NovelToon NovelToon
Sistem Kaisar Abadi

Sistem Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Tiga tahun jadi sampah!

Itulah yang dialami Arya Langit setelah meridiannya hancur. Dari jenius nomor satu Perguruan Langit Biru, dia jatuh jadi pecundang yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang.

Di hari pertunangannya, tunangannya sendiri Kezia Adinegara membatalkan pernikahan di depan seluruh tetua demi pria lain dan memberinya 100 Batu Roh sebagai uang hinaan.

Tepat saat tamparan itu mendarat di wajahnya, Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi bangkit!

Mata Takdir aktif. Arya bisa melihat masa depan tragis setiap wanita dengan Takdir Kaisar.

Sekar Embun, Bidadari Pedang nomor satu yang dingin seperti es, akan lumpuh total dalam 7 hari dan mati kedinginan di lembah terpencil.

Luna Maheswari, Ratu Iblis yang mempesona, akan menjadi kuali kultivasi dan meledak mati.

Kirana Lestari, Putri Kerajaan yang manja, akan diracun pada malam pernikahannya.

Satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah menjadikan mereka istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Malam Pertama Serumah dengan Guru

Halaman Puncak Embun yang tadinya penuh dengan kristal es darah kini sudah bersih kembali.

Setelah membekukan dan menghancurkan pemimpin pembunuh dari Sekte Darah Hitam menjadi debu es, Sekar Embun hanya melambaikan tangannya dengan ringan. Angin dingin yang lembut berhembus dari telapak tangannya, menyapu seluruh halaman pondok. Kristal es merah yang merupakan sisa tubuh dari dua pembunuh Alam Jiwa Kesatria tingkat tiga itu langsung hancur menjadi debu halus dan tertiup angin malam hingga tidak ada bekas sama sekali.

Bersih, tanpa jejak, tanpa bau darah. Inilah cara Bidadari Pedang Embun membersihkan kotoran. Indah, dingin, dan tidak meninggalkan ampun.

Arya Langit menatap pemandangan itu dengan kagum. Kekuatan Alam Raja Langit memang berada di level yang sama sekali berbeda dari Alam Jiwa Kesatria. Jika dia membunuh dengan kekuatan naga yang meledak ledak, maka gurunya membunuh dengan keindahan es yang mematikan.

"Guru, kamu hebat sekali," puji Arya dengan tulus.

Sekar Embun yang baru saja menunjukkan kekuatan mengerikannya itu menoleh dan menatap Arya. Wajah dinginnya sedikit mencair saat melihat senyum tulus muridnya itu.

"Kamu juga tidak buruk," kata Sekar Embun dengan suara yang sedikit lebih lembut dari biasanya. "Dua Alam Jiwa Kesatria tingkat tiga dalam dua jurus. Bahkan aku saat masih di Alam Jiwa Kesatria tingkat dua tidak bisa melakukannya secepat kamu. Teknik Langkah Bayangan Embun dan Teknik Pedang Embun Beku mu... sudah mencapai tingkat mahir? Kamu mempelajarinya hanya dalam setengah hari?"

Nada suara Sekar Embun penuh dengan rasa tidak percaya dan bangga yang tidak bisa disembunyikan.

Arya menggaruk kepalanya dengan canggung. Dia tidak bisa berkata bahwa itu semua adalah hadiah dari sistem yang membuat bakatnya menjadi sepuluh kali lipat lebih kuat dari jenius biasa. Dia hanya bisa menggunakan alasan yang sama lagi.

"Semua berkat ajaran Guru yang sangat jelas dan kolam air panas Guru yang sangat ajaib, Guru. Murid hanya sedikit beruntung saja."

"Mulut manis lagi," gerutu Sekar Embun pelan, tapi kali ini dia tidak memukul dada Arya seperti tadi siang, dia hanya mendengus kecil dengan wajah yang sedikit memerah. "Sudah, jangan berdiri di luar lagi. Angin malam di Puncak Embun sangat dingin, bahkan bisa membekukan meridian Alam Jiwa Kesatria biasa. Masuk ke dalam pondok. Seperti yang aku bilang tadi, mulai malam ini kamu tidur di kamar sebelah. Puncak Embun tidak aman lagi setelah Sekte Darah Hitam berani menginjakkan kaki di sini."

