Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Shasa masih menggenggam lengan Azmira sebelum perempuan itu sempat melangkah lebih dekat.
"Bentar dulu, Mira. Aku ada lagi baju yang bagus buat kamu."
Azmira menoleh ke arah sahabatnya dengan wajah bingung. "Memangnya yang tadi kurang bagus?"
"Bagus, tapi yang ini lebih bagus."
Shasa langsung menarik Azmira kembali ke dalam toko. Azmira sempat melirik ke arah ibunya. Rina masih berdiri di tempat yang sama, tetapi wajah perempuan itu terlihat berbeda. Terlalu tegang untuk sekadar bertemu seseorang.
"Ibu kenapa?" gumam Azmira dalam hati.
Namun karena Shasa terus menarik tangannya, ia akhirnya mengikuti. Sementara itu, Dika masih berdiri di hadapan Rina.
Tatapannya tertuju pada pintu toko yang baru saja dilewati Azmira dan Dua puluh lima tahun. Angka itu terus berputar memenuhi kepalanya.
"Anak kita perempuan?"
"Dia anakku, dan memang dia perempuan, dan karena itu kamu tidak mau menginginkannya. "
Dika terdiam lidahnya terasa keluh, entah kenapa ada rasa sesak yang tak bisa ia jelaskan begitu saja.
"Kamu terlalu buruk menilai seseorang, aku bukan tidak menginginkan tapi ...."
"Tapi apa? Karena anak Miranda kamu mengorbankan anak sahmu, ingat Dika anakku tidak butuh ayah payah sepertimu, lihat saja tanpa sepeser harta sarimu, aku yang kau sebut wanita lemah ini bisa menjadikannya seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit swasta si kota ini," cetus Rina dengan nada rendah tapi menyakitkan.
Dika menatap wajah Rina dengan penuh amarah, perlahan tangannya mengepal dengan kuat.
"Rina..."
Perempuan itu menatapnya. "Jangan menggunakan amarahmu, hanya untuk memanggil nama perempuan tidak berdaya ini, aku masih di sini digadapanmu, Tuan Mahardika," sahut Rina dengan senyum tipisnya.
"Siapa namanya?"
Rina terdiam sementara Dika menunggu. Namun beberapa detik kemudian, Rina justru menggeleng.
"Itu bukan urusanmu."
Raut wajah Dika berubah semakin memerah, bahkan otot-otot di lehernya terlihat jelas.
"Aku hanya bertanya."
"Dan aku tidak berkewajiban menjawab."
Rina kemudian berbalik arah, ia melangkah masuk ke dalam mall tersebut. Sementara Dika hendak mengejar, tetapi langkahnya berhenti ketika sebuah ingatan lama tiba-tiba muncul begitu jelas.
Dua puluh lima tahun lalu. Rina berdiri di hadapannya dengan perut yang sudah sangat besar. Wajahnya penuh air mata ketika mengatakan bahwa usia kandungannya sudah memasuki tujuh bulan.
Saat itu Dika tidak peduli. Ia lebih memilih percaya kepada Miranda. Lebih memilih rumah yang telah dibangunnya bersama perempuan itu. Dan lebih memilih menganggap bayi yang dikandung Rina sebagai sesuatu yang tidak seharusnya hadir dalam hidupnya.
Dika mengusap wajah. "Jangan-jangan..."
Ia segera menepis pikirannya sendiri.
"Tidak mungkin."
Dika mencoba meyakinkan dirinya. Ada begitu banyak perempuan berusia dua puluh lima tahun di kota ini. Dan Azmira hanyalah seorang dokter yang kebetulan ditemuinya beberapa hari lalu. Tidak lebih. Namun semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin wajah perempuan itu muncul dalam pikirannya.
Cara Azmira menatapnya. Suaranya. Bahkan ketika dokter muda itu mengatakan usianya dua puluh lima tahun. Dika sempat menganggapnya hanya sebuah kebetulan.
Sekarang angka itu terasa berbeda. Dika kembali menoleh ke arah toko pakaian. Di balik kaca, ia bisa melihat Azmira sedang berbicara dengan temannya. Perempuan muda itu tertawa kecil. Tidak ada yang tampak berbeda dari dirinya. Namun justru itu yang membuat dada Dika terasa semakin sesak.
