Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di kediaman keluarga Kiai Ahmad Bashir. Di balkon lantai dua, Fatih berdiri mematung. Angin malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun tak sebanding dengan rasa beku yang telah lama bersarang di hatinya. Pikirannya melayang pada satu nama yang selama sepuluh tahun ini menjadi hantu di setiap sujudnya: Wulan.
Di saat yang sama, di kamar yang berbeda, Lukman terduduk di lantai, bersandar pada lemari kayu tua. Di pangkuannya terdapat sebuah kotak besi kecil yang terkunci rapat. Tangannya gemetar saat memegang sebuah amplop usang yang warnanya sudah mulai menguning dimakan usia. Inilah "bom waktu" yang selama sepuluh tahun ini ia simpan dengan rasa iri yang membabi buta.
Rantai Pesan yang Terputus
Kenangan itu kembali berputar di kepala Lukman. Saat mereka masih di pesantren di Tasikmalaya, Fatih—atau yang lebih dikenal dengan nama Abbas—adalah bintang yang bersinar paling terang. Bukan hanya karena kecerdasannya, tapi karena karismanya yang membuat siapa pun tunduk.
Fatih mencintai Wulan, gadis bercadar yang misterius namun berhati emas. Namun, sebagai santri yang sangat menjaga izzah (kehormatan), Fatih tak pernah berani menemui Wulan secara langsung. Ia menggunakan perantara.
Fatih menitipkan surat-surat cintanya kepada Lukman. Lukman kemudian memberikannya kepada Rina, seorang kerabat jauh dari pihak ayahnya (Samsul) yang juga merupakan sahabat karib Wulan. Lukman sebenarnya tidak mengenal Wulan secara dekat. Ia hanya tahu Wulan adalah "gadis ninja" yang membuat sepupunya gila asmara.
Namun, setiap kali Lukman membawa surat dari Fatih untuk Rina, hatinya terasa panas. Mengapa semua orang memuja Fatih? Mengapa ayahnya sendiri, Samsul, selalu membandingkan keberanian Fatih dengan "kelemahan" Lukman? Mengapa bahkan Zahra, gadis kecil yang ia sukai sejak SD, juga menatap Fatih dengan binar kekaguman?
Rasa iri itu perlahan berubah menjadi dendam yang dingin.
Khianat di Balik Tabir
Sepuluh tahun yang lalu, sebuah surat terakhir datang dari Wulan melalui Rina. Rina memberikan surat itu kepada Lukman dengan pesan yang sangat mendesak.
"Man, tolong kasih ini ke Abbas. Ini penting. Wulan bilang dia harus pergi," ucap Rina saat itu dengan wajah cemas.
Lukman menerima surat itu. Namun, ia tidak pernah menyampaikannya kepada Fatih. Di dalam kamarnya yang gelap, Lukman membuka surat itu secara diam-diam. Isinya adalah sebuah salam perpisahan yang mengharu biru:
>..Akang Abbas, maafkan aku jika selama ini aku hanya menjadi bayang yang tak bisa kau sentuh. Ayah tiriku memaksa kami pindah ke Jakarta besok pagi. Aku tidak tahu di mana kami akan tinggal, tapi aku akan selalu membawa bross rembulan pemberianmu. Jika takdir mengizinkan, carilah aku di ibukota. Aku akan menunggumu di bawah langit yang sama..."*
>
Lukman meremas surat itu. Ia ketakutan sekaligus puas. Jika Fatih tahu Wulan ke Jakarta, Fatih pasti akan mengejarnya. Lukman ingin Fatih merasakan kehilangan yang sama seperti rasa "kehilangan" perhatian yang ia rasakan selama ini.
Kepada Fatih, Lukman justru berbohong.
"Wulan sudah pindah, Tih. Rina bilang Wulan dijodohkan dengan orang lain di kampung halamannya dan dia tidak mau kamu menunggunya lagi," bohong Lukman saat itu.
Kebohongan itulah yang menghancurkan jiwa Fatih. Itulah alasan mengapa Fatih pergi dari pesantren dengan hati hancur, menjadi sosok yang dingin, dan bersumpah tidak akan pernah membuka hati untuk wanita lain—termasuk Nadia.
Kesadaran Sang Manipulator
Malam ini, di tengah kegelapan kamarnya, Lukman menatap surat yang masih ia simpan itu. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Ia melihat bagaimana Fatih bersikap hari ini. Ia melihat bagaimana Nadia menangis hancur hati karena menyadari Fatih mencintai wanita lain.
Lukman tersadar satu hal yang sangat menyakitkan: Fatih tidak pernah bermaksud merebut apa pun darinya. Fatih tidak pernah bermaksud merebut perhatian Abi, kasih sayang Umi, apalagi cinta Nadia. Fatih hanyalah Fatih—sosok yang secara alami menarik orang-orang di sekitarnya karena ketulusan dan kekuatannya.
