
"I-ini... Kartu Naga Emas?"
Resepsionis itu mundur selangkah dengan tangan gemetar.
Dia sudah bekerja di hotel ini selama lima tahun dan selalu diajarkan tentang protokol menyambut pemegang kartu ini.
Namun ini adalah pertama kalinya dia melihat benda legendaris itu secara langsung.
"Tunggu sebentar Tuan VVIP! Saya akan memanggil Manajer Umum kami sekarang juga!"
Wanita itu langsung menekan tombol panggilan darurat di bawah mejanya dengan panik.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, seorang pria paruh baya berlari terengah-engah dari arah lift karyawan.
Pria itu adalah Manajer Umum Hotel Grand Wijaya yang sedang bertugas malam ini.
"Selamat datang Tuan VVIP! Suatu kehormatan besar bagi kami menyambut kedatangan Anda!"
Manajer itu langsung membungkukkan badannya hingga sembilan puluh derajat di hadapan Rizal.
Beberapa tamu di lobi yang melihat kejadian itu mulai berbisik-bisik penasaran tentang identitas Rizal.
"Siapkan kamar Presidential Suite untukku malam ini."
"Tentu saja Tuan! Kamar itu akan menjadi milik Anda secara eksklusif selama yang Anda inginkan secara gratis!"
Manajer itu mengambil Kartu Naga Emas dengan sangat hati-hati dan mengembalikannya kepada Rizal.
"Mari Tuan, saya sendiri yang akan mengantar Anda ke lantai paling atas."
Rizal hanya mengangguk pelan dan mengikuti langkah manajer itu menuju lift khusus VVIP.
Ting.
Pintu lift tertutup dan membawa Rizal naik ke lantai tertinggi dari gedung pencakar langit tersebut.
Sementara itu, di sebuah ruangan kantor eksekutif yang berada tepat satu lantai di bawah Presidential Suite.
Clara Wijaya sedang duduk bersandar di kursi kerjanya sambil memijat pelipisnya yang terasa sangat berdenyut.
Wajah cantik CEO muda itu terlihat sangat pucat dan kelelahan.
Drrt... Drrt...
Telepon di atas mejanya berbunyi nyaring.
"Halo, ada apa?"
Clara menjawab telepon itu dengan suara yang agak lemah.
"Nona Clara, mohon maaf mengganggu waktu istirahat Anda."
Suara Manajer Umum hotel terdengar dari seberang telepon.
"Tuan Rizal, pemegang Kartu Naga Emas baru kita, baru saja tiba dan menempati Presidential Suite."
Mata Clara yang tadinya sayu langsung terbuka lebar mendengar nama itu.
Pemuda misterius yang menyelamatkan nyawa kakeknya siang tadi kini berada di gedung yang sama dengannya.
"Begitu ya? Pastikan dia mendapatkan pelayanan terbaik tanpa ada kekurangan sedikit pun."
"Baik Nona Clara, sudah saya laksanakan."
Clara meletakkan gagang teleponnya dan terdiam sejenak menatap pemandangan lampu kota Jakarta dari jendela ruangannya.
Perasaan penasarannya terhadap Rizal semakin membara sejak kejadian di rumah sakit siang tadi.
Laporan dari para pengawalnya menyebutkan bahwa Rizal baru saja mengambil alih sebuah showroom mobil mewah hanya dengan beberapa patah kata.
Dia bukan pemuda biasa, dan Clara merasa Keluarga Wijaya sangat membutuhkan sekutu yang kuat sepertinya saat ini.
"Mungkin ini saat yang tepat untuk berbicara lebih pribadi dengannya."
Clara bergumam pelan lalu menekan tombol interkom di mejanya.
"Tolong hubungi kamar Presidential Suite, katakan bahwa saya mengundang Tuan Rizal makan malam di restoran VIP lantai atap lima belas menit lagi."
Di lantai atas, Rizal sedang menikmati pemandangan kota dari balkon kamarnya saat telepon kamarnya berdering.
Dia mengangkatnya dan mendengar undangan makan malam langsung dari sang CEO.
"Baik, katakan padanya aku akan segera turun."
Rizal meletakkan gagang telepon dengan senyum penuh arti.
Dia sudah menduga Clara akan mencarinya cepat atau lambat.
Pertemuan ini adalah kesempatan sempurna untuk memberitahu Clara tentang racun yang menggerogoti tubuhnya.
Lima belas menit kemudian, Rizal melangkah masuk ke dalam restoran VIP yang sengaja dikosongkan malam ini.
Hanya ada satu meja yang disiapkan di tengah ruangan dengan penerangan lilin yang elegan.
Clara sudah duduk di sana mengenakan gaun malam berwarna hitam yang menonjolkan kulit putih pualamnya.
Kecantikan wanita itu benar-benar mampu membuat pria mana pun bertekuk lutut.