Selama ini perempuan itu tumbuh tanpa dirinya. Dika menggeleng pelan.
"Ini tidak masuk akal."
Ia segera mengambil ponselnya.
"Asisten."
Suara dari seberang langsung menjawab. "Ya, Pak?"
"Besok kirimkan data dokter yang menangani pemeriksaan saya kemarin."
Asistennya sedikit bingung. "Dokter Azmira, Pak?"
Dika terdiam. "Iya."
"Baik, Pak."
Telepon berakhir. Dika memasukkan ponselnya ke saku. Untuk pertama kalinya, ia ingin mengetahui sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah ingin diketahuinya.
Bukan karena rasa rindu. Melainkan karena ada sesuatu yang mengusik harga dirinya. Ia ingin memastikan bahwa semua yang baru saja dipikirkannya hanyalah kebetulan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Di dalam toko, Azmira akhirnya mendapatkan pakaian yang dimaksud Shasa.
"Yang ini memang bagus," ujarnya sambil memperhatikan pakaian di tangannya.
"Tuh, kan?"Shasa tersenyum puas.
Azmira kemudian kembali menoleh ke arah luar. "Ibu di mana?"
"Tadi masih di luar."
Azmira berjalan menuju pintu. Namun langkahnya terhenti. Rina sudah tidak ada di tempat semula.
"Ibu?"
Shasa ikut melihat keluar. "Mungkin menunggu di dekat kasir?"
Azmira menggeleng. "Tadi Ibu bilang cuma sebentar."
Ia segera mengambil ponselnya. Tidak lama kemudian panggilan tersambung.
"Bu, Ibu di mana?"
Suara Rina terdengar pelan. Ibu di parkiran."
"Kenapa pergi duluan?"
"Ibu sedikit pusing."
Azmira langsung cemas. "Pusing?"
"Iya, tapi tidak apa-apa."
Azmira menatap Shasa. "Aku menyusul, ya."
"Jangan. Kamu lanjut saja sama Shasa. Ibu tunggu di mobil."
"Tapi—"
"Sudah. Ibu baik-baik saja."
Telepon berakhir. Azmira masih menatap layar ponselnya dengan wajah khawatir.
Shasa menepuk bahunya. "Sudah, Mira. Kalau Ibu bilang baik-baik saja, mungkin memang cuma capek."
Azmira mengangguk pelan. "Iya."
Namun entah mengapa, perasaannya tidak benar-benar tenang. Ia tidak tahu bahwa beberapa menit sebelumnya, ibunya baru saja berhadapan dengan lelaki yang selama dua puluh lima tahun tidak pernah disebut dalam kehidupannya.
Dan lebih dari itu... Rina baru saja berusaha keras menyembunyikan sebuah rahasia yang perlahan mulai menemukan jalannya sendiri.
Di dalam mobil, Rina duduk seorang diri. Tangannya masih menggenggam ponsel. Wajahnya terlihat pucat. Pertemuan tadi seharusnya tidak terjadi.
Ia sudah menjalani hidupnya selama dua puluh lima tahun tanpa Dika. Ia tidak pernah mencarinya. Tidak pernah meminta apa pun darinya. Rina memejamkan mata.
"Tolong, jangan sampai dia tahu..."
Air mata menggenang di sudut matanya.
Bukan karena Rina takut Dika akan mengambil Azmira darinya.
Tidak. Anaknya sudah dewasa. Sudah memiliki kehidupannya sendiri. Yang Rina takutkan adalah satu hal. Jika Dika mengetahui siapa Azmira sebenarnya, lelaki itu mungkin akan kembali masuk ke kehidupan putrinya.
Padahal selama ini Rina sengaja membiarkan Dika menjadi bagian dari masa lalu. Ia tidak ingin Azmira mengenal ayah yang dulu memilih meninggalkannya bahkan sebelum ia lahir.
Bersambung
jangan panjang2 thur takut pada bosan nnt trs pada kabu🤭🤭🤭🙏🙏🙏🙏
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