seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kabar baik.
Kicau suara burung Pipit bersautan terdengar samar dari luar inap Neta, Neta yang baru saja terbangun melihat ke arah korden yang masih menutupi rapat jendela kamar inap Neta.
Dengan perlahan Neta turun dari ranjang, langkahnya pelan namun pasti. Sesaat Neta menatap ke arah James yang masih tertidur pulas, Neta tersenyum samar melihat James yang tertidur sangat pulas.
Neta segera berjalan menuju ke kamar mandi, beruntung letak kamar mandi tidak begitu jauh dengan tempat tidur Neta.
selang lima belas menit neta pun keluar dengan wajah yang terlihat segar, rambut yang sedikit basah dan terlihat ada darah yang sedikit naik ke selang infus Neta.
James yang baru saja membuka matanya dengan samar melihat penampilan Neta, rambut yang terlihat basah dengan Neta yang berulang kali mengusap rambutnya dengan handuk kecil di tangannya.
"Neta, kamu mandi...?"
Suara James terdengar serak, ciri khas orang baru bangun tidur.
"hmm..."
Jawab Neta singkat.
James segera terduduk, dia mengucek matanya agar penglihatannya terlihat lebih jelas.
Neta kembali mengusap rambutnya yang masih terlihat basah, bau wangi shampo seketika semerbak mewangi di ruangan berukuran empat kali empat tersebut.
"sini biar aku bantu."
Neta terkejut tiba tiba merasakan tangan james yang merebut handuk kecil di tangannya, merasa jika akan sia sia jika Neta melawan, dia akhirnya membiarkan James mengosok rambutnya yang terlihat basah.
"ingat dulu nggak net, kamu selalu membantu ku mengeringkan rambutku setelah selesai berenang waktu itu."
Neta terdiam dia membayangkan bagaimana dulu mereka terlihat sangat akrab, sampai pada akhirnya mereka tampak terlihat asing saat James bersama Clara.
"itu dulu James, sekarang kita sudah berbeda. Dulu kita masih kecil, sekarang kita sudah dewasa."
Jawab Neta masih dengan posisi semula.
James tersenyum samar, James tahu jika Neta tidak suka jika James mengingatkan kisah akan keakraban mereka saat dulu.
gerakkan tangan James melambat, Neta merasakan jika tangan James menjauh dari kepala Neta.
"sudah James, mana handuknya...?"
Tangan Neta terulur meminta handuk yang James bawa.
"Neta, apa kita tidak bisa seperti dulu. Aku rasa kita sekarang semakin terasa asing."
Lirih James sambil menatap Neta dengan posisi Neta yang sedang memunggungi James.
mendengar ucapan James yang terdengar penuh rasa harap, dada Neta tiba tiba terasa sesak. Peristiwa demi peristiwa tiba tiba sekelebat datang ke pikirannya tanpa permisi, Neta memilih diam tapi di dalam pikirannya dia seakan sedang berperang dengan batinnya.
Kepala Neta memutar menatap James yang ada di belakangnya, dia tersenyum namun hatinya terasa sangat sakit.
"kita masih seperti dulu kan James, memang ada yang berubah dari sikapku ke kamu...?"
ucapan Neta seakan terdengar bagaimana petir yang menyambar di siang hari, James menatap Neta yang tersenyum samar.
"maksud aku, aku merasa kita semakin jauh Neta. Sejak aku dekat dengan Clara, kamu seakan sedang ingin menjauhiku."
Mereka saling menatap satu sama lain, pikiran mereka seakan sama sama sedang berperang, Neta mengatur posisi duduknya agar lebih nyaman saat berbicara dengan sahabat kecilnya ini.
"duduk James."
pinta Neta sambil sesekali membenarkan rambut setengah basahnya.
James bergerak menarik di sampingnya, kini mereka sama sama saling diam sesaat sebelum Neta memulai obrolan mereka.
"James, kamu jangan kawatir. Aku masih sama seperti dulu, dan asal kamu tahu. Aku akan selalu ada saat kamu membutuhkanku, tapi... Itupun sebelum aku memiliki kekasih, aku akan ada untukmu."
