NovelToon NovelToon
Posesif Bagas

Posesif Bagas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Posesif
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Safira Maulidah salsabila

Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.

Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.

Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.

Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.

Brak!

Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.

Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.

Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?

Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Ayla perlahan membuka matanya,langsung menoleh ke samping,Ayla melihat bagas masih duduk di kursi Namun kali ini kepalanya tertidur bersandar di sisi tempat tidur,Ayla sedikit terkejut.

"Dia benar-benar nggak pulang."

Ayla memanggil pelan.

"Bagas."

Bagas langsung membuka matanya.

"Hmm?."

"Kamu nggak pulang?."

Bagas menggeleng kecil.

"Nggak."

Ayla menghela napas.

"Kamu ini."

Bagas berdiri lalu merapikan sedikit bajunya.

"Aku bilang kan aku di sini."

Ayla menatapnya serius.

"Sekarang kamu harus sekolah."

Bagas langsung menjawab.

"Nggak."

Ayla mengerutkan kening.

"Bagas!."

Bagas tetap santai.

"Aku sudah izin."

Ayla memegang dahinya.

"Kamu benar-benar tidak bisa diatur."

Bagas tersenyum kecil.

"Kamu juga."

Ayla menghela napas menyerah,Ayla mengerutkan kening.

"Bagas!."

Bagas tetap santai.

"Aku sudah terlanjur izin."

Ayla memegang dahinya.

"Kamu benar-benar nggak bisa diatur."

Bagas tersenyum kecil.

"Kamu juga."

Ayla menghela napas menyerah.

Beberapa saat kemudian perawat datang membawa nampan makanan,segelas air,dan obat.

"Pasien harus makan dulu sebelum minum obat ya"kata perawat ramah.

Perawat itu meletakkan nampan di meja kecil di samping tempat tidur lalu keluar dari kamar.

Ayla menatap makanan itu dengan wajah kurang bersemangat.

"Nggak lapar"gumamnya pelan.

Bagas langsung berdiri dari kursinya dan bagas menarik meja kecil itu mendekat ke tempat tidur ayla.

"Makan dulu."

Ayla langsung menggeleng.

"Nggak."

Bagas mengangkat alis.

"Kenapa?."

"Aku ngggak selera."

Bagas tidak menjawab,lalu bagas mengambil sendok,dan menyendok sedikit makanan dari piring.

Ayla langsung menyadari apa yang akan dilakukan bagas.

"Bagas jangan."

Namun bagas sudah mengangkat sendok itu ke arah ayla.

"Buka."

Ayla menatapnya tidak percaya.

"Bagas."

"Buka."

Ayla menggeleng lagi.

"Aku bisa makan sendiri."

Bagas tetap menahan sendok di depan ayla.

"Tapi kamu harus makan."

Ayla mencoba memalingkan wajahnya sedikit.

Namun bagas tetap sabar menunggu.

Beberapa detik berlalu,Akhirnya ayla menghela napas kecil.

"Kamu keras kepala sekali."

Bagas hanya berkata singkat.

"Aku tahu."

Ayla akhirnya membuka mulut sedikit.

Bagas langsung menyuapinya.

Ayla mengunyah pelan.

Bagas mengambil sendok lagi.

"Lagi."

Ayla menatapnya.

"Kamu benar-benar seperti mengurus anak kecil."

Bagas menjawab santai.

"Kalau anak kecilnya tidak mau makan ya harus begitu."

Ayla memutar matanya sedikit kesal,Tapi tetap membuka mulut lagi.

Beberapa suapan kemudian makanan itu akhirnya habis,Bagas meletakkan sendok kembali ke piring.

"Sekarang obat."

Ayla langsung mengerutkan wajah.

"Tidak mau."

Bagas menatapnya.

"Kenapa?."

"Pahit."

Bagas menghela napas kecil.

"Itu obat."

Ayla tetap menggeleng.

"Nggak mau."

Bagas mengambil obat dari meja lalu menunjukkannya.

"Ini harus diminum."

Ayla langsung menutup mulutnya rapat-rapat.

"Tidak."

Bagas menatapnya beberapa detik,Lalu bagas berkata dengan nada datar.

"Sayang."

Ayla tetap menggeleng.

Bagas akhirnya mengambil gelas air lalu menaruhnya di tangan ayla.

