NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

Istriku, Panggil Dia Mbak

Bram menatap tajam ke arah sumber teriakan.

Prajurit yang tadi berteriak langsung berdiri tegak.

"Siap, salah, Kapten!"

"Apa yang salah?" tanya Bram dari tangga.

"Berteriak, Kapten."

"Yang lain?"

Prajurit itu melirik teman-temannya yang mendadak sibuk memeriksa map, galon, sapu, dan benda apa pun di tangan.

"Mengganggu proses pindahan, Kapten."

Bram turun perlahan. "Yang lain?"

"Tidak tahu, Kapten."

"Berlari mengelilingi lapangan dengan beban latihan mungkin membantu ingatanmu. Semua yang sudah lewat rumah saya lebih dari satu kali tanpa urusan, kumpul di depan asrama lima menit lagi."

Enam prajurit saling pandang.

"Siap!"

Mereka hendak bubar ketika Bram menambahkan, "Setelah membantu menurunkan barang. Rasa ingin tahu harus berguna."

Laras menahan senyum. Bu Ratna tidak berusaha menahan tawa.

Para prajurit berbaris mengambil kardus. Dalam beberapa menit, barang pindahan yang semula akan memakan waktu lama sudah masuk ke rumah.

Seorang bintara muda mengangkat kotak mesin dengan dua temannya. Setelah meletakkannya di ruang kerja, ia memandang Laras dari samping.

"Maaf, Bu. Ibu saudaranya Kapten?"

Laras menoleh. Usianya mungkin hanya beberapa tahun lebih tua daripada lelaki itu.

"Kamu harusnya panggil saya Mbak."

Wajah si bintara langsung merah. "Siap, Mbak."

"Dan saya bukan saudaranya."

Bram berdiri di ambang pintu. "Ini istri saya."

Suaranya tidak keras, tetapi seluruh orang di halaman mendengar.

"Larasati Purnama. Kalian panggil Mbak Laras dalam pergaulan yang wajar. Kalau situasi resmi, sesuaikan. Jangan berkerumun, jangan memotret diam-diam, dan jangan mengganggu keluarga siapa pun hanya karena kalian bosan."

"Siap, Kapten!"

Prajurit yang pertama berteriak mengangkat tangan ragu. "Kapten, izin bertanya."

"Apa?"

"Kalau memuji masakan Mbak Laras termasuk mengganggu?"

"Kamu sudah pernah makan masakannya?"

"Belum, Kapten. Persiapan untuk nanti."

"Tambah dua putaran."

Teman-temannya mengeluh pelan.

"Kalian tertawa, tambah satu putaran bersama."

"Siap!"

Sebelum mereka berlari, Bram menunjuk galon yang tadi hampir menabrak tiang. "Kembalikan dulu ke dapur umum. Map kosong itu taruh di meja piket. Sapu dipakai membersihkan halaman, jangan jadi alasan berjalan-jalan."

Pemilik setiap benda menunduk semakin dalam.

"Siap, Kapten."

"Dan satu hal lagi. Istri anggota lain juga bukan bahan tontonan. Aturan ini tidak muncul hanya karena istri saya baru datang. Paham?"

"Paham, Kapten!"

Laras memperhatikan perubahan nada itu. Bram bukan sekadar menunjukkan kepemilikan. Ia memakai kejadian kecil untuk menetapkan ukuran perilaku yang berlaku bagi semua keluarga di kompleks.

Para prajurit akhirnya berlari menuju lapangan. Si bintara muda sempat menoleh kepada Laras.

"Selamat datang, Mbak Laras!"

"Lihat depan kalau lari!"

Ia nyaris menabrak temannya. Tawa pecah dari teras, termasuk dari Laras.

Laras menyentuh lengan Bram. "Jangan menghukum satu blok hanya karena melihat saya."

"Bukan karena melihat. Karena meninggalkan tugas untuk mengerumuni rumah orang."

"Berarti kalau mereka melihat sambil tetap bekerja?"

Bram menatap para prajurit. "Jangan beri mereka ide."

Bu Ratna menyodorkan satu kardus ringan kepada Bram. "Kapten, istrimu lebih cepat menyesuaikan diri daripada kamu."

"Saya sudah curiga sejak dia menyuruh saya pergi mengambil berkas."

"Kalau Mas Bram berdiri di sini, semua orang hanya akan memperhatikan seragamnya," kata Laras. "Sekarang mereka melihat siapa yang akan tinggal di rumah ini."

Dua ibu dari teras seberang akhirnya mendekat membawa sapu dan sekeranjang buah.

"Selamat datang, Mbak Laras," kata salah satunya. "Maaf tadi kami cuma melihat."

