Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: ANCAMAN DAN HATI YANG TEGUH
Keesokan paginya, langit Desa Samudra tampak cerah membentang tanpa seberkas awan. Embusan angin pagi membawa aroma tanah yang masih basah oleh embun, seolah menyambut hari baru dengan ketenangan yang menyejukkan. Begitu pula hati Rangga. Sejak membuka mata, senyum kecil tak pernah benar-benar lepas dari wajahnya. Bayangan malam sebelumnya terus berputar di kepalanya—permainan Wayang Wong, tawa teman-teman, hingga janji sederhana yang terucap di bawah cahaya bulan purnama.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah dasar, langkahnya terasa lebih ringan dari biasanya. Sesekali ia menendang kerikil kecil di jalan, lalu tersenyum sendiri ketika teringat wajah Denia yang tersipu malu. Di matanya, pagi itu dunia terasa jauh lebih indah.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Sesampainya di kelas, baru saja ia meletakkan tas di atas meja, sebuah bayangan besar menutupi pandangannya. Rangga mendongak. Senyum di wajahnya perlahan memudar.
Di hadapannya telah berdiri Bambang, kakak kelas lima yang bertubuh bongsor dan terkenal suka bertindak semaunya terhadap adik-adik kelas.
"Heh, Rangga..." sapanya dengan nada mengejek sambil menyandarkan tubuh di tepi meja. "Rangga, mau bengi jere Lilis, kon dolanan Wayang Wong terus dadi Dewa Kamajaya, terus Denia dadi Dewi Ratih. Emang Denia gelem karo kon?"
Beberapa anak yang berada di dalam kelas mulai melirik ke arah mereka. Ada yang pura-pura sibuk merapikan buku, ada pula yang saling bertukar pandang, menyadari nada bicara Bambang yang jelas sedang mencari perkara.
Rangga mengerutkan kening. Ia heran dari mana Bambang mengetahui kejadian semalam.
"Iya, Mbang. Lagi bengikan Padang Bulan. Kon ora teka sih mau bengi, nang apa?" jawabnya singkat, berusaha terdengar biasa saja.
Bambang menyeringai. Ia melangkah semakin dekat hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa jengkal.
"Tapi, Ngga... kon tak elingna, ya. Aja wani-wani demen karo Denia. Soale kae wis dadi incerane aku. Awas kon wani seneng karo Denia. Aku ora terima!"
Deg!
Kalimat itu menghantam dada Rangga seperti batu yang dijatuhkan dari tempat tinggi.
Jemari kecilnya refleks mencengkeram pinggiran meja. Rahangnya mengeras. Untuk sesaat ia benar-benar ingin membalas ucapan Bambang. Namun, bayangan wajah Denia yang tersenyum semalam seolah menahan amarahnya agar tidak meledak begitu saja.
Di sudut kelas, beberapa murid mulai menghentikan obrolan mereka. Suasana yang semula riuh mendadak berubah sunyi. Tak seorang pun berani menyela.
Rangga mengangkat wajahnya perlahan.
"Maksudmu apa, Mbang?" tanyanya dengan suara tenang, meski dadanya masih bergemuruh. "Kalau Denia mau berteman dengan siapa, itu hak dia sendiri."
Jawaban itu rupanya tidak disangka-sangka oleh Bambang.
Raut wajah kakak kelas itu langsung berubah. Senyumnya menghilang, berganti sorot mata yang tajam.
"Halah... kon ki bocah cilik sing durung ngerti apa-apa! Jangan sok berani menentang aku. Ingat saja kata-kataku ini, Ngga!"
Usai berkata demikian, Bambang mendengus kasar sebelum berbalik meninggalkan kelas.
Baru setelah sosoknya menghilang di balik pintu, suasana kembali mencair.
"Ngga, kamu nggak apa-apa?" bisik salah seorang teman sebangkunya.
Rangga hanya mengangguk pelan.
"Nggak apa-apa."
Meski begitu, jauh di dalam hatinya, ia tahu ancaman itu bukan sekadar gurauan.
Bel pelajaran pertama berbunyi.
Guru masuk ke kelas seperti biasa, membawa setumpuk buku pelajaran. Anak-anak segera duduk rapi, lalu pelajaran dimulai.
Namun, pikiran Rangga sama sekali tidak berada di dalam kelas.
Tangannya memang memegang pensil, matanya memang menghadap papan tulis, tetapi benaknya terus mengulang kata-kata Bambang.
"Aja wani-wani demen karo Denia..."
