Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panen Raya, Kembang Desa, dan Persekutuan Baru
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos sela-sela rimbunnya daun cengkeh dan pohon petai di kebun peninggalan keluarga Ajo. Udara dingin khas kaki Gunung Salak terasa begitu menyejukkan, beradu dengan aroma tanah basah dan wangi manis buah-buahan yang siap dipanen.
Di tengah kebun luas itu, Ajo sibuk memotong dahan cengkeh yang mengering. Tidak ada lagi setelan jas kustom jutaan rupiah atau sepatu kulit mengkilap. Ajo hanya mengenakan kaus oblong hitam yang sedikit kusam, celana bahan yang digulung hingga betis, dan caping bambu di kepalanya. Namun, pancaran matanya tidak lagi dingin atau penuh beban; ada kedamaian mendalam yang memancar dari wajahnya.
"Ajo! Jangan dipotong yang sebelah situ! Itu dahan mudanya masih bagus!"
Suara nyaring yang merdu memecah keheningan. Sesosok wanita muda berjalan mendekat sambil memanggul keranjang bambu di bahunya.
Dialah Juli, sepupu Ajo. Di desa ini, Juli dikenal sebagai sang "Kembang Desa". Parasnya manis alami tanpa polesan riasan tebal, kulitnya yang bersih merona terkena terik matahari pagi, dan senyum lesung pipitnya selalu sanggup meluluhkan siapa saja yang memandangnya. Meskipun berparas jelita, Juli sama sekali tidak canggung bergelut dengan tanah, memanggul keranjang, dan memimpin para petani desa.
"Aduh, Juli... dari tadi kamu ngomel terus," kekeh Ajo seraya mengusap peluh di dahinya dengan lengan kaus. "Aku ini kan cuma bantu-bantu. Yang ahli kan kamu."
"Makanya dengarkan instruksi Manajernya!" balas Juli sambil menyunggingkan senyum manis yang menggemaskan, membuat para pemuda desa yang ikut memanen cengkeh mendadak salah fokus dan kehilangan konsentrasi kerja.
Di sekeliling mereka, puluhan warga desa saling bersahut-sahutan riang. Suasana panen raya pagi itu dipenuhi tawa dan nyanyian. Bagi warga lokal, berbagai narasi buruk dan tuduhan skandal tentang Ajo di televisi Jakarta sama sekali tak menggoyahkan kepercayaan mereka. Bagi mereka, Ajo adalah pahlawan.
Dulu, saat Ajo berada di puncak kejayaannya sebagai produser kaya, ia tak pernah lupa daratan. Ajo-lah yang membiayai pengaspalan jalan desa, membangun saluran irigasi, mendirikan koperasi tani, hingga memberikan modal usaha tanpa bunga bagi warga yang membutuhkan. Ajo adalah penolong yang mengangkat derajat ekonomi desa dari kemiskinan.
Namun, di tengah kehangatan dan keriuhan panen raya itu, sebuah tatapan penuh dengki mengawasi dari kejauhan.
Di atas bukit kecil tepi jalan kebun, berdiri Rober. Tuan tanah sekaligus rentenir paling berpengaruh dan ditakuti di desa tersebut. Pria bertubuh gempal dengan beberapa cincin batu akik besar di jarinya itu menatap Ajo dan keriuhan panen raya dengan raut wajah berang.
Sebelum Ajo membangun koperasi dan menyuntikkan modal usaha gratis bagi warga, Rober-lah yang menguasai leher perekonomian desa. Ia memeras para petani miskin dengan bunga pinjaman yang tercekik, hingga banyak tanah warga yang disita secara sewenang-wenang. Kehadiran Ajo dulu menghancurkan bisnis lintah daratnya. Kini, melihat Ajo yang dituduh bangkrut di kota justru kembali ke desa dan disambut hangat bak pahlawan, membuat dendam mendalam di dada Rober kian membara.
