NovelToon NovelToon
Rumah Jiwa Yang Lelah

Rumah Jiwa Yang Lelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: meiithandi

Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.

setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adit mendekati Zahra Kecil

Matahari pagi bersinar cerah menerangi halaman PAUD Al-Ghajali. Burung-burung berkicau riang di dahan pohon rindang yang menghiasi area sekolah. Suasana terasa hangat dan menyenangkan, kontras dengan gejolak hati Adit yang sedang membara.

Adit berdiri di balik kaca mobil mewahnya yang terparkir di area khusus pemilik sekolah. Ia mengenakan kemeja putih rapi, namun dasinya longgar, menunjukkan bahwa ia tidak dalam mode "bos" yang kaku hari ini. Matanya tajam menyapu area gerbang sekolah, menunggu momen yang tepat.

Ia sudah mengetahui semuanya. Davina ada di sini. Zahra,  putri dari wanita yang ia cintai bersekolah di sini. Dan pria yang menyakiti mereka, sudah pergi lebih tepatnya mantan suami Davina.

Ini adalah kesempatan emas. Kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tujuh tahun lalu. Kesempatan untuk merebut kembali hati Davina.

Tapi Adit tahu, ia tidak bisa langsung mendekati Davina. Luka di hati wanita itu terlalu dalam. Jika ia muncul tiba-tiba sebagai mantan kekasih yang menghilang tanpa kabar, Davina akan lari. Ia butuh jembatan. Dan jembatan itu adalah Zahra putri kandung Davina.

"Anak-anak selalu jujur," gumam Adit pada dirinya sendiri. "Jika aku bisa membuat Zahra menyukaiku, mungkin... hanya mungkin... Davina akan melunak."

Di Area Taman Bermain

Bel istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar dari kelas dengan ceria. Zahra, dengan rambut lurusnya yang dikepang dua, berlari kecil menuju ayunan favoritnya. Kenzo, sahabatnya, sudah menunggu di sana.

"Hai, Zahra!" sapa Kenzo.

"Hai, Kenzo!" Zahra tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

Mereka mulai bermain, tertawa lepas tanpa beban.

Dari kejauhan, Adit memperhatikan mereka. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Zahra. Gadis kecil itu memiliki senyum yang sangat mirip dengan Davina. Ada kepolosan dan kehangatan yang sama.

Adit mengambil napas dalam-dalam, lalu keluar dari mobilnya. Ia berjalan santai menuju area taman bermain, berusaha terlihat alami dan tidak mengintimidasi. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja kasual yang membuatnya terlihat lebih ramah.

Saat ia mendekati ayunan, Zahra sedang berusaha mendorong ayunannya sendiri tapi kesulitan.

"Boleh Om bantu?" tanya Adit dengan suara lembut, berjongkok di samping Zahra.

Zahra menoleh, matanya bulat penuh rasa rindu terhadap laki - laki yang berada di depannya.Menurut Zahra Adit om yang baik hati.

"Iya, Om," jawab Zahra polos dan merasa senang.

Adit tersenyum, lalu dengan hati-hati mendorong ayunan Zahra. Tidak terlalu kuat, tidak terlalu lemah. Cukup untuk membuat Zahra merasa senang.

"Wuih! Tinggi lagi, Om!" seru Zahra tertawa.

Kenzo yang berada di sebelah juga tertawa. "Om Adit jago banget main ayunan!"

Adit tertawa kecil. "Terima kasih, Kenzo. Jadi, kalian sudah lama bermain ? 

Zahra mengangguk antusias. "Iya,  Om "

"Gimana Zahra suka di sekolah Om ? Ucap Adit.

"Wah! Jadi Om punya sekolah ini ?" mata Zahra berbinar. "Keren banget!"

Adit tersenyum. Ia berhasil. Langkah pertama telah dimulai. Ia tidak menyebutkan hubungannya dengan Davina. Ia hanya menjadi "Om Adit" yang baik hati.

"Jadi Zahra harus belajar yang pintar di  sini," lanjut Adit. "Apa guru disini baik ?"

"Iya , Om! Guru-gurunya baik. Terus... terus Mamah Zahra juga sering datang jemput Zahra. Mamah Zahra cantik dan baik," celetuk Zahra tanpa sadar.

Jantung Adit tersentak mendengar pujian itu untuk Davina. Tapi ia menutupinya dengan senyum.

"Mamahmu pasti orang yang sangat istimewa," ucap Adit pelan.

"Iya! Mamah Zahra paling bagus sedunia!" Zahra bangga.

Adit merasa dadanya sesak, namun hangat. Ia semakin yakin. Davina adalah ibu yang luar biasa. Dan ia bertekad untuk menjadi bagian dari kehidupan mereka lagi. Bukan untuk mengambil alih, tapi untuk melengkapi. Untuk melindungi Davina dan dan Zahra gadis kecil di hadapannya.

"Om Adit, nanti kalau Zahra mau main lagi, Om boleh bantu lagi nggak?" tanya Zahra.

"Tentu saja, Zahra. Kapanpun kamu mau," janji Adit.

Di saat yang sama, dari jarak yang agak jauh, Davina baru saja tiba untuk menjemput Zahra lebih awal karena ada urusan mendesak. Ia melihat sosok pria tinggi yang sedang bermain dengan Zahra dan Kenzo.