Kalimat itu terus bergema.
Berkali-kali ia mencoba memusatkan perhatian pada penjelasan guru, tetapi bayangan ancaman tadi selalu datang mengusik.
"Rangga."
Suara guru mendadak membuatnya tersentak.
"Iya, Bu?"
"Coba ulangi jawaban soal yang baru saja Ibu jelaskan."
Rangga terdiam beberapa detik. Wajahnya memerah karena tidak mampu menjawab.
Beberapa teman menoleh ke arahnya, tetapi tidak ada yang menertawakan. Mereka tahu sejak pagi Bambang sempat mendatanginya.
Guru hanya tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa. Lain kali lebih fokus, ya."
"Iya, Bu."
Rangga menundukkan kepala. Rasa malu menyelinap di dalam dada.
Sejak saat itu, ia memaksa dirinya kembali memperhatikan pelajaran. Apa pun yang terjadi, ia tidak ingin ancaman Bambang merusak tanggung jawabnya sebagai murid.
Meski demikian, hingga bel istirahat berbunyi, pikirannya masih belum benar-benar tenang.
Begitu bel istirahat berdentang, anak-anak berhamburan keluar kelas. Sebagian berlari menuju kantin, sebagian lagi berebut lapangan untuk bermain bola atau petak umpet. Suasana sekolah yang semula tenang seketika berubah riuh oleh gelak tawa dan teriakan khas anak-anak.
Rangga tidak ikut ke mana-mana.
Ia melangkah pelan menuju tempat yang selalu memberinya ketenangan: pohon beringin tua di pinggir lapangan sekolah. Pohon itu berdiri kokoh dengan akar-akar besar yang mencengkeram tanah, menaungi rerumputan yang selalu terasa sejuk meski matahari mulai meninggi.
Rangga duduk bersila di bawahnya. Pandangannya menerobos celah-celah dedaunan, mengarah ke kejauhan, ke atap rumah besar keluarga Denia yang tampak samar dari balik pepohonan.
Ia mengembuskan napas panjang.
"Kenapa dia bisa begitu, ya?" gumamnya lirih. "Padahal aku cuma ingin berteman dan menjaga Denia. Aku tidak pernah punya niat buruk."
Angin berembus perlahan, menggoyangkan daun-daun beringin hingga terdengar desir yang menenangkan. Rangga memejamkan mata sejenak, mencoba meredakan gejolak di dalam dadanya.
Tanpa sadar, ingatannya kembali pada malam sebelumnya.
Ia teringat permainan Wayang Wong, ketika semua orang tertawa menyaksikan tingkah mereka. Ia juga teringat bagaimana Denia menggenggam tangannya tanpa rasa canggung, lalu mengangguk saat mendengar janji polos yang ia ucapkan di bawah cahaya bulan.
Kenangan itu perlahan menghangatkan hatinya.
Kalau aku mundur hanya karena ancaman seorang kakak kelas, berarti aku tidak pantas menjadi Kamajaya.
Rangga membuka matanya kembali. Pandangannya jatuh pada akar-akar beringin yang mencengkeram tanah begitu kuat.
"Mungkin... menjadi pemberani bukan berarti harus berkelahi," gumamnya pelan. "Mungkin cukup tetap berdiri di tempat yang benar."
Pikiran itu membuat sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Ia bangkit, menepuk-nepuk celana yang dipenuhi serpihan rumput, lalu kembali menuju kelas dengan hati yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
Anak-anak berbondong-bondong meninggalkan kelas. Rangga memanggul tasnya, lalu melangkah keluar gerbang sekolah.
Tak jauh dari sana, Denia sudah menunggu sambil memeluk buku-bukunya. Begitu melihat Rangga, senyumnya langsung merekah. Namun, senyum itu perlahan memudar ketika menyadari wajah Rangga tampak lebih muram daripada biasanya.
"Rangga," panggilnya pelan. "Kok mukamu beda? Ada yang bikin sedih, ya?"
Rangga sempat terdiam. Ia sebenarnya tidak ingin membuat Denia ikut memikirkan persoalannya. Namun, tatapan gadis kecil itu terlalu tulus untuk dibohongi.
"Tidak apa-apa," ujarnya sambil mencoba tersenyum. "Cuma... ada orang yang tidak suka kalau kita sering bermain bersama."
Denia mengernyit.
"Siapa?"
"Bambang."
Nama itu membuat Denia menghela napas pelan. Ia memang mengenal Bambang sebagai anak yang sering bersikap semena-mena kepada adik kelas.
