NovelToon NovelToon
Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: canny***

Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu Gerbang Karantina Provinsi

Senin pagi berganti menjadi permulaan babak baru yang jauh lebih mendesak. Sebuah bus berlogo Dinas Pendidikan Provinsi terparkir anggun di depan pelataran SMA Wijaya. Hari ini adalah hari pertama karantina intensif bagi seluruh peserta yang berhasil lolos ke tahap seleksi tingkat provinsi Young Asian Leaders Exchange Program. Selama tiga hari ke depan, para perwakilan terbaik dari puluhan sekolah favorit akan dikumpulkan di Pusat Pelatihan Pemuda Kota untuk mengikuti serangkaian uji kepemimpinan, debat bahasa asing, dan pembedahan proyek sosial secara mendalam.

Di dekat bagasi bus, Callista berdiri bersama kedua orang tuanya dan Sean. Tas travel ukuran sedang dan ransel berisi dokumen penting sudah tergeletak di samping kakinya.

"Inget pesan Papa ya, Cal. Jaga kesehatan, jangan sampai lupa makan cuma gara-gara fokus belajar," ujar Papa Callista hangat seraya mengelus lembut puncak kepala putrinya.

"Iya, Pa. Callista bakal ingat terus," jawab Callista mantap, menyunggingkan senyuman tulus.

Mama Callista memeluknya erat. "Doa Mama selalu bareng Callista. Lakukan yang terbaik, sayang."

Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya yang melangkah menuju mobil, Callista membalikkan badan, menatap Sean yang berdiri tenang dengan kedua tangan terbenam di saku jaketnya.

"Gak usah tegang gitu mukanya, Cal," goda Sean sambil tersenyum tipis, mencoba mengurai raut cemas yang sempat membayang di wajah Callista. "Lo itu pinter, teliti, dan punya hati yang tulus. Penguji provinsi pasti bisa liat itu."

Callista terkekeh pelan, rasa gugup yang sempat merayapi dadanya perlahan menyusut. "Makasih ya, Sean. Tiga hari ke depan gue gak bisa pegang ponsel sering-sering karena aturan karantina. Lo baik-baik di sekolah, jangan bolos latihan basket."

"Siap, Bu Perwakilan," balas Sean dengan gestur hormat jenaka. Ia lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kantong kain kecil berwarna merah dengan sulaman benang emas khas Vihara. "Nih, dari Mama. Tadi pagi Mama mampir ke Vihara sebentar, nitipin ini buat lo. Katanya pembatas buku dan doa keselamatan buat perjalanan karantina lo."

Callista menerima kantong kain kecil itu dengan mata berbinar haru. Sentuhan tradisi dan iman yang sama itu selalu memberikan kehangatan tersendiri di hatinya. "Salamin makasih banyak buat Tante Yuli ya, Sean."

"Pasti. Nah, itu Kenzo udah naik ke bus. Sana masuk, nanti ditinggal," tutur Sean menunjuk ke arah pintu bus.

Dari ambang jendela bus, Kenzo tampak sedang menaruh tasnya di rak atas. Cowok itu melambaikan tangan singkat ke arah Sean, yang dibalas Sean dengan anggukan kepala mantap—sebuah gestur saling percaya antar dua cowok yang kini berdiri sebagai pendukung utama Callista.

Callista mengangkat tas ranselnya. "Gue berangkat ya, Sean."

"Semangat, Callista! Tunjukkan siapa anak SMA Wijaya!" seru Sean menepuk bahu Callista penuh dorongan moral.

Pusat Pelatihan Pemuda Kota menyambut para peserta dengan atmosfer persaingan yang amat pekat. Aula utama gedung dipenuhi oleh puluhan siswa-siswi pilihan dari berbagai SMA ternama. Mereka berpakaian seragam rapi dengan blazer khas sekolah masing-masing, memancarkan aura kepercayaan diri dan kecerdasan yang tinggi.

Callista dan Kenzo duduk di barisan meja tengah, menyimak pengarahan dari Ketua Dewan Juri Provinsi, Prof. Handoko.

"Karantina ini bukan sekadar menguji seberapa tinggi nilai akademis kalian," tegas Prof. Handoko dengan suara baritonnya yang memenuh ruangan. "Kami mencari pemimpin muda yang memiliki empati sosial, ketahanan mental di bawah tekanan, dan kemampuan bekerja sama dalam situasi krisis. Seluruh gerak-gerik kalian, mulai dari cara berdiskusi hingga interaksi di luar sesi resmi, akan dinilai oleh tim psikolog dan evaluator."

Mendengar instruksi tersebut, bisik-bisik tegang mulai terdengar di sekeliling ruangan. Persaingan di tingkat provinsi ini terasa sangat nyata dan ketat.

Setelah sesi pembekalan umum usai, para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok studi kasus untuk simulasi debat kepemimpinan. Callista dan Kenzo ditempatkan di Kelompok Alpha, bergabung dengan dua siswa dari SMA Garuda—sekolah rival terberat SMA Wijaya dalam bidang akademis.

