Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Nadya meraih ponselnya yang tergeletak di samping piring sarapan.
Layar ponsel itu menampilkan sebuah pesan terenkripsi dari Siska, berisi lampiran foto yang diambil secara diam-diam oleh detektif swasta mereka.
Di dalam foto tersebut, Sarah tampak sedang berdiri di sudut ruangan apartemennya yang remang-remang.
Wajahnya terlihat tegang namun menyunggingkan senyum licik, sementara satu tangannya menggenggam ponsel yang menempel erat di telinga.
"Dia menelpon siapa?" gumam Nadya pelan, nyaris seperti bisikan untuk dirinya sendiri. dahi mulusnya berkerut penuh tanda tanya.
Armand yang berada di sampingnya menghentikan suapan sarapannya.
Ia melirik lembut ke arah Nadya, menyadari perubahan raut wajah istrinya yang mendadak serius.
"Ada apa, Dek? Ada masalah di kantor?"
Nadya dengan cepat menguasai diri dan menyunggingkan senyum menenangkan agar suaminya tidak terbebani di pagi hari.
"Oh, tidak ada apa-apa, Mas. Cuma laporan rutin dari Siska soal berkas jadwal meeting nanti siang."
Ia sengaja menyembunyikan foto itu untuk sementara waktu dari Armand.
Nadya tahu betul suaminya sedang fokus penuh pada proyek produksi seragam baru, dan ia tidak ingin pikiran Armand terganggu oleh kelakuan mantan istrinya.
Namun di dalam hati, kewaspadaan Nadya makin meningkat.
Siapa pun pria atau pihak yang sedang dihubungi oleh Sarah di dalam foto itu, Nadya yakin perempuan serakah tersebut sedang menyusun rencana kotor baru untuk mengusik kehidupan rumah tangga dan bisnisnya.
"Ayo Mas, habiskan sarapannya. Setelah ini kita berangkat," ajak Nadya lembut, seraya mengetik pesan balasan singkat pada Siska untuk segera melacak detail riwayat panggilan telepon Sarah malam itu.
Armand menganggukkan kepalanya dan segera menghabiskan sarapannya.
Selesai sarapan mereka berdua berangkat menuju ke perusahaan.
Perjalanan menuju kantor pagi itu dilalui dengan suasana yang relatif tenang, meski di balik senyum manisnya, pikiran Nadya terus berputar menyusun strategi.
Armand yang menyetir mobil dengan lihai sesekali menggenggam tangan istrinya di atas tuas transmisi, menyalurkan rasa aman dan kehangatan yang membuat Nadya sedikit lebih tenang.
Begitu mobil mereka memasuki area parkir khusus pimpinan di basement gedung kantor, Armand mematikan mesin lalu menoleh pada Nadya.
"Mas, langsung turun ke ruang produksi ya, Dek. Hari ini target kita menyelesaikan tahap awal pemotongan bahan utama untuk seragam divisi operasional," ujar Armand dengan sorot mata penuh semangat.
"Iya, Mas. Hati-hati dan jangan terlalu memaksakan diri, ya," balas Nadya lembut sambil merapikan kerah kemeja suaminya.
Armand tersenyum, mengecup kening Nadya sekilas sebelum mereka berdua turun dari mobil.
Keduanya berpisah di lantai divisi produksi. Armand melangkah mantap masuk ke ruangannya di mana kelima asistennya sudah bersiap dengan peralatan kerja mereka.
Sementara itu, Nadya melanjutkan perjalanannya menuju lantai teratas menggunakan lift eksekutif.
Begitu pintu lift terbuka di lantai ruang pimpinan, Siska sudah berdiri menunggunya dengan raut wajah yang sangat serius.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Siska setengah berbisik begitu Nadya melangkah keluar.
"Pagi, Siska. Ikut aku ke dalam," perintah Nadya tegas tanpa menghentikan langkahnya.
Pintu ruang kerja CEO tertutup rapat. Nadya langsung melepas blazer kremnya dan menyampirkannya di sandaran kursi kerja, lalu menatap sekretaris kepercayaannya itu dengan tatapan menuntut.
"Bagaimana? Apa detektif sudah mendapatkan riwayat panggilan dan identitas pria yang ditelpon Sarah semalam?" tanya Nadya tanpa berbelit-belit.
Siska melangkah mendekat dan meletakkan sebuah map dokumen tipis di atas meja kerja Nadya.
"Sudah, Nyonya. Tim berhasil melacak sinyal dan detail percakapan singkat semalam melalui jaringan pribadi. Pria yang ditelpon Sarah adalah Rian," terang Siska dengan suara rendah.
Mendengar nama itu, alis Nadya terangkat tajam. Matanya membelalak kecil sebelum akhirnya berubah menjadi tatapan dingin yang sarat akan rasa jijik dan kemarahan.