"Dia bilang aku tidak boleh dekat denganmu," lanjut Rangga. "Tapi kamu jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggumu."
Denia terdiam beberapa langkah. Kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia menyentuh pelan lengan Rangga.
"Terima kasih, ya."
Sentuhan sederhana itu membuat Rangga menoleh.
"Kalau begitu," lanjut Denia sambil tersenyum lembut, "kita tetap berteman seperti biasa saja. Biarkan mereka mau bilang apa."
Rangga mengangguk, meski kekesalan masih tampak di wajahnya.
"Bambang itu sudah kelas lima. Seharusnya dia tahu tata krama. Kenapa malah bertindak seolah-olah bisa mengatur hidup orang lain?"
Denia tidak langsung menjawab.
Ia justru memperlambat langkah, lalu menunjuk ke arah sebatang pohon beringin muda yang tumbuh di tepi jalan.
"Lihat pohon itu, Rangga."
Rangga mengikuti arah telunjuknya.
"Pohon itu masih kecil," lanjut Denia, "tapi batangnya tetap tegak. Angin boleh bertiup sekencang apa pun, tetapi selama akarnya kuat, pohon itu tidak akan mudah tumbang."
Ia menoleh sambil tersenyum.
"Kalau hatimu juga sekuat itu, omongan orang tidak akan bisa menggoyahkanmu."
Ucapan itu begitu sederhana, tetapi entah mengapa terasa mengendap dalam hati Rangga.
Ia kembali memandangi pohon kecil itu beberapa saat.
"Terima kasih, Denia," katanya tulus. "Kamu benar. Aku tidak boleh takut... dan aku juga tidak boleh mundur."
Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di persimpangan jalan desa.
Rangga menghentikan langkahnya.
"Kalau suatu hari nanti ada yang mengganggumu lagi, bilang saja kepadaku."
Denia tersenyum kecil.
"Iya."
Lalu gadis itu berlari kecil menuju rumahnya, sementara Rangga terus memandanginya hingga sosoknya menghilang di balik pepohonan.
Rangga melanjutkan langkah menuju rumah dengan hati yang jauh lebih tenang. Kata-kata Denia terus terngiang di benaknya. Entah mengapa, nasihat sederhana dari gadis itu terasa lebih ampuh daripada kemarahannya sendiri. Ia sadar, menghadapi orang seperti Bambang bukanlah dengan amarah, melainkan dengan keteguhan hati.
Sesampainya di rumah, aroma jagung rebus dan kayu bakar langsung menyambutnya. Di dapur, Emak tampak duduk di atas dingklik bambu sambil mengupas jagung hasil panen pagi tadi.
"Pulang, Nak?" sapa Emak sambil tersenyum.
"Iya, Mak."
Tanpa diminta, Rangga segera duduk di samping ibunya dan ikut membantu mengupas jagung. Jemarinya bekerja pelan, tetapi raut wajahnya masih menyimpan sesuatu yang membuat Emak segera menyadarinya.
"Ada yang mengganjal pikiranmu?"
Rangga sempat terdiam. Ia lalu menceritakan pertemuannya dengan Bambang di sekolah, ancaman yang diterimanya, hingga kekhawatirannya kalau suatu saat Denia benar-benar diganggu.
Emak mendengarkan tanpa sekali pun memotong cerita putranya. Setelah Rangga selesai, beliau meletakkan jagung yang sedang dikupas, lalu menatap anaknya dengan penuh kasih.
"Nak," ucapnya lembut, "orang sombong sering kali merasa dirinya paling besar karena belum pernah belajar menghargai orang lain."
Rangga mengangguk pelan.
"Kalau begitu aku harus bagaimana, Mak?"
"Tetaplah menjadi anak yang baik. Hadapi kesombongan dengan kebaikan. Orang yang suka mencari musuh akan lelah dengan sendirinya kalau tidak ada yang meladeninya."
Beliau mengusap pelan kepala Rangga.
"Ingat, keberanian itu bukan hanya soal berani melawan. Kadang, keberanian yang paling besar adalah mampu menahan diri saat amarah mengajak kita berbuat salah."
Nasihat itu meresap perlahan ke dalam hati Rangga. Kata-kata Emak seolah menyempurnakan petuah Denia sore tadi. Dua orang yang paling ia percaya memberikan pelajaran yang sama: tetaplah teguh tanpa kehilangan kebaikan.
Malam pun tiba.