"Minum."

Ayla masih menolak.

"Bagas"

Bagas sedikit mendekat ke tempat tidur,Tatapannya serius tapi lembut.

"Kalau kamu tidak minum obat,kamu nggak akan cepat sembuh."

Ayla terdiam.

Bagas menambahkan pelan.

"Aku nggak mau kamu sakit lama."

Kalimat itu membuat ayla perlahan menatapnya,Beberapa detik kemudian ayla akhirnya menghela napas.

"Baiklah."

Bagas menyerahkan obat itu ke tangannya.

Ayla memasukkan obat itu ke mulutnya dengan wajah tidak suka,Lalu ayla langsung minum air,Setelah menelan obat itu,Ayla langsung mengerutkan wajah.

"Pahit."

Bagas sedikit tertawa kecil.

Namun tanpa sadar tangannya terangkat dan mengusap lembut kepala ayla.

"Anak baik."

Ayla langsung menatapnya kesal.

"Aku bukan anak kecil."

Bagas hanya tersenyum kecil Namun di matanya terlihat jelas satu hal,Bagas benar-benar khawatir pada ayla.

...••••••...

Di lorong rumah sakit terdengar beberapa suara langkah kaki.

Tak lama kemudian pintu kamar ayla terbuka.

"AYLA!"

Rina langsung masuk terlebih dahulu Di belakangnya ada salsa kemudian raka dan dimas juga ikut masuk.

Ayla sedikit terkejut melihat mereka.

"Kalian?."

Rina langsung berjalan mendekat ke tempat tidur.

"Kamu nggak bilang kalau kamu dirawat!."

Salsa juga terlihat khawatir.

"Gimana?."

Ayla tersenyum kecil.

"Aku sudah lebih baik."

Dimas kemudian melirik ke arah kursi di samping tempat tidur.

Di sana bagas sedang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.

Dimas langsung menyeringai.

"Pantas saja kamu nggak masuk sekolah."

Lanjut dimas tertawa kecil.

"Ternyata kamu jadi penjaga rumah sakit."

Bagas menatap mereka datar.

"Aku nggak bertanya."

Sementara dimas menepuk bahu bagas.

"Gas,kamu benar-benar parah,Kalau guru tahu alasanmu izin pasti mereka juga bingung."

Bagas hanya menjawab santai.

"Gak peduli."

Rina, Salsa,Raka,dan dimas langsung tertawa kecil.

Suasana kamar rumah sakit yang sebelumnya sepi akhirnya menjadi jauh lebih hangat dengan kedatangan mereka.

Ayla mengerutkan kening.

"Bagas!."

Bagas tetap santai.

"Aku sudah izin."

Ayla memegang dahinya.

"Kamu benar-benar nggak bisa diatur."

Bagas tersenyum kecil.

"Kamu juga."

Rina langsung tertawa kecil melihat mereka.

"Lihat kan baru sembuh sedikit saja sudah mulai berdebat lagi."

Salsa mengangguk sambil tersenyum.

"Tapi kali ini bagas yang kalah."

Bagas mengangkat alis sedikit.

"Siapa bilang?."

Dimas menambahkan sambil tertawa.

"Jelas kamu yang kalah gas,Kan prinsipnya cewek selalu benar."

Bagas mengangkat alis.

"Aturan dari mana itu?."

"Aturan tidak tertulis"jawab dimas.

Semua langsung tertawa kecil.

Rina kemudian mengalihkan pembicaraan.

"Ngomong-ngomong ay,Semua anak kelas titip salam."

Ayla tersenyum.

"Serius?."

Salsa mengangguk.

"Iya,Bahkan bu rani sempat tanya kabarmu tadi pagi."

"Katanya jangan buru-buru masuk sekolah kalau belum benar-benar sembuh."tambah salsa.

Ayla sedikit terkejut.

"Baik juga ya beliau."

Rina langsung duduk di tepi tempat tidur sambil menatap ayla.

"Jadi bagaimana ceritanya kamu bisa sampai dirawat?."

Salsa ikut mendekat.

"Iya,Kemarin pas disekolah,Kamu terlihat baik-baik aja?."

Ayla menghela napas kecil.

"Semalam aku demam tinggi mungkin karena kecapekan."