Setelah berkata begitu, Sekar Embun langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam pondok bambu dengan langkah yang sedikit terburu buru, seolah takut Arya melihat wajahnya yang memerah karena mengajak seorang murid pria untuk tinggal serumah dengannya.

Arya menatap punggung gurunya yang ramping dan anggun itu, lalu tersenyum. Dia mengikuti Sekar Embun masuk ke dalam pondok.

Pondok bambu di Puncak Embun terlihat sederhana dari luar, tapi di dalamnya sangat hangat, bersih, dan harum.

Seluruh pondok hanya memiliki dua kamar yang dipisahkan oleh dinding bambu tipis dan sebuah ruang tengah kecil dengan meja kayu dan dua kursi bambu. Di ruang tengah itu ada sebuah tungku kecil yang menyala dengan api biru es yang aneh, api itu tidak panas, tapi justru mengeluarkan hawa hangat yang membuat seluruh pondok terasa nyaman di tengah salju abadi di luar.

Kamar Sekar Embun berada di sebelah timur, pintunya sedikit terbuka dan terlihat di dalamnya ada tempat tidur yang rapi dengan kelambu putih, meja rias kecil dari giok es, dan beberapa rak buku yang penuh dengan kitab teknik pedang.

Kamar sebelah barat adalah kamar kosong yang sudah lama tidak digunakan. Di dalamnya hanya ada tempat tidur bambu sederhana, meja kecil, dan sebuah lemari kayu.

"Ini kamarmu mulai malam ini," kata Sekar Embun sambil menunjuk kamar barat itu dengan wajah yang masih sedikit memerah. "Aku sudah lama tidak membersihkannya, jadi sedikit berdebu. Kamu bersihkan sendiri saja. Aku... aku mau istirahat dulu. Tanpa memanggilku, jangan masuk ke kamarku. Mengerti?"

"Mengerti, Guru," jawab Arya sambil menahan tawa melihat gurunya yang dingin itu kini terlihat seperti seorang istri muda yang gugup karena suaminya akan tinggal serumah.

Sekar Embun mengangguk dengan cepat dan langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri dan menutup pintu bambu itu dengan sedikit keras. Dari dalam kamarnya terdengar suara napasnya yang sedikit terburu buru.

Arya tertawa kecil dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Begitu pintu kamarnya tertutup, wajah santai Arya langsung berubah menjadi serius.

Dia duduk bersila di atas tempat tidur bambu dan membuka layar sistem di depan matanya.

[Kepercayaan Sekar Embun: 75%]

[Poin Takdir: 1650]

[Kultivasi: Alam Jiwa Kesatria tingkat 2]

[Inventaris: Pil Penerobos Jiwa Kesatria kelas sempurna x1, Pil Darah Naga kelas menengah x1, Teknik Langkah Bayangan Embun tingkat mahir, Teknik Pedang Embun Beku tingkat mahir]

1650 Poin Takdir! Itu adalah jumlah yang sangat besar yang dia kumpulkan dari dua hari ini. Dan dia juga mendapatkan Pil Darah Naga kelas menengah dari misi darurat membunuh pembunuh tadi.

Pil Darah Naga adalah pil yang sangat langka, dibuat dari esensi darah naga asli. Satu pil kelas menengah saja bisa membuat tubuh seorang kultivator menjadi jauh lebih kuat dan meridiannya menjadi lebih lebar, bahkan bisa membangkitkan sedikit garis keturunan naga di dalam tubuhnya. Di luar, satu Pil Darah Naga kelas rendah saja bisa dilelang dengan harga puluhan ribu Batu Roh kelas menengah dan membuat semua keluarga besar saling berebut.

Dan Arya memilikinya satu pil kelas menengah.

Tanpa ragu, Arya mengeluarkan pil itu dari inventaris sistem.

Pil itu seukuran ibu jari, berwarna merah darah dengan corak sisik naga emas yang berputar putar di permukaannya, memancarkan aroma darah yang sangat pekat dan hawa panas yang luar biasa. Bahkan hanya dengan memegangnya saja, Arya bisa merasakan darah di dalam tubuhnya bergejolak dan Tubuh Meridian Naga Langit di dalam tubuhnya meraung dengan lapar.

