Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Hampir
Melihat mobil Maybach hitam terparkir di pinggir jalan, Aluna tahu bahwa Gavin telah menunggunya di sini sejak lama.
Demi kelancaran rencananya, Aluna untuk pertama kalinya memberanikan diri berinisiatif memeluk lengan Gavin. Ia menatap pria itu, sedikit mengerucutkan bibirnya, dan berkata dengan nada lesu, "Aku sangat lapar."
Aroma tubuh Aluna yang khas seketika menyergap indra penciuman Gavin, membuat ritme napas pria itu mendadak tertahan. Ditambah dengan sentuhan lembut di lengannya, gejolak hasrat tanpa sadar muncul di dalam dirinya.
Gavin langsung merangkul pinggang Aluna dengan gerakan yang mendominasi dan bertanya dengan nada melembut, "Kamu belum makan siang?"
Aluna sekuat tenaga menahan rasa tidak nyaman di hatinya, lalu menggelengkan kepala. "Belum. Makanan di kantin tempat kursus kurang cocok di lidahku. Aku tidak bisa memakannya."
"Kamu ini bodoh atau bagaimana? Kalau tidak cocok, kenapa tidak meneleponku agar aku bisa memesankan makanan untukmu?"
"Aw..."
Gavin mengatakannya dengan rasa kesal, sehingga tanpa sengaja ia mempererat tekanan tangannya pada pinggang Aluna. Kondisi Aluna yang baru saja hamil muda membuat tarikan mendadak itu memicu rasa nyeri. Ia mengernyitkan dahi sambil mengeluh dengan pelan.
Melihat ekspresi kesakitan di wajah Aluna, Gavin seketika panik. Ia langsung menarik kembali tangannya dengan raut wajah yang tampak serba salah. "Kamu tidak apa-apa? Apa aku menyakitimu? Maaf."
Aluna tertegun. Ia menatap Gavin yang kini menunjukkan gurat rasa bersalah yang sangat jelas di wajahnya.
Apakah pria ini benar-benar mencintaiku?
Hati Aluna sempat berdesir melihat bagaimana seorang pria berkuasa seperti Gavin bisa bersikap begitu berhati-hati dan cemas di dekatnya. Namun, begitu pemikiran itu muncul, memori saat Gavin memaksanya di atas ranjang langsung terlintas di benaknya, bingkai demi bingkai.
Kejadian itu terasa begitu kelam dan menakutkan.
Agar bisa segera menyudahi kecanggungan ini, Aluna meraih tangan Gavin dan berkata perlahan, "Aku tidak apa-apa."
"Kamu benar-benar tidak apa-apa? Perlu kita ke rumah sakit sekarang?"
"Tidak perlu, aku hanya lapar."
Melihat Gavin yang masih bergeming menatapnya, Aluna menelan rasa jijiknya dalam-dalam. Ia menyandarkan tubuhnya ke dada Gavin, mencoba merayunya. "Kak Gavin, aku sedang ingin makan Nasi Goreng buatan Nenek."
"Baik, aku antar ke sana sekarang."
Mobil Maybach itu pun melaju pergi membelah jalanan. Di saat yang sama, Adrian muncul dan berdiri di puncak tangga lobi gedung. Ia menatap lurus ke arah kepergian mobil tersebut dengan tatapan yang dipenuhi rasa kecewa.
"Jadi... dia sudah punya kekasih," gumam Adrian pelan.
Pemandangan tersebut ternyata juga disaksikan oleh Sisi, yang kebetulan baru saja keluar dari toko kue di sebelah gedung pelatihan seni.
Wajah pelayan itu tampak dipenuhi kilat kelicikan, dan sebuah senyuman sinis terukir di sudut bibirnya. "Aluna, ternyata kamu punya pria lain di luar sana! Tunggu saja, cepat atau lambat aku akan menyingkirkanmu dari kediaman keluarga Ramadhan."
Aluna dan Gavin kini duduk berhadapan di sebuah restoran yang berada di lantai atas Grand Square Center.
Meja di hadapan mereka telah dipenuhi oleh berbagai hidangan manis dan gurih kesukaan Aluna. Gavin dengan telaten mengambilkan makanan tersebut ke piring Aluna.
