Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detroit to Cadaques
“T-Tidak!” jawab Arsela gugup. Dia mengalihkan pandangannya agar Kenzo tidak bisa melihat dua bola matanya. “Kael sudah berjanji akan mengantarkanku pulang. Dia harus menepati janjinya, karena itu aku menunggunya,” lanjut Arsela dengan suara mengecil.
Ekspresi Kenzo sedikit berubah ketika melihat reaksi Arsela. Biarpun mulutnya mengatakan tidak, tapi gesture tubuhnya menampilkan hal berbeda.
Arkan … tugasmu mencari Arsela dan membawanya pulang, bukan membuatnya jatuh cinta padamu, batin Kenzo.
“Kamu tidak bisa terus berada di sini. Keberadaanmu sudah terlacak. Hamtramck itu kota kecil. Mereka bisa menemukanmu kapan saja. Apalagi mereka sudah sering mengetahui keberadaanmu.”
“Tapi bukankah kamu sudah mengeluarkan chip dari tubuhku?”
“Tetap tidak menjamin keberadaanmu tidak bisa ditemukan. Dengan adanya chip di tubuhmu, sudah menunjukkan kalau orang yang menculikmu bukan orang biasa, bukan geng motor. Mereka tahu teknologi, mereka memiliki kekuasaan dan bisa melakukan apa pun untuk mendapatkanmu.”
Seketika Arsela langsung terbungkam. Semua yang dikatakan Kenzo masuk akal dan benar. Namun tetap tak menyurutkan niatnya untuk menunggu Kael.
“Kalau kamu mau tetap menunggu Kael, segera cari tempat tinggal yang lebih aman dan pastinya tidak di sini!” Kenzo segera bangun dari duduknya. “Lebih baik kamu beristirahat lagi.”
Kenzo melangkah meninggalkan Arsela di ruang tengah. Pria itu kembali ke kamarnya, tapi tidak tidur. Dia justru mengeluarkan drone buatan Armin, kemudian menerbangkannya untuk melihat suasana sekitar.
Sambil menerbangkan drone, Kenzo mencari-cari negara yang cocok dijadikan tempat persembunyian Arsela. Karena wanita itu bersikeras tidak mau pulang sebelum bertemu Kael, mau tidak mau Kenzo harus mencarikan tempat aman untuknya.
Kenzo mengambil pesawat genggam, lalu menghubungi agen yang melakukan pengintaian.
BIP …
“Alpha to Elang, ganti.”
BIP …
“Dengarkan. Ganti.”
BIP …
“Kulkas buta + baterai hantu. 20 mike. Ganti.”
BIP …
“Copy. Kulkas buta, baterai hantu. 20 mike. Drop di titik? Ganti.”
BIP …
“Titik genteng. 20 mike. Burung besi stand by. Ganti.”
BIP …
“Copy. Titik genteng. 20 mike. Burung besi stand by. Selesai.”
BIP …
“Awas ekor. Selesai.”
Perintah melalui pesawat genggam selesai. Kenzo menjalankan kembali drone. Kali ini tujuannya ke atap gedung di mana tim pengintaian berada.
Dua menit menjelang waktu yang ditentukan, Kenzo bergegas menuju atap rumah. Tim pengintaian sudah menaruh pesanan di drone dan sedang menuju safe house.
Begitu tiba di atap, drone tersebut tiba. Bergegas Kenzo kembali ke kamarnya. Dengan cepat dia memasang sim card pada ponsel jadul pesanannya.
Usai mengaktifkan nomor ponsel, pria itu segera menghubungi nomor pager salah satu temannya. Dia mengetik angka triple satu ditambah dengan nomor ponsel sekali pakai yang baru saja didapatnya.
Tak berselang lama, ponsel miliknya berdering. Langsung saja Kenzo menjawabnya.
“Adrian!” seru suara di seberang sana. “Seperti mimpi kamu menghubungiku,” suara serak pria itu terdengar senang. Teman lama yang sudah kehilangan kontak selama lima tahun terakhir, akhirnya menghubungi kembali.
“Apa kamu masih di Figueres?”
“Tidak. Aku sudah pindah ke El Port de la Selva sekarang. Tapi tidak terlalu jauh dari Figueres. Ada apa?”
“Bisakah kamu mencarikanku tempat tinggal. Untuk safe house, dekat perbatasan dengan Republik Vinteres.”
“Untuk berapa orang?”
“Tujuh.”
“Oke.”
“Butuh rumah lain?”
“Ya. Untuk pengintaian, jarak satu sampai dua kilometer dari safe house.”
“Kapan kamu butuh?”
“Besok.”
“Oke. Kita bertemu di pelabuhan Port de la Selva, di dermaga Moll d’en Balleu. Kamu lewat mana?”
“Barcelona.”
“Sip. Besok malam jam sembilan, aku tunggu di Moll d’en Balleu.”
“Terima kasih, Hector.”
“Santai saja. Kamu juga sering membantuku.”
Panggilan keduanya berakhir. Kenzo langsung menghancurkan ponsel yang tadi dipakainya. Jangan sampai ada kesalahan, satu ping bisa membahayakan Arsela.