"Semoga pil ini bisa membuatku naik ke tingkat tiga," gumam Arya.

Dia langsung memasukkan pil itu ke dalam mulutnya dan menelannya.

BOOM!

Begitu pil itu masuk ke dalam perutnya, pil itu langsung meledak menjadi lautan api darah yang sangat panas dan sangat ganas. Api itu mengalir ke seluruh meridian Arya, membakar setiap inci daging, tulang, dan darahnya.

Rasa sakit yang luar biasa langsung menyelimuti seluruh tubuh Arya. Rasa sakit itu sepuluh kali lipat lebih sakit dari saat meridiannya hancur tiga tahun lalu. Seolah olah setiap sel di dalam tubuhnya sedang disobek dan dibakar hidup hidup.

"ARGHHH!"

Arya menggertakkan giginya dengan keras hingga berdarah untuk menahan agar tidak berteriak keras dan membangunkan Sekar Embun di kamar sebelah. Keringat dingin bercampur keringat darah langsung membasahi seluruh jubahnya.

Tubuh Meridian Naga Langit di dalam tubuhnya yang baru saja naik ke tingkat 2 setelah kepercayaan Sekar Embun mencapai 75% tadi meraung dengan keras dan mulai melahap energi ganas dari Pil Darah Naga itu dengan rakus.

Proses itu berlangsung selama hampir satu jam penuh. Satu jam yang terasa seperti satu abad penuh siksaan bagi Arya.

Tapi setelah satu jam itu, rasa sakit yang luar biasa itu perlahan lahan hilang, digantikan oleh rasa nyaman, hangat, dan kekuatan yang luar biasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Kulit Arya yang tadinya sedikit pucat kini bersinar dengan cahaya keemasan samar, otot di tubuhnya menjadi lebih jelas dan lebih kuat, tulangnya mengeluarkan suara gemeretak seperti baja yang ditempa. Meridiannya yang sudah lebar seperti sungai besar kini menjadi dua kali lipat lebih lebar lagi, seperti lautan emas yang tidak berujung.

Dan kultivasinya...

BOOM!

Alam Jiwa Kesatria tingkat dua puncak!

Alam Jiwa Kesatria tingkat tiga!

Alam Jiwa Kesatria tingkat tiga puncak!

Baru setelah mencapai Alam Jiwa Kesatria tingkat tiga puncak, kenaikan kultivasinya yang gila itu berhenti.

Hanya dengan satu pil, dia naik satu tingkat penuh dan mencapai puncak dari tingkat tiga!

Arya membuka matanya. Matanya bersinar dengan cahaya naga emas yang sangat terang hingga membuat kamar bambu yang gelap itu menjadi terang benderang seperti siang hari.

Dia mengepalkan tangannya. Kekuatan yang mengalir di dalamnya membuatnya merasa bisa menghancurkan gunung kecil hanya dengan satu pukulan.

"Dengan kekuatan ini, bahkan Alam Jiwa Kesatria tingkat lima biasa pun bukan tandinganku sekarang," gumam Arya dengan percaya diri.

Pada saat itu, suara ketukan pelan terdengar dari dinding bambu yang memisahkan kamarnya dengan kamar Sekar Embun.

"Arya... kamu... kamu belum tidur?" suara Sekar Embun terdengar dari balik dinding, dengan nada yang sedikit khawatir dan sedikit ragu. "Aku... aku mendengar suara aneh dari kamarmu tadi... seperti orang menahan sakit... Kamu tidak apa apa?"

Ternyata teriakan tertahan Arya tadi masih terdengar oleh Sekar Embun yang indera pendengarannya sangat tajam.

Arya buru buru menghapus keringat darah di wajahnya dan merapikan jubahnya yang basah.

"Tidak apa apa, Guru! Saya hanya sedang berlatih teknik baru yang Guru ajarkan tadi dan sedikit tidak terkendali! Saya tidak apa apa! Guru tidak perlu khawatir!" jawab Arya dengan suara yang dibuat setenang mungkin.