"Tidak apa-apa. Saya juga melihat semua rumah karena belum tahu siapa tinggal di mana."

"Katanya Mbak bisa menjahit?"

"Bisa membuat pola dan memperbaiki potongan. Tapi hari ini belum menerima pesanan."

Bu Ratna menunjuk ruang kerja. "Besok juga jangan. Biarkan dia membongkar kardus dulu."

Perempuan bernama Bu Siska menyerahkan sekeranjang jeruk. "Kami memang dengar banyak cerita. Saya akui tadi datang karena penasaran."

"Cerita mana yang paling menarik?" tanya Laras.

Bu Siska salah tingkah. "Katanya pernikahannya mendadak."

"Itu benar."

"Katanya Mbak membuat seorang perawat sampai menyewa orang untuk mengganggu."

"Saya tidak membuat dia melakukan apa pun. Pilihan Tania adalah tanggung jawab Tania."

Bu Siska mengangguk perlahan. "Benar juga. Maaf."

"Saya tidak minta semua orang langsung percaya kepada saya. Cukup jangan menyebarkan hal yang belum diketahui. Kenali saya dari apa yang saya lakukan di sini."

"Jawaban yang adil," kata Bu Ratna.

Bu Siska mengulurkan tangan. "Kalau begitu, kita mulai lagi. Saya Siska. Rumah di seberang."

Laras menjabatnya. "Laras. Rumah yang masih penuh kardus."

Ibu-ibu itu mengangguk. Percakapan segera beralih pada letak pasar, penjual gas, tukang sayur, dan jadwal sampah. Laras mengingat semuanya sambil menyusun buah di meja.

Gosip tidak hilang hanya karena satu pertemuan. Namun sekarang rumor tentang perempuan licik harus bersaing dengan sosok nyata yang berbicara sopan, bekerja rapi, dan tidak berusaha merebut perhatian siapa pun.

***

Menjelang sore, rumah mulai dapat dilalui tanpa melompati kardus.

Bram memasang rak kecil di ruang kerja. Laras duduk di lantai, mengurutkan buku pola berdasarkan ukuran.

"Kamu tadi berlebihan," katanya.

"Tiga putaran bukan berlebihan."

"Mereka baru pertama melihat saya."

"Mereka boleh melihat. Yang tidak boleh adalah memperlakukanmu seperti tontonan."

Laras menyelipkan buku ke rak. "Saya bisa menegur sendiri."

"Saya tahu. Bintara itu hampir pingsan ketika kamu menyuruhnya memanggil Mbak."

"Wajahnya lucu."

"Jangan terlalu menikmati kekuasaan, Bu Kapten."

Laras melempar gulungan pita ukur. Bram menangkapnya sebelum mengenai wajah.

Ia lalu duduk di lantai di sebelah Laras. "Soal pesan penyidik tadi pagi, saya sudah menelepon balik."

"Pak Suryadi terlibat?"

"Belum ada bukti. Nomor rumahnya muncul karena Tania memakai kontak keluarga saat mencari perantara. Nama Rusdi berasal dari pencarian terpisah yang kemudian diteruskan ke nomor yang sama. Polisi masih memeriksa."

Laras mengembuskan napas. "Saya tidak suka Pak Suryadi, tapi saya juga tidak ingin menuduh orang tanpa bukti."

"Karena itu kita tunggu hasil. Untuk keamanan, petugas gerbang sudah menerima pemberitahuan yang perlu. Tidak ada rincian pribadimu dibagikan."

"Terima kasih."

"Saya hanya menjalankan daftar operasi martabak."

Laras mengambil gulungan pita ukur lain. Bram cepat mengangkat kedua tangan menyerah.

Radio genggam di meja berbunyi.

"Kapten Bramantya, mohon merapat ke kantor kompi. Ada perubahan rencana kegiatan."

Humor di wajah Bram hilang. Ia menjawab panggilan, lalu berdiri.

"Saya kembali sebentar."

"Masalah?"

"Belum tahu."

Laras mengangguk. Ia sudah memahami bahwa pertanyaan tidak selalu bisa dijawab sebelum perintah resmi diterima.

***

Bram kembali satu jam kemudian membawa map tertutup.

Bu Ratna masih membantu Laras memasang tirai. Saat melihat wajah Bram, ia langsung turun dari kursi.

"Tugas?"

"Latihan gabungan dan pengamanan logistik luar kota. Jadwal dimajukan."

Laras memegang ujung tirai. "Kapan berangkat?"

Bram menatap rumah baru yang belum selesai ditata, lalu istrinya.

"Besok subuh."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!