Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : KEDATANGAN JAKA WIRADIPA
Belum sempat napas warga tenang kembali, terdengar derap langkah berat dari jalan utama. Disertai denting besi dan teriakan kasar yang makin dekat. Suasana yang baru tenang seketika pecah lagi.
Sendok kayu jatuh terlepas dari tangan. Anak yang tadi tertawa langsung memeluk erat punggung ibunya. Wajah mereka kembali pucat, bibir bergetar. Semua tahu—kedatangan ini bukan pertanda baik.
Benar saja, tak lama muncul sekelompok bersenjata dipimpin Jaka Wiradipa. Kali ini ia membawa lebih dari dua puluh orang. Semua memegang golok, tombak, dan perisai kayu bertulang besi. Langkah mereka seragam, debu beterbangan di bawah kaki. Di lengan terpasang lambang Kadipaten yang mengkilap—mereka datang membawa nama penguasa, bukan sekadar perampok.
Jaka menunggangi kuda yang tampak lelah namun dipaksa berjalan tegap. Wajahnya sombong, dagu terangkat tinggi seolah tak ada yang setara dengannya. Ia beri isyarat berhenti tepat di depan kerumunan warga.
Lalu suaranya menggelegar ke segala arah.
“Dengarkan baik-baik! Atas perintah Bupati, tanah tempat kalian tinggal ini diambil alih Kadipaten! Mulai hari ini, tanah, ladang, dan segala isinya bukan lagi milik kalian!”
Hening seketika. Hanya terdengar gesekan daun dan napas tertahan. Orang tua menunduk, ibu-ibu menggenggam tangan anak makin erat.
Jaka tersenyum sinis melihat ketakutan itu. Ia ayunkan golok besar ke udara, bunyi mendesir membuat beberapa anak menjerit tertahan.
“Kalian punya dua pilihan! Masuk ke dalam hutan gersang yang tak ada airnya, tempat yang bahkan binatang pun enggan menempatinya. Atau tetap tinggal jadi buruh tanpa upah, hanya diberi makan agar tetap hidup. Pilih sekarang!”
Desahan cemas terdengar beriringan. Tak ada yang berani menjawab. Semua merasa tak berdaya di hadapan senjata dan jumlah yang jauh lebih banyak.
Namun Mang Darma yang sudah beruban memberanikan diri maju. Tubuhnya kurus dengan tangan gemetar, tapi suaranya ia usahakan tegar.
“Ki Wiradipa… tanah ini milik leluhur kami turun-temurun. Sudah dihuni lebih seratus tahun. Kakek buyut kami yang membuka hutan ini menjadi ladang.”
“Kami tidak berhutang, tidak melanggar aturan, pajak selalu kami bayar bahkan saat panen gagal. Bagaimana bisa diambil begitu saja?”
Belum selesai bicara, Jaka menatapnya tajam. Tanpa pikir panjang ia hantamkan gagang golok ke bahu kiri Mang Darma sekuat tenaga.
Bunyi benturan keras terdengar jelas. Diikuti erangan sakit yang menyayat hati. Tubuhnya terlempar jatuh, memegangi bahu yang seakan remuk. Ibu-ibu menjerit panik memanggil namanya.
“Berani kau bantah perintah?!” bentak Jaka. “Kau kira ini tempat berdebat? Pikir dulu sebelum bicara kalau tak mau merasakan akibat yang lebih parah!”
Suasana makin mencekam. Ada yang segera menutup mulut anaknya agar tak menangis. Yang lain bergegas menghampiri dan membantunya berdiri perlahan. Bahunya sudah membiru, keringat dingin membasahi wajah meski ia berusaha berkata tak apa-apa.
Di balik rimbun semak tak jauh dari sana, Bayu dan Karta melihat semuanya. Darah Bayu mendidih, tangan mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Napasnya terasa berat menahan amarah yang meluap.
Karta tak bisa diam lagi. Melihat Mang Darma dipukul begitu saja, ia langsung meraba gagang pisaunya. Matanya memerah.
“Tak bisa dibiarkan, Kang! Lihat apa yang mereka lakukan! Kita diperlakukan seperti binatang!”
Ia hendak melangkah keluar, tapi lengan Bayu menahannya dengan cengkeraman kuat namun tenang.
“Tahan dulu. Jangan bertindak gegabah.”
Karta menoleh, matanya berkaca karena marah.
“Mereka sudah keterlaluan! Kalau kita diam, besok mereka akan menyakiti orang lain lagi! Sampai kapan kita harus diam?”
Bayu menatap lekat ke mata adiknya.
“Aku juga marah. Aku pun ingin menghajar mereka sekarang. Tapi ingat pesan Mbah Karsa kalau semua tergantung pada niat di dalam hati.”
Karta menggigit bibirnya hingga merah, dadanya naik turun menahan emosi.
“Lalu kita hanya akan diam melihat semuanya?”
Bayu tak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada Jaka Wiradipa. Di dadanya dua perasaan bertarung: satu ingin melawan, satu lagi mengingatkan batasan pusaka yang mereka bawa.
Ia tarik napas panjang, lalu perlahan membuka kain di punggung mengeluarkan busur SANGHYANG RASA yang berwarna cokelat tua. Terasa hangat saat disentuh, seolah mengalirkan kekuatan sendiri. Dari tabung di pinggang ia ambil satu dari tujuh anak panah berujung tumpul, bukan untuk membunuh tapi hanya melukai.
Karta menatap tak percaya.
“Kau bermaksud…”
“Kita hentikan mereka, bukan membunuh.”
Bayu memejam sejenak, mengatur detak jantung. Ia bayangkan wajah Mang Darma yang kesakitan, wajah anak-anak yang ketakutan. Lalu menghembuskan napas dengan pelan, mengubah amarah menjadi niat tulus untuk melindungi, bukan membalas dendam.
Dalam hati ia ingat sifat pusaka itu: bukan untuk membunuh, cukup untuk melukai dan memberi peringatan. Karta menelan ludah, tangannya masih di gagang SANGHYANG WAJA tapi belum siap untuk menyerang sembarangan.
“Kalau kau meleset…”
“Tak akan meleset. Busur ini tidak membidik dengan mata, melainkan dengan rasa.”
Mata terbuka kembali. Tali busur ditarik hingga terentang sempurna, otot menegang namun tetap terkendali. Ia tak perlu membidik layaknya pemanah biasa tapi cukup memusatkan rasa, panah itu akan tahu ke mana harus pergi.
Di luar sana Jaka masih mondar-mandir mengancam, menendang barang-barang warga hingga berantakan. Ia sama sekali tak sadar ada kekuatan yang diam-diam sudah ditujukan padanya dari balik semak tiga puluh langkah di belakang.
Bayu tarik napas terakhir.
“Untuk Mang Darma, untuk anak-anak, untuk kampung ini.”
Jari melepaskan tali.
Panah melesat cepat, hening, hampir tak terlihat mata telanjang.