Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Menara di Balik Kabut
Bus kompartemen khusus dan pod otonom yang membawa lima puluh siswa pilihan meluncur lambat meninggalkan gerbang perimeter luar Sektor Delta. Kendaraan-kendaraan itu mulai memasuki jalur internal yang berkelok, menanjak membelah perbukitan buatan yang membatasi pandangan dari distrik sipil Kota Veridian. Di area ini, vegetasi enkapsulasi tumbuh begitu rapat, membentuk dinding-dinding hijau vertikal yang masif di sisi kiri dan kanan jalan.
Perlahan, kabut tipis berwarna keperakan mulai turun dari puncak bukit. Kabut itu menyelimuti permukaan aspal hitam dengan cepat, menyamarkan batas roda kendaraan dan menciptakan ilusi seolah-olah mereka sedang berkendara menembus dimensi lain. Suhu di dalam bus mendadak turun satu derajat, membuat sistem pengatur udara internal berdesis pelan untuk menyesuaikan kelembapan.
Saat kendaraan memutari tikungan terakhir di ujung lembah, kabut di depan mereka sedikit tersibak oleh embusan angin buatan, memunculkan siluet sebuah struktur arsitektur yang begitu raksasa hingga membuat seisi gerbong menahan napas secara serentak.
Menara Akademik Nexus berdiri menjulang, membelah langit malam Veridian yang berkabut. Gedung pencakar langit berstruktur itu dilapisi oleh kaca siber gelap dan jalinan rangka titanium hitam yang berkilau dingin di bawah tembusan cahaya bulan. Puncaknya yang runcing tenggelam sepenuhnya di balik awan aerosol, sementara di sepanjang dinding luar menara, garis sirkuit digital berwarna biru berpendar redup, berdenyut konstan menyerupai detak jantung dari sebuah monster mekanis raksasa.
Tidak ada gerbang megah dengan spanduk sambutan hangat yang biasa menghiasi sekolah luar. Tidak ada sorak-sorai meriah dari kakak tingkat, tidak ada musik bising, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia yang terlihat dari luar dinding kompositnya. Yang terdengar saat bus mereka berhenti sempurna di halaman depan hanyalah desis halus dari sistem hidrolik suspensi kendaraan, berpadu dengan keheningan pekat yang membuat bulu kuduk merinding.
Tempat ini tidak dirancang untuk menyambut siswa; tempat ini dibangun untuk mengisolasi para penyintas.
"Ini... ini lebih mirip benteng isolasi militer tingkat tinggi daripada sebuah akademi riset," bisik Dimas, matanya bergerak gelisah menatap deretan kamera pengawas siber yang bergerak sinkron mengikuti arah kedatangan mereka di halaman marmer.
"Bagi yang bermental sipil lemah, ini memang penjara," Raka Elang menyahut dari barisan kursi depan, memecah keheningan dengan nada sinis yang khas. Ia berdiri, merapikan kerah almamaternya dan menepuk lencana NX-018 di dadanya dengan penuh percaya diri. "Tapi bagi yang tahu cara membaca celah sistem, menara ini adalah laboratorium dengan fasilitas tanpa batas untuk mendominasi."
Pintu bus bergeser terbuka ke atas. Udara luar yang membawa aroma tanah basah, sisa pembakaran mesin magnetik, dan udara steril langsung menyergap indra penciuman mereka. Para siswa turun satu per satu dalam barisan yang kaku di atas halaman marmer abu-abu yang luas.
Tepat di tengah halaman, partisi digital holografik setinggi dua meter mendadak menyala dengan bunyi dengung statis yang rendah. Cahaya tersebut membelah halaman menjadi dua jalur evakuasi fisik yang berbeda berdasarkan nomor lencana mereka.
Jalur sebelah kiri, yang diterangi cahaya emas redup yang hangat, mengarah langsung pada elevator kapsul privat menuju Penthouse Sektor Atas. Jalur sebelah kanan, yang diterangi cahaya putih neon yang sangat dingin, mengarah pada tangga turun beton menuju Blok Barak Sektor Bawah.
