Desi adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri, saat ini ia memiliki 3 orang anak. Si sulung bernama Bagas, adiknya Rafi dan si bungsu bernama Aqilla. Jarak umur mereka rata-rata 2 tahun. Kehidupan rumah tangga Desi awalnya baik-baik saja. Namun, kebutuhan ekonomi yang kian mendesak membuat suami Desi mencoba mencari pekerjaan di luar kota. Suami Desi bekerja di luar kota demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, siapa sangka ternyata Ridwan menikah lagi diam-diam tanpa sepengetahuan Desi. Akibatnya, Ridwan menjadi abai dengan nafkah untuk anak-anaknya. Bahkan seringkali tidak memberi nafkah sama sekali, sehingga Desi harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ya, anak-anaknya memiliki ayah tapi nasib mereka tak jauh berbeda dari anak yatim yang tidak memiliki ayah. Bahkan terkadang untuk makan pun Desi harus berhutang. Sungguh menyedihkan kehidupannya. Pernikahannya bagai tergantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayuk riyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Ibu Mertua
Alhamdulillah, akhirnya Bagas sudah diijinkan pulang oleh Dokter. Sesampainya di rumah, Desi disibukkan oleh pekerjaan rumah yang rasanya tidak habis-habis, apalagi dengan adanya ibu mertua yang sibuk ikut mengatur ini dan itu. Terkadang omongan ibu mertua Desi sangat pedas, seperti tidak disaring dulu kalau bicara dan selalu nyakitin hati. Sabar Desi sabar, biar bagaimanapun, beliau adalah orang tua yang tetap harus dihormati.
"Desi, kamu harus perhatikan baik-baik makan anakmu, jangan sampai terlambat makan." , ucap ibu mertua Desi.
"Iya ma, setiap hari saya selalu memasak tepat waktu, mama tau sendiri kan kalau mas Ridwan nggak suka makanan beli. Lebih suka masakan sendiri." , jawab Desi.
"Iya, memang begitu seharusnya. Walaupun istri bekerja tetap harus perhatikan makan anak-anak apalagi suami." , ucap nenek Bagas.
"Iya ma." , jawab Desi.
Sore itu, Desi memasak didampingi ibu mertua tersayang. Desi tidak pernah membantah semua yang dikatakan oleh ibu mertuanya.
Esok harinya, Desi sudah kembali beraktifitas di sekolah nya. Setelah 3 hari tidak masuk, hari ini Desi sudah masuk kembali. Namun, Bagas masih ijin karena kesehatannya belum pulih benar. Di rumah, Bagas ditemani oleh neneknya dan juga mbok Muna.
Setelah sarapan, Bagas minum obat kemudian istirahat sambil menonton tv.
"Mbok, bantu saya pindahin rak piring ini mbok, sudah saya keluarkan semua isinya, jadi tidak berat digeser." , perintah nenek Bagas.
"Ya Allah ibu, kok berantakan gini." , ucap mbok Muna.
"Jangan ribut mbok, kerjain aja apa yang saya suruh mbok." , jawab nenek Bagas.
Mbok Muna hanya bisa patuh disuruh ini dan itu. Sedikit banyak mbok Muna sudah mengerti sifat dari nenek nya Bagas. Tidak mau dibantah bila ada kemauannya harus dituruti.
Akhirnya, rak piring sudah berpindah posisi.
"Mbok, sekarang bantu saya memasukkan piring-piring ini ke dalam rak piring. Kalau begini kan rapi mbok, enak diliatnya." , ucap nenek Bagas.
"Iya bu. Biar mbok yang rapikan. Ibu duduk aja nemenin Bagas di depan sambil nonton tv." , jawab mbok Muna.
"Iya mbok, yang rapi ya mbok. Biar mamanya Bagas kaget pas pulang nanti." , jawab nenek Bagas.
"Pasti bu, kaget, sampe pingsan dah nanti mamanya Bagas, hehehe...." , jawab mbok Muna sambil ketawa.
Dalam hati mbok Muna, 'Kalau nenek datang pasti dah semua dirubah.' , sambil geleng-geleng kepala.
"Sudah rapi mbok?" , tanya nenek Bagas sambil teriak dari ruang tamu.
"Sebentar lagi bu." , jawab mbok Muna.
"Iya mbok, cepat. Nanti keburu pulang itu Nyonya besar mbok." , ucap nenek Bagas.
"Iya bu, tenang, tenang." , jawab mbok Muna.
Nenek menemani Bagas sambil nonton tv.
"Bagas, sudah enakan belum badannya?" , tanya nenek.
"Sudah nek." , jawab Bagas.
"Syukurlah, cucu nenek pintar, jangan sakit lagi ya, nanti kalau sudah besar Bagas mau jadi apa?" , tanya nenek.
"Bagas mau jadi tentara nek, gagah nek. Siap grak, hormat grak....hehehe..." , jawab Bagas sambil dipraktekkan.
"Aamiin, hebat cucu nenek. Semoga tercapai ya." , jawab nenek.
"Aamiin, makasih doanya nek." , jawab Bagas.
