Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 25 — Cahaya Harapan
Qin Mu terkejut bukan main. Matanya membelalak, dan napasnya tertahan di tenggorokan.
"Apa maksudmu, Senior? Apakah kondisi ayah memang seburuk itu?"
Luo Yan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia mengamati aliran energi yang tersisa di sekitar tubuh Qin Feiyan sebelum menjawab.
"Benar. Kondisi tubuhnya kritis bukan hanya karena pertarungan keras dengan lawan-lawannya" jelas Luo Yan.
"Selama pertempuran berlangsung, ia terlalu memaksakan diri menggunakan sebuah teknik aneh untuk memanipulasi energi spiritualnya. Aku sendiri tidak tahu persis teknik macam apa itu, tetapi dampaknya sangat luar biasa. Teknik itu mendorong kapasitas tubuhnya jauh melampaui batas wajar, membuatnya berada dalam ambang batas seorang kultivator ranah Mangkuk Meridian. Jika meridian utamanya yang belum siap itu dibiarkan menanggung beban energi yang mengamuk, sembilan meridian utamanya bisa meledak dan dantiannya akan hancur dari dalam."
Mendengar penjelasan tersebut, Qin Changin merinding hebat, ia menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak menyangka bahwa Qin Feiyan menyembunyikan teknik semengerikan itu yang bahkan tak diketahui sang kultivator agung...
Melakukan tindakan seekstrem itu agar bisa bersaing melawan para tetua.
Sementara itu, Qin Lian menggigit bibirnya dengan cemas, air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia memandang Patriark Qin Feiyan dengan haru, seolah menganggap Qin Feiyan adalah ayahnya sendiri.
"Paman Fei..."
Di kejauhan, Tetua Pertama Qin Xuanyu tampak mendengar percakapan tersebut. Ia tampak khawatir, tapi sebagai seorang tetua ia harus mengambil kendali pada situasi seperti ini.
Qin Xuanyu segera mengambil alih kepemimpinan di lapangan yang porak poranda. Dengan suaranya yang tegas dibantu energi spiritual yang masih tersisa, ia mulai memberikan instruksi kepada para murid dan anggota keluarga yang masih gemetar ketakutan.
"Semua murid junior dan senior maupun yang lainnya, segera mundur ke aula belakang!" seru Qin Xuanyu, suaranya memecah keheningan lapangan.
"Evakuasi mereka yang terluka, dan bagi mereka yang menemukan kerabat atau anggota klan yang gugur, segera bawa tubuh mereka untuk diberikan upacara pembakaran yang layak. Jangan biarkan kekacauan ini mengganggu stabilitas keluarga kita lebih jauh."
Qin Mu mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Ia menatap Luo Yan yang berdiri di hadapannya. Emosi yang tertahan di dalam dadanya membuat pemuda itu berani mengambil langkah maju dan melontarkan pertanyaan yang sudah sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Senior... Jika Anda memiliki kekuatan sebesar ini..." tanya Qin Mu dengan nada frustrasi namun tetap menjaga kesopanan.
"Mengapa Anda tidak membantu Ayah sejak awal? Mengapa Anda membiarkannya terluka separah ini dan menanggung semua beban sendirian sebelum Anda akhirnya turun tangan?"
Luo Yan tidak marah mendengar pertanyaan tersebut. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius dan sulit ditebak.
Semua orang disana juga ingin mendengar jawaban dari pertanyaan Qin Mu. Namun...
Sesaat kemudian, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, melainkan sebuah transmisi suara batin yang langsung menggema tajam di dalam pikiran Qin Mu.
"Dengar, Tuan Muda Qin Mu... Di dunia kultivasi ini, seseorang tidak akan pernah bisa menjadi kuat jika selalu berlindung di balik punggung orang lain. Ini adalah ujian bagi Tuan Qin Feiyan, dan ini adalah ujian bagimu. Jika aku menyelesaikan semua masalahnya, bagaimana kau bisa memahami arti sebenarnya dari tanggung jawab dan penderitaan? Gunakan ini sebagai pelajaran."
Setelah mengirimkan pesan batin tersebut, tubuh Luo Yan memancarkan pendar cahaya biru yang samar.
Dalam sekejap mata, sebelum Qin Mu sempat membalas atau meluapkan amarahnya, sosok Luo Yan menghilang dari pandangan tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
"Lagi-lagi senior ini menghilang dengan cara yang misterius..." batin Qin Mu.
Qin Mu terdiam. Rasa marah dan kesal sempat bergejolak di dalam dadanya. Ia tidak bisa sepenuhnya menerima alasan yang diberikan, namun di sisi lain, ia sadar bahwa tanpa bantuan dan kehadiran wanita itu, nyawa ayahnya dan nyawa orang-orang yang dicintainya mungkin sudah melayang di tangan 5 pengawas bawahan Qin Chong, faksi Tetua Keempat ataupun Sekte Segitiga Hitam.
Qin Changin yang berdiri didekatnya langsung peka, ia tahu diantara semua orang disini sebagai tetua hanya dialah yang paling cepat untuk segera pergi mencari bantuan.
"Mu'er, aku harus segera pergi mencari bantuan." ujar Qin Changin tergesa-gesa.
