NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:743
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Anak-Anak

Kabar tentang kedekatan Amara dan Leon sebenarnya bukan hal baru di keluarga itu. Semua orang sudah menyadarinya sejak lama. Hanya saja, tidak ada yang berani membahasnya terang-terangan.

Bukan karena mereka tidak menyukai Leon. Justru sebaliknya, semua orang tahu bagaimana Leon memperlakukan Amara. Hanya saja, melihat Madam A jatuh cinta terasa seperti sesuatu yang mustahil.

Amara telah menghabiskan sebagian besar hidupnya membangun dirinya sendiri. Ia membesarkan anak-anaknya, membangun bisnis, menghadapi berbagai masalah, dan berdiri di atas kakinya sendiri tanpa meminta siapa pun menyelamatkannya.

Karena itu, ketika seorang pria akhirnya datang dan berkata bahwa ia ingin menemani Amara menjalani sisa hidupnya, keluarga itu membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan kenyataan tersebut.

Pagi itu, suasana rumah besar Amara cukup ramai. Nayla sedang sibuk memaksa Kael sarapan.

“Kael, makan.”

“Saya sudah makan.”

“Baru dua suap.”

“Saya kenyang.”

Nayla menyipitkan mata.

“Kalau Om Leon datang dan melihat kamu tidak makan, nanti aku bilang kamu tidak menjaga kesehatan.”

Kael langsung mengambil sepotong roti.

“Jangan libatkan Tuan Leon.”

Nayla tertawa puas. Di sisi lain meja, Gilberth sedang berdebat dengan Raka mengenai saham perusahaan.

“Menurutku saham itu akan naik.”

Raka menggeleng.

“Tidak kalau kondisi pasar seperti sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena kamu cuma lihat angka.”

“Bukankah saham memang angka?”

“Bukan cuma angka.”

“Lalu?”

“Sentimen pasar.”

Gilberth menghela napas.

“Kenapa aku harus sarapan dengan orang yang hobinya bikin kepala sakit?”

Raka terkekeh.

Sementara itu, Susan sibuk memotret dessert untuk media sosialnya. Dan di tengah kekacauan kecil itu, pintu ruang makan terbuka. Leon masuk sambil membawa beberapa kotak makanan.

“Croissant favoritmu.”

Ia meletakkan kotak itu di depan Susan. Mata Susan langsung berbinar.

“OM LEON!”

Ia berdiri dan langsung memeluk pria itu. Leon menghela napas pura-pura kesal.

“Kalian semua cuma baik kalau ada makanan.”

Gilberth langsung mengambil satu kotak.

“Karena Om kaya.”

“Itu alasan yang buruk.”

“Tapi benar.”

Seluruh meja langsung tertawa. Leon hanya menggeleng sambil tersenyum. Pemandangan itu sebenarnya sangat aneh. Leon Volkov, adalah satu pria paling ditakuti di dunia. Pria yang namanya membuat banyak orang berhati-hati sebelum berbicara, kini dipanggil “Om Leon” oleh keluarga Amara. Ia bahkan membiarkan hal itu terjadi.

Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Leon berubah dari orang asing menjadi bagian dari keluarga itu.

Mungkin sejak ia mulai membawa makanan untuk anak-anak, mungkin sejak ia mulai bertanya apakah Amara sudah makan, atau mungkin sejak semua orang melihat bahwa pria itu selalu datang bukan hanya ketika Amara membutuhkan bantuan, tetapi juga ketika Amara tidak meminta apa pun.

Di ujung meja, Arsen memperhatikan semuanya diam-diam. Sesekali matanya beralih kepada ibunya. Amara sedang minum teh sambil membaca sesuatu di tabletnya. Wajahnya terlihat tenang, dan tidak ada ketegangan di dahinya. Tidak ada tatapan lelah seperti yang sering Arsen lihat bertahun-tahun lalu. Entah sejak kapan, ibunya terlihat jauh lebih ringan.

Arsen tersenyum kecil. Sudah terlalu lama ibunya hidup sendirian. Dan mungkin, ini sudah waktunya seseorang menemani wanita itu.

