NovelToon NovelToon
AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 - Kata Terakhir Sebelum Pingsan

"Alea."

Nama itu menggema di ruang kerja.

Alea menatap Raka dengan wajah pucat.

"Kenapa... dia menyebut namaku?"

Raka masih memegang ponsel di telinganya.

"Dia sekarang di mana?" tanyanya kepada Adrian.

"Rumah Sakit Harapan Medika."

"Kondisinya belum stabil. Polisi sudah berjaga, tapi dokter bilang kalau dia sadar, waktunya mungkin tidak lama."

"Mungkin tidak lama?"

"Lukanya cukup parah. Dugaan sementara tabrak lari."

Raka menutup mata sejenak.

Ia tidak percaya itu kecelakaan biasa.

Kalau Arga memang membawa informasi penting, ada banyak orang yang berkepentingan untuk membungkamnya.

"Kami segera ke sana."

Panggilan berakhir.

---

Alea masih berdiri di tempat.

Perasaannya campur aduk.

Marah.

Kecewa.

Penasaran.

Semua bercampur menjadi satu.

"Aku tidak ingin bertemu dengannya."

Suara Alea pelan.

"Tapi aku juga tidak bisa terus hidup tanpa tahu kebenarannya."

Raka mendekat.

"Aku tidak akan memaksamu."

"Keputusan ada di tanganmu."

Alea menatap lantai beberapa saat.

Lalu menarik napas panjang.

"Aku ikut."

---

Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu sunyi.

Hujan yang sejak tadi turun mulai mereda, menyisakan jalanan yang basah dan licin.

Alea memandang keluar jendela.

Pantulan wajahnya terlihat samar di kaca mobil.

"Apa kamu percaya Arga masih ingin memperbaiki semuanya?" tanyanya tiba-tiba.

Raka tidak langsung menjawab.

"Aku percaya..."

"...setiap orang bisa menyesali kesalahannya."

"Tapi penyesalan tidak selalu menghapus akibat dari perbuatannya."

Alea tersenyum tipis.

"Itu jawaban seorang pengacara?"

Raka ikut tersenyum.

"Itu jawaban seseorang yang pernah melihat terlalu banyak penyesalan datang terlambat."

Alea menoleh.

Kalimat itu terasa begitu pribadi.

Namun kali ini ia tidak bertanya lebih jauh.

Ia mulai memahami bahwa luka yang dibawa Raka mungkin sama besarnya dengan luka yang ia sembunyikan sendiri.

---

Begitu tiba di rumah sakit, Adrian sudah menunggu di depan ruang ICU.

Ia langsung menghampiri Raka.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Raka.

"Belum sadar."

"Dokter baru selesai operasi."

Adrian melirik ke arah Alea.

"Lukanya cukup banyak. Ada bekas benturan, tapi juga memar yang tidak wajar."

"Maksudmu?"

"Sepertinya dia dipukul sebelum kecelakaan terjadi."

Raka mengangguk pelan.

Dugaannya benar.

Ini bukan sekadar tabrak lari.

---

Dokter keluar dari ruang ICU beberapa menit kemudian.

"Siapa keluarga pasien?"

"Aku..." Alea hampir menjawab, tetapi langsung mengurungkan niat.

Arga bukan lagi bagian dari hidupnya.

Adrian maju menunjukkan identitasnya.

"Kami dari kepolisian."

Dokter mengangguk.

"Pasien sudah melewati masa kritis."

"Tapi kondisinya masih sangat lemah."

"Kalau nanti sadar, jangan terlalu banyak bertanya."

"Dia tidak boleh terlalu lelah."

---

Tak lama kemudian...

Monitor di dalam ruang ICU berbunyi pelan.

Mata Arga bergerak.

Perlahan terbuka.

Perawat segera memanggil dokter.

Adrian menoleh kepada Raka.

"Dia sadar."

Raka melihat ke arah Alea.

"Kalau kamu belum siap..."

Alea menggeleng.

"Aku harus mendengarnya."

---

Dengan izin dokter, hanya tiga orang yang masuk.

Raka.

Alea.

Dan Adrian.

Arga tampak sangat berbeda.

Wajahnya dipenuhi lebam.

Bibirnya pecah.

Tangannya dipasang infus.

Begitu melihat Alea, matanya langsung berkaca-kaca.

"Lea..."

Suara itu begitu lirih hingga hampir tidak terdengar.

Alea berdiri beberapa langkah dari ranjang.

Tidak mendekat.

Tidak pula menjauh.

"Kamu memanggil namaku."

Arga mengangguk pelan.

"Aku..."

"Aku minta maaf."

Alea memejamkan mata.

Kalimat itu sudah pernah ia bayangkan berkali-kali.

Namun saat benar-benar mendengarnya...

Hatinya tetap terasa sesak.

"Aku tidak datang untuk mendengar permintaan maaf."

Suara Alea bergetar.

"Aku datang untuk mendengar kebenaran."

Arga memandang Raka.

Lalu Adrian.

Setelah memastikan pintu ruang ICU tertutup rapat, ia berbisik dengan susah payah.

"Jangan..."

"...percaya..."

Batuk keras memotong ucapannya.

Monitor jantung berbunyi lebih cepat.

Dokter memberi isyarat agar mereka tidak memaksanya berbicara.

Namun Arga tetap berusaha.

"Di..."

"Di perusahaan..."

"Ada..."

Tangannya bergerak lemah, seolah ingin menunjuk seseorang.

"Lalu?"

desak Adrian.

"Bilang siapa?"

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Arga mengucapkan dua kata.

"Orang..."

"...dalam..."

Belum sempat melanjutkan, monitor jantung kembali berbunyi nyaring.

Dokter segera mendorong mereka keluar.

"Semua keluar sekarang!"

Pintu ICU ditutup.

Alea berdiri terpaku di lorong rumah sakit.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Bukan karena masih mencintai Arga.

Melainkan karena ia baru menyadari...

Semua yang terjadi pada keluarganya mungkin bukan ulah satu orang.

Melainkan bagian dari rencana yang jauh lebih besar.

Saat itulah Raka merasakan ponselnya bergetar.

Sebuah pesan anonim masuk.

> **Kalian terlambat. Orang dalam itu sudah berada sangat dekat dengan Alea sejak hari pertama.**

Raka langsung mengangkat kepala.

Tatapannya menyapu lorong rumah sakit.

Perawat.

Dokter.

Pengunjung.

Semua tampak biasa.

Namun di antara keramaian itu...

Seseorang sedang berdiri di ujung koridor, mengenakan topi hitam.

Begitu mata mereka bertemu, orang itu segera berbalik dan menghilang di balik pintu tangga darurat.

Raka langsung berlari mengejarnya.

**Bersambung...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!