NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Singgah di Desa Kaliwungu.

Setelah berjalan menyusuri jalur perbukitan yang curam, langkah kaki Erlang akhirnya membawanya keluar dari rimbunnya Hutan Roban. Di hadapannya kini terbentang sebuah pemukiman yang cukup ramai. Sebuah papan kayu besar yang dipaku di gapura bambu bertuliskan "Desa Kaliwungu". Suasana desa ini tampak hidup, terutama di area pasar yang terletak tidak jauh dari gerbang masuk.

Erlang berjalan perlahan memasuki area pasar, memandangi deretan lapak pedagang yang menjual palawija, kain, hingga jajan pasar. Perutnya yang sedari kemarin hanya diganjal air sendang mulai berbunyi. Ia merogoh kantong bajunya, memastikan dua keping koin tembaga sisa pemberian Kang Jaya masih aman di sana.

"Mungkin dua koin ini cukup untuk membeli dua buah tiwul atau sego kucing," gumam Erlang pelan sembari mengedarkan pandangan mencari penjual makanan murah.

Namun, belum sempat Erlang menemukan lapak makanan, suasana pasar yang tadinya riuh oleh tawar-menawar mendadak berubah tegang. Suara teriakan kasar seorang pria memecah keramaian, membuat para pedagang dan pembeli di sekitar tempat itu langsung menepi dengan wajah ketakutan.

"Heh, Tua Bangka! Jangan banyak alasan! Cepat bayar uang keamanan pasar minggu ini!" bentak seorang pria bertubuh kekar dengan kumis melintang tebal. Pria itu mengenakan pakaian lurik hitam tanpa kancing, memamerkan dadanya yang berbulu dan bertato gambar celeng. Di pinggangnya terselip sebilah golok besar. Dia adalah salah satu centeng pasar Kaliwungu yang paling ditakuti.

Di depan centeng itu, seorang kakek penjual gerabah keliling terduduk di tanah berlumpur. Beberapa periuk dan kendi tanah liat dagangannya sudah pecah berantakan akibat ditendang oleh si centeng.

"Ampun, Paman Centeng... Ampun," ratap kakek penjual gerabah itu sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "Hari ini dagangan saya baru laku satu kendit. Uangnya cuma cukup untuk beli beras satu canting buat cucu saya di rumah. Tolong beri saya waktu sampai besok, Paman."

"Peduli setan dengan cucumu! Peraturan tetap peraturan! Kalau semua pedagang melarat sepertimu minta tunda, bosku bisa kelaparan!" teriak si centeng kumis melintang. Ia maju selangkah, mengangkat kaki kanannya yang besar bersiap untuk menginjak dada si kakek penjual gerabah.

Melihat tindakan semena-mena itu, hati Erlang langsung bergetar hebat. Bayangan malam berdarah saat keluarganya ditindas oleh orang-orang kuat kembali berkelebat di benaknya. Tanpa berpikir panjang tentang keselamatannya sendiri, Erlang menerobos kerumunan warga yang hanya berani menonton.

"Tunggu, Paman! Tolong hentikan!" seru Erlang lantang sembari melompat ke depan, berdiri tepat di antara si centeng dan kakek penjual gerabah.

Si centeng kumis melintang menghentikan tarikan kakinya. Ia menurunkan pandangannya, menatap Erlang dengan tatapan merendahkan. Sepasang matanya melotot gusar melihat seorang pemuda berpakaian lusuh dengan buntalan kain berani menghalangi jalannya.

"Siapa kau, Bocah Ingusan? Berani-beraninya berteriak di depan mukaku!" bentak si centeng, suaranya menggelegar hingga membuat beberapa ibu-ibu di dekat lapak sayur bergidik. "Mau jadi pahlawan kesiangan, hah?"

