Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Nduk, Ibu Kangen
Kemenangan dapur Parjo mengubah hal-hal kecil lebih cepat daripada yang Laras duga.
Di ruang makan, petugas yang biasanya meletakkan bungkusan tanpa melihat kini menyapanya lebih dulu. Di jemuran, seorang ibu menawarkan tempat kosong. Bahkan dua perempuan yang pernah berbisik tentang nasi goreng bertanya apakah Satya sudah tidur lebih nyenyak.
Laras menjawab sopan, tidak lebih.
Ia tahu penghormatan yang tumbuh dari satu piring makanan bisa hilang setelah satu gosip baru. Namun setidaknya kini orang menilai tangannya, bukan status jandanya saja.
Bu Titin datang membawa satu ikat bayam dan jagung muda.
“Suami saya bosan sayur santan,” katanya. “Ajari yang bening seperti buatanmu.”
Laras mengajaknya ke dapur. “Bawang merah diiris, temu kunci digeprek, air harus mendidih sebelum sayur masuk. Jagung dulu, bayam terakhir. Jangan dimasak sampai warnanya mati.”
“Sesederhana itu?”
“Yang sulit menahan tangan supaya tidak memasukkan semua bumbu.”
Bu Titin mencicipi kuahnya. “Kalau saya bawa ke arisan, mereka pasti tanya resep.”
“Bilang saja masakan rumah.”
“Kenapa harus sembunyi terus?”
Laras melihat Satya yang bermain dengan ujung kain di lantai. “Saya belum ingin orang datang hanya saat butuh tangan saya, lalu menyerang saat tidak suka hasilnya.”
Bu Titin memahami. Ia tidak bertanya lagi.
Hari itu Laras juga menitipkan pesan kepada seorang pedagang sayur yang biasa pulang melewati Desa Girisari. Ia menulis singkat untuk Mbah Inah: apakah Nala sudah tidak diare, apakah susu yang dibawa Iwan masih ada, dan kapan Laras bisa pulang tanpa membuat Bu Jum tahu lebih dulu.
Tiga hari berlalu tanpa jawaban.
Setiap suara sepeda motor berhenti di depan kompleks membuat Laras keluar kamar. Setiap kali pula yang datang hanya kurir, petugas gudang, atau keluarga prajurit lain.
Pada hari kedua, Laras membawa map penugasan ke bagian personel dan menanyakan jadwal pulang terdekat. Petugas memeriksa kalender, lalu kesehatan Satya.
“Kamu boleh mengambil hari kunjungan akhir pekan ini,” katanya. “Tapi harus ada pengganti yang bisa menangani kalau Satya menolak botol.”
“Dia memang menolak.”
“Berarti tunggu sampai kami dapat petugas perempuan dari poliklinik atau bawa Satya dengan izin Danyon.”
Membawa bayi Bima menempuh jalan desa bukan keputusan kecil. Laras pulang dengan map masih terjepit di dada.
Iwan melihat wajahnya. “Tidak bisa pulang?”
“Bisa, kalau Satya mau ditinggal.”
“Dia sekarang tidur dua jam setelah menyusu. Saya bisa antar Mbak pergi pagi, pulang sebelum sore.”
“Perjalanan saja hampir separuh waktu. Kalau dia menangis di tengah hari?”
“Saya panggil petugas kesehatan.”
Laras menatap Satya yang mengisap jempol di gendongan. Setiap jalan menuju Nala seperti harus dibayar dengan meninggalkan bayi lain.
“Saya tunggu kabar desa dulu,” katanya.
Iwan hendak menawarkan diri pergi lagi, tetapi Laras menggeleng. Ia tahu perjalanan itu memakai waktu dinas dan bensin satuan. Kebaikan Bima tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang bisa terus diambil tanpa batas.
Sore itu, Laras membuat daftar kebutuhan Nala di belakang buku catatan: susu, oralit, sabun, kain popok, biaya puskesmas. Ia mencoret susu merek mahal, menggantinya dengan ukuran kecil, lalu mencoret lagi karena ongkos kamar sewa belum terkumpul.
Angka-angka tersebut membuat rasa rindu berubah menjadi sesuatu yang kasar di tenggorokan.
Ia mencoba menelepon nomor tetangga dekat Mbah Inah, tetapi sinyal di Girisari putus dua kali. Pada percobaan ketiga, panggilan tersambung tanpa suara, lalu mati sebelum Laras sempat menyebut nama Nala.
Telepon di tangannya terasa lebih dingin daripada biasanya.
“Mungkin pedagangnya belum pulang,” kata Bu Titin.
“Atau suratnya diambil Bu Jum.”
“Iwan bisa pergi lagi.”
“Saya tidak mau terus merepotkan.”
Di warung Desa Girisari, susu formula sebenarnya bisa dipesan dari kecamatan. Masalahnya harga satu kaleng hampir sama dengan belanja beras dan sayur Mbah Inah untuk beberapa hari. Stok juga tidak selalu tersedia. Jika uang terlambat, air tajin dan pisang lumat kembali menjadi pilihan.
Laras menghitung gajinya malam itu. Ia menyisihkan ongkos pulang, obat Nala, dan uang muka kamar kecil jika kelak harus menyewa. Angkanya belum cukup.
Satya terbangun menjelang tengah malam. Laras mengangkatnya, menyusui sampai kenyang, lalu menyandarkan bayi itu di dada.
Tubuh Satya hangat dan padat. Pahanya sudah berlipat. Napasnya berbau susu.
Di dalam gelap, Laras membayangkan Nala dengan tulang bahu kecil dan perut yang mudah sakit.
Ia mulai menyenandungkan lagu yang dulu sering dinyanyikan Mbah Inah. Nada itu tidak utuh, bercampur dengan potongan lagu lama yang dipelajari Laras dari ibunya saat kecil.
Satya tidur.
Laras terus bernyanyi.
“Nduk...” Suaranya pecah. “Ibu kangen.”
Air mata jatuh ke kain bedong Satya. Ia menyekanya agar tidak membasahi kulit bayi itu, tetapi tetes berikutnya datang lebih cepat.
“Maaf, Nala. Ibu belum bisa menjemput.”
Di koridor, langkah Bima berhenti.
Ia baru pulang dari pemeriksaan malam dan hendak melihat Satya. Pintu kamar setengah terbuka. Iwan masih berjaga di ruang depan, tetapi Bima tidak masuk.
Dari balik pintu, ia mendengar lagu pelan, lalu satu nama yang diucapkan Laras seperti doa.
Nala.
Bima berdiri sampai nyanyian itu berakhir. Setelah itu ia berbalik tanpa suara.
Malam tersebut, ia membawa dua hal kembali ke ruang kerjanya: sepotong melodi yang tidak ia kenal, dan nama anak perempuan yang tertinggal di seberang jarak.