Kirana Safira melangkah ke jalur kiri dengan ritme kaki yang anggun dan tenang. Senyum lembutnya tetap terjaga, meskipun matanya terus memindai sudut-sudut atas menara untuk memetakan letak sensor keamanan sekunder. Sebelum melangkah masuk ke area elevator, ia sempat menoleh ke arah barisan Sektor Bawah, melepas pandangan penuh empati buatan kepada Nabila dan Dimas yang kini harus berjalan menuju tangga bawah tanah.
Nabila merasakan dadanya menyempit melihat pemisahan fisik yang begitu kentara ini. Logika kompetisi di Nexus tidak pernah memberi mereka waktu untuk beradaptasi. Bahkan sebelum mereka meletakkan barang bawaan, sistem telah menegaskan batas kasta yang nyata.
Di jalur kiri, Atharva berjalan di posisi paling depan dengan ekspresi wajah yang datar, diikuti oleh Keisya. Saat mereka melangkah memasuki elevator kapsul kaca yang akan membawa mereka melesat ke lantai seratus lima, Atharva melirik ke bawah melalui dinding transparan. Di bawah sana, dalam remangan kabut malam, barisan empat puluh peserta Sektor Bawah tampak seperti deretan siluet hitam yang bergerak perlahan memasuki perut bumi.
"Kabut di luar bukan ketidaksengajaan cuaca," kata Atharva datar, memandangi partikel uap air yang mulai menempel pada kaca luar elevator yang bergerak naik dengan kecepatan tinggi. "Itu adalah kabut aerosol pengacau sinyal satelit sipil. Menara ini dibangun agar benar-benar tidak terlihat oleh radar luar."
Keisya menatap refleksi dirinya sendiri di kaca elevator, wajahnya tampak mengeras. "Mereka menyembunyikan tempat ini dari dunia, agar apa pun yang terjadi di dalam dinding menara ini tidak akan pernah menyisakan bukti di luar."
Elevator melesat semakin cepat, meninggalkan lautan kabut tipis di dasar lembah, membawa sepuluh besar faksi utama menuju kemewahan yang dingin di puncak Menara Akademik, sementara keheningan mistis Nexus tetap menjaga rahasia yang terkubur di balik dinding-dinding batunya.
...****************...
KLANK—
Suara indikator mekanis berbunyi halus saat elevator kapsul yang membawa sepuluh besar peserta terkunci di Sektor Atas lantai seratus lima. Dinding kaca elevator bergeser ke samping, membuka jalan menuju sebuah koridor melingkar dengan dinding marmer putih yang memantulkan pendar lampu lantai yang elegan. Di sini, tidak ada hawa pengap atau aroma ozon seperti di stasiun bawah tanah; udara yang mengalir terasa sejuk dengan aroma kayu cendana yang menenangkan saraf.
Atharva melangkah keluar lebih dulu, disusul oleh Keisya, Kirana, Gavin, dan Raka. Di hadapan mereka, sepuluh pintu suite privat berjejer rapi, masing-masing dilengkapi dengan panel pemindai retina dan nomor lencana yang berpendar sesuai peringkat.
"Fasilitas yang luar biasa untuk para pion pilihan," Raka berjalan mendahului kelompok, bersiul pelan saat melihat panel pintu kamar suite nomor NX-018 miliknya yang berada di ujung koridor faksi atas. Ia menoleh ke arah Gavin yang kamarnya berada tepat di sebelahnya. "Setidaknya kita tidak perlu tidur di barak militer yang sempit seperti anak-anak beasiswa di bawah sana, kan, Gavin?"
Gavin tidak repot-repot menyahut. Ia hanya mendekatkan wajahnya ke panel pemindai retina kamar suite miliknya. Panel tersebut berkedip hijau, dan pintu geser baja itu terbuka tanpa suara, memperlihatkan ruangan luas dengan tempat tidur pintar dan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke panorama benderang Kota Veridian dari ketinggian. Tanpa menoleh lagi, Gavin melangkah masuk dan membiarkan pintunya menutup rapat.