"Rian?" desis Nadya, mengingat kembali sosok pria pengusaha angkuh yang beberapa tahun lalu pernah mengejarnya secara agresif dan melampiaskan kemarahannya saat ditolak mentah-mentah.
"Jadi, perempuan serakah itu bersekutu dengan pria yang sakit hati padaku?"
"Benar, Nyonya," jawab Siska mantap.
"Dari rekaman pembicaraan yang berhasil disadap, mereka berencana mengadakan pertemuan tatap muka nanti malam di sebuah restoran untuk membahas rencana sabotase proyek seragam baru perusahaan kita."
Nadya menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin di bibirnya.
Ia menyandarkan punggungnya di kursi, menopang dagunya dengan jemari yang terikat rapi.
"Rian dan Sarah, dua orang frustrasi yang disatukan oleh rasa dendam dan ketamakan," gumam Nadya sinis. Ia lalu menatap Siska dengan tajam.
"Biarkan mereka bertemu malam ini. Minta tim detektif merekam seluruh pembicaraan mereka, lengkap dengan bukti visual dan audio. Kita akan biarkan mereka merasa di atas angin, sebelum aku meruntuhkan kedua benalu itu sekaligus."
Siska menganggukkan kepalanya dan setelah itu ia kembali ke meja kerjanya .
Di ruang produksi, suasana terasa sangat dinamis dan dipenuhi aura kerja keras yang positif.
Suara desing mesin jahit modern beradu ritmis dengan gesekan kain premium yang dipotong di atas meja besar.
Armand berdiri mengawasi setiap sudut ruangan dengan ketelitian seorang profesional sejati.
Dengan kapur kain di tangan dan pita pengukur melingkar di lehernya, Armand tak ragu turun tangan membenarkan detail garis potongan salah satu asistennya yang kurang presisi.
"Ingat, potongannya harus benar-benar mengikuti serat kain ini," ujar Armand lembut namun tegas pada asisten di sampingnya.
"Kalau seratnya miring sedikit saja, saat dipakai nanti jatuhnya pakaian tidak akan simetris dan mengurangi kenyamanan."
"Baik, Pak Armand. Terima kasih petunjuknya," jawab asisten itu kagum akan ketelitian sang atasan.
Kelima anggota timnya bekerja dengan penuh rasa hormat. Armand bukan tipe pimpinan yang hanya memberi perintah dari jauh, melainkan sosok mentor yang mengayomi dan mengajarkan teknik-teknik jahit kelas atas secara cuma-cuma.
Di bawah bimbingannya, target pengerjaan sampel seragam berjalan jauh lebih cepat dan rapi dari yang dijadwalkan.
Namun, di sela-sela kesibukannya memeriksa hasil jahitan pertama, pergelangan tangan Armand mendadak berhenti.
Sebuah perasaan tak enak berdesir halus di dalam dadanya.
Armand teringat pada raut wajah Nadya tadi pagi saat melihat ponselnya di meja makan.
Meskipun Nadya bilang itu cuma berkas kantor, sorot matanya tadi tidak bisa berbohong, batin Armand cemas.
"Ada sesuatu yang disembunyikan Nadya dariku."
Armand menghembuskan napas perlahan. Ia tahu betul istrinya adalah wanita cerdas dan mandiri yang selalu berusaha melindunginya dari stres, tetapi Armand juga tidak ingin hanya menjadi pihak yang selalu dilindungi.
Ia adalah suami, pelindung keluarga, dan ia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun mengusik ketenangan hidup mereka lagi.
Menjelang sore hari, pengerjaan sampel seragam divisi operasional akhirnya rampung dengan sempurna.
Hasilnya begitu memukau—potongan yang presisi, jahitan yang sangat rapi, serta bahan yang terasa mewah namun tetap kokoh.
"Kerja bagus semuanya untuk hari ini," puji Armand sambil tersenyum bangga pada seluruh timnya.
"Kalian bisa beres-beres dan bersiap pulang."
Setelah ruang produksi dirapikan, Armand membersihkan tangannya dan berjalan menuju lift untuk menemui Nadya di lantai atas.
Saat ia melangkah di koridor menuju ruang kerja CEO, ia melihat Siska baru saja keluar dari ruangan Nadya dengan raut wajah yang cukup tegang.
"Pak Armand," sapa Siska sedikit kaget, namun dengan cepat menutupi keterkejutan itu dengan senyuman profesional.
Armand menghentikan langkahnya dan menatap sekretaris istrinya itu dengan pandangan tajam namun tenang.
"Siska, boleh kita bicara sebentar?"
"Boleh, Pak. Kita ke pantry saja."
Armand mengangguk kecil dan berjalan menuju ke pantry bersama Siska.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,