Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Membelah Angin
Angin senja bertiup melewati Arena Utama Sekte Daun Angin, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Namun, ribuan penonton di tribun tidak merasakan dingin tersebut. Darah mereka mendidih, mata mereka terpaku pada panggung batu raksasa di tengah alun-alun.
Babak Final. Pertarungan puncak yang akan menentukan siapa penguasa sejati Sekte Luar.
Di satu sisi berdiri Wu Jian, pemuda tampan berjubah biru muda yang tak tersentuh. Sebagai Murid Luar Peringkat Pertama di Alam Pengumpul Qi Tingkat Delapan, ia adalah kebanggaan sekte, seorang jenius yang diramalkan akan menembus Alam Fondasi Roh sebelum usianya menginjak dua puluh tahun.
Di sisi lain, berdiri Awan. Seragam pelayannya yang berwarna abu-abu telah robek di beberapa bagian, memperlihatkan otot-otot tembaganya yang berkeringat. Napasnya teratur, matanya datar, dan tangannya dengan kokoh menggenggam pedang Kayu Besi Hitam yang permukaannya sudah dipenuhi bekas benturan.
Dua dunia yang sangat berbeda, kini berhadapan di atas satu panggung.
"Tahukah kau apa perbedaan antara kita berdua, Fana?" suara Wu Jian memecah keheningan. Ia perlahan mencabut pedangnya dari sarung di pinggangnya. Bilah pedang itu berwarna perak mengkilap, memancarkan hawa dingin yang membuat uap air di udara sekitarnya membeku. Itu adalah Pedang Salju Jatuh, senjata spiritual tingkat menengah!
"Bakat? Kekayaan? Garis keturunan?" tebak Awan datar.
Wu Jian menggeleng pelan. "Bukan. Perbedaan kita adalah Pemahaman. Kau melihat pedang sebagai alat untuk memukul, layaknya seorang pandai besi memukul besi panas. Tapi bagi kultivator, pedang adalah perpanjangan dari hukum alam. Kau menggunakan tenaga, sementara aku... menggunakan dunia."
Begitu kalimat itu selesai, mata Wu Jian menyipit tajam. Ledakan Qi Spiritual berwarna biru es meletus dari Dantiannya, menciptakan pilar energi yang menjulang ke udara. Tekanan spiritual dari Alam Pengumpul Qi Tingkat Delapan menyapu arena layaknya badai, membuat para Murid Luar di tribun harus menahan napas karena dada mereka terasa sesak.
Bahkan dari jarak belasan meter, Awan bisa merasakan kulitnya seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum tak kasat mata.
Dia berbeda dari lawan-lawanku sebelumnya. Qi-nya sangat padat, batin Awan. Kuda-kudanya merendah, otot betisnya mencengkeram lantai batu.
"Wasit, mulailah," ucap Wu Jian tanpa menoleh.
Wasit yang sedari tadi menelan ludah dengan gugup segera mengayunkan tangannya ke bawah. "Pertarungan Final... Mulai!"
Wusss!
Dalam sekejap mata, Wu Jian menghilang dari pandangan. Bukan berlari cepat seperti Lin Feng, melainkan benar-benar menyatu dengan aliran angin.
Mata Awan melebar. Insting bertarungnya yang diasah di ambang kematian berteriak memperingatkan bahaya dari arah kiri. Tanpa berpikir, Awan memutar pinggulnya dan mengangkat pedang kayunya untuk menangkis.
TRANG!
Suara benturan logam bergema tajam. Pedang Salju Jatuh milik Wu Jian telah berada di sana, beradu langsung dengan Kayu Besi Hitam.
Untuk pertama kalinya dalam turnamen ini, kaki Awan terseret mundur sejauh tiga langkah akibat benturan tersebut. Tenaga Qi yang melapisi pedang perak itu menembus pertahanan fisiknya, meninggalkan luka sayatan panjang di lengan kiri Awan. Darah segar menetes jatuh ke ubin batu.
"Reaksimu lumayan," bisik Wu Jian yang kini berada tepat di depan Awan. Senyum dingin terukir di bibirnya. "Tapi itu tidak cukup!"
Wu Jian menarik pedangnya dan melancarkan serangan beruntun.
"Seni Pedang Angin Berhembus: Hujan Jarum Es!"
Bilah perak itu bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menciptakan belasan bayangan pedang yang menyerang titik-titik vital Awan secara bersamaan. Angin dingin membekukan luka Awan, membuat pergerakan ototnya menjadi kaku.
Awan mengayunkan pedang kayunya yang berat ke kiri dan ke kanan, memutar tubuhnya seperti gasing untuk menahan gempuran tersebut.
BAM! TRANG! BAM! TRANG!
Serpihan Kayu Besi Hitam berterbangan di udara. Pedang kayu yang mampu menghancurkan zirah batu Gao Shan itu, kini teriris sedikit demi sedikit oleh Qi tajam milik Wu Jian. Setiap kali Awan berhasil menangkis satu serangan, dua serangan lain lolos dan menyayat tubuhnya.
Paha, bahu, dada, dan pipi Awan mulai dipenuhi luka sayatan dangkal. Darah mewarnai seragam abu-abunya menjadi merah gelap.
Tribun penonton bersorak histeris.
"Kakak Senior Wu memang luar biasa! Dia bahkan tidak menggunakan setengah kekuatannya!"
"Matilah kau, Pelayan! Sadari tempatmu yang hina itu!"