Jantung Davina berhenti berdetak sesaat.

Pria itu... Adit?

Tidak mungkin. Adit tidak mungkin ada di sini. Davina mengedipkan mata, mencoba memastikan. Tapi pria itu sudah berbalik badan, memberikan high-five pada Kenzo, lalu berjalan menjauh menuju gedung administrasi sekolah.

Davina ragu. Apakah itu benar Adit? Atau hanya orang yang mirip?

"Mamah!" seru Zahra, berlari menghampiri Davina.

Davina mengalihkan pandangannya, tersenyum pada putrinya. "Halo, Sayang. Tadi main sama siapa?"

"Dengan Om Adit, Mah! Om Adit baik banget! Dia bantu Zahra main ayunan!" cerita Zahra ceria.

Nama itu. Adit.

Darah Davina membeku. Tangannya gemetar memegang tas Zahra.

"Om... Adit?" ulang Davina, suaranya bergetar. "Siapa Om Adit, Sayang?"

"Pemilik sekolah, Mah! Kata Bu Guru, dia yang punya sekolah ini. Dia tadi main sama Zahra dan Kenzo. Dia baik banget! , " tapi Zahra baru tahu , Om itu punya sekolah ini"

Dunia Davina terasa berputar. Pemilik sekolah ini adalah Adit? Tapi bukan berarti itu Adit mantan kekasihnya.Davina mencoba berpikir positif , bahwa itu bukan mantannya Adit.Di Dunia ini juga banyak yg mempunyai nama Adit tapi bukan Adit mantannya.

Davina menatap ke arah gedung administrasi, tempat pria itu menghilang. Hatinya dipenuhi kecemasan.Dia mencoba memastikan itu Adit yang dia kenal atau orang lain.

"Ayo pulang, Zahra," ucap Davina cepat, menggenggam tangan putrinya erat.

"Kenapa buru-buru, Mah? Zahra mau bilang makasih sama Om Adit dulu..."

"Lain kali ya sayang , Ayo kita pulang, mamah masih ada kerjaan nak dirumah" potong Davina.

Sementara Itu, di Kota A

Sementara Davina dilanda kecemasan di Kota C, Rio berada ribuan kilometer jauhnya, di Kota A.

Langit di Kota A mendung, mencerminkan suasana hati Rio yang suram. Ia duduk di kantornya yang mewah namun sepi, menatap tumpukan dokumen yang belum selesai. Matanya cekung, wajahnya pucat, dan tubuhnya kurus.

Sejak kembali dari Kota C, Rio memutuskan untuk menyibukkan  diri dalam pekerjaan. Ia bekerja siang dan malam. Rapat demi rapat. Proyek demi proyek. Ia tidak pulang ke apartemennya yang besar dan kosong. Ia tidur di kantor. Ia makan seadanya.Dia tidak tinggal di rumah yang ia tempati bersama Zahra Dan Davina.Rio ingin lupa tentang Davina.

Tujuannya satu:  yaitu Melupakan.

Melupakan wajah Zahra yang menatapnya dengan hangat dan senyuman Zahra yang terpancar.

Melupakan tatapan Davina yang penuh kebencian.

Melupakan rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya setiap detik.

"Bos, Anda harus istirahat," ucap asistennya khawatir. "Anda sudah tiga hari tidak tidur nyenyak."

"Nggak apa-apa," jawab Rio datar, tanpa menoleh. "Lanjutkan presentasinya."

Rio tahu ia sedang menghancurkan dirinya sendiri. Tapi ia merasa itulah hukuman yang pantas ia terima. Ia telah menyia-nyiakan harta karun terbesar dalam hidupnya: Davina dan Zahra. Dan kini, ia hanya memiliki kesuksesannya yang hampa tanpa seorang istri yang menemani.

Di laci mejanya, tersimpan foto kecil Zahra yang ia ambil diam-diam saat pertemuan singkat di rumah Davina. Foto itu adalah satu-satunya penghiburnya di tengah kesepian yang mencekam.

"Davina... Zahra..." bisik Rio pelan, air matanya menetes ke atas dokumen kerja. "Maafkan Papa... Papa cuma ingin kalian bahagia. Walaupun tanpa Papa."

Rio menghapus air matanya dengan kasar, lalu kembali fokus pada layar laptopnya. Ia akan bekerja sampai ia lupa cara merasakan sakit. Sampai ia lupa bahwa ia pernah memiliki keluarga.

Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu itu mustahil. Cinta dan penyesalan tidak bisa dibunuh oleh pekerjaan. Mereka hanya bisa ditunda, menunggu waktu yang tepat untuk kembali menyakitinya.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, penasaran nih alasan Davina minta cerai apa cuma gara-gara udah ga cocok atau ada hal lain?😌😳
Dian Meilani: jangan lupa pantengin ya, ku up ko okee
total 1 replies
ica
seru banget ceritanya👍
IRINA SHINING STAR
saya mampir kak, semangat ya kakk. 😆
Dian Meilani: makasih kk 🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
lanjut thor
Dian Meilani: makasih atas dukungannya
total 1 replies
Cilia
Baca ceritamu bikin ikut ngerasain kehangatan keluarga thorr, lanjutin terus ya! Semangat!
Dian Meilani: makasih kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!