James segera mengangkat kepalanya menatap raut wajah Neta, dia terkejut dengan kata kata terakhir yang Neta ucapkan.
"apa kamu sudah punya kekasih Neta...?"
Suara James terdengar sangat berat, hatinya tiba tiba terasa seperti di tusuk belati tajam, Sakit namun tak ada luka di permukaan kulitnya.
Kedua mata James menatap tajam wajah cantik Neta, kedua bibir Neta terangkat sempurna. Merasakan rasa penasaran James, Neta menjadi sangat terhibur.
suara ketukan di luar kamar Neta membuat atensi Neta dan James beralih melihat handel pintu yang perlahan terbuka, tampak seorang dokter wanita yang datang bersama beberapa perawat di belakangnya masuk ke dalam ruang inap Neta.
"selamat pagi nona Neta."
Sapa dokter wanita tersebut terdengar ramah, James yang melihat kedatangan dokter yang menangani Neta selama di rumah sakit ini segera menjauh.
"selamat pagi dok."
Balas Neta ramah.
"apa ada yang di keluhkan hari ini..? Permisi ya saya periksa dulu perutnya, apa masih kembung atau tidak."
Neta berbaring dan dokter tersebut segera mengambil stetoskop kemudian menyentuhkan ke perut rata Neta, senyuman kembali terlihat di wajah dokter wanita tersebut.
"tidak ada keluhan apapun dok, apakah saya bisa pulang hari ini...?"
Neta menatap dokter setengah baya yang masih cantik di usianya, angukan dari dokter di depan Neta menjawab harapan Neta dari kemarin.
"bisa, sus tolong urus semuanya. Hari ini nona Neta sudah boleh pulang."
Neta seakan mendapat jackpot besar, dia sangat bersyukur karena hari ini dia bisa pulang.
"terima kasih dok." ucap Neta penuh syukur.
"tapi ingat, tiga hari lagi harus kontrol ya...?"
Angukan Neta berikan sebagai jawaban, sebelum dokter itu pergi, dia berpamitan dengan Neta.
"jangan telat makan lagi ya, perhatikan makanan dan minuman yang akan masuk ke dalam lambung. Dan satu lagi jangan terlalu capek dan banyak pikiran, istirahat yang cukup... Oke nona Neta."
Ucapan dokter wanita tersebut seakan seperti peringatan bagi Neta, memang beberapa hari ini Neta terlalu sibuk sampai tidak memperhatikan makan dan minumnya.
"oh iya mas, tolong istrinya di jaga ya. perhatikan makannya dan jangan terlalu capek dan banyak pikiran, kasihan."
dokter tersebut beralih melihat ke arah James, mendengar ucapan dokter tersebut James menjadi terdiam, percuma juga dia menjelaskan, pasti mereka tidak akan percaya.
saat Neta akan meralat ucapan dokter yang kini akan berjalan pergi, James menghentikannya.
"percuma juga kita jelasin, mereka pasti tidak akan percaya."
Bisik James ke telinga Neta.
Neta menatap James penuh kesal, dia tidak suka jika orang mengira kalau mereka sepasang kekasih, yang kenyataannya mereka hanya sebatas sahabat.
Kedua bibir Neta mengerucut sempurna, melihat dokter dan para perawat pergi, akhirnya James berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
bunyi ponsel Neta terdengar nyaring, melihat ponselnya bergetar dan berbunyi Neta segera mengambilnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"halo... Niko... Kakak di bolehin pulang sekarang, kamu ke sini sekarang ya...?"
Neta sangat berharap Niko segera datang, tapi apa yang dia ingin kan tidak sesuai dengan apa yang dia dengar dari Niko.
"maaf kak, aku harus segera pulang ke bandung. aku tidak ingin mama curiga kalau aku ke Lamaan di sini, apa kakak mau mama sama papa tahu kalau kakak masuk rumah sakit...?"
Neta terdiam, Niko tidak bisa di andalkan. Hanya James yang bisa menolongnya saat ini.
"bukannya James di sana ya kak, aku akan minta tolong ke James buat mengurus kepulangan kak Neta."
Mungkin memang seharusnya Neta meminta tolong ke James, dan hanya James lah yang bisa melakukannya.