Drrt...
Ponsel Aluna yang diletakkan di atas meja bergetar. Saat melirik ke bawah, ia melihat sebuah pesan masuk dari Adrian yang kembali mengajaknya untuk bertemu.
Aluna langsung tersentak kaget. Secara refleks, ia langsung mendongak untuk melihat reaksi Gavin.
Sialnya, begitu ia mengangkat kepala, pandangannya langsung membentur sepasang mata gelap Gavin yang menatapnya dengan tajam dan menyelidik.
"Dari siapa?" tanya Gavin dingin.
Aluna sempat merasa panik selama beberapa detik, namun ia berusaha keras untuk tetap terlihat tenang saat memberikan penjelasan.
"Seorang rekan kerja. Dia ingin bertemu untuk membahas materi kelas untuk besok."
Gavin tidak menyahut, namun tatapan matanya yang tajam membuat Aluna merasa sangat gugup. Dengan suara yang sedikit bergetar, Aluna menambahkan, "Dia... rekan kerja perempuan."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, Gavin tiba-tiba bangkit berdiri. Tangannya yang besar langsung mencengkeram bagian belakang kepala Aluna, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mencium bibir gadis itu secara paksa.
Setelah tautan mereka terlepas, Gavin berbisik dengan nada mengintimidasi, "Kamu hanya bisa menjadi wanitaku, wanita milik Gavin. Kuharap kamu selalu mengingat posisimu."
Keesokan paginya.
Setelah malam yang penuh dengan keintiman paksaan, Gavin tampak berada dalam suasana hati yang sangat baik. Ia mengantarkan Aluna menuju pusat pelatihan seni sejak pagi-pagi sekali.
Ckit!
Suara decitan rem mobil mewah itu terdengar saat Maybach hitam milik Gavin berhenti tepat di depan gedung pusat seni.
Gavin bergegas turun dari kursi kemudi. Ia memutari kap mobil menuju pintu sebelah kiri, membukakan pintu untuk Aluna, lalu dengan hati-hati meletakkan telapak tangannya di atas kusen pintu untuk melindungi kepala Aluna agar tidak terbentur. Ia mengulurkan tangan kanannya.
"Ayo turun, hati-hati."
Semalam, meskipun Gavin tidak menyentuhnya lebih jauh karena kondisinya, pria itu terus memeluk tubuhnya dengan erat sepanjang malam. Aluna sebenarnya sudah sangat membenci setiap sentuhan fisik dari Gavin. Kejadian kemarin juga membuat kekesalannya menumpuk, namun ia tidak berani menunjukkannya secara terang-terangan. Aluna terpaksa berpura-pura patuh dan menerima uluran tangan Gavin untuk keluar dari mobil.
Setelah Aluna berdiri di luar, Gavin menyerahkan tas jinjing milik gadis itu. Ia menyempatkan diri untuk merapikan beberapa helai rambut Aluna yang berantakan di dekat telinga, lalu berucap lembut, "Karena kamu tidak cocok dengan makanan di sini, aku sudah memerintahkan kepala pelayan untuk mengirimkan menu makan siang khusus untukmu setiap hari. Nanti sore aku akan menjemputmu, kita bisa makan di mana pun yang kamu mau."
"Tapi, aku hanya punya satu syarat."
Aluna sedikit terkejut mendengarnya. "Apa syaratnya?"
Gavin menatap Aluna dengan pandangan yang dalam, lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh ujung hidung Aluna dengan gemas. "Kamu tidak boleh membiarkan dirimu kelaparan. Jaga dirimu, dan juga bayi yang ada di dalam kandunganmu."
Kata "anak" itu seketika menusuk lubuk hati Aluna seperti duri yang tajam. Ya, dia sedang hamil. Di awal masa kehamilan ini, ia memang belum merasakan gejala mual-mual yang parah, sehingga terkadang ia bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya.
Selama beberapa waktu ini, Aluna sengaja mencoba mengabaikan kenyataan tentang kehamilannya. Namun, ucapan Gavin barusan justru kembali melempar dirinya ke dalam pusaran keputusasaan.