Malam harinya, ketiga anak Amara berkumpul diam-diam di ruang keluarga. Nayla duduk di sofa sambil memeluk bantal.

“Jadi?”

Raka bersandar sambil melipat tangan.

“Menurutku mereka lucu.”

“Lucu?” Arsen menaikkan alis.

Raka mengangguk.

“Maksudku… tua-tua romantis.”

Nayla langsung tertawa.

“Jangan bilang begitu kalau Ibu dengar.”

“Memangnya salah?”

Arsen menggeleng sambil tersenyum.

“Kalian berdua memang tidak bisa serius.”

Nayla menatap kakaknya.

“Kalau menurutmu?”

Arsen terdiam. Beberapa detik ia tidak menjawab. Otaknya sedang flashback memori tentang kedua pasangan tua itu. Kemudian matanya beralih ke jendela.

“Aku suka Om Leon.”

Raka langsung menoleh.

“Serius?”

Arsen mengangguk.

“Serius.”

Nayla tersenyum.

“Aku juga.”

“Kael juga,” tambah Nayla.

Raka langsung melirik Kael yang berdiri diam di sudut ruangan.

“Kau suka?”

Kael menjawab datar.

“Tuan Leon menjaga Madam dengan baik.”

Semua langsung tertawa kecil. Karena jawaban Kael, seperti pidato. Namun setelah tawa mereka mereda, Arsen kembali berbicara.

“Kalau dipikir-pikir…”

Tatapannya sedikit melembut.

“…Om Leon selalu ada untuk Ibu.”

Sunyi sesaat. Tidak ada yang membantah fakta ini. Leon hadir ketika Amara sakit. Melindungi mereka diam-diam dan membantu bisnis keluarga tanpa pernah meminta penghargaan.

Dan yang paling penting, adalah Leon tidak pernah mencoba mengendalikan Amara. Ia tidak pernah menyuruh Amara menjadi seseorang yang berbeda. Ia justru membiarkan ibunya tetap menjadi dirinya sendiri.

Nayla tersenyum kecil.

“Aku belum pernah melihat Ibu setenang sekarang.”

Arsen mengangguk.

“Dulu Ibu selalu terlihat kuat.”

“Sekarang?”

“Masih kuat,” jawab Arsen.

Ia tersenyum tipis.

“Tapi lebih bahagia.”

Raka menunduk. Ia tahu itu benar. Selama bertahun-tahun mereka melihat ibunya bekerja tanpa mengenal lelah. Mereka hanya tahu bahwa Mama mampu memberikan kehidupan yang baik untuk mereka. Mereka tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak yang harus dikorbankan untuk mendapatkan semua itu. Namun sekarang mereka mulai memahami satu hal. Mama tidak membutuhkan seseorang untuk menyelamatkannya. Mama hanya membutuhkan seseorang yang bersedia tinggal.

Keesokan malamnya, seluruh keluarga makan malam bersama di taman belakang. Lampu-lampu kecil menyala hangat di antara pepohonan. Angin malam bergerak perlahan. Dan Leon duduk di samping Amara sambil sesekali mengambilkan makanan tanpa diminta.

Amara bahkan tidak perlu mengatakan apa pun. Ketika gelasnya kosong, Leon mengisi ulang. Ketika Amara lupa mengambil makanan, Leon mengambilkannya.

Gerakan kecil dan sederhana. Namun membuat anak-anak Amara saling melirik. Karena mereka tahu. Leon benar-benar memperhatikan ibu mereka.

Tiba-tiba Arsen meletakkan gelasnya.

“Om.”

Leon mengangkat mata.

“Ya?”

Arsen terlihat sedikit canggung.

Hal yang sangat jarang terjadi.

“Kami sebenarnya mau bilang sesuatu.”

Semua orang mulai diam. Bahkan Gilberth berhenti makan. Leon mengernyit kecil.

“Ada masalah?”

Raka tiba-tiba tersenyum tipis.

“Bukan.”

Nayla menggenggam tangan ibunya pelan. Kemudian ia berkata,

“Kami merestui Om.”

Leon membeku. Ia benar-benar kaget dengan pengakuan anak-anak. Amara langsung menatap ketiga anaknya dengan mata melebar.