Usai menghubungi Hector, Kenzo langsung membangunkan Erik. Pria itu langsung membahas rencana pemindahan Aset dari Amerika ke Spanyol.
***
“Adrian!”
“Hector!”
Kedua pria itu berpelukan ala lelaki. Dulu, mereka pernah melakukan misi bersama. Sejak saat itu hubungan keduanya dekat dan sering melakukan kontak.
Namun sudah lima tahun lamanya mereka kehilangan kontak. Ini pertama kalinya mereka bertemu setelah sepuluh tahun lebih tidak bertemu.
“Namaku sekarang Kenzo,” bisik Kenzo pelan.
“Hahaha … oke Kenzo.”
Hector melihat orang-orang yang datang bersama Kenzo. Dia sengaja mengajak mereka semua menaiki mini bus yang dibawanya.
Sambil mengendarai mobilnya, pria itu menjelaskan cerita yang dikarangnya agar mereka bisa tinggal dengan aman dan nyaman di tempat yang dipilih olehnya.
Di belakang mini busnya, ada kendaraan lain yang dikemudikan orang kepercayaannya. Mobil tersebut membawa tiga personel tim pengintaian. Nantinya mereka akan berada di tempat lain. Berjarak satu kilometer dari safe house.
“Kalian adalah kru film yang sedang mencari lokasi untuk produksi film kalian. Buat yang cantik, kamu adalah penulis skenario. Untuk yang lainnya, kalian bagi-bagi tugas saja. Ada produser, sutradara, astrada dan DOP.”
Semua agen yang mengawal Arsela hanya menganggukkan kepalanya saja.
Tiga puluh menit kemudian, mereka memasuki desa Cadaques. Ini adalah desa nelayan yang hanya dihuni oleh 2700 jiwa. Hanya ada satu jalan menuju desa ini. Daerahnya dikelilingi oleh tebing, jadi cukup terisolasi.
Rumah di daerah ini juga tidak padat penduduk. Ada jarak antara rumah satu ke rumah lainnya. Mobil yang dikendarai Hector berhenti di depan sebuah rumah batu dua lantai di ujung desa.
Semua yang berada di mobil segera keluar. Hector membuka pintu rumah. Bangunan rumah terdiri dari kombinasi batu dan kayu berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Rumah juga dilengkapi furniture bergaya vintage.
Dapur sudah dilengkapi dengan peralatan masak dan makan.
Di ruang tengah terdapat sofa dan layar datar yang di bawahnya terdapat perapian. Perapian ini terhubung ke cerobong di bagian atas rumah ini. Hanya peralatan elektronik saja yang bernuansa modern.
“Untuk bahan makanan sudah kusiapkan di kulkas. Sekitar tiga ratus meter dari sini ada toko yang menjual kebutuhan sehari-hari. Kalian bisa ke sana saat kehabisan stok makanan.”
“Terima kasih.”
‘Semoga kalian betah.”
Hector langsung undur diri setelah mengantarkan semua tamunya.
Kenzo mengantar pria itu sampai ke depan mobilnya. Tak lupa pria itu mengucapkan terima kasih.
Hector melambaikan tangannya ketika mobil yang dikemudikannya bergerak meninggalkan rumah tersebut. Saat Kenzo akan kembali ke dalam rumah, ponselnya bergetar.
Melihat nama pemanggil adalah Armin, dia langsung menjawab panggilan. “Halo.”
“Aku sudah menemukan jejak orang yang menghubungi Kael.”
Kenzo menghentikan langkahnya begitu mendengar laporan Armin.
“Jelaskan!”
“Ponsel yang digunakan adalah ponsel sekali pakai. Tapi aku berhasil melacak jejaknya dari lokasi BTS yang digunakan. Dia selalu berpindah tempat, dan lokasinya sama seperti yang didatangi Kael. Sepertinya dia yang mengarahkan Kael terus berpindah tempat.”
“Lalu?”
“Aku berhasil melacak keberadaannya dari transaksi kartu yang digunakan olehnya. Sepertinya dia kehabisan uang cash dan terpaksa melakukan transkasi dengan kartu. Dari sana, aku berhasil mendapatkan identitasnya. Aku akan mengirimkan datanya pada Abang.”
“Oke. Lalu Arkan … apa kamu sudah menemukan jejaknya?”
“Ya. Arkan berada di LP Verentis Sentral, Blok B. Blok yang diisi napi karena kasus pencurian, penganiayaan dan bandar narkoba skala kecil. Dan yang menghubungi Kael saat ini berada di Roses, 20 kilometer dari Cadaques. Dia berada di sana sejak tiga hari lalu.”
Seketika Kenzo terdiam, kenapa lokasi mereka berdekatan seperti ini?
***
Kulkas buta \= ponsel jadul
Baterai hantu \= SIM card sekali pakai
Burung besi \= drone
Awas ekor \= waspada penguntit
bener2 berasa ikut disitu
Q akan larii cepet trus kalok ada bru mw aku lempar ke orang yg ngejar timur
wkwkwk
suka bnget ceritanya
up lgi dong thor
iddiiiihhhh Arman ngaamuk....
coba Kamu kerjakan sendiri becus gk nangkep mereka 😏