Di atas panggung, Awan terus terdesak mundur. Otot-ototnya menjerit kelelahan menahan hawa dingin yang meresap ke dalam tulangnya. Paru-parunya membakar udara, mencoba memompa lebih banyak oksigen.
Gerakannya terlalu cepat. Aku tidak bisa melihat bilah pedangnya. Mataku tidak bisa mengikutinya, Awan menganalisis situasinya dengan sangat tenang di tengah hujanan serangan mematikan.
Jika ia tidak bisa melihat pedangnya, lalu apa yang harus ia tebas?
Sebuah kenangan melintas di benak Awan. Saat ia membelah Kayu Besi Hitam di Dapur Selatan, ada kalanya ia menemui batang kayu dengan serat yang sangat rumit dan cacat. Jika ia memaksakan tebasannya secara frontal, kapaknya akan terpental. Cara membelahnya adalah dengan melihat aliran urat kayunya, mencari titik pusat di mana semua serat itu berawal, dan membelah pusatnya.
Angin yang dikendalikan oleh Wu Jian juga memiliki "serat".
Awan memejamkan matanya.
Tindakannya itu membuat seluruh arena terkesiap. Menutup mata di tengah serangan beruntun seorang jenius pedang sama saja dengan bunuh diri!
"Menyerah pada nasibmu, ya? Pilihan yang bijak!" Wu Jian mendengus meremehkan. Ia melompat ke udara, memusatkan seluruh Qi biru es ke pedang peraknya. Hawa dingin di panggung mencapai titik puncaknya. "Selesaikan ini! Tebasan Pemutus Angin Utara!"
Pedang perak itu meluncur turun bagai sambaran petir beku, menargetkan bahu kanan Awan, bermaksud membelah tubuh pemuda itu hingga ke pinggang.
Awan tidak melihat pedang itu dengan matanya. Ia merasakannya.
Ia merasakan perubahan tekanan udara di sekitarnya. Ia merasakan arah aliran angin yang ditarik oleh pedang Wu Jian. Seperti serat kayu yang rumit, semua pusaran angin itu berpusat pada satu titik: pergelangan tangan Wu Jian!
Di detik terakhir sebelum pedang perak itu membelah tubuhnya, Awan membuka matanya. Tidak ada keputusasaan, yang ada hanyalah ketajaman predator yang siap memangsa.
Awan mengabaikan pertahanan sama sekali. Ia membiarkan bahu kirinya terbuka lebar menyambut serangan Wu Jian, sementara ia mencengkeram gagang Kayu Besi Hitamnya dengan kedua tangan, menariknya sejajar dengan pinggang, dan melontarkan sebuah tusukan frontal dengan tenaga ledak yang mengerikan.
Jurus Dasar: Menusuk!
Bukan ke arah dada, bukan ke arah kepala, melainkan lurus ke pusaran angin di pergelangan tangan kanan Wu Jian!
Semuanya terjadi dalam seperseribu detik.
SRASH!
KRAK!
Dua suara mengerikan terdengar secara bersamaan.
Pedang perak Wu Jian berhasil menembus bahu kiri Awan, merobek otot dan menggores tulang selangkanya, menyemburkan darah segar ke udara. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh saraf pemuda fana itu.
Namun, di saat yang bersamaan, ujung pedang Kayu Besi Hitam Awan yang tumpul namun diisi oleh puluhan ton tenaga kinetik, menghantam telak pergelangan tangan Wu Jian.
Wu Jian membelalakkan matanya ngeri. Qi pelindung di lengannya hancur seketika layaknya kaca yang ditabrak kereta kuda. Tulang pergelangan tangannya remuk berkeping-keping.
"AARGHHH!"
Wu Jian menjerit kesakitan. Pedang Salju Jatuh terlepas dari genggamannya dan jatuh berdenting di lantai batu.
Hantaman Awan belum berhenti. Tanpa menarik pedangnya, Awan menggunakan sisa tenaganya untuk menggeser bahunya, memutar pedang kayunya, dan menggunakan gagang pedangnya untuk menghantam rahang Wu Jian dari bawah.
DUAAGH!
Tubuh jenius Peringkat Pertama itu terangkat dari tanah. Darah dan gigi patah menyembur dari mulutnya saat ia terpental ke udara. Wu Jian melayang sejauh delapan meter sebelum mendarat dengan punggung menghantam ubin batu dengan keras. Ia berguling beberapa kali, menutupi tangannya yang patah, dan tak sanggup lagi berdiri.
Arena Utama seketika jatuh ke dalam keheningan yang paling mematikan sejak berdirinya sekte. Ribuan murid menahan napas, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Mulut mereka terbuka, mata mereka menatap tak percaya.
Di tengah panggung yang berlumuran darah, Awan berdiri goyah.
Pedang perak Wu Jian masih menancap di bahu kirinya. Tubuhnya dipenuhi puluhan luka sayatan. Darahnya menetes deras, membentuk genangan merah di bawah kakinya. Tangannya gemetar hebat karena kehilangan tenaga, tetapi genggaman tangan kanannya pada Kayu Besi Hitam tidak pernah mengendur.
Pemuda itu menghela napas panjang, uap putih mengepul dari mulutnya di tengah udara dingin. Ia menatap ke arah tribun Tetua dengan pandangan lurus.
Manusia fana itu... baru saja menumbangkan puncak dari Alam Pengumpul Qi.
"Siapa yang bilang..." suara Awan terdengar serak namun bergema jelas di tengah kesunyian mutlak itu. "...bahwa langit tidak bisa ditebas dengan sepotong kayu?"