Usai membantu membereskan rumah dan menyantap makan malam sederhana bersama kedua orang tuanya, Rangga masuk ke kamar. Seperti malam sebelumnya, ia membuka sedikit daun jendela kayu.
Langit Desa Samudra kembali dipenuhi bintang.
Tatapannya mencari gugusan bintang yang semalam menjadi saksi lahirnya sebuah janji. Saat menemukannya, senyum kecil kembali menghiasi wajahnya.
Di dalam hati ia berbisik,
"Denia... apa pun yang terjadi, aku tidak akan goyah. Seperti bintang-bintang itu yang tetap bersinar di tempatnya, aku juga akan menjaga janjiku."
Tekad itu terasa jauh lebih kuat dibandingkan sehari sebelumnya. Ancaman Bambang memang belum hilang, tetapi kini Rangga tidak lagi memandangnya sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Baginya, ancaman hanyalah ujian kecil untuk membuktikan seberapa teguh ia memegang janjinya.
Hari-hari berikutnya berjalan sebagaimana mestinya.
Setiap kali berpapasan dengan Bambang di lorong sekolah, Rangga tidak lagi menundukkan kepala. Ia tetap menyapa dengan sopan atau berlalu tanpa menunjukkan rasa gentar. Sikap tenang itu justru membuat Bambang semakin kesal.
Suatu siang saat jam istirahat, Bambang kembali melewati tempat Rangga yang sedang menikmati bekal bersama teman-temannya. Dengan sengaja ia menyenggol meja hingga kotak bekal Rangga bergeser.
"Hati-hati, Ngga. Jangan sampai melangkah terlalu jauh. Ingat pesanku kemarin," bisiknya sebelum berlalu sambil tertawa kecil.
Teman-teman Rangga langsung menoleh.
"Kamu nggak apa-apa, Ngga? Si Bambang memang sukanya mengintimidasi anak kecil."
Rangga hanya merapikan kembali kotak bekalnya, lalu tersenyum tipis.
"Aku tidak apa-apa. Selama aku tidak berbuat salah, aku tidak perlu takut."
Jawaban itu membuat teman-temannya saling berpandangan. Mereka kagum melihat ketenangan Rangga.
Perlahan, sikap itu mulai mengubah cara pandang anak-anak di sekolah. Mereka melihat Bambang sebagai pihak yang mencari masalah, sementara Rangga tetap menunjukkan sikap santun kepada siapa pun.
Lama-kelamaan, bisik-bisik mulai terdengar di berbagai sudut sekolah.
"Kenapa, ya, Bambang selalu mengganggu Rangga?"
"Padahal Rangga baik ke semua orang."
Tanpa disadari, rasa malu justru berbalik menghampiri Bambang. Ancaman dan sikap kasarnya tidak lagi membuat orang lain kagum, melainkan mempertanyakan tindakannya sendiri.
Menjelang sore, Rangga berjalan pulang menyusuri jalan setapak desa. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya jingga yang menyelimuti hamparan sawah. Angin sepoi-sepoi berembus lembut, membawa aroma padi yang mulai menguning.
Di persimpangan jalan, langkah Rangga mendadak terhenti.
Denia telah berdiri di sana sambil menggenggam sebuket kecil bunga kamboja.
"Kok kamu di sini, Denia?" tanyanya, tak mampu menyembunyikan rasa senang.
"Aku sengaja menunggumu," jawab Denia sambil tersenyum. "Tadi teman-teman bilang Bambang mengganggumu lagi. Aku cuma mau bilang... aku bangga sama kamu, Rangga. Kamu berani, tapi tetap baik hati."
Ucapan itu membuat wajah Rangga memerah. Dengan hati-hati ia menerima rangkaian bunga kamboja dari tangan Denia, seolah menerima hadiah paling berharga yang pernah ia miliki.
"Terima kasih, Denia. Ini lebih dari cukup untuk membuatku tetap kuat."
Mereka berdiri berdampingan memandangi langit senja yang perlahan berubah keemasan. Dalam keheningan itu, keduanya sama-sama belajar bahwa ketulusan tidak selalu ditunjukkan lewat kata-kata besar, melainkan lewat keberanian untuk tetap berbuat baik meski menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan.
Dan begitulah hari yang melelahkan itu berakhir. Sebuah hari di Sekolah Dasar Desa Samudra yang mengajarkan Rangga satu pelajaran penting: kekuatan terbesar seorang laki-laki bukan terletak pada kepalan tangan atau kerasnya suara, melainkan pada hati yang tetap teguh berdiri di atas kebenaran.