Salah satu siswa dari SMA Garuda, seorang cowok jangkung berkacamata tebal bernama Julian, langsung mengambil inisiatif bicara dengan nada yang dominan.

"Untuk studi kasus krisis lingkungan ini, gue rasa pendekatan dari sekolah kita yang paling efisien," potong Julian cepat ketika Callista baru saja hendak memaparkan analisisnya mengenai keterlibatan masyarakat lokal. "Model yang dibawa SMA Wijaya terlalu bertele-tele di bagian pendampingan sosial. Di dunia nyata, keputusan harus cepat dan berbasis efisiensi biaya."

Atmosfer di meja diskusi Kelompok Alpha mendadak terasa dingin dan kaku. Beberapa peserta lain tampak terintimidasi oleh cara bicara Julian yang agresif.

Namun, sebelum Callista sempat merespons, Kenzo menegakkan posisi duduknya. Matanya menatap Julian secara tajam namun sangat terkontrol.

"Efisiensi biaya tanpa memperhitungkan penerimaan masyarakat lokal cuma bakal melahirkan penolakan di lapangan, Julian," sanggah Kenzo dengan intonasi yang dingin, tenang, namun sangat telak. "Data dari proyek 'Bridge of Generations' yang kami susun membuktikan bahwa partisipasi warga adalah variabel utama kelangsungan proyek jangka panjang. Tanpa itu, efisiensi yang lo maksud cuma angka manis di atas kertas."

Julian terdiam sejenak, tidak menyangka argumentasinya akan dipatahkan secara logis dan tenang oleh Kenzo dalam hitungan detik.

Callista menyambung dengan lembut namun mantap, menyempurnakan sanggahan Kenzo. "Betul. Kita bisa mengombinasikan efisiensi alokasi dana dari usulan SMA Garuda dengan sistem keterlibatan warga dari SMA Wijaya. Dengan begitu, solusi kelompok kita jadi lebih holistik dan tidak timpang sebelah."

Mendengar kolaborasi argumentasi dari Kenzo dan Callista yang begitu solid, Julian akhirnya mengangguk pelan, mengakui keunggulan berpikir pasangan tim dari SMA Wijaya tersebut. Penilai psikologi yang berdiri tak jauh dari meja mereka tampak mencatat sesuatu di papan nilai dengan senyum penuh apresiasi.

Malam harinya, setelah rangkaian sesi evaluasi yang melelahkan berakhir pukul delapan malam, Callista melangkah menuju pelataran taman dalam Pusat Pelatihan. Udara malam kota terasa lumayan dingin membakar kulit, namun angin segar itu berhasil mengusir rasa penat di kepalanya.

Callista duduk di salah satu bangku kayu di bawah rindangnya pohon mahoni. Ia merogoh saku blazernya, mengeluarkan kantong kain merah pemberian Mama Sean, lalu mengusap motif sulamannya pelan.

Langkah kaki yang teratur mendekat. Kenzo berjalan membawa dua cangkir teh hangat beruap, lalu mengulurkan salah satunya pada Callista.

"Makasih, Kenzo," ucap Callista seraya menerima cangkir tersebut.

Kenzo duduk di ujung bangku kayu yang sama, memberi jarak yang sopan di antara mereka. Ia menyesap tehnya perlahan, menatap langit malam yang bersih tanpa awan.

"Simulasi debat tadi sore lo keren banget, Callista," puji Kenzo tulus. "Cara lo mencairkan dominasi Julian tanpa bikin suasana kelompok jadi keruh itu bukti kepemimpinan yang matang."

Callista tersenyum tipis, menatap uap teh hangatnya. "Itu karena pembukaan dari lo yang sangat tajam, Kenzo. Lo selalu tahu kapan harus pasang badan buat menjaga integritas tim kita."

Kenzo menoleh, menatap Callista dengan tatapan teduh dan penuh rasa hormat. "Kita tim, Cal. Dan di seleksi ini, gue makin sadar kalau kemampuan lo emang layak buat terbang lebih tinggi."

"Gue bersyukur bisa berjuang bareng lo di sini, Nzo," balas Callista jujur.

Kenzo tersenyum kecil—sebuah senyuman lega dari seorang sahabat dan kawan seperjuangan. "Istirahatlah yang cukup malam ini. Besok adalah tes wawancara akhir dan pengumuman dua besar yang bakal berangkat ke tingkat internasional."

Callista menggenggam erat cangkir teh hangatnya, menatap lurus ke depan. Di bawah bayang-bayang ujian karantina yang makin berat, Callista merasakan kesiapan yang utuh dalam dirinya. Dengan dukungan penuh dari Sean di rumah dan sinergi hebat bersama Kenzo di arena kompetisi, ia siap menyambut hari penentuan di esok hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!