Siang hari, Desi pulang dari sekolah. Dia sudah tidak kaget lagi dengan perubahan posisi barang-barang di rumahnya. Rak piring, meja makan bahkan letak tempat bumbu juga semua berubah.
'Ini pasti kerjaan mama.' , ucap Desi lirih.
Desi sudah hafal dengan sifat ibu mertuanya.
Selagi tidak merugikan, Desi akan terima apapun itu. Bahkan, selama ini, Desi termasuk menantu yang penurut, sebisa mungkin dia menuruti keinginan ibu mertuanya. Berbanding terbalik dengan ayah mertua yang lebih bijaksana dalam memberikan nasehat atau apapun dalam berkata juga lebih sopan. Tapi Desi masih memakluminya karena ibu mertuanya hanya lulusan SMP. Mama pernah bilang katanya dulu sempat sekolah guru, zaman dulu namanya SPG tapi ngambek tidak mau sekolah karena tidak dibelikan sepeda. Akhirnya, mama berhenti sekolah. Desi hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar cerita mertuanya.
Malam hari, ayahnya Bagas pulang dari jaga. Ridwan senang jika ada mamanya di rumah karena menu makan nya pasti ada sambal mentah kesukaannya. Sebenarnya, Desi juga sering membuat sambal mentah tapi mungkin beda rasanya, maklum walaupun sama-sama tinggal di Bogor tapi aslinya kedua orang tua Desi berasal dari Jawa Tengah, sedangkan orang tua Ridwan berasal dari Bandung, Jawa Barat.
"Wah, menu makan malam ini beda, pasti mama yang masak." , ujar Ridwan.
"Iya, ini mama yang masak semuanya. Makan yang banyak biar sehat nggak gampang sakit." , jawab mama sambil melirik Desi.
"Iya pasti ma. Ayok anak-anak, habisin, makan yang banyak." , perintah Ridwan.
"Iya ayah." , jawab anak-anak bersamaan.
Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang tamu sambil menonton tv, kecuali Desi. Dia masih merapikan piring-piring bekas makan malam. Setelah selesai baru Desi ikut bergabung.
"Bagas, besok nenek pulang ke Bandung, Bagas baik-baik jaga kesehatan ya, jangan sakit lagi." , ucap nenek pada Bagas.
"Iya nek. Besok nenek siapa yang ngantar?" , tanya Bagas.
"Nenek diantar ayah sampai terminal aja. Kalau di Bandung nanti kakek yang jemput." , jawab nenek Bagas.
"Mama hati-hati di jalan. Ini ada sedikit uang buat tambah-tambah ongkos naik bus nek." , ucap Desi sambil menyerahkan beberapa lembar uang merah pada nenek Bagas.
Itu adalah uang dari orang-orang yang datang jenguk Bagas di rumah sakit kemarin.
"Iya, makasih ya." , jawab nenek sambil mengambil uang di tangan Desi.
"Sama-sama ma." , jawab Desi.
Esok paginya, Desi seperti biasa memasak untuk mereka sarapan. Juga menyiapkan bekal untuk Bagas dan Rafi juga nenek membawa bekal juga untuk di jalan nanti.
Setelah selesai, mereka sarapan bersama-sama. Habis itu, Ridwan mengantar ibunya ke terminal, sementara Desi dan Bagas berjalan kaki seperti biasa. Ya, Bagas sudah mulai membaik dan masuk kembali ke sekolah. Sementara Rafi dan Aqilla mbok Muna yang mengurus.
Sepanjang jalan, Bagas bercerita bahwa hari ini, dia begitu senang bisa masuk sekolah kembali. Desi pun ikut menanggapi setiap cerita Bagas.
"Mama, aku senang sekali hari ini, bisa ketemu teman-teman lagi." , ucap Bagas.
"Iya sayang, alhamdulillah ya. Pasti teman-teman Bagas kangen nie sama anak mama yang gemoy ini." , jawab Desi sambil tertawa riang.
"Aku sudah kurus mama, nggak gemoy lagi. Mama jahat." , jawab Bagas.
"Iya sayang. Maafin mama ya. Maksud mama, gemoy itu lucu, gemes gitu, bukan ndut." , jawab Desi.
"Iya deh mama. Aku nggak marah kok." , ucap Bagas.
"Iya sayang. Ayok cepat sedikit jalan nya, itu sudah dekat sekolah nya." , ucap Desi lagi.
"Siap mama." , ucap Bagas.
Sesampsinya di sekolah, Bagas segera berlari menemui teman-temannya dan mereka saling bercengkrama dan melepas rindu. Padahal baru sekitar seminggu Bagas tidak masuk.
'Alhamdulillah, anakku sudah sehat kembali.' , lirih Desi di dalam hati.
Kemudian, Desi segera berjalan menuju ruang guru dengan hati riang.
pulang juga desi masih mau di tiduri ma laki nya pdhl laki nya gk peduli ma mereka kerja jauh krn punya gundik. desi tau tp masih mau berarti desi yg kecintaan ma lakinya. pdhl anak anak juga dia ngurus sendiri masih hrs kerja juga.
kl aku juga ogah jd desi.
kl Aku mnding cerai toh anak juga gk di nafkahi. cerai lbih jos bhgia walau tanpa suami.