Sementara itu, di bawah tanah Menara Akademik tiga puluh lantai di bawah permukaan halaman berkabut kondisinya sangat bertolak belakang.
Nabila dan Dimas berjalan menyusuri koridor beton abu-abu yang dingin di Blok Barak Sektor Bawah. Penerangan di sini menggunakan lampu neon putih yang sesekali berkedip, memancarkan atmosfer yang kaku dan menekan. Tidak ada kamar privat. Sektor Bawah dibagi menjadi beberapa kompartemen barak komunal, di mana setiap ruangan berisi sepuluh tempat tidur tingkat dari besi dengan lemari penyimpanan modular kecil di sampingnya.
"Satu kamar bersepuluh," Dimas meletakkan tas ransel taktisnya di atas kasur tipis salah satu ranjang bawah, lalu menghela napas panjang. "Mereka benar-benar ingin kita merasakan perbedaan kasta ini di setiap detiknya."
Nabila duduk di ranjang seberang, memeluk lututnya sendiri. Lencana NX-050 di kerah bajunya seolah terasa lebih berat sekarang. Dari jendela kecil di langit-langit barak, yang bisa ia lihat hanyalah dinding fondasi menara yang kokoh dan kegelapan tanah Veridian. "Farel... kamu di barak sebelah?"
Farel yang baru saja memeriksa sistem penguncian loker besi di sudut barak pria menoleh sekilas. "Ya. Blok B-4. Tepat di balik dinding ini." Ia berjalan mendekati pintu penghubung kompartemen, matanya menatap tajam ke arah koridor luar yang sepi. "Jangan lengah, Nabila. Pemisahan fasilitas ini adalah umpan. Anak-anak di Sektor Bawah tidak akan bertahan lama menerima perlakuan ini. Kurang dari empat puluh delapan jam, seseorang pasti akan memicu konflik untuk merebut poin sepuluh besar di atas."
Kembali ke lantai seratus lima, Atharva berdiri di depan dinding kaca suite privat miliknya. Dari ketinggian ini, kabut keperakan yang menyelimuti dasar Menara Akademik tampak seperti lautan awan yang memisahkan benteng ini dari sisa dunia. Di bawah sana, gemerlap lampu Kota Veridian terlihat begitu tenang, namun Atharva tahu setiap sudut kota itu dikendalikan oleh algoritma Veritas Lux Fortuna yang kejam.
Sebuah ketukan pelan terdengar di dinding pembatas balkon suite miliknya.
Atharva menoleh sedikit. Keisya sedang berdiri di balkon sebelahnya, yang hanya dipisahkan oleh sekat kaca antipeluru setinggi dada. Angin malam yang dingin membuat rambut panjangnya berayun pelan.
"Sistem asrama ini baru saja memperbarui regulasi internal di layar monitor kamarku," kata Keisya, suaranya setengah berbisik namun terdengar jelas di keheningan malam. "Besok pagi pukul enam, seluruh peringkat akan diakumulasikan ulang berdasarkan Ujian Taktis Lantai Dasar. Sektor Bawah diberikan hak penuh untuk menantang anggota Sektor Atas dalam simulasi biner terbuka."
Atharva kembali menatap hamparan kabut di bawah mereka, wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. "Desain yang efisien. Mereka membiarkan yang di bawah kelaparan, agar saat gerbang dibuka, mereka akan menyerang yang di atas dengan seluruh insting bertahan hidup yang tersisa."
"And target utama mereka pastinya adalah peringkat satu," Keisya melirik lencana di dada Atharva. "Semua orang akan mengincar posisimu besok, Atharva."
"Biarkan saja," sahut Atharva datar, tangannya bergerak menyentuh panel penutup kaca balkon, perlahan menurunkan tirai otomatis untuk memutus kontak visual. "Semakin banyak yang menyerang, semakin cepat simulasi ini menyaring siapa saja yang hanya mengandalkan amarah, dan siapa yang benar-benar memiliki kapasitas untuk bertahan."