Dimas langsung melirik Bagas.

"Atau karena terlalu banyak drama dengan seseorang."

Raka langsung menahan tawa.

"Dim,kamu ini."

Ayla langsung memalingkan wajah sedikit karena malu.

Bagas hanya menatap dimas datar.

"Banyak bicara."

Dimas tertawa kecil.

"Fakta."

Rina langsung menepuk lengan dimas pelan.

"Sudah,jangan menggoda terus."

Salsa menatap ayla dengan wajah sedikit khawatir.

"Tapi serius,Sekarang kamu sudah lebih baik kan?."

Ayla mengangguk kecil.

Rina tiba-tiba menepuk dahinya.

"Oh iya."

Semua menoleh ke arahnya,Rina menunjuk sebuah keranjang buah yang sejak tadi dibawa Raka.

"Hampir lupa."

Raka langsung mengangkat keranjang itu,Ayla baru menyadarinya.

"Loh?."

Salsa tersenyum kecil.

"Kami bawain sesuatu buat kamu."

Raka berjalan mendekat lalu meletakkan keranjang buah itu di atas meja kecil dekat tempat tidur,Di dalamnya ada beberapa apel,Jeruk,Anggur dan pir yang tersusun rapi.

Ayla terlihat terkejut.

"Kalian nggak perlu repot-repot begini."

Rina langsung menggeleng.

"Nggak repot kok."

Salsa mengangguk.

Ayla tersenyum.

"Terima kasih ya."

Rina mengusap bahu ayla pelan.

"Nggak usah terima kasih."

Salsa mengangguk.

"Yang penting kamu cepat sembuh Jadi nanti bisa balik ke sekolah lagi."

Rina kemudian menepuk bahu ayla dengan pelan.

"Pokoknya kamu cepat sembuh ya."

Salsa mengangguk.

"Biar bisa kembali ke sekolah."

Dimas langsung berkata sambil menyeringai.

"Iya,kasihan juga bagas kalau harus terus jadi penjaga rumah sakit,Nanti dia benar-benar pindah sekolah ke rumah sakit."

Semua kembali tertawa kecil,Ayla ikut tersenyum.

Sementara bagas hanya menggeleng pelan melihat tingkah teman-temannya,Namun diam-diam,tatapannya kembali tertuju pada ayla,memastikan satu hal,Bahwa ayla benar-benar sudah jauh lebih baik.

Salsa kemudian berdiri di dekat tempat tidur ayla.

"Kami pulang dulu ya."

Ayla mengangguk.

"Hati-hati."

Rina langsung memeluk ayla dengan hati-hati.

"Cepat sembuh."

"Iya."

Setelah semuanya berpamitan,Mereka akhirnya keluar dari kamar,Pintu kembali tertutup,Suasana yang ramai perlahan berubah tenang,Kini hanya tersisa ayla dan bagas,Beberapa detik berlalu dalam keheningan,Ayla menatap pintu yang baru saja tertutup.

"Mereka berisik sekali."

Bagas mengangguk.

"Benar,Tapi menyenangkan."

Ayla mengangguk dan tersenyum kecil,Kemudian ayla menoleh ke arah bagas.

"Kamu juga harus pulang dan istirahat."

Bagas mengangkat alis.

"Mulai lagi?."

Ayla mengangguk.

"Iya."

Bagas menarik kursinya lalu duduk kembali di samping tempat tidur.

"Nanti."

Ayla langsung menghela napas panjang.

"Bagas."

"Hmm?."

"Kamu keras kepala."

Bagas tersenyum tipis.

"Kata orang yang tidak mau minum obat tadi pagi."

Ayla langsung terdiam,Bagas menang tipis kali ini,Melihat ekspresi ayla yang kehabisan jawaban,Senyum kecil di wajah bagas semakin terlihat.

Belum sempat ayla membalas,Terdengar ketukan pelan dari pintu kamar.

Tok tok tok

"Masuk"jawab bagas.

Pintu perlahan terbuka.

Ayla sedikit terkejut saat melihat dua orang masuk ke dalam kamar.

"Om...Tante?."

Mama bagas dan papa bagas tersenyum hangat.

"Assalamualaikum"ucap Mama bagas dan papa bagas.

