Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 Pria yang Seharusnya Sudah Mati
Ting...
Bel toko berbunyi pelan.
Suara itu sederhana.
Namun berhasil membuat seluruh ruangan membeku.
Henri perlahan mengangkat telunjuk ke bibirnya.
Jangan bersuara.
Aku menahan napas.
Di lantai atas terdengar langkah kaki memasuki toko.
Pelan.
Teratur.
Tidak terburu-buru.
Orang itu berjalan seperti seseorang yang sudah mengenal tempat ini selama bertahun-tahun.
Tok...
Tok...
Tok...
Camille menelan ludah.
Tangannya mulai gemetar.
"Henri..."
bisiknya.
"Itu benar dia?"
Henri mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari pintu rahasia.
"Aku tidak mungkin lupa suara langkahnya."
Aku mengangkat tangan pelan.
"Maaf..."
Léo langsung menyenggolku.
"Apa lagi?"
"Kalau memang orang itu sudah mati..."
"...kenapa sekarang dia bisa jalan?"
Léo mengangguk.
"Itu pertanyaan bagus."
Henri menatap kami berdua.
"Kalian..."
"...selalu bertanya di waktu yang salah."
Aku mengangkat bahu.
"Aku penasaran."
── Maël kepada kalian ──
Aku punya penyakit.
Namanya...
Tidak bisa diam.
Kalau ada rahasia...
Aku ingin tahu.
Kalau ada pintu terkunci...
Aku ingin buka.
Kalau ada tulisan "Dilarang Masuk."
...
Biasanya aku sudah masuk duluan.
Jangan ditiru.
Serius.
── Kembali ke cerita ──
Di atas...
Suara pria itu kembali terdengar.
"Permisi?"
"Apa ada orang?"
Camille memejamkan mata.
"Aku harus keluar."
Henri langsung menggeleng.
"Tidak."
"Kalau aku tidak keluar..."
"...dia akan curiga."
Ruangan kembali sunyi.
Henri akhirnya mengangguk pelan.
"Hati-hati."
Camille menarik napas panjang.
Lalu keluar melalui rak buku rahasia.
Klik.
Rak kembali menutup.
Kini kami hanya bisa mendengar suara dari balik dinding.
"Bonjour."
sapa Camille.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Suara pria itu terdengar ramah.
"Aku mencari sebuah buku."
"Buku apa?"
"Le Petit Prince."
Aku mengerutkan dahi.
"Cuma beli buku?"
bisikku.
Henri menggeleng.
"Itu sandi."
"Hah?"
"Kalau seseorang meminta buku itu..."
"...berarti dia sedang memastikan apakah tempat ini masih menjadi markas."
Aku melongo.
"Orang-orang tua memang suka ribet."
Percakapan di luar masih berlanjut.
"Sayangnya stoknya habis."
jawab Camille.
"Itu jawaban yang benar."
bisik Henri.
"Lalu?"
"Kalau dia benar-benar teman..."
"...dia akan menjawab."
Beberapa detik hening.
Lalu pria itu berkata,
"Kalau begitu..."
"...aku akan menunggu burung layang-layang pulang."
Henri langsung mengepalkan tangannya.
"Buka."
katanya.
"Apa?"
"Itu jawaban lama."
"Dia memang salah satu dari kita."
Aku mengernyit.
"Jadi dia teman?"
Henri tidak menjawab.
Wajahnya justru semakin serius.
"Itulah yang membuatku takut."
Rak buku perlahan bergeser.
Klik...
Seorang pria masuk.
Usianya sekitar lima puluh tahun.
Tubuhnya tinggi.
Jas abu-abu yang dikenakannya tampak sederhana.
Rambutnya mulai memutih.
Di tangannya hanya ada payung hitam.
Tidak membawa senjata.
Tidak membawa tas.
Namun...
Tatapannya membuat seluruh ruangan terasa lebih dingin.
Begitu melihat Henri...
Ia tersenyum.
"Sudah lama."