Erlang mengatur napasnya, mencoba bersikap se-santai mungkin agar tidak memancing keributan yang lebih besar. Ia membungkuk sedikit, menunjukkan sikap sopan khas anak gunung. "Nyuwun sewu, Paman. Saya cuma pengembara yang kebetulan lewat. Tapi rasa-rasanya tidak elok kalau Paman menggunakan kekerasan pada orang tua yang sudah tidak berdaya begini. Kalau dagangannya dihancurkan, bagaimana dia bisa membayar uang keamanan?"

Mendengar ucapan Erlang, beberapa warga di kerumunan berbisik-bisik, mengkhawatirkan keselamatan pemuda polos itu.

"Wah, cari mati itu anak muda," bisik seorang penjual ayam di belakang Erlang.

"Heh, Bocah Gendeng!" centeng itu terkekeh sinis, memegangi gagang golok di pinggangnya. "Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa? Aku ini Ki Suroto, penguasa pasar Kaliwungu! Hakku mau menendang atau membunuh tua bangka ini. Sekarang, kalau kau tidak mau kutebas menjadi dua bagian, cepat menyingkir dari hadapanku!"

"Saya tidak akan menyingkir sebelum Paman berjanji tidak akan memukul kakek ini lagi," jawab Erlang teguh, wajah rupawannya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.

"Kurang ajar! Bocah mlarat ini benar-benar minta dihajar!" teriak Ki Suroto naik pitam. Tanpa aba-aba, ia melayangkan sebuah pukulan lurus yang sangat cepat ke arah rahang Erlang. Pukulan itu mengandalkan tenaga ototnya yang besar, cukup kuat untuk membuat pingsan seekor kerbau muda.

Warga yang melihat itu langsung menutup mata, tidak tega melihat wajah tampan Erlang hancur. Namun, bagi Erlang yang secara tidak sadar telah memiliki aliran pernapasan sejati dari kitab tanpa nama, gerakan pukulan Ki Suroto terasa sangat lambat, seperti kepakan sayap lalat di siang hari.

Erlang mengingat latihan dasar yang diajarkan mendiang paman gurunya selama belasan tahun di pondok. "Gunakan jurus Tapak Angin Sepoi untuk mengalihkan tenaga lawan," bisik suara ingatan Ki Suro di kepala Erlang.

Dengan sangat santai, Erlang hanya menggeser kaki kanannya setengah langkah ke belakang, melakukan gerak silat dasar Langkah Bambu Gurun. Tubuhnya miring dengan luwes, membuat tinju besar Ki Suroto hanya mengenai angin kosong tepat di samping telinganya.

"Eh?" Ki Suroto terkejut karena pukulannya luput. Bobot tubuhnya yang condong ke depan membuatnya agak terhuyung. "Keparat! Kau cuma beruntung bisa menghindar!"

Ki Suroto membalikkan badannya dengan cepat, lalu melayangkan tendangan melingkar ke arah pinggang Erlang. Kali ini tendangannya berdesing kasar.

Erlang tidak panik. Ia mengangkat tangan kirinya, melakukan gerakan menangkis ke bawah, gerakan yang selalu diulanginya seratus kali setiap pagi di halaman pondok dulu. Gerakan menangkis biasa yang terlihat sangat sederhana dan tanpa tenaga otot yang tegang.

Plak!

Begitu lengan kiri Erlang berbenturan dengan tulang kering kaki Ki Suroto, terdengar suara hantaman yang aneh. Ki Suroto langsung menarik kakinya kembali sambil menjerit kesakitan. Ia melompat-lompat menggunakan satu kaki sambil memegangi tulang keringnya yang terasa seperti baru saja menghantam tiang besi padat.

"Aduh! Sialan! Lenganmu pakai jimat apa, hah?!" ringis Ki Suroto dengan wajah memerah menahan linu yang luar biasa. Aliran tenaga dalam tak terbatas di tubuh Erlang telah secara otomatis melindungi lengannya, membalikkan daya hantam tendangan Ki Suroto kembali ke pemiliknya.

Erlang memandangi tangannya sendiri dengan bingung, lalu menatap Ki Suroto dengan tatapan bersalah. "Lho, Paman tidak apa-apa? Saya cuma menangkis biasa seperti yang diajarkan paman saya, Paman. Saya tidak pakai jimat apa-apa."