"Aku selama ini hanya mengejar bayangan dirimu, Tih. Aku membencimu karena aku ingin sepertimu, tapi aku terlalu pengecut untuk menjadi diriku sendiri," batin Lukman lirih.
Ia menyadari bahwa selama ini ia telah menjadi parasit yang merusak kebahagiaan orang lain demi menutupi rasa rendah dirinya. Nadia menyukai Fatih bukan karena Fatih menggoda, tapi karena Fatih memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Lukman: prinsip yang tak tergoyahkan.
Lukman menghela napas panjang. Ia menutup kembali kotak besi itu. Ada sebuah niat yang mulai tumbuh di hatinya. Ia harus berubah. Ia tidak ingin lagi menjadi "bayangan" Fatih yang manipulatif. Ia ingin menjadi lelaki yang menarik karena kualitasnya sendiri, bukan karena menjatuhkan orang lain.
Namun, ia masih terlalu takut untuk mengakui soal surat itu. Jika Fatih tahu bahwa Wulan—sang rembulan yang dirindukannya—ternyata ada di depan matanya sendiri (dalam sosok Bella), dan bahwa Lukman-lah penyebab mereka terpisah sepuluh tahun... Fatih mungkin tidak akan pernah memaafkannya
Nadia dan Cinta yang Salah Alamat
Di rumahnya, Nadia masih meringkuk di sudut tempat tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, ucapan Fatih di kantor tadi kembali terngiang: "Dia adalah Wulan... Rembulan yang selalu kurindukan selama sepuluh tahun ini."
Nadia merasa bodoh. Selama ini, setiap perhatian kecil yang diberikan Fatih di kantor, setiap bantuan Fatih dalam urusan administrasi, ia artikan sebagai sinyal cinta. Ternyata, itu hanyalah sikap profesional seorang atasan kepada bawahannya. Fatih memang baik kepada semua orang, dan Nadia-lah yang salah mengartikan kebaikan itu sebagai harapan.
"Kenapa harus Wulan, Bang? Siapa dia sampai bisa menahan hatimu selama sepuluh tahun tanpa kabar?" isak Nadia.
Ada rasa cemburu yang membakar, namun juga rasa malu. Nadia menyadari bahwa ia baru saja kalah telak oleh sebuah kenangan yang bahkan tidak ia ketahui rupanya.
Debaran di Kamar Fatih
Kembali ke rumah Kiai Bashir, Fatih akhirnya melangkah masuk dari balkon. Ia masuk ke dalam kamarnya dengan langkah berat. Di sana, di atas tempat tidur, Bella tampak sudah tertidur pulas dengan posisi meringkuk miring, membelakangi pintu.
Fatih mendekat perlahan. Ia menatap punggung wanita itu. Ada rasa bersalah yang menyeruak setiap kali ia melihat Bella. Wanita ini telah sah menjadi istrinya, namun ia memperlakukannya seperti orang asing.
"Maafkan saya, Bella. Kamu adalah wanita baik, tapi hatiku sudah penuh oleh orang lain. Aku tidak bisa memberimu apa yang seharusnya kamu dapatkan," bisik Fatih dalam hati.
Fatih berjalan menuju meja riasnya hendak meletakkan jam tangan. Langkahnya terhenti. Di bawah temaram lampu tidur, ia melihat sesuatu yang asing di atas meja kayu itu.
Sebuah benda kecil berbahan perak, berbentuk bulan sabit yang melengkung indah.
Jantung Fatih berdegup kencang secara tiba-tiba. Matanya membelalak. Ia merasa seperti melihat hantu dari masa lalu. Ia meraih benda itu dengan tangan gemetar. Dinginnya logam perak itu menyentuh kulitnya, namun mengirimkan aliran panas ke seluruh aliran darahnya.
Bross ini...
Fatih teringat sore itu di pesantren Tasikmalaya. Bross yang ia beli dengan uang tabungan mengajinya, bross yang ia berikan kepada "Gadis Ninja" bernama Wulan sebagai tanda permintaan maaf.
"Gak mungkin... Ini gak mungkin..." Fatih menoleh ke arah Bella yang masih terlelap. Nafasnya mulai memburu. Apakah bross ini milik Bella? Jika benar, dari mana Bella mendapatkannya? Apakah ini hanya sebuah kebetulan yang sangat kejam, ataukah takdir sedang menertawakannya?
Fatih memegang bross itu erat-erat di dalam genggamannya, seolah takut benda itu akan menghilang jika ia melepaskannya. Sebuah rahasia besar tentang bross itu masih menggantung di udara, belum benar-benar terungkap sepenuhnya, namun pintu kebenaran kini telah terbuka sedikit saja.
Fatih terduduk di kursi rias, menatap bross itu dengan pandangan yang mengharu biru. Malam yang sunyi itu kini dipenuhi oleh detak jantung yang tak beraturan, menanti fajar yang akan membawa pengakuan demi pengakuan.