Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14
Rendra masih berdiri di tempatnya, sedangkan anak itu berusaha meminta perlindungan darinya.
"Siapa anda?" tanya wanita itu, padanya.
Sedangkan Rendra masih menatap diam padanya wanita itu. Dia paling membenci wanita gelap mata begini.
"Siapa aku itu tidak penting. Yeng kelas anak anda yang merundungnya lebih dulu. Tapi apa yang anda lakukan? Anda malah diam, dan langsung menyalahkan orang lain." ujar Rendra menatap tajam pada mereka.
Bahkan anak-anak tadi juga tak luput dari pengamatannya.
"Bukan urusan anda!" jawab wanita itu membuat Rendra tersenyum.
"Pergi lah sebelum aku membuat anda menyesal nanti." ucapnya penuh dengan ancaman.
Karena merasa takut, wanita tadi memilih pergi membawa anaknya pergi. Kini hanya tinggal anak itu dengannya saja disana.
Rendra melihat anak itu. Dia menatap garis wajahnya, dan seperti asa sesuatu dalam diri anak itu yang membuatnya berjongkok di depannya.
"Siapa nama mu?" tanya Rendra pada anak itu.
Sejak tadi dia terus saja menundukkan kepalanya. Bahkan terkesan tidak berani menatap ke arahnya.
"Neil Louise." jawabnya jujur.
Tapi belum berani melihat ke arah Rendra yang semakin menatap ke arah Neil.
Suara ini, kenapa Rendra seperti pernah mendengar suaranya? Tapi di mana? Bahkan rasanya dia tidak asing dengan anak ini. Dia merasa seolah-olah mereka itu dekat.
"Ambilkan kotak obat di mobil!" seru Rendra membuat supirnya langsung cepat membawakan kotak obat yang di minta bosnya.
Lalu dia membersihkan luka tersebut, membuat Neil meringis pedih.
"Anak laki-laki tidak boleh lemah. Harus kuat dan berani menghadapi masalah." ucapnya pada anak itu.
Tapi setelahnya dia merasa menyesal. Dia bisa dengan mudah mengatakan hal demikian pada Neil, tapi dia tidak bisa melakukan hal itu pada dirinya sendiri. Luar biasa bukan?
"Jika mereka melakukan kejahatan balas di tempat. Tidak peduli bagaimana hasilnya, balas lebih dulu. Kamu tidak boleh kalah." ujarnya sambil membersihkan luka di lutut anak laki-laki itu dan memberikan plester di sana.
"Makasih, Om baik." ucap Neil dengan tulus.
Senyumannya membuat hati Rendra seperti di siram air dingin. Perasaan apa ini? kenapa perasaan ini dalam sekali?
"Dimana rumah mu?" tanya Rendra penasaran.
Dia tidak mungkin membiarkan anak ini sendirian. Terlebih dia merasa ada sesuatu dalam diri anak ini yang membuatnya nyaman.
"Aku bukan orang jahat. Kalau pun aku orang jahat, untuk apa menculik anak kurus sepertimu." ucapnya membuat Neil memberanikan diri menatap ke arah Rendra.
"Rumah Neil di ujung sana." jawabnya pada Rendra yang menatap ke arah yang di tunjukan Neil padanya.
"Ayo, aku antar pulang." Neil mengangguk.
Di bahkan menggandeng tangan Rendra, membuat perasaan laki-laki itu langsung menghangat seketika.
Demi Tuhan, perasaan apa ini? kenapa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa dia jelaskan sebelumnya. Tatapannya pada Neil terlihat begituu dalam. Bahkan genggaman tangannya saja terasa begitu hangat.
Perjalanan terasa begitu hangat baginya, bahkan Rendra bisa tersenyum saat anak itu juga tersenyum padanya.
"Makasih ya, Om udah anterin Neil pulang." Rendra mengangguk.
Dia melepaskan genggaman tangan anak itu dengan berat hati. Bahkan dia masih berdiri di tempatnya, saat Neil berlalu meninggalkannya.
"Neil, cepat sini nak. Mami telepon." ucap wanita paruh baya disana, membuat anak itu langsung berlari mendekati wanita tadi.
"Mami?" gumamnya terlihat begitu bahagia mendengar jika wanita yang di sebut mami itu menghubunginya.
"Ternyata dia jauh dari keluarganya." gumam Rendra yang melihat Neil hilang di balik pintu.
Sedangkan wanita paruh baya tadi menghampirinya di luar pagar. "Maaf, anda siapa?" tanyakan dengan lembut padanya.
"Oh, saya hanya kebetulan lewat dan anak itu di rundung teman-temannya. Lututnya juga terluka, lebih baik jangan terkena air dulu." ucap Rendra dengan begitu detail menceritakan keadaan Neil.
Anak laki-laki yang baru saja dia temui di ujung jalan tadi.
"Oh, terima kasih. Neil memang anak yang lembut. Dia bahkan tidak pernah membalas perbuatan mereka. Kasihan, anak sekecil itu harus bertarung dengan takdirnya." ujar wanita tadi membuat Rendra penasaran.
Tapi terlalu lancang baginya jika ingin tau lebih jauh lagi.
"Baik, kalau begitu saya permisi." ucap Rendra pamit, karena merasa tidak ada yang harus dia lakukan lagi di tempat itu.
Tapi tatapannya terhadap rumah ini begitu dalam. Dia seperti berat meninggalkan tempat itu, atau Neil?
Entahlah, dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.
***