“Kalian…”

Nayla tersenyum.

“Ibu sudah terlalu lama sendirian.”

Arsen menarik napas.

“Dan kami tahu Om menyayangi Ibu.”

Raka menambahkan santai,

“Walaupun cara kalian menunjukkan rasa suka seperti rapat mafia.”

Semua langsung tertawa. Amara memukul pelan tangan Raka.

“Kurang ajar.”

Leon masih diam. Ia masih mencerna obrolan barusan. Namun tatapan pria itu perlahan berubah hangat.

Untuk seseorang seperti dirinya, keluarga adalah sesuatu yang asing. Dunia yang tidak pernah benar-benar ia miliki. Namun keluarga Amara, perlahan menerimanya.

Bukan karena kekayaannya dan kekuasaannya, bukan juga karena nama Volkov. Tetapi karena mereka melihat sendiri bagaimana ia memperlakukan Amara.

Leon akhirnya menatap Arsen.

“Aku tidak akan menyakiti ibu kalian.”

Kalimat itu keluar pelan, terdengar sederhana tetapi sangat tulus.

Arsen menatap pria itu beberapa detik, kemudian ia berkata,

“Kami tahu.”

Leon sedikit mengernyit. Arsen melanjutkan,

“Om tidak perlu berjanji membuat Mama bahagia.”

Amara terdiam.

“Karena Mama sudah tahu bagaimana caranya bahagia.”

Arsen tersenyum kecil.

“Kami cuma ingin Om tetap ada ketika Mama sedang tidak kuat.”

Kali ini Leon benar-benar tidak mampu menjawab dengan cepat. Tatapannya turun sebentar, lalu ia mengangguk.

“Aku akan berusaha.”

Arsen menggeleng.

“Bukan berusaha, Om.”

Leon menatapnya lagi. Arsen tersenyum.

“Tetaplah di sisinya.”

Keheningan hangat memenuhi meja makan. Amara menundukkan kepala. Matanya mulai berkaca-kaca. Selama puluhan tahun ia selalu menjadi orang yang menjaga semua orang.

Anak-anaknya dan keluarganya. Orang-orang yang bekerja dengannya, perusahaannya. Bahkan orang-orang yang tidak pernah mengenal namanya.

Namun malam itu, pada akhirnya anak-anaknya mengatakan bahwa seseorang akan menjaga dirinya. Leon meraih tangan Amara di bawah meja. Tidak ada kata-kata. Hanya genggaman sederhana, dan Amara membalasnya.

Kemudian Gilberth tiba-tiba memecahkan suasana.

“Berarti aku harus mulai panggil Om Leon jadi Uncle atau Grandpa?”

Leon langsung mengambil serbet dan melemparkannya ke arah kepala Gilberth.

“Bocah kurang ajar.”

Gilberth tertawa sambil menghindar.

“Kenapa? Aku harus latihan dari sekarang!”

Seluruh taman kembali dipenuhi tawa. Amara hanya menggeleng sambil tersenyum, di hadapannya ada anak-anaknya. Arsen, Raka, Nayla, ada keponakannya, orang-orang yang telah berjalan bersamanya melewati begitu banyak hal.

Dan di sampingnya, ada seorang pria yang selama bertahun-tahun memilih tetap tinggal. Bukan untuk mengambil alih hidupnya atau untuk mengubahnya. Bukan pula karena membutuhkan sesuatu darinya. Leon hanya ingin berjalan di sampingnya. Amara menatap satu per satu wajah yang ada di meja itu.

Untuk pertama kalinya setelah sekian puluh tahun, ia menyadari bahwa kebahagiaan ternyata tidak selalu datang dalam bentuk kemenangan besar. Kadang kebahagiaan hanya berupa meja makan yang ramai.

Tawa anak-anak, pertengkaran kecil, dan seseorang yang diam-diam menggenggam tanganmu di bawah meja.

Malam itu, Amara tidak merasa perlu menjadi Madam A. Ia hanya seorang ibu dan seorang perempuan.

Dan seseorang yang akhirnya memiliki tempat untuk pulang. Hingga akhirnya ia merasa tidak harus berjalan sendirian lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!