"Waalaikumsalam"jawab ayla dan bagas

Di belakang mereka,Seorang sopir membawa sebuah keranjang buah yang ukurannya jauh lebih besar daripada keranjang yang tadi dibawa teman-temannya tadi,Keranjang itu bahkan harus dibawa dengan kedua tangan.

Ayla langsung membelalakkan mata.

"Besar sekali."

Sopir tersebut berjalan mendekat lalu meletakkan keranjang buah itu di meja dekat jendela,Di dalamnya tersusun rapi apel,Jeruk,Anggur,Pir,Kiwi,Stroberi,Dan berbagai buah lainnya.

Mama bagas tersenyum.

"Semoga kamu suka."

Ayla terlihat bingung sekaligus terharu.

"Tante,ini terlalu banyak."

Mama bagas langsung menggeleng.

"Nggak banyak kok."

Bagas yang melihat ukuran keranjang itu langsung mengangkat alis.

"Nggak banyak?."

Papa bagas langsung tertawa.

"Itu versi mamamu."

Mama bagas menoleh ke arah suaminya.

"Kamu juga yang tadi bilang tambahin anggur."

Papa bagas berdeham pelan.

"Itu karena anggurnya kelihatan segar."

Ayla tidak bisa menahan tawanya.

Mama bagas kemudian duduk di kursi dekat tempat tidur.

"Bagaimana sekarang udah mendingan?."

Ayla mengangguk.

"Alhamdulillah Sudah jauh lebih baik,Tante."

"Syukurlah."

Papa bagas ikut tersenyum.

"Kami sempat khawatir waktu bagas memberi kabar."

Ayla menunduk sedikit.

"Maaf jadi merepotkan."

Mama bagas langsung memegang tangan ayla dengan lembut.

"Jangan bilang begitu."

Papa bagas mengangguk setuju.

"Kesehatan jauh lebih penting dari pada apa pun."

Ayla tersenyum kecil.

"Iya,Om."

"Kamu harus cepat sembuh ya."

Ayla mengangguk.

"Iya,Tante."

Mama bagas tersenyum lembut.

"Nanti kalau sudah sembuh,Tante mau lihat kamu tersenyum lagi,Bukan pakai wajah pasien rumah sakit begini."

Ayla tertawa kecil.

"Baik,Tante."

Papa bagas lalu melirik putranya.

"Dan kamu."

Bagas menoleh.

"Apa?."

Papa bagas mengangkat alis.

"Kapan terakhir kali kamu tidur yang benar?."

Bagas terdiam beberapa detik.

Mama bagas langsung menyahut.

"Nah,Itu."

Ayla langsung menoleh ke arah bagas.

"Tuh kan."

Bagas menghela napas kecil.

"Mama juga?."

Mama bagas tertawa.

"Kamu pikir mama tidak tahu kalau kamu tadi malam menginap di sini?."

Bagas diam.

Papa bagas menepuk bahu bagas pelan.

"Kami bangga kamu peduli pada sama tunanganmu."

Mama bagas langsung menyela.

"Tapi tetap harus istirahat."

Ayla langsung mengangguk cepat.

"Benar."

Bagas memandang mereka satu per satu,Kemudian menghela napas menyerah.

"Kenapa semuanya kompak?."

"Karena itu benar."jawab mama bagas santai.

Ayla langsung tertawa.

Untuk pertama kalinya hari itu,Bagas benar-benar kalah jumlah dan semua orang di ruangan itu mengetahuinya.

Beberapa saat kemudian,Mama bagas dan papa bagas berpamitan untuk kembali bekerja.

"Sekarang istirahat yang banyak yah ayla"kata mama bagas.

"Iya,Tan."

"Cepat sembuh."

Ayla tersenyum hangat.

"Iya tante."

Setelah mereka keluar dari kamar,Suasana kembali tenang,Ayla melirik keranjang buah besar yang masih berada di dekat jendela lalu menoleh ke arah bagas.

"Kurasa keranjang itu cukup untuk satu bangsal."

Bagas melihat ke arah keranjang buah itu,Kemudian menjawab singkat.

"Itu masih versi sedikit menurut mama."

Ayla langsung tertawa.

1
Citra bella Suteja
ayla teralalu lemah ngga bisa tegas ngga berani melawan,,,
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!