Di kamar sebelah, Sekar Embun yang masih mengenakan gaun tidur sutra tipis putihnya duduk di tepi tempat tidurnya dengan wajah khawatir. Dia bisa merasakan gejolak energi yang sangat kuat dan panas dari kamar sebelah tadi, energi yang bahkan membuat Tubuh Meridian Embun Beku miliknya sedikit bereaksi.

Dia tahu muridnya itu pasti sedang melakukan terobosan penting dan tidak ingin diganggu.

"Kalau begitu... kalau kamu butuh bantuan... panggil saja aku... Jangan memaksakan diri..." kata Sekar Embun dengan suara kecil yang penuh perhatian, lalu tidak ada suara lagi dari kamarnya.

Di dalam kepala Arya, Fitur Intim aktif lagi.

[Isi hati Sekar Embun: "Bodoh... kenapa dia berlatih sekeras itu di tengah malam... Pasti karena pembunuh tadi membuatnya merasa tidak aman... Aku harus menjadi lebih kuat lagi agar bisa melindunginya... Jantungku... kenapa aku jadi sangat mengkhawatirkannya seperti ini..."]

Arya tersenyum hangat membaca isi hati gurunya itu. Rasa lelah setelah menahan rasa sakit dari Pil Darah Naga tadi langsung hilang, digantikan oleh rasa hangat di dalam dadanya.

Dia berbaring di tempat tidur bambu dan menatap langit langit bambu kamarnya.

Besok adalah hari ketiga. Dia masih butuh tiga sesi penyembuhan lagi untuk menyembuhkan total Sekar Embun. Dan dia juga harus mencari cara untuk membuat Pil Pemurni Jiwa untuk Luna Maheswari sebelum racun Iblis Hati di dalam tubuh gadis itu semakin parah.

Dan yang paling penting, dia harus bersiap siap. Karena pembunuhan malam ini gagal, Sekte Darah Hitam dan Kezia pasti akan mengirim pembunuh yang lebih kuat lagi, mungkin Alam Raja Langit.

Kompetisi Puncak Langit satu bulan lagi akan menjadi panggung pembuktian. Tapi sebelum itu, Puncak Embun yang tenang ini akan menjadi medan perang pertama.

Dengan pikiran itu, Arya perlahan lahan tertidur dengan senyum di wajahnya, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun tidur dengan nyenyak tanpa mimpi buruk tentang meridiannya yang hancur.

Di kamar sebelah, Sekar Embun juga akhirnya tertidur pulas setelah mendengar napas teratur Arya dari balik dinding bambu yang tipis.

Malam pertama mereka tinggal serumah di Puncak Embun yang diselimuti salju abadi itu berjalan dengan damai, hangat, dan sedikit canggung, seperti sepasang suami istri muda yang baru menikah.

Tapi di kaki gunung, di dalam ruangan rahasia yang gelap, Tetua Darah dari Sekte Darah Hitam baru saja menerima kabar bahwa tiga pembunuh bayaran yang dia kirim semuanya mati dan mayatnya tidak ditemukan.

Wajahnya yang tertutup topeng darah itu terlihat sangat marah.

"Sampah kecil bernama Arya Langit itu... sepertinya tidak sesampah yang dibilang Kezia... Menarik... Sangat menarik... Kalau begitu, besok malam aku sendiri yang akan pergi ke Puncak Embun itu dan melihat seberapa hebat sampah itu... Dan sekalian... mencicipi Bidadari Pedang Embun yang terkenal itu... Hehehe..."

Tawa mengerikan Tetua Darah itu menggema di dalam ruangan rahasia yang gelap, membuat Kezia Adinegara dan Tetua Lotus yang ada di sana merinding ketakutan.

1
Hadi Hadi
mantap😍😍
fareva: lanjut 🔥🔥🔥
total 1 replies
Hadi Hadi
bantai💪
Hadi Hadi
up up up💪
Hadi Hadi
iwik iwik😍😍
Hadi Hadi
mantap😍😍
Hadi Hadi
semangat💪💪
fareva: makasih bang
total 1 replies
Hadi Hadi
bantai💪
fareva: 🔥🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up😍😍
Hadi Hadi
lanjut
fareva: Siap. tolong bantu koreksi kalau ada yang kureng
total 1 replies
Hadi Hadi
bantai💪💪
Hadi Hadi
good💪💪
Hadi Hadi
mantap😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!