"Banyak bacot kau! Rasakan ini!" Ki Suroto yang sudah kepalang malu di depan para pedagang pasar langsung mencabut golok besarnya. Bilah besi itu berkilat tajam di bawah sinar matahari. Ia mengayunkan golok itu dari atas ke bawah, berniat membelah kepala Erlang.

"Awas, Le! Dia pakai senjata!" teriak kakek penjual gerabah dari belakang dengan panik.

Erlang melihat bilah golok yang mengarah ke kepalanya. Ia tidak berniat membalas dengan kekerasan yang mematikan. Menggunakan gerak dasar Tapak Angin Sepoi, Erlang memajukan tubuhnya, justru mendekati ruang gerak Ki Suroto sebelum ayunan golok itu mencapai daya hancur maksimal. Tangan kanan Erlang bergerak lurus, mendorong dada Ki Suroto menggunakan telapak tangan terbuka.

Puk...

Sentuhan telapak tangan Erlang di dada Ki Suroto terlihat sangat lembut, seperti seorang teman yang sedang menepuk dada sahabatnya. Namun, energi murni tak terbatas yang merembes dari telapak tangan Erlang menghasilkan dorongan yang luar biasa dahsyat.

Brakkk!

Tubuh kekar Ki Suroto langsung terbang ke belakang sejauh lima langkah, menabrak lapak kayu penjual pisang hingga hancur berantakan. Golok besarnya terlepas dari genggaman dan jatuh berdenting di tanah berlumpur. Pria berkumis tebal itu terkapar di antara tumpukan pisang, napasnya sesak dan matanya mendelik tidak percaya sebelum akhirnya ia mengerang kesakitan tanpa bisa bangkit berdiri lagi.

Suasana pasar Kaliwungu mendadak hening seketika. Tidak ada yang bersuara. Semua pedagang, pembeli, termasuk kakek penjual gerabah, menatap Erlang dengan pandangan melotot dan mulut menganga. Mereka tidak menyangka, centeng pasar yang selama ini menindas mereka dengan kejam bisa dikalahkan dalam tiga gerakan sederhana oleh seorang pemuda mlarat yang tampak polos.

Erlang yang melihat kekacauan itu langsung buru-buru menghampiri Ki Suroto dengan cemas. "Waduh, Paman! Maaf sekali! Saya tidak bermaksud merusak lapak pisang ini. Paman tidak apa-apa kan? Ada yang patah?"

Ki Suroto hanya bisa mengerang lirih, memegangi dadanya yang terasa sangat sesak seolah baru saja dihantam batang pohon jati raksasa. Ia menatap Erlang dengan pandangan penuh ketakutan yang amat sangat, mengira pemuda di depannya ini adalah seorang pendekar sakti yang sedang menyamar.

Melihat si centeng tidak bisa menjawab, Erlang berbalik dan mendekati kakek penjual gerabah. Ia berlutut, membantu kakek itu untuk berdiri dari tanah berlumpur.

"Kakek tidak apa-apa? Ada bagian tubuh yang terluka?" tanya Erlang lembut, suaranya kembali santai seolah pertarungan tadi tidak pernah terjadi.

Kakek penjual gerabah itu menatap Erlang dengan tangan gemetar, matanya berkaca-kaca karena haru dan takjub. "T-tidak apa-apa, Angger... Saya tidak apa-apa. Gusti Allah... Angger ini sebenarnya siapa? Sakti sekali... Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa tua bangka ini."

Erlang tersenyum tulus, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah, saya cuma Erlang, Kek. Pengembara biasa yang kebetulan lewat. Silat saya juga cuma silat dasar biasa kok, mungkin tadi Paman Centeng itu sedang kurang sarapan saja jadi badannya agak lemas."

Mendengar jawaban polos Erlang, para pedagang pasar yang tadinya tegang perlahan mulai berani mendekat, memandang Erlang dengan tatapan penuh kekaguman atas kebaikan dan kerendahan hatinya.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!