Henri membalas datar.
"Seharusnya kau tetap mati."
Pria itu tertawa kecil.
"Aku juga berpikir begitu."
Aku menatap mereka bergantian.
Lalu mengangkat tangan.
"Maaf."
Keduanya menoleh.
"Kalian kalau ngobrol..."
"...selalu seperti tokoh film?"
Léo menahan tawa.
"Aku juga mau nanya itu."
Pria asing itu menoleh kepadaku.
Matanya berhenti cukup lama.
Kemudian...
Ia tersenyum.
"Jadi..."
"...kau benar-benar masih hidup."
Aku mengangkat alis.
"Harusnya tidak?"
"Menurut banyak orang..."
"...iya."
Henri berdiri di depanku.
Melindungiku lagi.
"Katakan tujuanmu."
Pria itu menghela napas.
"Aku datang bukan untuk bertengkar."
"Lalu?"
"Aku ingin melihat anak itu."
"Sudah."
"Sekarang pergilah."
Pria itu menggeleng pelan.
"Henri."
"Kau masih sama."
"Keras kepala."
Henri tersenyum tipis.
"Dan kau..."
"...masih pandai berbohong."
── Maël kepada kalian ──
Aku benar-benar tidak mengerti.
Orang-orang tua ini...
Setiap kalimat yang mereka ucapkan...
Selalu terdengar penting.
Padahal kalau dijelaskan baik-baik...
Mungkin percakapannya selesai dalam lima menit.
── Kembali ke cerita ──
Pria itu akhirnya berjalan mendekat.
Aku refleks mundur satu langkah.
Namun ia berhenti sekitar dua meter dariku.
"Namaku..."
katanya pelan.
"Étienne Moreau."
Ia mengulurkan tangan.
Aku melihat Henri.
Henri tidak berkata apa-apa.
Aku akhirnya menjabat tangannya.
Aneh.
Tangannya hangat.
Tidak seperti yang kubayangkan.
"Maaf."
kataku.
"Tapi..."
"...apa kita pernah bertemu?"
Étienne tersenyum.
"Belum."
"Lalu kenapa semua orang mengenalku?"
Ia menatapku cukup lama.
Karena...
"...aku pernah menggendongmu."
Ruangan mendadak sunyi.
Aku tertawa kecil.
"Itu lelucon?"
"Tidak."
"Kau masih bayi."
"Sangat kecil."
"Kau suka menangis kalau hujan."
Aku membeku.
Bagaimana mungkin...
Orang asing tahu hal seperti itu?
Étienne mengeluarkan dompet kulit tua dari sakunya.
Lalu mengeluarkan sebuah foto.
Foto itu sudah pudar.
Di dalamnya ada seorang perempuan yang sama dengan foto ibuku.
Di sampingnya...
Seorang pria muda.
Dan di tengah...
Seorang bayi yang dibungkus selimut biru.
Étienne menyerahkan foto itu kepadaku.
"Itu..."
"...keluargamu."
Tanganku gemetar.
Aku melihat wajah ibu yang sama.
Lalu bayi itu.
Mungkin benar.
Itu aku.
Tapi...
Siapa pria di sebelah ibu?
Sebelum sempat bertanya...
Étienne berkata pelan,
"Pria di foto itu..."
"...bukan ayahmu."
Aku langsung mengangkat kepala.
"Apa?"
Henri memukul meja.
"CUKUP!"
Étienne menatapnya tenang.
"Kau tidak bisa terus menyembunyikan semuanya."
"Dia belum siap."
"Justru karena itu..."
"...dia harus tahu sebagian kebenarannya."
Aku memandangi kedua pria tua itu.
Untuk pertama kalinya...
Aku merasa mereka tidak sedang memilih antara benar dan salah.
Mereka sedang memilih...
Kebenaran mana yang paling tidak menyakitkan untukku.
Dan aku mulai sadar.
Perjalanan mencari masa laluku...
Baru saja memasuki bagian yang paling berbahaya.