"Lihat saja, Ajo..." gumam Rober seraya meludah kasar ke tanah. "Kau pikir kau bisa tenang di desa ini? Aku tahu kau sedang dicari-cari orang di kota. Begitu ada celah, akan kubuat kau dan kebun peninggalan orang tuamu ini rata dengan tanah!"
Sore mulai menjelang ketika puncak panen raya diselesaikan. Warga berkumpul di area bale-bale kayu di pinggir kebun, menyantap nasi liwet hangat, sambal terasi, dan Kopi Tubruk yang disiapkan oleh Juli. Ajo duduk santai di bale-bale, mengobrol renyah dengan para tetua desa.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil asing memecah ketenangan. Sebuah mobil SUV hitam berdebu melaju perlahan melewati jalan setapak kebun dan berhenti tepat di dekat tempat warga berkumpul.
Warga desa mendadak diam. Juli yang tadinya sedang menyeduh kopi seketika berdiri pasang badan, menatap waspada ke arah mobil.
Pintu mobil terbuka. Jimi melangkah keluar terlebih dahulu dengan tubuh tegapnya. Namun, yang membuat Ajo dan Juli terpaku adalah sosok kedua yang keluar dari pintu penumpang.
Adam.
Pria yang dulunya dipenuhi keangkuhan itu kini tampak begitu berbeda. Ia mengenakan kemeja polos sederhana, wajahnya agak tirus dengan mata yang menyimpan sisa-sisa penyesalan dan kelelahan mental yang amat berat.
Juli melangkah maju membentengi Ajo, matanya yang manis kini menajam penuh rasa curiga. "Jo, siapa mereka? Kalau orang-orang kota ini mau cari masalah atau bawa wartawan, aku panggilkan warga buat usir mereka!"
Ajo memegang bahu Juli pelan, memintanya untuk tenang. "Tidak apa-apa, Jul. Mereka kawan lamaku."
Ajo berdiri, melangkah mendekati dua pria yang pernah menorehkan luka dan sejarah panjang dalam hidupnya.
Suasana di tengah kebun itu mendadak hening. Hanya ada desir angin sore yang mengoyak dedaunan cengkeh.
Di depan Ajo, di hadapan Juli sang kembang desa dan puluhan warga yang menyaksikan dengan napas tertahan, Adam menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak ada lagi ego seorang bos besar, tidak ada lagi dendam.
Adam melangkah maju satu tapak. Air mata penyesalan menetes melintasi pipinya, jatuh ke atas tanah kebun yang basah.
"Jo..." suara Adam parau, bergetar hebat oleh rasa bersalah yang teramat dalam. "Aku datang... bukan untuk bertengkar lagi. Aku datang untuk meminta maaf atas segala kebodohan dan kegilaanku selama ini. Dan aku datang... bersama Jimi untuk menyerahkan seluruh bukti rencana jahat Maya. Aku mau bantu kamu merebut kembali apa yang dicuri dari kita."
Ajo menatap Adam lurus-lurus. Di balik wajah terpuruk Adam, Ajo melihat ketulusan seorang sahabat yang telah benar-benar sadar dari cengkeraman mimpi buruk.
Ajo menghela napas panjang, membiarkan angin malam membilas sisa-sisa amarah di dadanya. Ia lalu mengulurkan tangannya yang kotor oleh tanah kebun ke arah Adam.
"Darah dan tanah di rumah tua ini sudah mengajarkanku cara memaafkan, Dam," ujar Ajo dengan suara berat namun penuh kehangatan. "Selamat datang di tanah kelahiranku. Mari kita selesaikan permainan Maya bersama-sama."
Adam mendongak, menatap uluran tangan Ajo dengan tangis yang akhirnya pecah. Ia menggenggam dan menjabat tangan Ajo erat-erat di bawah saksi bisu warga desa, Juli, dan rimbunnya pohon-pohon cengkeh tua—menandakan kembalinya ikatan "Tiga Jenderal" yang siap menghancurkan takhta iblis milik Maya.