"Te... Tetua Chang?" balas Qin Mu memandang punggung Qin Changin di kejauhan.
Udara di dalam arena kini terasa lebih segar setelah formasi segel bumi yang menyegel keseluruhan arena telah lenyap sepenuhnya. Banyak murid dan anggota keluarga yang panik mulai berhamburan keluar melalui gerbang yang hancur, mencoba melarikan diri dari ingatan berdarah hari ini atau pergi mendekati Tetua Xuanyu mengikuti instruksinya.
Namun, di tengah hiruk-pikuk evakuasi, suara langkah kaki yang berat terdengar dari kejauhan.
"Maafkan kami Patriark... Tetua sekalian..." teriak mereka bersamaan.
Pasukan penjaga klan yang sebelumnya tak bisa berbuat apa-apa dengan segel formasi kini hadir menampakkan batang hidung mereka dengan guratan kejutan.
"Huh... Apa-apaan semua ini!"
Arena lapangan utama yang dahulu megah kini berubah menjadi reruntuhan bebatuan setelah formasi kecokelatan menutupi seluruh area. Darah dan kepala orang-orang serta mayat yang mengenakan jubah lebar berwarna hitam membuat mereka bergidik ngeri.
Puncak keterkejutan pasukan penjaga itu, ketika salah satu dari penjaga yang berdiri melewati podium kehormatan melihat kepala para tetua keluarga yang sudah terluka parah dan kepala mereka semua yang terpenggal dengan mata melotot.
"Hiik!"
"Gila... Demi dewa, sebenarnya apa yang terjadi disini sebelumnya?!"
Puluhan pasukan penjaga itupun langsung menyelidik dan pusat perhatian mereka adalah Patriark keluarga mereka yang sedang bersimpuh tak berdaya.
Namun, sosok yang paling mencolok diantara mereka adalah seorang yang menampakkan wibawa terhormat.
Sosok seorang pria paruh baya berjanggut putih tipis dan mengenakan jubah abu-abu longgar melangkah tergesa-gesa memasuki area lapangan.
Dia adalah Chao Futian, Tetua Kehormatan Keluarga Qin, yang juga merupakan satu-satunya alkemis terbaik yang dimiliki oleh Keluarga Qin.
Selama ini, Chao Futian jarang terlihat karena ia mengurusi ramuan dan kebutuhan pil rahasia di paviliun pengobatan di wilayah terpencil di luar Kota Huzhou. Ia sebelumnya tidak dapat menghadiri Upacara Uji Spiritual karena ada masalah mendesak terkait pemurnian bahan obat tingkat tinggi yang sedang diraciknya 3 bulan yang lalu.
Namun, ketika ia baru saja pulang. ia melihat pilar cahaya kecokelatan yang menjulang dari arena lapangan utama menutupi keseluruhannya. Ia tahu itu adalah formasi penyegelan tingkat tinggi, firasatnya langsung mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu yang kekacauan di dalam sana.
Tidak mungkin Upacara Uji Spiritual mengaktifkan formasi penyegelan tingkat tinggi seperti itu!
Apalagi dengan keributan yang sedang dialami pasukan penjaga di luar arena lapangan utama.
Ketika langit diatas formasi penyegelan itu menurunkan sambatan petir dan guntur, Chao Futian takjub. Segera setelah itu suara dentuman yang sangat keras bisa di dengar mereka yang ada di luar formasi segel bumi.
Chao Futian bergegas, mengetahui formasi segel bumi itu telah dihancurkan seseorang dari dalam.
Dari kejauhan, mata Chao Futian membelalak melihat reruntuhan yang berserakan dan sosok Patriark Qin Feiyan yang duduk bersimpuh dalam kondisi mengenaskan, berlumuran darah di tengah lapangan.
"Saudara Feiyan!" seru Chao Futian dengan nada panik dan cemas. Ia mempercepat langkahnya, berlari kencang menerobos puing-puing arena.
"Sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya disini?!"
Qin Mu, yang melihat kedatangan Tetua Kehormatan, langsung bangkit dari posisinya. Bersama dengan Qin Chen dan Qin Lian, mereka berlari menyongsong kedatangan Chao Futian yang memberi mereka sebuah harapan besar.
"Paman Futian!" teriak Qin Mu dengan suara yang bergetar karena rasa putus asa dan harapan besar yang bercampur aduk. Ia tidak percaya kalau Tetua Kelima secepat ini memanggil bantuan, namun ia tidak melihat Qin Changin bersama Chao Futian.
Qin Mu langsung mendekatinya, "Tolong! Tolong selamatkan Ayah. Kondisinya sangat kritis, dan ia mengalami cedera parah di dalam dantian dan meridiannya." jelasnya pada poin utama.
Mendengar permohonan tersebut, wajah Chao Futian sudah mengeras duluan mengamati fisik Qin Feiyan, ia sudah tahu kalau kondisi internalnya akan separah itu dengan kondisinya yang seperti itu...
Namun, yang membuatnya terkejut adalah fisik perkasa Patriark Qin Feiyan yang mampu bertahan dengan luka-luka separah itu.
Chao Futian tidak membuang waktu dan segera mengambil kendali situasi.
"Tenanglah, Mu'er," jawab Chao Futian dengan suara yang menenangkan.